Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 102


__ADS_3

Krek


Gladys membuka pintu ruang perawatan Ana. Ia melihat kemesraan yang ditampakkan Ana dan Bara. Gemuruh di dada nya semakin membara.


'Dia enak-enakan mesra-mesraan dengan Suaminya. Sementara Arka menjadi cacat karena luka bakar di tubuhnya. Arka, nggak seharusnya kamu mengorbankan hidupmu untuk Ana. Buka matamu, Ka! Aku yang seharusnya kamu pedulikan!' Gumam Gladys dalam hati.


"Gladys? Kamu kesini sama siapa? Nggak bareng Arka?" Tanya Ana menyapa. Bara tergelak kaget dengan kedatangan Gladys yang secara tiba-tiba.


"Heh, harusnya aku yang tanya itu. Kemana Arka? Kamu nggak tahu? Jelas kamu nggak tahu, itu karena Arka sekarang tengah berada di dalam ruang perawatan! Itu semua karena kamu, An!! Kamu lagi-lagi membuatku sulit! Kenapa sih, Arka sebegitu pedulinya sama kamu?! Aku dulu sempat menyingkirkan pikiran-pikiran burukku mengenai Arka. Tapi sekarang semuanya sudah jelas. Arka lebih memilihmu dibandingkan aku!" Celoteh Gladys.


"Ma-maksud kamu.. Arka yang sudah menolongku dan Arbi? Jadi.. Om itu.. Om itu Arka?" Ucap Ana bertanya-tanya. Lalu menatap mata Arbi seakan menunggu jawaban dari pria kecil itu. Arbi mengangguk pelan.


Ana terdiam kaku tak bersuara. Mencoba memahami semuanya, meski dalam diam.


"Sayang.. a-aku bisa jelaskan semuanya. Aku..." perkataan Bara terpotong.


"Bara cukup! Aku pikir kamu yang sudah menolongku. Tapi ternyata.. Arka.. yang bukan siapa-siapa untukku. Dari dulu, bahkan hingga sekarang. Arka yang selalu jadi penolongku." Balas Ana sedu. Ana merasa bersalah pada Arka. Harusnya ia sadar, betapa besar cintanya Arka untuknya. Dibandingkan Bara yang sebenarnya ialah Suaminya sendiri.


Betapa kecewa nya Ana pada Bara. Hal sebesar ini pun, Arka yang berusaha menolongnya. Yang bukan siapa-siapa. Ana sempat menutup mata dan hatinya untuk Arka. Tapi kini, ia mencoba memberinya kesempatan.


'Bara, apa mungkin.. hubungan kita akan berakhir sampai disini? Aku sudah begitu banyak mengalami penderitaan. Dan Arka, sudah begitu banyak mengorbankan dirinya hanya demi diriku yang bukan siapa-siapa nya. Aku kecewa denganmu, Bara!' Gumam Ana dalam hati.


"Sekarang kamu udah tahu, kan? Kebenarannya. Arka yang naik ke atas gedung tua itu. Seorang diri hanya berbekal karung goni basah. Seorang Arka, menyelamatkan Istri orang! Logika nya dim.." ucapan Gladys terpotong.


"GLADYS CUKUP!!!" Arka datang tiba-tiba menghentikan Gladys.


Ana melihat ke arah Arka. Yang terduduk di kursi roda. Hatinya begitu sesak mendengar semua penjelasan dari Gladys. Terlebih lagi kemunculan Arka. Menambah gemuruh sesak di hati Ana.


'Ya Allah.. apa yang telah aku lakukan? Dan apa yang harus aku lakukan sekarang?' Dalam hati, Ana bertanya pada dirinya sendiri.


Disisi lain, ia begitu mencintai Bara. Namun Arka, sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan untuknya.


Gladys diam terpaku, tak menyangka Arka akan datang ke ruang perawatan Ana. Arka menggerakkan kursi rodanya. Berjalan mendekati Gladys. Bara menatap wajah Ana dengan sedu. Ia takut, Ana berpaling dan meninggalkannya.


"Cukup, Dys. Kak Ana nggak tahu apa-apa. Kamu kalau mau menyalahkan, salahkan aku!" Tutur Arka.


"Kenapa? Kenapa kamu lebih membela dia, Ka? Selama ini kamu anggap aku apa, Ka? Hiks.. hiks.. hiks.. aku tahu aku bukan siapa-siapamu. Tapi sedikit saja.. kamu berikan rasa pedulimu pada Ana itu untukku.." balas Gladys sedu.

__ADS_1


Arka diam tak berkata sepatah kata pun lagi.


"Arka.. maaf. Karenaku, kamu jadi begini." Ujar Ana sedu, merasa bersalah atas apa yang terjadi.


"Nggak, Kak Ana gak perlu minta maaf. Memang sudah seharusnya aku membantu Kakak." Arka menggeleng pelan. Di matanya terlihat kalau Arka masih mencintai Ana.


Orang yang mencintai kita, tatapannya akan berbeda. Dari apa dia tatap ke orang lain. Dengan menatap seseorang yang ia cinta.


