Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 107


__ADS_3

Di kediaman Buana Group. Lebih tepatnya rumah Arka. Pasangan pengantin baru yang baru saja memasuki kamar. Tampak begitu kaku dan terkesan canggung. Gladys terlihat diam saja tak bergeming. Begitu dengan Arka yang hanya melirik sesekali menatap Gladys.


Drrrtt drrrtt drrrt!


Suara getaran berasal dari ponsel Arka berbunyi. Ada sebuah notifikasi dari asistennya.


《TUAN MUDA, SELAMAT BERBAHAGIA!》


Arka membacanya dalam hati. Dan langsung menaruh ponsel itu lagi diatas meja kecil. Yang letaknya berada di sebelah ranjang. Tempat dimana keduanya sekarang tengah duduk dengan wajah gugup.


Gladys tampaknya ingin pergi. Tubuhnya beranjak bangun dan berdiri. Arka menatapnya nanar.


“Kamu mau kemana?” tanya Arka bingung.


“A-aku mau m-mandi, Ka.” Jawab Gladys gugup.


“Mandi? Aku siapkan air hangat, ya?” ujar Arka menawarkan.


“Eh, a-aku bisa s-sendiri kok, Ka.” Balas Gladys. Entah sejak kapan wajah gadis itu begitu pucat.


“Kamu sakit, Dys? Wajah kamu pucat. Kayaknya gak perlu mandi, kamu ganti baju aja.” Ucap Arka. Yang langsung menyadari perubahan wajah Gladys.


“E-enggak kok, Ka. Aku g-gak apa-apa.”


“Tapi wajah kamu pucat, Dys. Kamu gak usah mandi, ya? Kamu tetap wangi, kok.” Kata Arka yang tak sadar dengan perkataannya telah membuat hati Gladys berdebar tak karuan.


‘Duh, ini jantung kenapa nggak bisa diajak kompromi, sih?!’ Gumam Gladys dalam hati.


“Gladys? Kamu nggak jadi mandi, kan?” ujar Arka menanyakan lagi.


“Eh, i-iya, Ka. Aku nggak jadi mandi.” Jawab Gladys. Arka mengangguk pelan sambil melepaskan jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Gladys melihatnya, kedua matanya membulat seakan tak ingin beralih menatap Arka.


‘Arka kenapa jadi ganteng banget, sih? Ah, dia kan sekarang Suamiku, ya?’ Gumam Gladys pelan. Namun samar-samar Arka mendengarnya.


“Kamu barusan ngomong apa, Dys?” Ucap Arka bertanya. Alhasil Gladys tergelak kaget.


“Eh, n-nggak, Ka. Aku nggak ngomong apa-apa. A-aku izin ganti baju dulu,” mendengar Gladys berkata begitu, Arka sontak menoleh.


“Kok izin ke aku?”


“I-iya, kan k-kamu sekarang itu udah jadi S-Suamiku.” Jawab Gladys terbata. Wajah Arka tiba-tiba berubah merona. Lelaki itu langsung membuang muka ke arah lain.


“Ah, aku lupa. Y-ya udah, jangan lama-lama, ya.” Gladys mengangguk pelan. Tubuhnya langsung menghilang dari balik pintu toilet yang ada di kamar itu.


Beberapa menit kemudian...

__ADS_1


Gladys keluar dengan penampilan berbeda. Memakai baju tidur tipis yang biasa dikenakan Ana. Tapi, sejak kapan baju itu ada? Apa Gladys sendiri yang telah menyiapkannya?


Langkah kakinya berjalan pelan menghampiri lelaki tampan yang ada di hadapannya.


Arka sepertinya tengah asyik dengan laptopnya. Memang penggila kerja. Sudah malam pertama pun, masih ingat dengan pekerjaan.


Dasar Arka! Eh.


“Arka.” Panggil Gladys. Suaranya mengalihkan pandangan Arka. Yang langsung menatapnya dengan ekspresi wajah...


sulit untuk diartikan.


