
Antara cokelat atau Cium?
Surat dan hadiah yang diberikan Arya di simpan pada kotak laci milik Ana. Tak sedikit pun, Ana menyentuhnya. Namun Arbi sepertinya menginginkan cokelat batangan, yang ada di dalam sana. Lantaran, Arbi berulang kali membuka kotak laci itu. Anak kecil, memang punya rasa keingintahuan yang tinggi.
“Arbi? Kamu dari tadi Bunda perhatikan buka kotak laci itu terus, sayang? Kenapa?” tanya Ana bingung.
“Hm... Bunda?” panggil Arbi. Pria kecil itu menyahut ucapan Ana.
“Iya, sayang? Kenapa? Arbi mau apa?”
“Itu... Bunda... cokelatnya boleh dimakan nggak, Bunda?” Balas Arbi ragu-ragu meminta.
“Arbi mau?” tanya Ana lagi. Anak itu mengangguk pelan.
“Sini sayang!” perintah Ana, menyuruh Arbi mendekatinya. Arbi menurut, menghampiri Ana seraya tertunduk malu.
Ana lalu mengelus lembut pucuk kepala kecil Arbi. Di ciumnya berulang kali. Rasanya tidak tega, bila anak sekecil itu harus dimarahi. Hanya karena sebuah cokelat. Ya, Ana tak harus memarahinya, bukan?
Membujuk anak kecil dengan kata-kata yang manis. Bisa membuat hati dan pikirannya yang gusar berubah tenang. Tak ada kata takut, bila menghadap orang tuanya.
“Arbi mau cokelat itu?” Arbi mengangguk cepat.
“Nanti ya, sayang. Kita tunggu Ayah pulang dulu. Habis itu, Arbi boleh deh, makan cokelatnya.” Ucap Ana seraya mengelus lembut rambut Arbi yang tipis.
Hari sudah semakin sore. Tapi Bara belum juga menampakkan batang hidungnya. Sedari tadi, Arbi begitu tak sabar menunggu Ayahnya pulang. Anak itu sangat menantikan untuk memakan cokelat yang diberikan Arya tadi.
Dengan wajah cemberut, Arbi diam tak bergeming. Namun, pandangannya melihat ke arah kotak laci itu. Ana jadi tidak tega, menatap wajah Arbi yang sedu. Tapi mau bagaimana lagi? Bara belum kembali, tak mungkin baginya memberikan sesuatu pada anaknya tanpa sepengetahuan Ayahnya.
Beberapa menit kemudian...
“Bunda? Kapan, Ayah kembali?” tanya Arbi tak sabar.
“Sebentar lagi, sayang. Kamu yang sabar, ya.” Ujar Ana menjawab.
Tak berapa lama, suara bel apartemen berbunyi lagi. Arbi langsung berlarian mendekati pintu itu. Diikuti pelayan yang dibawa Pak John kesini. Juga ikut mengekor di belakang Arbi.
“Ayo buka, Mbak! Pasti Ayahku yang datang,” kata Arbi bersemangat. Pelayan itu mengangguk cepat. Sembari membukakan pintu untuk Tuan mudanya.
Padahal, Bara sendiri juga memiliki kartunya. Jadi, meskipun tidak dibuka dari dalam, ia tetap bisa membukanya sendiri.
“Ayah!” teriak Arbi antusias. Saat ia melihat wajah Bara, dibalik pintu itu. Beserta Pak John yang ada di belakangnya.
“Arbi? Tumben, baik sama Ayah.” Sahut Bara. Arbi mengerucutkan bibirnya ke depan. Tampaknya anak itu kesal.
“Dimana, Bunda?” tanya Bara menanyakan Ana. Sambil menggendong Arbi seperti tukang panggul yang tengah memanggul beras.
__ADS_1
Benar-benar si Bara! Eh.
HAP!
Arbi melompat naik ke atas punggung Bara. Anak itu sepertinya begitu tak sabar. Ingin menikmati cokelat yang ada di kotak laci tadi.
Bara dan Arbi berjalan memasuki kamar. Sementara Pak John dan pelayan tadi langsung pamit pergi. Untuk kembali ke rumah utama.
Kriek!
Bara memutar knop pintu kamar. Mencari sosok Ana di dalam sana. Arbi tampak menjenggut rambut Bara begitu kuat. Membuat Ayah muda itu begitu mendongakkan kepalanya ke atas.
“Ayo Ayah, terus jalan!” cerca Arbi.