"Untuk apa kamu menolongku, Ka? Apa karena kamu mencintaiku?" Pertanyaan Ana sontak membuat Arka terdiam. Matanya tergelak kaget, mendengar Ana mengatakan itu. Bara juga demikian. Sementara Gladys, jangan ditanya lagi. Ia bahkan memilih pergi menghindari drama itu. Tak sanggup mendengar sesuatu hal yang dikatakan Arka.


"Ya, aku memang mencintai Kak Ana. Tapi aku sadar, kalau Kakak tidak akan pernah memberikanku kesempatan untuk itu." Jawaban Arka membuat Ana terdiam. Namun tidak bagi Bara.


'Apa-apaan dia? Menyatakan cintanya di depan wanita yang telah bersuami! Terlebih lagi di depan Suaminya langsung. Dasar gila!' Gumam Bara dalam hati.


Ana mencoba untuk memberikan jawaban pada Arka. Berharap, dia dan Arka tidak akan menyesali keputusannya.


"Arka.. aku menghargai cinta dan pengorbananmu untukku. Tapi maaf, aku Sudah bersuami. Aku sudah mencintai Bara. Mungkin kalau seandainya aku menjanda, bisa jadi aku akan memberikanmu kesempatan itu. Tapi sekarang, aku sudah ada Bara. Kejarlah Gladys, jangan buat dirimu menyesal dikemudian hari, Ka. Sekali lagi, terima kasih dan maaf." Jelas Ana seraya menggenggam erat tangan Bara.


Bara tersenyum senang penuh kemenangan. Hatinya tenang, Ana tidak berpaling darinya. Ia bisa melihat kekecewaan di wajah Arka yang berubah kusut.


"Baik, terima kasih untuk jawabannya. Aku harap Kak Ana bahagia selalu." Ucap Arka. Ana mengangguk pelan seraya tersenyum kecil.


"Kalau sekali lagi Lo nyakitin Kak Ana, Gue nggak akan segan untuk merebutnya dari sisi Lo!" Tutur Arka tertuju pada Bara.


"Tenang, kita pasti akan menjaga baik hubungan ini." Balas Bara sembari mengeratkan genggaman tangannya dengan Ana. Arka yang melihat itu merasa risih.


"Kak, aku pergi! Jaga diri Kakak baik-baik, ya." Arka pamit pada Ana.


"Kamu juga, Ka." Ucap Ana membalasnya. Arka mengangguk dan pergi menghilang di balik pintu.


Arbi sedari tadi hanya diam dan mendengarkan. Tidak mengerti permasalahan orang dewasa. Tiba-tiba tangan kecilnya memeluk Ana.


"Eh, Arbi.. kamu lelah ya, sayang?" Tanya Ana seraya mengecup pucuk kepala nya. Arbi mengangguk pelan.


"Sayang, terima kasih." Ujar Bara sembari mengecup bibir Ana. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat Arbi menenggelamkan kepalanya di pelukan Ana.


"Sayang ih.." balas Ana tercengang kaget. Bara terkekeh kecil melihat ekspresi Ana yang menggemaskan itu.

__ADS_1


.........


Arka mencari keberadaan Gladys. Namun ia justru malah bertemu dengan asisten nya. Berlari menghampir Arka.


"Tuan muda!" Panggil nya.


"Dimana Gladys?" Arka menjawab dengan berbalik tanya.


"Gladys? Saya a-baik, Tuan muda." Asisten Arka membantunya mendorong kursi roda Arka.


"Bantu aku menemui gadis itu." Pinta Arka.


"Baik, Tuan muda."


Arka dan asistennya berjalan keluar rumah sakit. Mencari udara segar di halaman sekitarnya. Kemungkinan Gladys juga masih belum jauh dari sana.


Sesampainya mereka di halaman rumah sakit. Terlihat dari kejauhan, seorang wanita tengah terduduk sembari meringis tangis. Dari punggung nya seperti Gladys.


Arka meminta asisten nya untuk mempercepat dorongan pada kursi roda nya. Setelah mendekat, Arka memberikan sapu tangan nya pada wanita itu. Dia pun menoleh menatap Arka.


"Maaf.." ujar Arka meminta maaf padanya. Benar, wanita itu ialah Gladys.


"Tidak seharusnya aku berkata kasar padamu tadi." Sambung Arka lagi. Tangannya terangkat meraih jari jemari Gladys. Lalu mengelus nya dengan sangat lembut.


Cup


Arka mengecup tangan Gladys.


"Will you marry me?" Tutur Arka melamar Gladys.


Wajah Gladys berbinar menatap Arka nanar. Tak menyangka bila Arka benar-benar melamar nya. Gladys pikir, Arka dan Ana akan menyatu. Namun perkiraan nya ternyata salah.


Gladys mengangguk cepat dengan senyum nya yang mengembang. Ia memeluk Arka dengan sangat erat.


Dan akhirnya, Arka menyadari bahwa cinta sejatinya ialah Gladys. Bukan ada pada Ana.


Terkadang, seseorang baru merasakan arti dari kehilangan. Setelah orang itu benar-benar pergi dari kehidupan kita.

__ADS_1


"then appreciate someone in your life, while he is there."


TAMAT.


__ADS_2