
Sudah lima belas menit, Arka berdiam diri memperhatikan punggung Gladys yang membelakanginya. Tiba-tiba Arka mendapat sebuah pencerahan. Tangannya mencari sebuah benda di atas meja kecil sebelah ranjangnya.
Ponsel, Arka mengambil ponsel itu. Lalu membukanya, dan terlihat seperti tengah mengetik sesuatu disana.
[Apa yang dilakukan Suami pada Istrinya yang baru saja menikah]
[Apa yang harus pertama disentuh lebih dulu]
[Bagaimana caranya memulai ciuman yang romantis]
[Apakah malam pertama itu indah]
[Bagaimana bila wanitanya marah dan kesal]
Arka mengetik itu semua di mesin pencaharian bernama gugel. Membacanya beberapa menit lamanya. Mungkin sekitar lima bahkan hampir sepuluh menit.
Setelah membaca dari beberapa artikel yang ia baca, Arka kembali menaruh ponsel itu lagi pada tempatnya. Pandangannya sekarang beralih menatap punggung Gladys lagi. Yang hanya berbalut pakaian tipis.
Dejavu, Arka seperti pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Ya—itu pada saat Ana tengah hamil besar. Yang akan segera melahirkan sewaktu Arka masuk ke dalam kos lamanya. Tanpa sengaja, Arka melihat tubuh Ana yang mengenakan pakaian terbuka.
“Astagfirullah!” gumam Arka berucap istigfar. Saat mengingat kejadian itu.
Alih-alih Gladys yang pura-pura tertidur mendengar suara Arka. Menggerutu kesal di dalam hatinya. Sekuat tenaga, Gladys mencoba untuk menahan dirinya. Agar lebih jual mahal. Dibandingkan tadi, yang langsung mengambil kesempatan memeluk Arka dalam keadaan lampu padam.
Arka menatap ke arah Gladys. Dalam hati, ia berpikir bahwa Gladys benar-benar sudah tidur. Karena kekecewaannya pada masalah tadi. Tak satu pun diantara keduanya mencoba untuk mengalah.
Alhasil, malam pertama Gladys dan Arka gagal total!
Bila dibandingkan dengan Bara, Arka harus banyak belajar dari sahabatnya. Bara cenderung lebih agresif dan suka memulainya lebih dulu. Sementara Arka, cenderung terkesan pemalu dan ragu-ragu.
Arka kembali memadamkan lampu kamarnya. Dan berbaring menghadap tubuh Gladys yang membelakanginya. Dengan ragu dan gugup, tangan Arka terangkat untuk menyentuh pinggang Gladys. Mencoba melakukan apa yang Gladys lakukan tadi. Memeluknya dari arah belakang. Ya, bukankah itu terdengar romantis?
“Aku minta maaf..” gumam Arka pelan. Tak menyadari bahwa seseorang belum benar-benar masuk ke dalam mimpinya. Iya, Gladys belum tertidur.
Tepat di saat Arka menyandarkan kepalanya di bahu Gladys, wanita itu langsung berbalik badan. Arka sontak tergelak kaget. Sayangnya lampu di kamar padam. Jadi Gladys tak bisa melihat ekspresi wajah Arka yang sudah begitu merona karena terkejut.
Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain. Tangan Gladys terangkat menyentuh wajah Arka dalam kegelapan. Lalu mengelusnya dengan lembut.
__ADS_1
“Gladys.. k-kamu?” tutur Arka pelan.
“Sssttt... aku paham kok, Suamiku ini sangat polos. Aku memaafkanmu, sayang.” Balas Gladys dengan suara berbisik.
Deg!
Jantung Arka seketika berdegup kencang. Arka tak mengira betapa agresifnya Gladys sekarang. Tapi entah mengapa Arka tak bisa menolaknya.
“Arka.. kamu tahu, nggak? Seberapa dalamnya aku mencintaimu.” Bisik Gladys. Arka menggeleng pelan, pergerakannya dirasakan Gladys. Yang tangannya masih berada di posisinya.
“Sedalam.. ini..” lanjut Gladys, sambil mengecup lembut bibir Arka. Di ruangan yang sudah begitu gelap gulita.
Arka melotot kaget tak percaya. Dia benar-benar bersentuhan dengan Gladys. Hal yang ia idam-idamkan sebelumnya. Namun bukan Gladys orangnya. Orang yang ia kagumi dan pernah ia perjuangkan ialah, Ana.
Tapi kenyataan nya sekarang, Gladys-lah yang telah menjadi Istrinya.