“I-iya, Arbi jangan kuat-kuat menarik rambut Ayah.” Respons Bara dengan kedua mata yang membulat.
Dan sampailah mereka di dekat tepian ranjang. Ana sudah menunggu rupanya.
“Arbi, ayo turun!” pinta Arbi untuk segera menuruni tubuh Bara.
Bara membungkuk ke bawah. Dan Arbi langsung melompat dari tubuh Ayahnya. Lagi-lagi, anak itu mendekati kotak laci tadi.
“Ayah, aku mau cokelat!” gumam Arbi sembari membuka kotak lacinya.
“Cokelat? Dimana?” tanya Bara kebingungan menjawab.
“Itu dari... Arya. Aku juga nggak tahu, dia bisa mengetahui apartemen ini.” Jawab Ana gugup.
“Terus, kamu temui dia?” ujar Bara bertanya. Ana menggeleng pelan.
“Mbak pelayan yang menemuinya. Tapi hanya barang-barang itu saja, yang ditemui. Mungkin orangnya sudah pergi.” Sambung Ana.
Bara berjalan mendekati Ana. Dan duduk di sisi sebelahnya.
Cup!
Satu kecupan di daratkan Bara pada kening Ana. Lelaki itu langsung melemahkan tubuhnya di pelukan Istrinya. Sementara Arbi, masih penasaran dengan cokelat tadi.
“Untunglah, kamu nggak keluar. Terima kasih, sayang. Kamu sudah mengerti aku.” Tutur Bara lembut.
“Kamu pasti lelah banget. Mau istirahat dulu? Atau makan sebentar? Tadi Mbak pelayan sempat memasak.” Balas Ana seraya mengelus lembut rambut Bara.
“Boleh, mau makan dulu. Tapi di suapi kamu, ya?” pinta Bara manja.
“Tapi kamu yang ambil makanan nya kesini?” sahut Ana.
__ADS_1
“Iya, sayang. Kan, memang selalu aku yang mengambil. Kamu sedang hamil, jadi nggak boleh banyak gerak. Apalagi, sudah mau memasuki bulan kelahirannya.” Ana tersenyum kecil menatap Bara.
Saat keduanya ingin menyatu dalam sentuhan lembut. Suara panggilan Arbi yang memanggil, langsung menyadarkan Ana juga Bara.
“AYAH, BUNDA!” teriak Arbi kecil. Ketika melihat Ayah dan Bundanya hampir berciuman seperti pagi tadi.
“E-eh, m-masih ada Arbi, ya? Aku lupa..” Ana gelagapan berkata-kata.
“Arbi.......” Bara mendengus sebal.
“Cokelatnya bagaimana? Aku mau makan cokelat!” gerutu Arbi.
“Kita beli yang baru aja, gimana?” Sanggah Bara pada Arbi.
“Memangnya kalau yang itu kenapa, Yah?” tanya Arbi.
“Takut ada racun nya.” Sambung Bara. Anak kecil itu seketika bergidik ngeri.
“Sayang...” ujar Ana seraya menggeleng pelan menatap Bara.
“Siapa tahu aja, sayang. Kan, nggak ada salahnya. Kalau kita waspada sedikit.” Ana hanya memagut paham.
“Aku ambil makanan sebentar, ya. Kamu jangan gerak-gerak.” Tutur Bara sembari beranjak bangun.
“Kaku dong, aku?”
“Enggak, bukan gitu sayang. Pokoknya kamu jangan banyak gerak, sayang.” Khawatir Bara.
Cup!
Bara mengecupi lembut perut besar Ana. Di elusnya berulang kali. Tak peduli adanya Arbi disana. Yang tengah memperhatikan kemesraan Ayah dan Ibunya. Arbi diam-diam mengerucutkan bibir kecilnya.
“Ayah!!! Aku juga mau!” sergah Arbi berlari mendekati Ana.
“Kamu mau apa? Cokelat? Nanti Ayah suruh Pak John belikan.” Sahut Bara.
“Kalau cokelat juga mau. Aku mau kayak Ayah.” Lanjut Arbi berucap. Bara dan Ana lantas saling memandang satu sama lain. Ucapan Arbi begitu ambigu.
“Arbi mau apa, sayang?” tanya Ana penasaran.
“Ini, di cium lagi, Bunda.” Jawab Arbi seraya menunjuk ke bibir kecilnya. Bara tergelak kaget. Kedua matanya membulat besar.
‘Si kecil benar-benar, ya!’ gumam Bara dalam hati. Sembari menepuk jidatnya.
Kacau!
__ADS_1
EH.