Arka tampak melamun, tapi sepertinya tidak. Lebih mengarah pada kata tercengang. Saat memperhatikan wanita yang ada di depannya sekarang.


“I-itu kamu, Dys?” tanya Arka memastikan. Gladys mengangguk cepat.


“Iya, ini aku. Kamu melamun, ya?” balas Gladys berbalik tanya.


“Eh, a-aku? Enggak. Aku lagi mengecek laporan hari ini.” Arka beralasan.


“Kamu rajin banget sih, Ka. Udah malam begini masih aja kerja.” Tutur Gladys sembari menaiki tubuhnya ke atas ranjang. Dan sekarang jarak antara keduanya hanya satu jengkal. Mungkin juga tidak berjarak sama sekali. Karena posisi mereka saat ini begitu dekat dan


sangat dekat.


“Ka, ditaruh dulu laptopnya. Kamu nggak capek, memangnya?” Arka tampak menggeleng pelan.


“Hah? Biasa? Berarti selama ini kamu juga jarang tidur, dong?” Gladys membulatkan kedua matanya. Terkejut mendengar penuturan Arka barusan. Arka mengangguk pelan tanpa menatap Gladys. Pandangannya lagi-lagi tertuju ke layar monitor laptopnya.


Wajar bila Arka begitu. Karena dia mengelola dua perusahaan sekaligus. Yakni Buana Group dan BARNA Corp. Terlebih lagi, sejak kecelakaan Bara. Arka semakin sibuk dengan BARNA Corp. Semenjak itu, Bara juga telah kembali menjadi pewaris Kertajaya Group. Sekaligus berstatus sebagai direktur utama pada perusahaan keluarganya.


Yang tersisa hanya Arka, yang akan mengelola perusahaan BARNA. Meskipun begitu, Ana sendiri akan tetap menerima dana yang di dapatkan dari hasil penjualan produk perusahaan. Karena bagaimana pun, Ana juga ikut berkontribusi selama beberapa tahun belakangan. Yang membangun BARNA Corp bersama-sama dengan Bara, juga Arka.


“Arka, udah dong, kerjanya. Kan besok masih bisa dikerjakan. Sekarang istirahat dulu, aku gak mau tahu pokoknya! Kalau kamu sakit, gimana? Kamu juga yang nggak enak, Ka.” ucap Gladys sambil mengambil laptop yang ada di pangkuan Arka. Lalu memindahkannya ke atas meja kecil di sisi sebelah ranjang.


Tanpa sengaja, tangan Gladys menyentuh pergelangan tangan Arka. Membuat keduanya tampak saling pandang. Namun beberapa detik kemudian, Gladys mulai tersadar.


“Eh, m-maaf, Ka. Aku nggak sengaja. Aku tidur duluan kalau gitu. Kamu juga, ya. Selamat tidur, Ka!” ujar Gladys langsung buru-buru mengakhiri obrolan. Tapi, Arka keburu menepis lengan Gladys.


“Sebentar dulu, Dys. Aku... a-aku mau tanya sesuatu ke kamu.” Wajah Arka tampaknya berubah serius. Melihat ekspresi itu, Gladys jadi enggan tidur. Walau sebenarnya ia berniat untuk berpura-pura tidur.


“T-tanya apa itu, Ka?” jawab Gladys gugup.


Glek!


Gladys menelan saliva nya. Saat wajah Arka saat ini begitu berdekatan dengannya.

__ADS_1


“K-kamu.. masih suka sama aku, kan?” ucap Arka ragu-ragu menanyakan. Seketika wajah Gladys memerah. Seperti buah cherry yang sudah matang dan siap untuk dimakan. Namun sepertinya Gladys agak kesal. Sangat terlihat jelas di raut wajahnya yang berkulit putih.


“Menurutmu? Kamu pikir aku menikah sama kamu itu tanpa rasa, Ka? Benar-benar kamu, tuh!” balas Gladys dengan kesal menjawab. Dan langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Arka.


