
Keadaan pagi ini di kantor Arya.
Tugas laporan keuangan yang semakin menumpuk, membuat Bara kewalahan. Mungkinkah ini semua ulah
Arya?
Agar ia bisa mendekatkan Safira pada Bara. Datang untuk membantu, namun ada hal lain yang justru akan menjadi bumerang. Pada kehidupan Bara, maupun rumah tangganya dengan Ana.
“Argh! Ini kenapa semua tugas karyawan diserahkan semuanya ke gua? Gila tuh orang! Sengaja banget kayaknya bikin gua kewalahan.” Umpat Bara kesal.
Kekesalannya itu rupanya terdengar sampai ke telinga Safira. Usut punya usut, ia datang menghampirinya.
“Pusing ya? Kan, ada aku disini. Kamu lupa ya? Aku disini sebagai asisten kamu.” Ucap Safira dengan suara manja nya.
Bara tampak berpikir sejenak.
“Iya juga ya, kan sekarang ada dia disini,” gumam Bara dalam hati.
Alhasil, ia pun menyetujui bantuan dari Safira. Wanita itu semakin senang dan merasa menang. Saat Bara bangkit dari kursinya, Safira berani menduduki kursi yang ditempati Bara tadi.
Menyebalkan! Huh!
“Bara, kamu mau kemana? Kan kita mau menyelesaikan semua tugas-tugas ini.” Tanya Safira pada Bara yang saat ini sudah berdiri.
Apakah Bara punya rencana lain?
“Yaudah, kan Lo katanya mau bantu. Ya berarti sekarang Lo yang kerjakan itu semua. Paham?!” Tutur Bara dingin. Safira terkejut, ia kira akan berjalan sesuai dengan rencananya.
Rencana Safira;
“Gue yakin Bara setuju kali ini. Toh juga tugas sebanyak itu, gak mungkin sanggup dia kerjakan sendiri. Gue bakalan duduk berdua sama dia di kursi yang sama. Dan setelah itu Gue bisa menggodanya dengan mudahnta. Laki-laki mana tahan sih, kalau di goda sama wanita secantik Gue?! Ha Ha ha!”
Realita nya pun tidak sesuai dengan ekspektasi. Bara tidak mudah tergoda dengan hal-hal semacam itu. Baginya, satu wanita yang sudah memenangkan hatinya, dialah satu-satunya. Tidak ada yang kedua, ketiga, maupun yang lainnya. Wanita seperti Safira, sudah banyak ia temui saat Bara masih bekerja di perusahaan Kertajaya.
Tak segan, para wanita itu menggoda Bara. Mulai dari usia yang setara, maupun yang lebih tua darinya. Bahkan penampilannya pun lebih menggoda
daripada Safira.
Bara pergi meninggalkan Safira dengan enjoy nya. Sambil membawa bekal pemberian Ana. Tak tinggal diam, Safira pun menelepon Arya.
[Arya! Gimana sih? Dia malah menyuruh Gue buat mengerjakan ini semua! Gue gak mau tahu pokoknya, ini semua tugas laporan para karyawan, suruh mereka semua yang kerjakan. Enak aja, yang diberi tugas siapa, yang disuruh kerjakan siapa?! Udah, sekarang Gue mau menyusul Bara keluar. Kayaknya dia mau makan siang.] Oceh Safira di panggilan telepon.
[Iya, iya. Ya udah, semua laporan itu taruh aja di meja. Nanti Gue suruh asisten buat kembalikan ke para karyawan lain. Yang penting rencana Lo dekati Bara harus berhasil! Selidiki dia pindah kemana. Soalnya waktu Gue ke kosan lama nya, udah gak ada disana. Pemilik kosan nya juga bilang, kalau dia dan Ana sudah pindah. Arka juga gak dikasih tahu dia pindah kemana.] Balas Arya via telepon.
