Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 22


__ADS_3

Ana dan Bara masih belum juga saling baikan rupanya. Padahal mereka sudah berada di dalam kamar kosan. Ana yang tengah berbaring di atas ranjang, sementara Bara duduk kursi meja belajar dengan perasaan kacau sambil memandang Ana yang terbaring lemah dengan mata terpejam. Ada rasa penyesalan dan tidak tega meIihat kondisi Ana yang lemah. Wanita yang saat ini tengah mengandung janin dari anaknya Bara.


Bara memberanikan diri untuk menghampiri Ana untuk berbaring juga disampingnya. Sudah tak tahan rasanya untuk berdiam-diaman seperti ini. Inginnya ia bermesraan seperti sebelumnya.


“Ana, sayang. Maafkan aku. Aku akan lakukan apa pun untuk kamu, supaya kamu mau memaafkanku cinta. Aku gak bisa diam-diaman kayak gini. Aku penginnya kita selalu mesra kayak kemarin-kemarin. Argh!!! Aku.... Argh!!! Aku gak bisa tahan hasratku. Sial! Kenapa selalu begini sih.” Bara berusaha menghindar dari tubuh Ana.


Sementara Ana sedari tadi tidak benar-benar tidur. Iya, Ana hanya memejamkan matanya.


Saat Bara melangkah pergi dari sisi Ana, tiba-tiba tangan Ana menahan tangan Bara untuk tak pergi dari sisinya. Sontak Bara terkejut dan menghentikan langkahnya berbalik menatap Ana.


“Ka-kamu udah bangun sayang?” Tanya Bara. Ana mengangguk.


“Kamu mau kemana?” Tanya Ana. Bara gelagapan. Hahay! Jangan bilang dia mau onani. Hadeuh! Bara, Bara.


“Eh.. Enggak sayang. Aku.. Aku gak mau kemana-mana.”


“Sini duduk!” Perintah Ana. Dengan kondisi yang sudah berkeringat, Bara duduk dihadapan Ana.


Ana melepaskan kancing bajunya satu persatu dari atas. Sontak Bara terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Ana. Ini yang dia inginkan sebenarnya. Tapi mengapa tiba-tiba Ana berubah jadi agresif ya? Bukannya sebelumnya dia menolak ya? Entahlah, Bara merasa kegirangan bukan main. Hahay! Gimana Bar? Mantap kan? Ahay!


“Ka-kamu serius sayang? Kamu bukannya gak mau sebelumnya? Tapi kenapa tiba-tiba jadi berubah pikiran?” Tanya Bara penasaran.


“Kamu mau ini kan? Aku juga tiba-tiba rindu sentuhan kamu.” Jawab Ana jujur. Yihay! Akhirnya mereka baikan. Eh.


“Ah, kamu bikin aku bimbang. Sudah, aku saja yang buka semuanya. Kamu diam saja.”


“Kelamaan, kamu buka saja punyamu semuanya.” Agresif bener si Ana. Tumben. Hahay!


“Ah sayang! Apa tandanya kita sudah baikkan sekarang?” Tanya Bara sambil melepaskan semua pakaiannya satu persatu. Duh, author ngumpet ah. Haha!


“Menurutmu?” Ana berbalik tanya. Dengan kondisi tubuh yang hanya memakai dalaman.


“Ah kenapa gak dibuka semuanya? Aku sudah tidak tahan.” Kabur kabur


“Kamu saja yang buka.”


“Lah katamu tadi kamu saja buka? Kamu suka banget ngerjain aku ih. Aku gigit nih. He he he.” Ucap Bara gemas dengan tingkah Ana.


“Aw, jangan di gigit leherku Bara! Aku gigit kamu juga nih!”


“Gigit aja sayang, aku malah dengan senang hati menerima.” Maunya dia itu mah. Dasar lelaki buaya. Maunya dimangsa dan memangsa mulu. Huh!


