
Di kantor perusahaan digital KG. Bara kembali pada kesibukannya lagi. Hari ini juga ia ada jadwal rapat penting. Yang sempat ditunda kemarin. Karena sebuah insiden yang menyebabkan Nyonya Kertajaya pingsan.
Membuatnya terpaksa harus pergi saat sedang berlangsungnya rapat pada saat itu. Kali ini jadwalnya diganti pada pagi hari. Karena Bara tidak ingin berlama-lama tinggal di perusahaan ini.
"Apa semuanya sudah di siapkan, Pak John?" Tanya Bara sembari berjalan memasuki ke dalam ruang rapat.
"Sudah, Tuan muda. Begitu juga dengan pengamanan di apartemen Tuan muda. Sepuluh orang pengawal sudah berjaga di depan pintu apartemen itu sejak pagi tadi." Jawab Pak John.
"Bagus, aku bisa tenang sekarang." Bara tersenyum kecil sesaat. Mengingat wajah Ana yang sedu dan selalu membuatnya candu.
Di sisi lain, Sofie berjalan seorang diri menuju ke sebuah apartemen. Jalan dengan mengendap-endap bak seperti seorang pencuri. Memakai topi dan jaket sweater berwarna hitam. Tak lupa dengan masker putih yang menutupi wajahnya.
Di kedua tangannya seperti membawa pepper bag berukuran besar. Untuk apa?
Ting!
Pintu lift apartemen itu terbuka. Sofie tampak celingukan melihat kesana-kesini. Entah apa yang ia lakukan. Dia lagi-lagi berjalan mengendap-endap.
Dengan langkah kaki tanpa suara. Dan...
'Sudah kuduga, pasti wanita tua itu mengatakan semuanya pada Bara. Tapi tetap saja tidak akan mempan untukku! HA HA HA!' gumam Sofie dalam hati.
Kakinya berjalan mendekati ke arah pria bertubuh kekar. Yang tengah berdiri di depan pintu apartemen. Dengan santainya, Sofie menghampiri mereka.
"Sepertinya Kakak-kakak disini kelihatannya haus, ya? Wah, kebetulan sekali aku lewat sini. Ini, es kopi untuk kalian. Hari ini jualanku habis banyak. Hanya ini minuman yang masih tersisa. Sangat disayangkan bukan, kalau aku membuangnya. Apa Kakak-kakak mau?" Ujar Sofie berusaha merayu para pria bertubuh kekar itu. Mereka tampak saling pandang satu sama lain. Lalu...
"Apa perkataanmu bisa kita percayai? Mungkin saja di dalam minuman itu sudah diberi obat tidur untuk kami. Benar tidak, kawan?! HA HA HA HA!"
"HA HA, benar!"
Sofie mengernyit seakan tidak percaya.
'Sial! Bisa-bisanya mereka tahu rencanaku! Apa boleh buat, aku juga harus mencicipi minuman ini. Untung saja aku sudah memisahkan satu untukku. Ha ha, lihat saja nanti' gumam Sofie dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kalian tidak percaya. Aku akan meminumnya. Kalian lihat ini!" Tutur Sofie seraya meminum satu botol es kopi di tangannya sampai habis. Para pria bertubuh kekar itu melotot seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Hah! Gimana, apa kalian masih mengira bahwa di dalam kopi ini sudah diberi obat? Lihat, aku buktinya masih sehat dan segar!" Ucap Sofie.
"Eh, benar juga. Wah, kalau begitu aku mau!"
"Aku juga!"
"Hei, sisakan untukku satu!"
Semuanya tampak tidak sabar memperebutkan es kopi yang di tawarkan Sofie pada mereka. Satu menit kemudian, para pria itu jatuh dan tak sadarkan diri. Sofie lalu mengambil kesempatan ini untuk menekan pintu bel apartemen Ana.
Ting!
"Para pengawal itu kenapa diam aja? Ada tamu kok dibiarkan menunggu di luar? Aih!" Ucap Ana sembari berjalan ke arah pintu apartemennya. Tapi sebelum itu, Ana melihat pada lubang kecil. Yang terletak di belakang pintu itu. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat pasi.