[Oke, Lo tenang aja. Gue bakal selidiki, kalau perlu, Gue ikuti dia sewaktu pulang nanti. Ha ha ha!] Sambung Safira.
[Yaudah, sana buruan kejar dia. Gue masih ada urusan lain. Ok, bye!] Tutup Arya.
Tut. Panggilan terputus.
-
Di kantin, masih di area perkantoran.
__ADS_1
Bara tengah duduk seorang diri, sambil membuka satu persatu bekalnya. Dilihat dari tatapannya, terlihat sangat menggugah selera. Apalagi dibuat oleh orang tersayang. Ada rada canggung ketika ingin memakannya. Hanya ia sendiri
memakan bekal yang dibawa dari rumah.
"Ah, sudahlah. Baiknya aku makan saja." Gumamnya dalam hati.
Baru saja memakan salad dengan dua suapan, tiba-tiba muncul Safira mendekati meja Bara. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu. Masih saja berani menggoda. Tidak tahu malu sama sekali. Meski sudah berulang kali di tolak.
"Bara! Gimana sih? Kamu malah menyerahkan semua tugas ke aku?! Ih mengesalkan! Untung saja, aku sudah membereskan semuanya. Fiuh!" Oceh Safira.
Baru datang, tapi udah mulai rusuh. Huh!
"Baguslah, kalau begitu." Balas Bara singkat. Dan kembali menghabiskan makanannya.
Safira melihat makanan yang ada di depan Bara. Ia sendiri bahkan tergoda untuk mencicipinya.
"Bara, kamu makan sebanyak itu, apa gak kekenyangan?" Tanya Safira basa-basi.
Bilang aja, mau. Ya kan? He he he.
"Kenapa emangnya? Lo mau?" Ucap Bara berbalik tanya. Sepertinya ia cukup peka.
"Boleh?" Tanya Safira memastikan.
"No, this is mine!" Balasnya seraya mengunyah sandwich.
Gluk! Safira menelan salivanya. Perutnya mulai mengeluarkan suara. Menandakan ia juga lapar, dan
"Hm.... Bara. Makanan itu kan, banyak ya? Daripada takutnya gak habis
bagaimana kalau kita habiskan berdua?" Tutur Safira memberi usul.
Bara tak menggubris perkataan Safira. Ia bahkan melanjutkan menghabiskan semua makanannya. Dan sekarang hanya tersisa satu porsi sandwich. Serta beberapa potong buah mangga. Yang sudah separuhhya ia lahap.
Tak berapa lama, semua makanan itu telah habis di lahap olehnya.
"Lo lapar, ya?" Tanya Bara pada Safira yang sedari tadi memperhatikannya makan
sampai makanan itu habis dilahap oleh sang empu.
Safira mengangguk lemah.
"Kalau lapar, ya makan. Itu, banyak yang jual makanan. Kurang kerjaan banget Lo ya? Ngeliatin Gue makan sampai habis? Ha ha ha!" Ucap Bara terkekeh
dan pergi meninggalkan Safira dengan keadaan perut yang sedang keroncongan
seorang diri.
Haih! Siapa suruh menunggu sesuatu yang tidak pasti?
Eh.
"Bara!!!!! Awas kamu ya?! Lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan padanya!" Gerutu Safira seraya menggebrakan meja.
__ADS_1
.........
Kepulangan Ali dan Farah ke Indonesia tidak semerta-merta menyelesaikan masalah. Namun karena hal itu, keberadaan Bara maupun Ana semakin terancam. Keluarga Kertajaya pun kembali pulang ke tanah air. Beberapa anak buah dari mereka telah mencari tahu, dimana keberadaan putra tunggal mereka.
Penerus bagi perusahaan Kertajaya Group.
"Kerahkan semua pengawal, untuk mencari Bara!" Perintah Tuan besar.
"Baik, Tuan."
Para pengawal mulai berpencar. Mencari ke setiap lokasi. Yang pasti, lokasi yang sering Bara kunjungi. Dan lokasi pertama yang mereka datangi ialah, kampus.
