
“Tensi darahnya normal ya, Mas. Selain itu, dokter Reno yang akan mengecek kondisi kesehatan lainnya.” Ucap suster Emma ramah pada Bara. Ana melihatnya, wajahnya langsung berubah masam.
“Tolong, jangan panggil saya dengan sebutan ‘Mas’!” Balas Bara dengan nada penegasan.
“Loh, bukannya memang Mas, ya?” tampaknya si suster tak mau mengakhiri obrolan itu.
“Bukan, karena saya bukan Suami suster. Panggil saja saya pasien. Atau, Suami Ana. Iya kan, sayang?” tutur Bara menjawab. Seraya menatap wajah Ana dengan penuh cinta. Sontak hal itu membuat suster Emma jengkel. Ia bahkan langsung pergi begitu saja.
Sepertinya Bara menyadari kecemburuan Ana pada sang suster. Itu sebabnya, dirinya langsung merespons begitu. Bara tak ingin melukai perasaan Ana. Meski dalam hati, ia juga senang melihat ekspresi wajah Ana yang cemburu.
Setelah kepergian suster Emma, dokter Reno datang lagi.
“Baik, tadi sudah dilakukan pengecekan tensi darahnya, ya. Kondisinya stabil, dan normal. Sebelumnya apakah ada gejala? Misalnya, pusing atau sakit kepala.” Ucap dokter Reno.
“Kamu tadi dirumah sempat pusing nggak, sayang?” bukan Bara yang menjawab. Melainkan Ana, menanyakan langsung pada Bara. Lelaki muda itu pun menggeleng pelan.
“Ehem, berarti tidak ada gejala apa-apa, ya?” sanggah dokter Reno.
Sepertinya ada yang merasa risih, nih. Eh!
“Iya, dok.” Lanjut Ana membalas.
“Oke, kalau gitu saya cek sebentar, ya.” Dokter Reno mengeluarkan senter kecil. Dan langsung menyoroti ke arah kedua mata Bara. Tak lama setelah itu, dokter Reno memasangkan alat stetoskop pada kedua telinganya. Bertujuan untuk mendengar detak jantung Bara, beserta kelainan lainnya yang dapat terdengar melalui alat itu.
“Semuanya baik, ya. Kondisi tubuhnya juga sehat. Ya, sudah selesai.” Sambung dokter Reno berucap.
“Jadi bagaimana, dok?” Ujar Ana bertanya.
“Dari tanda-tanda yang disebutkan Ibu Ana tadi, bisa disimpulkan bahwa, kondisi amnesia Suaminya sudah pulih. Namun, kondisinya tetap harus terus terjaga, ya. Dan lebih berhati-hati lagi dalam melakukan sesuatu.” Jelas dokter Reno.
“Baik, dok. Pastinya saya akan lebih menjaga Suami saya nantinya.” Tutur Ana membalas. Bara terlihat memandangi wajah Ana sedari tadi.
Tentunya hal itu membuat sang dokter tampan menjadi risih, bukan?
“Iya, kalau begitu sekarang giliran Ibu Ana. Yang akan dilakukan pemeriksaan. Mari, ubah posisi nya.” Lanjut dokter Reno berkata.
Mendengar itu, Bara langsung berubah ekspresi.
__ADS_1
“E-eh, tunggu sebentar, dok!” Bara menghentikan pergerakan tangan sang dokter. Saat ia ingin menyentuh alat USG itu.
“A-ada apa, ya? Apa Mas nya masih ada hal lain? Yang ingin ditanyakan.” Dokter Reno tampaknya kebingungan.
“Ini yang memeriksa perut Ana, dokter sendiri?” tanya Bara menginterogasi.
“Iya, saya sendiri. Bukankah tadi sudah kita bicarakan, ya?”
“Eh, memang begitu, ya? Tapi saya tidak menyimak dan mendengarnya.” Bara membalas dengan tatapan tajam.
“Kalau begitu nanti akan saya jelaskan kembali, setelah dilakukan pemeriksaan ini.” Dokter Reno menjawab dengan tenang.
“Tidak bisa, saya keberatan dengan dokter. Tolong, ganti dengan dokter wanita. Karena saya tidak mau Istri saya dilihat auratnya oleh lelaki lain.” Pinta Bara dengan nada penegasan.
Glek!
Dokter Reno menelan saliva nya. Ia lupa, bahwa kejadian ini pernah terjadi waktu lalu. Lagi-lagi dokter Reno gagal memeriksa tubuh Ana. Alhasil, ia pun memilih untuk mundur dan pergi untuk menangani pasien lain.
“Sayang...” ucap Ana pelan. Khawatir, bila Bara akan bertindak sesukanya. Karena sepertinya dokter Reno berubah kesal. Itu semua terlihat dari ekspresi wajahnya yang langsung berubah masam. Dan tanpa berkata apa-apa lagi.
“Enggak, aku nggak akan berbuat apa-apa, kok.” Balas Bara lembut.
