Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 57


__ADS_3

Senja berganti malam. Indahnya lampu berkerlap-kerlip menyinari gelapnya malam. Seseorang dibalik jendela kamar sedang menatap keindahannya. Rona langit berwarna kuning keemasan. Menandakan tenggelamnya matahari yang akan berganti bulan.


“Ana... makan yuk! Aku udah siapkan makan malam buat kita,” ucap Gladys mengajak Ana.


Tak ada tanggapan dari Ana.


Gladys menghampiri dan mendekatinya.


“Hm... aku mungkin gak tahu, kejadian apa yang kamu alami sebelumnya. Tapi bukan berarti kita terus-menerus hidup dalam keterpurukan. Pernah dengar kalimat ini? Bahwa di atas langit, masih ada langit.” Gladys berujar.


Ana tampak mengernyit menatapnya. Seakan ia tak sabar mendengar kelanjutannya.


“Iya, saat kita merasa sedih, ada orang yang lebih sedih daripada kita. Saat kita mengalami kesulitan, ada orang yang jauh lebih sulit daripada kita. Maka, jangan pernah berpikir kalau, hanya kita orang yang paling menderita di dunia ini. Yang namanya ujian hidup, setiap orang pasti pernah mengalami. Hanya berbeda di tingkatan levelnya aja,” lanjut Gladys.


Ana paham sekarang, pikirannya mulai terbuka lebar. Benar juga yang dikatakan Gladys. Kita gak boleh terus menerus berada dalam keterpurukan. Perjalanan masih panjang, dan hidup masih harus terus berjalan ke depan.


“Maaf.” Hanya satu kata itu, yang keluar dari bibir Ana.


“It’s okay kok, An.” Gladys tersenyum menatapnya. Ia mendekatkan tubuhnya pada Ana. Memeluknya dengan sangat erat.


Gladys tampak kaget saat merasakan tubuh Ana yang begitu kurus nya. Benar-benar lemah. Apa berapa hari ini dia tidak makan? Pikir Gladys.


“Hm, Ana. Kita makan yuk! Aku udah masak tadi sore. Badan kamu juga sepertinya butuh banyak nutrisi dan gizi,” ajak Gladys pada Ana.


Ana mengangguk paham. Keduanya pun pergi menuju meja makan. Yang terletak ada di tengah-tengah lantai dasar. Lebih tepatnya dekat dengan ruang santai.


“Kemarin Arka bawa banyak belanjaan kesini. Dia bilang itu buat kamu. Baik banget ya dia.” Gladys sepertinya cemburu.


“Hubungan kalian memang sedekat itu ya?” tanya Gladys lagi.


Ana tampak berpikir, yang dia maksud itu Arka, atau siapa?


“Maksud kamu, Arka?” tanya Ana.


“Iya.”


“We’re just friend,” jawab Ana sungguh.


“Lalu Bara? Kamu benar sudah menikah sama dia?”


“Iya.” Ana tertunduk sedu.


Lagi-lagi pikirannya kacau, kalau sudah mendengar nama Bara.


“Maaf, aku gak bermaksud buat kamu sedih, An.” Gladys seperti menyesal karena topik yang dia tanyakan barusan.


Ana mengangguk lemah. Ia kembali melanjutkan makannya. Meskipun sebetulnya, ia tidak benar-benar berselera.


Suasana makan malam di rumah Gladys, terbilang agak hangat. Tidak seperti dirumah Ana sebelumnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat persinggahan bagi dirinya dengan Bara, dan juga Arbi. Tapi justru sekarang malah kosong tak ditempati.


Ana merindukan suasana hangat keluarga kecilnya. Tiba-tiba ia terpikir oleh Arbi. Sedang apakah dia disana? Bagaimana kalau dia menangis? Bagaimana kalau Arbi tak nyenyak dalam tidurnya?


Dan masih banyak lagi yang Ana tanyakan, pada hatinya.


.........


Di rumah utama, kediaman keluarga Kertajaya. Suasananya semakin ramai. Entah apa yang mereka lakukan. Para pengawal serta pelayan tampak kerepotan.


Sebenarnya ada acara apa?


Sejak kepulangannya dari rumah Ana, Bara tak sedikit pun beranjak untuk keluar dari kamarnya. Ia kembali termenung pada dirinya. Arka pun tak lagi datang menemui dirinya. Bara tampak menyesal, karena sempat membentak Ana.