Mereka tidak mengetahui, kalau Bara sudah bukan lagi mahasiswa di kampusnya. Bara bahkan sudah tidak lagi bekerja pada perusahaan keluarganya. Ia memilih menghindar sejak awal. Meski awalnya sulit, tapi karena ada Ana yang selalu berada di sisinya. Bara bahkan dapat menjalani kehidupan baru nya dengan mudah.
Meski harus berurusan dengan Arya.
"Cek semua lokasi, kerahkan semua anggota! Jangan sampai tidak menemukan bukti apa pun mengenai Tuan muda!" Perintah ketua pengawal kepada semua bawahannya
Semua pengawal itu terus mencari dan menyelidiki di setiap lokasi. Kampus, bahkan kos kosan yang dulu sempat Bara tinggali dengan Ana. Juga di selidiki oleh para pengawal itu. Sampai akhirnya, mereka semua bertemu dengan Arka. Yang tak lain ialah sahabat karib nya Bara.
"Tuan, Arka!" Panggil ketua pengawal itu pada Arka.
Yang saat ini mereka tengah berada di area kampus.
Arka mengetahui, kalau mereka semua adalah orang suruhan keluarga Bara.
"Ada perlu apa kalian mencari saya?!" Balas Arka berbalik tanya, tanpa basa-basi.
"Begini, Tuan. Apakah anda tahu, dimana keberadaan Tuan Bara?"
"Bara? Tidak. Sudah lama saya tidak mengetahui keberadaannya. Dia bahkan sudah tidak lagi berkuliah di kampus ini. Memangnya kenapa?" Selidiki Arka pada para pengawal itu.
"Ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Tuan besar padanya. Baiklah, kalau Tuan Arka tidak tahu. Ini kartu nama beserta nomor telepon saya. Kalau sekiranya anda sudah mengetahuinya, mohon Tuan agar bisa langsung menghubungi saya ke nomor telepon itu."
Arka tak membalasnya. Ia hanya memanggut-manggutkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kami pergi. Mari, Tuan!" Pamit para pengawal itu pada Arka.
...............
Suasana sore di Ibu kota, sangatlah macet bagi pengguna jalan raya. Bara telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia kini sedang berjalan menuju ke tepi jalan besar. Menunggu angkutan umum yang lewat, untuk bisa sampai ke rumah. Tak menyadari, ada sepasang mata yang mengintainya.
Dia adalah Safira.
Safira bersembunyi di balik kaca mobilnya. Sampai akhirnya, Bara mendapati angkutan umum yang lewat di depannya. Ia pun bergegas masuk ke dalam bus itu. Mobil bus mulai kembali melanjutkan perjalanannya. Begitu pun dengan Safira, yang juga mengikutinya dari belakang.
Kali ini Bara benar-benar ceroboh.
Setelah hampir menempuh perjalanan satu jam lebih, Bara turun di pertigaan. Safira pun kembali mengikutinya. Sampai akhirnya, Bara mulai memasuki area perumahan. Yang hanya di huni oleh beberapa orang.
"Pintar banget ya, dia. Pindah ke perumahan yang sepi kayak begini. Biar gak ada yang tahu kan?! Ha ha, tapi sayangnya Gue udah tahu sekarang." Tutur Safira.
Safira masih mengikuti Bara, hingga sampai ke depan rumahnya persis. Cukup lama ia memandangi rumah Bara. Dan melihat Bara yang dibukakan pintu oleh seorang wanita. Ia tampak terkejut melihatnya.
"Sial! Ternyata benar yang dikatakan Arya. Dia udah punya istri. Eh, tapi.... Arya kan juga naksir sama istrinya. Jadi Gue, ha ha ha! Gak perlu repot-repot bikin rencana lain." Ucap Safira terkekeh. Dan pergi melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Bersambung...