'Ya Tuhan, d-dia siapa? Lalu pengawal itu? Kemana perginya mereka? K-kenapa tidak ada orang? Sebaiknya aku menelepon Bara sekarang' gumam Ana dalam hati. Saat ia membalikkan tubuhnya untuk menjauh dari pintu itu. Lagi-lagi suara bel di bunyikan kembali. Membuat Ana semakin dilanda ketakutan dengan wajah yang gusar. Ana buru-buru mengajak Arbi ke dalam kamar dan tak lupa mengunci pintu kamar itu.
"Bunda kenapa? Kok wajah Bunda pucat?" Tanya Arbi khawatir.
Ana mendekap erat Arbi sembari menelepon Bara. Tangannya tampak gemetar memegang ponselnya. Arbi sepertinya juga ikut terbawa situasi. Mendadak diam dan gemetar tubuhnya.
Tangan kiri ana menepuk-nepuk pelan pundak Arbi. Sementara tangan kanannya memegang ponselnya. Namun nomor Bara tidak juga tersambung. Ana semakin gugup dan takut.
Terdengar suara pintu apartemen seperti di buka paksa. Mata Ana melotot kaget.
'Astaga, pintu apartemen terbuka, a-apakah dia yang masuk?' gumam Ana dalam hati. Arbi mendongak menatapnya.
"Bunda, pintu kamarnya?" Bisik Arbi. Ana mengangguk pelan. Seakan memberi jawaban bahwa sudah ia kunci. Arbi memeluk Ana lagi. Menenggelamkan kepalanya di bahu Ana.
Bara yang di telepon sedari tadi tak kunjung tersambung. Suara langkah kaki dari luar kamar terdengar semakin mendekat. Ana benar-benar takut. Wajahnya gusar dan penuh ketegangan.
'Ya Allah, lindungi aku dan juga Anakku' gumam Ana berdoa dalam hati.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar diketuk berulang kali. Tapi tak ada suara dari orang yang mengetuk pintu itu. Kalau itu Bara, bukankah akan memanggil namanya?
Tok.. tok.. tok..
Lagi-lagi pintu itu diketuk. Ana tak melepas pelukannya pada Arbi. Ponselnya terus ia genggam seraya menekan panggilan video pada Bara. Namun Bara tak juga menjawab panggilannya.
"Bunda... Arbi takut!" Bisik Arbi dengan suara gemetar.
"Iya sayang, Arbi tenang, ya. Bunda ada disini." Tutur Ana pelan, seraya mengecup lembut kening Arbi.
Krek.. krek.. krek..
Knop pintu terus di putar paksa. Memaksa untuk masuk ke dalam kamar. Lalu berhenti beberapa menit. Tak lama pintu kamar itu seperti di pukul menggunakan benda tajam. Ana semakin panik dan ketakutan.
Ia mengajak Arbi untuk masuk ke dalam toilet kamar mandi. Tak lupa membawa telepon yang ia genggam sedari tadi. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada Pak John. Ana mengetik pesan dengan tangan gemetar. Mengirimnya pada nomor Pak John.
.........
Ting!
Notifikasi masuk di ponsel Pak John. Ia membuka layar ponselnya.
《Pak John, tolong ke apartemen sekarang! Ada orang yang menerobos masuk ke dalam apartemen kami. Aku dan Arbi sedang mengumpat di toilet kamar mandi. Orang itu sedang memukul pintu kamar kami. Berontak untuk masuk ke kamar ini. Tolong beritahu Bara!》 -Nyonya muda Ana.
Mata Pak John melotot tajam. Ia langsung pergi menemui Bara di ruang kerjanya. Setelah menyelesaikan rapat yang sempat ditunda tempo hari lalu. Pak John berlarian dengan wajah paniknya.
Sesampainya di ruang Bara.
Brak!
Pak John membuka pintu itu dengan mendobraknya. Hingga membuat Bara tercengang kaget. Terlihat ia sedang mengecek laporan kantor kemarin di laptopnya.
__ADS_1
"Tuan muda, Nyonya muda!" Ujar Pak John berteriak.