Dengan penuh ***** Bara mencumbu Ana. Ia mencium dan mengendus lekuk lehernya, lalu perlahan turun ke area kesukaannya. Agak lama ia bermain disana. Sementara Ana mendesah mengeluarkan suara haram itu dengan mata terpejam. Tak mau kalah, Ana pun menciumi wajah Bara dan m*l*m*t bibir Bara.


Permainan yang mereka lakukan cukup lama. Sampai Ana tergelak lemah tak berdaya. Dasar jahat si Bara. Tega-teganya dia menyalurkan hasratnya pada Ana sampai segitunya. Mau nganu sih nganu, Bar. Tapi jangan bikin anak orang jadi gak bisa bangun dong. Eh.


“Bara.” Panggil Ana yang terbaring dalam pelukan Bara di dalam satu selimut yang sama.


“Iya cintaku?”


“Aku kedinginan.” What’s? Ana kedinginan? Perasaan baru tadi mereka habis bercinta. Author garuk-garuk kepala. Eh.


“Mau tambah lagi?” Huh! Maunya antum itu sih. Dasar cumi.


“Enggak, aku masih sakit itunya. Peluk aku saja yang erat.”

__ADS_1


“Kita mandi air hangat aja gimana?” Saran Bara. Memang ada kompor disini? Hadeh, Bar.. Bar.


“Gak ada air hangat disini Bara.”


“Oh iya ya. Yaudah kita masuk ke dalam selimut aja, nanti aku ciumin kamu di dalam selimut.”


“Kok begitu?”


“Iya sayang, nantikan kita mengeluarkan uap hangat. Jadi kamu gak kedinginan lagi deh.” Iya juga ya. Tapi keenakan dia nya. Eh.


“Ya sudah, apa pun itu lakukan. Aku sudah kedinginan banget ini. Huft!”


Dengan senang hati Bara melakukan itu. Perlahan ia masuk ke dalam selimut dan menutupnya rapat. Entah apakah mereka hanya menghangatkan tubuh atau menambah ronde ketiga? Eh.


Author mau kabur ah. Eh.


“Bar, aku gak bisa napas. Udah cukup!” Terdengar suara Ana dari dalam selimut.


Perlahan kepalanya nongol mengembul keluar. Sementara Bara masih berada di dalam sana. Entah apa yang dia lakukan. Betah amat si Bara. Hewran.


“Bar, kamu minum susuku gak kelar-kelar sih dari tadi? Udah dong. Itu juga udah sama sakitnya tahu. Ih kamu mah.” Protes Ana.


Waduh, rupanya Bara lagi minum ASI. Hahay! Dasar bocil, udah mau punya baby tapi masih pengin jadi baby. Iya, bayi bangkotan. Eh.


“Sebentar lagi kak, aku masih betah disini.” Ucap Bara dari dalam selimut. Betah amat. Emang ada airnya ya?


“Ah, Bara! Jangan di gigit dong!”


“Aku gemas Kak. Eh, cinta maksudnya.”


“Ya baguslah sayang, kamu tambah menggairahkan. He he he he.” Ucap Bara yang masih di dalam selimut. Hanya terdengar suaranya aja, orangnya lagi ngumpet. Ahay!


~


Setelah setengah jam kemudian, Bara keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan keringat peluh yang bercucuran, Ana mengusapnya dengan penuh kelembutan. Membuat Bara menambah rasa sayangnya pada Ana yang penuh kasih sayang akan ke Ibuan.


“Aku beruntung punya Istri kamu, kak.” Gumam Bara.


“Beruntungnya kenapa?”


“Kamu penuh kasih sayang dan kelembutan. Aku merasa seperti punya Isteri dan Ibu.”


“Oh sayangku, cini cini aku cium.” Ana mengecup kening Bara.


“Aku sayang dan cinta sama Istriku.” Ucap Bara kegirangan.


“Kamu kenapa tambah imut gitu sih, Bar? Kamu tuh sebenarnya Suami atau adik aku sih?”


“Suami lah, masa adik kamu. Aku kan sudah tanam benihku di rahim kamu.” Bangga banget si cumi.