Tidak seharusnya ia bersikap kasar padanya. Ana pasti tertekan dengan perlakuannya kemarin.


Bara mengacak-acak rambutnya. Ia muak berada di dalam rumah itu. Seperti berada di dalam penjara. Terkekang dan sulit untuk bebas.


“Ana.. maafkan aku.” Bara benar-benar menyesal kali ini.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan dari arah luar pintu kamar Bara. Dirinya bahkan tampak enggan untuk membuka knop pintu. Bara lebih memilih untuk berpura-pura tidur.


“Bara! Buka pintunya!” teriak Tuan besar memanggil.


Ada apa sebenarnya?


Tak ada sahutan dari dalam. Dengan terpaksa mungkin mereka akan mendobrak pintu.


BRAK!


Pintu kamar terbuka paksa. Tuan besar datang bersama dengan asisten beserta pengawalnya. Mereka semua masuk ke kamar Bara. Menghampiri Bara yang terlelap dengan tidurnya.


“Sepertinya Tuan muda tampak kelelahan, Tuan.” Pengawal setianya Tuan besar berujar.


“Ya sudah, biarkan saja dia tertidur sekarang. Tapi jangan biarkan dia pergi. Tetap awasi sampai besok!” perintah Tuan besar pada pengawal beserta asistennya.


“Baik, Tuan.”


Apa yang akan mereka rencanakan?


Bara mendengar percakapan mereka. Sampai pintu tertutup, barulah ia kemudian bangkit lagi.


Bara membuka laptopnya. Melakukan login pada instagram pribadinya dari desktop. Mencari nama Arka pada following nya. Ya, hanya Arka satu-satunya temannya. Yang juga bisa membantunya.


[Ka! Gua butuh bantuan, Lo!] ~Bara.


Beruntungnya, Arka juga sedang online. Dengan sigap, ia langsung membalas DM nya.


[Apa?] ~Arka membalas. Seperti malas meladeni.


[Memangnya dirumah Lo ada apa?] ~Arka membalas lagi.


[Gak tahu, orang rumah pada sibuk kayaknya. Gua gak keluar kamar dari kemarin.] ~Bara.


[Dasar bodoh! Lihat dulu lah, Bambang! Jangan murung melulu! Ingat, ada istri dan juga anak Lo. Yang harus Lo perjuangkan. Jangan egois!] ~Arka


[Iya, elah. Gua tahu. Ya udah, besok jangan lupa kesini. Eh, tapi sebisa mungkin Lo harus tetap online akun ini juga nanti. Karena Cuma ini doang yang Gua main. Gua gak pegan gadget.] ~Bara


[Iya. Lo mau follow akun Ana gak?] ~Arka bertanya. Mungkin saja bisa membuat suasana hati sahabatnya kembali ceria.


[Mana? Lo follow dia? Sialan Lo! Gua yang suaminya malah belum ngefollow.] ~Bara.


[Ya siapa suruh gak punya gadget. Nih namanya @anabella_321] ~Arka.


[Oke.] ~Bara


Percakapan mereka melalui DM berakhir sampai disana. Bara langsung membuka akun Ana yang diberikan oleh Arka tadi. Beruntung akunnya tidak di privasi. Isi galeri di akun Ana memperlihatkan foto-foto Arbi dan juga foto dirinya. Ada satu foto dimana memperlihatkan tangan kekar Bara dan juga Arbi yang sedang bermain.


Bara terenyuh melihatnya. Meskipun wajah nya dirahasiakan. Tapi melihat itu saja ia cukup tertegun. Ana memang beda, pikirnya. Kalau Farah mungkin akan memenuhi galerinya dengan foto-fotonya. Tapi Ana tidak.


Bara tiba-tiba tergerak tangannya untuk mengirimkan pesan melalui DM Ana. Tapi sepertinya Ana sudah lama tidak online.


[Ana sayang, ini aku. Follow back to me! Love u, my baby! ♡] ~Bara


Status Terkirim ☑


Bara kembali menutup laptopnya. Sembari menunggu balasan dari Ana. Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Arka. Mencari tahu sebenarnya, apa yang telah direncanakan oleh keluarganya?