Aih, dasar Arka!


Lelaki itu jadi merasa bersalah dan gelisah. Dengan pertanyaannya tadi, yang membuat wanita di sebelahnya mendadak merajuk kesal. Arka ragu-ragu menyentuh pundak Gladys. Tangannya terlihat gemetar, seperti orang yang tengah lagi membangunkan hewan liar di hutan.


Wanita memang makhluk yang sensitif. Bahkan lebih sensitif dibandingkan dengan laki-laki.


“Gladys... kamu... marah?” ragu-ragu Arka berkata. Gadis itu diam tak bergeming.


Arka hanya bisa pasrah. Mematikan lampu kamar, dan langsung tidur. Yang juga membelakangi Gladys. Namun tiba-tiba...


Hap!


Sebuah tangan memeluk dari belakang tubuh Arka. Ya—Gladys mendekap Arka dengan begitu erat. Membuat lelaki yang saat ini sudah berstatus sebagai Suaminya itu terdiam kaku.


“Arka.. kamu tuh ngeselin banget, sih! Ini tuh malam pertama kita.” Tutur Gladys berbisik. Arka mendengarnya. Tapi ia hanya diam saja.


Klik!


Lampu kamar kembali dinyalakan. Siapa yang menyalakan kalau bukan Arka sendiri. Itu karena remote control ada di sebelahnya. Wajah Gladys langsung berubah pucat. Ia takut bila Arka pergi meninggalkannya di malam pengantin ini.


Arka terbangun dari posisi tidurnya berubah duduk dan menghadap Gladys. Mau tak mau Gladys juga ikutan bangun. Arka ragu-ragu mencoba menyentuh tangan Gladys.


“A-aku n-nggak tahu harus m-mulai dari mana, Dys.” Ujar Arka dengan suara pelan. Tapi Gladys bisa mendengarnya.


Dalam hati Gladys berkata ‘Hah? Yang benar aja?! Arka nggak tahu caranya menyentuh perempuan? Astaga, padahal aku sendiri bahkan menghabiskan berapa banyak buku novel untuk menambah pengetahuan akan hal itu. Kenapa dia malah nggak tahu, sih?!’ gumam Gladys.


Gladys adalah author. EH! Hahay!


“Kalau kamu nggak bisa, biar aku aja yang memulainya, Ka.” Sambung Gladys membalas. Sontak mata Arka melotot seakan tak percaya mendengarnya.


“K-kamu? B-berarti kamu sebelumnya udah pernah melakukan itu, dong?” Tanya Arka dengan nada yang terdengar kecewa.


“Ya enggak lah, Ka. Aku masih virgin, aku kenal cowok juga cuma kamu doang. You first, and only one for me! Semua orang juga tahu kok. Bagaimana caranya bersentuhan dengan lawan jenis. Kamu ‘kan tahu kalau aku itu suka baca buku. Apa kamu juga lupa? I’m a doctor! Ilmu biologi udah jadi makan sehari-hari buatku, Ka.”


Mendengar penjelasan Gladys barusan, membuat ekspresi wajah Arka langsung berubah seketika. Dari yang awalnya kecewa. Mendadak terlihat seperti menyeringai. Arka tersenyum?


“M-maaf, aku lupa soal itu.” Jawab Arka. Gladys mendengus kesal. Napasnya diembuskan dengan kasar.


“Aku juga lupa, kalau selama ini yang kamu perhatikan itu Cuma Ana. Maaf, aku yang nggak sadar itu, Ka. Selamat tidur!” Tutur Gladys langsung mengakhiri obrolan itu. Dan kembali merebahkan tubuhnya.


Gladys merajuk untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


‘Duh, apaan sih yang Gue lakuin barusan?! Gladys pasti kesal. Hal begini doang Gue pake nggak tahu, astaga! Arka, Lo memalukan banget!’ gumam Arka dalam hati mengutuki diri.


Arka, kamu teh kumaha? Eh.


__ADS_2