Arka memegang pergelangan tangan Gladys kuat. Wanita itu tergelak kaget dan terdiam. Entah apa yang dilakukan Arka sekarang. Lelaki itu mencoba mengambil alih dari pergerakan Gladys.
“Gladys.. kamu berani juga, ya.” Bisik Arka di telinga Gladys.
Deg!
“Biar aku saja yang memulainya.. sayang..” ucap Arka pelan. Dengan nada yang mungkin terdengar lebih lembut dari biasanya. Membuat wanita di hadapannya sekarang jadi ikut terbuai akan suara Arka.
Keduanya tampak berpagut mesra. Arka mendaratkan beberapa kecupan di wajah Gladys. Dan berakhir turun di benda kenyal itu. Agak lama, Arka bermain disana. Gladys mencengkeram kuat rambut Arka. Kedua tangannya mengalungkan di leher Arka.
Hingga terjadilah yang seharusnya terjadi.
“Arka... aku cinta kamu, Ka..” desah Gladys pelan. Arka mendekap Gladys begitu kuat. Tak ada jawaban dari Arka. Tapi pergerakan Arka sudah dapat mewakili apa yang seharusnya ia ucap, kan?
.........
Paginya para pasangan pengantin baru. Arka dan Gladys masih berada di dalam selimut yang sama. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Yang berarti keduanya telah kesiangan.
Arka membuka kedua matanya. Pandangannya langsung mencari sosok yang semalam telah membuat dirinya terbuai akan cinta yang menggelora. Gladys, Arka menatap lama ke wajah wanita yang sekarang telah sah menjadi Istrinya itu.
Agak lama, Arka memandanginya. Sinar mentari masuk ke dalam kamar mereka. Wajah Gladys begitu teduh saat sedang tidur. Mengingatkan Arka pada sosok Ana. Yang selalu membuat dirinya kagum akan sifatnya yang lembut.
__ADS_1
Namun Arka sadar, sekarang telah ada Gladys di kehidupannya. Sudah seharusnya ia buang jauh-jauh bayangan Ana dari ingatannya. Karena bagaimana pun perasaannya terhadap Ana, itu semua sudah tak lagi berguna.
Gladys-lah yang lebih penting saat ini.
Tangan Arka terangkat menyentuh wajah Gladys. Tanpa sadar, dirinya sudah membangunkan putri tidur. Ya, Gladys terbangun akibat dari sentuhan Arka tadi.
“Engh.. Arka.. kamu udah bangun?” ujar Gladys bertanya. Arka mengangguk pelan seraya tersenyum mengembang.
“Kamu nggak ke kantor?” lanjut Gladys menanyakan. Arka menggeleng, dan lagi-lagi memandangi wajah Gladys dalam-dalam. Membuat wanita itu menjadi salah tingkah dibuatnya.
Aih, Arka gemas, deh! Eh.
“Aku mau disini aja.” Sambung Arka membalas pertanyaan Gladys.
“Kok disini?”
“Iya, aku masih mau lihat kamu, soalnya.”
Bisa-bisanya Arka menggombal. Eh!
“Arka mulai genit ya, sekarang. Ini pasti menular dari virusnya Bara.” Ucap Gladys. Arka terkekeh kecil hingga menampilkan senyumnya yang menyeringai.
“Kayaknya, aku harus banyak belajar dari Bara.” Ujar Arka. Gladys menaikkan kedua alisnya.
“Belajar?” tanya Gladys. Arka memagutkan kepalanya.
“Iya, soalnya dia lebih jago dari aku. Pantas saja, Kak Ana hamil lagi.” Balas Arka tampak nyeleneh.
“Pfftt! Aku tahu kemana arahnya dari pernyataanmu itu, Ka.” Sambung Gladys seraya terkekeh kecil. Sontak Arka jadi ikut tertawa.
“Kalau kamu.. mau nggak? Hamil anakku.” Ucap Arka.
Mendengar ucapan Arka barusan, membuat Gladys tercengang dalam diam. Dalam hati, Gladys berteriak kegirangan. Namun ada rasa kesal tersendiri. Ketika mendengar Arka mengajukan pertanyaan itu.
‘Apaan sih, Arka! Kekanakan banget, deh. Gitu aja pake tanya segala, ih. Ya jelas aku mau-lah, Ka!’ Gumam Gladys dalam hati.
...Mencintaimu dan dicintai olehmu, adalah hadiah terindah yang pernah aku terima. -Gladys...
__ADS_1