Mengapa ada begitu banyak orang dirumahnya?


Bara melihat dari atas balkon kamarnya. Terlihat dibagian halaman rumahnya ada bunga ucapan 'happy wedding'. Siapa yang menikah? Untuk siapa bunga-bunga itu?

__ADS_1


Bara terus memantau keadaannya dari atas sana. Banyaknya para pengawal serta para pelayan yang berlalu lalang. Sampai tibalah yang ia lihat. Ada satu mobil yang memasuki area halaman rumahnya.


Mobil itu terparkir tepat bawah sana. Hingga keluarlah orang yang berada di dalamnya.


"Farah?" gumam Bara.


Untuk apa dia datang kesini?


Melihat ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Farah, seakan melihat kebahagiaan di sorot matanya. Dia tak datang sendirian. Melainkan bersama dengan


Ali.


Bara teringat dengan rencana bodohnya beberapa bulan yang lalu. Menyuruh Ali untuk memakai serangkaian topeng berlapis kulit. Untuk melakukan penyamarannya. Namanya kebohongan, suatu saat pasti akan terbongkar juga.


Semuanya pun terbilang percuma. Bara merutuki dirinya dalam hati. Ia bahkan membenci keluarganya. Karenanya, ia harus terpisah dengan keluarga kecilnya. Bara rindu dengan kehangatannya bersama dengan Ana, dan juga Arbi.


Bara kembali membuka layar monitor laptopnya. Gurat senyuman terukir diwajahnya yang tampan. Apa yang ia lihat sebenarnya?


Bara tampak mengetik sesuatu.


"Yes! Ana balas pesan Gua! Ha ha ha!" ujarnya semangat.


Bara langsung mengirim DM lagi pada Arka.


[Ka, Ana balas DM Gua.] ~Bara


5 menit yang lalu.


[Iya, tadi Gue sempat hubungi Gladys. Suruh dia cek DM nya.] ~Arka.


Bara terkekeh dengan pernyataan sahabatnya.


[Pantas aja, dia mau balas DM Gua.] ~Bara.


[Memangnya apa yang dia balas?] ~Arka bertanya.


[Kepo Lo!] ~Bara.


[Dih, udah di bantuin juga. Terus gimana sama orang rumah? Udah ketahuan belum, rencana mereka?] ~Arka.


[Gua lihat ada banyak bunga di halaman rumah. Bunga ucapan 'happy wedding' , siapa yang menikah?] ~Bara.


[What? Are u seriously?] ~Arka tercengang.


[Iya. Dan lagi, si Farah datang kesini.] ~Bara.


[Wah, gila! Bar, Gue rasa Lo harus kabur dari sana.] ~Arka.


[Kabur? Memangnya kenapa? Ada apa sih?] ~Bara.


[Dasar idiot! Bokap Lo mau menikahi Lo lagi sama si Farah. Lo ingat gak? Waktu itu dia pernah gagal nikah sama Lo. Dan dia pada akhirnya malah menikah sama si Ali.] ~Arka.


"Sial, kenapa Gua gak terpikirkan kesana?! Oh, ****!" gumam Bara.


[Sialan mereka! Gak ada kapok-kapoknya mainin perasaan anaknya. Masih kukuh juga buat nikahi Gua sama perempuan itu.] ~Bara.


[Mending, Lo ikuti kata-kata Gue. Lo kabur dan turun dari jendela kamar. Jangan sampai ketahuan sama para penjaga disana. Kelihatannya para penjagaannya lumayan ketat.] ~Arka.


[Makanya, Gua juga mikir begitu. Gimana caranya Gua buat kabur? Yang ada malah ketahuan. Kalau udah ketahuan lagi, Gua bakal langsung dikirim ke Aussie tanpa ampun.] ~Bara.


[Udah, gak usah pikirkan yang lain. Intinya saham keluarga Gue yang lagi tinggi sekarang. Lo mau gak? Gue bantuin hubungan Lo sama Ana.] ~Arka.


Bersambung...


**************


Terimakasih telah membaca. Mohon maaf karena author baru sempat update lagi. Dikarenakan kondisi yang tidak begitu memungkinkan beberapa hari ini.

__ADS_1


Stay safe semua! 🌻🌈💛😇


__ADS_2