“Eh, kamu, An. Aku pikir siapa, soalnya tadi aku dengar, pasien ini banyak maunya. Hm, rupanya Bara. Heh, ada-ada aja kamu tuh. Untung dokter Reno tidak marah.” Ujar Gladys seraya menatap sinis ke arah Bara.
“He, ia Dys. Maaf, Bara nggak mau kalau aku diperiksa sama dokter pria. Jadi ya gitu, deh. Dia mengambek nggak jelas.” Kata Ana. Gladys mengangguk pelan, sembari memulai pemeriksaan di perut Ana.
Bara menggenggam jari jemari Ana. Sambil sesekali memperhatikan ke arah layar monitor di depannya. Terlihat sepasang janin kembar yang ada di dalam perut Ana. Lelaki itu memasang ekspresi wajah terharu. Sebelah tangannya terangkat mengelus lembut kening Ana. Gurat senyumnya begitu manis menatap sang Istri.
Gladys menyadari kebucinan kedua pasangan itu. Dalam hati, ia senang melihatnya. Ana bisa memiliki Suami yang begitu menyayanginya. Namun Arka juga sepertinya sama.
‘Jadi kangen Arka’ gumam Gladys dalam hati.
“Kondisi bayinya sehat, ya. Kamu masih rajin minum susu formula nggak, An?” ucap Gladys diakhiri tanya.
“Masih, tapi udah mulai jarang-jarang.” Jawab Ana.
“Udah harus di stop ya, An. Soalnya udah masuk waktunya sebentar lagi. Kalau bayinya bertambah terus berat badannya, bisa-bisa melakukan tindakan operasi.” Lanjut Gladys. Mendengar kata operasi, Ana mendadak gugup dan takut.
__ADS_1
“Sayang... aku takut di operasi.” Tutur Ana sedu pada Bara.
“Enggak, kamu nggak akan di operasi, sayang. Tapi kalau pun harus di operasi, aku pasti bakal temani kamu, kok.” Balas Bara seraya mengecup lembut kening Ana.
Bukannya fokus pada pemeriksaan. Gladys justru tampak senang memperhatikan kebucinan Bara dan Ana. Ia membayangkan, kalau seandainya dirinya yang tengah hamil. Lalu Arka melakukan apa yang dilakukan Bara pada Ana.
‘Duh, kalian berdua romantis banget, sih! Aku jadi nggak sabar mau ketemu Arka’ gumam Gladys dalam hati.
“Gladys!” suara Bara membuyarkan lamunan dokter cantik itu.
“Eh, i-iya, hadir. Apa, kenapa? Apa ada yang mau ditanyakan lagi?” ujar Gladys terbata.
“Jadi dokter tuh, yang benar. Gimana, sih? Di panggil in dari tadi nggak menyahut!” Gerutu Bara kesal.
“Eh, memangnya kalian panggil aku, ya? Duh, maaf ya, An. Aku kelelahan, kayaknya. Jadi nggak fokus begini. Maaf ya, Ana, Bara.” Ucap Gladys sambil menampilkan senyum giginya yang putih.
Bara memutar kedua matanya. Dan menatap wajah Ana lagi.
“Pulang, yuk! Aku bosan disini.” Ajak Bara pada Ana. Wanita itu mengangguk pelan.
“Nggak apa-apa kok, Dys. Aku paham, kamu kan dokter. Pasti kesibukannya banyak. Hm, ngomong-ngomong, gimana hubunganmu dengan Arka? M-maaf sebelumnya, Dys. Aku jadi kurang sopan menanyakan.” Balas Ana berbalik tanya. Agak canggung dan gugup saat menanyakannya. Tapi, ia berharap, Arka berubah dan membuka hatinya untuk Gladys.
“Iya, gak apa-apa kok, An. Aku dan Arka alhamdulillah. Kami baik-baik aja, kok. Doakan ya, supaya bisa seperti kamu juga.”
“Seperti Ana? Memangnya Ana kenapa?” bukan Ana yang menjawab. Tapi Bara, dengan nada kesal.
“Maksudnya hamil. Gitu aja nggak tahu sih, Bar. Doakan, ya. Aku juga nggak sabar, pengin cepat dapat momongan kayak Ana.” Sambung Gladys disertai senyum cerianya.
“Iya, pasti kok. Kamu sebentar lagi juga akan hamil, Dys.” Lanjut Ana membalas.
“Yang penting, rajin sayang-sayang an aja, bilang sama Arka.” Sanggah Bara, ikut nimbrung dalam percakapan itu. Sontak Gladys tertawa renyah mendengar penuturan Bara yang agak nyeleneh itu.
“Sayang... kamu tuh, ya. Kebiasaan tahu, nggak.” Tutur Ana mendelik menatap Bara.
“Iya, iya, maaf.” Bara tampak mengerucutkan bibirnya.
‘Aih, seandainya Arka lebih sweet kayak mereka’ gumam Gladys dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...