“Heleh, bangga banget kamu Bar.” Gerutu Ana.


“Iya dong, goyanganku mantap kan?” Mantap mbah mu. Anak orang dibikin gak bisa jalan.


“Mantap mantap ndasmu mantap.” Ana menampar kecil pipi Bara. Rasa in, emang enak. Hahay!

__ADS_1


“He he he he, maaf sayangku cintaku Istriku. Tapi benar kan? Buktinya kamu sampai merem melek begitu tadi. Mau tambah lagi? Yuk!” Buset, nih bocil lama-lama melunjak ya.


“Apa sih kamu?! Aku masih sakit ini lho. Aw..... Duh perih banget Bara! Aku gak bisa gerakin kaki ku.” Duh, author jadi takut nih bund. Eh


“Coba aku lihat, sekalian di obatin ya cinta?” Dasar aneh. Organ intim ngapain di tengok-tengok heh?! Malu lah cumi. Eh.


“Apaan sih, Bar! Jangan ngada-ngada deh kamu.”


“Tadi katamu sakit sayang, ya sudah aku lihat. Kan niatku baik mau mengobati juga.”


“Tapi ini karena perbuatan kamu juga kan!” Ana mendengus kesal.


“Apa karena goyanganku terlalu cepat ya? Besok-besok gak usah di percepat deh sayang. Kita pelan-pelan saja ya. He he he” Ngomong sama tembok sana. Huh!


“Ah sudahlah, kamu semakin melantur ngomongnya. Aku lecet ini kayaknya.”


“Ya sudah biar aku lihat. Kamu diam saja gak usah protes, oke?” Mau nggak mau Ana pun hanya menurut.


Bara menyibak selimut yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh mereka yang polos. Dengan hati-hati ia melebarkan kaki Ana. Mengecek ke bagian organ intimnya. Benar saja, organ intim Ana lecet. Namun gejolak Bara tiba-tiba muncul lagi setelah melihat bagian itu dari dekat.


“Gimana, Bar? Lecet nggak?” Tanya Ana dengan wajah yang sudah bak kepiting rebus menahan malu. Dasarnya punya Suami bocil ya begindang kan, Na.


“Iya nih sayang. Itu kamu lecet, eh tapi warna nya pink ya. He he he.” Heh cumi.


“Diam kamu, Bar! Menjauh dari sana... Aw. Aduh, Bara menjauh!”


“Iya sayang, iya. Aku obatin ya? Di oles pakai salep dikit aja.”


“Memang kamu punya salep nya?”


“Punya, salep iritasi. Waktu itu tanganku pernah lecet juga. Setelah di oles salep itu langsung sembuh.”


“Masa sih? Bukannya sembuh itu butuh proses?”


“Iya sayang, tapi rasa nyeri nya berkurang. Seenggaknya besok kamu sudah bisa jalan.”


“Ya sudah aku mau. Mana salepnya?”


“Ada di tas ku, aku ambil sebentar.” Ucap Bara sembari memakai boxer dan melangkah ke lemari untuk membuka tasnya mengambil salep itu.


“Ada nggak?” Tanya Ana.


“Ada dong, nih ketemu. Hehe.” Dengan kegirangan Bara menghampiri Ana yang terbaring di kasur hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


“Ngapain kamu senyum-senyum?” Ana curiga.


“Enggak, hehe. Aku yang olesin ya sayang salepnya?” Maunya dia nyentuh sana sini.


“Aku saja. Mana sini?"


“Sudah aku saja, kamu gak bakal kelihatan. Diam dan menurut apa kata Suamimu yang tampan ini. Oke?” Tumben bijak. Eh.


“Tapi jangan buat aku merangsang. Hanya sekadar mengoleskan lalu tutup lagi selimutnya.”


“Iya cinta. Aku paham betul, tenang saja sayang.” Ucap Bara berbisik di telinga Ana.

__ADS_1


Duh, kenapa jadi author yang deg degan ya? Eh.


__ADS_2