
"Gawat, aku harus cepat kembali ke luar negeri! Polisi pasti sedang mencariku sekarang. Argh.. ti-tidak, a-aku tidak boleh tertangkap!" Gumam Sofie sembari mengemas barang-barang nya. Dan memasukkan nya ke dalam koper.
Setelah selesai mengemas, Sofie bergegas pergi meninggalkan hotel itu. Namun sesampai nya ia di luar, beberapa orang lelaki bertubuh kekar tiba-tiba datang dan menghadang nya.
"Maaf Nona, Anda harus ikut dengan kami!" Ucap pria itu mengikat kedua tangan Sofie.
"Tidak! Lepaskan aku! Tolong!! Tolong aku!! Aku mau di culik!" Sofie berteriak, dan memberontak. Mencoba mengalihkan perhatian orang-orang yang berlalu lalang pergi melewati mereka.
"Hei, lepaskan dia! Atau aku laporkan kalian pada polisi!" Orang yang lewat mencoba menolong Sofie.
"Maaf Tuan, ini Nona kami. Anak majikan kami yang kabur dari rumah. Kami harus membawa nya kembali."
"Oh, saya tidak tahu, maaf."
"Tidak.. dia berbohong.. orang-orang ini berbohong!" Berontak Sofie.
"Maaf Nona, Anda sudah harus kembali ke rumah. Kalau tidak, kami yang akan di pecat." Para lelaki bertubuh kekar itu membuat alasan yang mengada-ngada. Namun semua orang percaya. Dan menganggap bahwa Sofie gila.
Sofie di bawa ke kantor polisi oleh orang suruhan Arka. Dengan tuduhan pelaku pembunuhan yang direncanakan pada seorang wanita hamil dan anak kecil. Yang dilakukan di sebuah gedung tua yang terletak di pinggiran Kota.
Akhirnya wanita itu sekarang di amankan. Serta orang-orang suruhan Sofie yang ikut terlibat dalam kasus itu. Juga di amankan bersama nya di kantor polisi.
.........
Gladys memasuki ke dalam ruangan Arka. Setelah Arka sadar dari masa kritis nya.
"Arka.." panggil Gladys. Arka menoleh menatap gadis itu.
"Kamu.. kok tahu aku disini?" Tanya Arka bingung.
"Asisten kamu yang bilang. Kamu kenapa sih? Lagi-lagi ikut campur masalah Ana. Udah cukup hari ini, Ka! Kamu nggak hanya membahayakan diri kamu, tapi juga nyakitin aku! Aku nggak suka kalau kamu terus berhubungan lagi sama Ana! Apalagi menco.." perkataan Gladys terpotong dengan suara Arka.
"CUKUP! Kamu.. siapa? Melarangku untuk melakukan sesuatu. Kita bukan pasangan Suami Istri, Dys. Ana terluka, dia juga dalam bahaya! Apa aku hanya diam saja, hah?!" Bentak Arka.
"K-kamu.. bentak aku? Hanya karena membela Ana?! Lalu Ana itu siapa? Dia itu Istri orang, Ka! Kamu harusnya sadar! ANA ITU ISTRI ORANG! Kamu juga nggak berhak untuk melindungi nya!" Balas Gladys sedu. Tak menyangka bahwa Arka ternyata lebih membela Ana. Dibandingkan dirinya yang sebenarnya ialah tunangannya.
__ADS_1
"Aku tahu, Ana memang Istri orang. Tapi Suami nya tidak berguna dalam mengurusnya." Tutur Arka sembari menghela napas kasar.
"Oke.. aku udah tahu jawabannya sekarang. Siapa yang ada dihati kamu sebenarnya. Aku pergi!" Pamit Gladys seraya berlari keluar meninggalkan Arka seorang diri di dalam ruang perawatannya.
Arka diam tanpa berkata lagi. Ia terpikirkan dengan Ana. Seperginya Gladys, asisten Arka datang memasuki ruang perawatannya.
"Tuan muda, Sofie sudah kami urus. Dia dan orang-orang nya sudah berada di dalam sel tahanan."
"Bagus, lalu dimana Ana? Aku ingin melihatnya." Jawab Arka.
"Nonq Ana juga ada di rumah sakit ini. Tapi dia ada di ruangan lain dan.."
"Dan apa? Bawa aku kesana!" Pinta Arka.
"Dan ia ditemani oleh Suami dan anaknya." Mendengar itu, seketika wajah Arka berubah gusar.
Tak ada lagi harapan untuknya. Apakah Arka masih mencintai Ana? Entah..
Karena hati memang susah untuk ditebak. Pada siapa kita jatuh cinta. Dan pada siapa kita mencintai.
Cinta itu tidak salah, karena cinta adalah anugerah. Yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya. Namun, seringkali orang salah dalam mengartikan sebuah cinta.
Cinta sering membuat orang terluka. Karena keputus asaan yang tak berarah. Membuat dirinya lalai terhadap sesuatu hal yang lebih penting baginya. Dari sekadar jatuh cinta, maupun mencintai. Ya, mencintai orang yang salah.
Arka tetap kekeh untuk datang menjenguk Ana. Dibantu oleh asistennya menggunakan kursi roda. Mendatangi ruang tempat dimana Ana dirawat.
"Tuan yakin? Ingin menjenguknya sekarang?" Tanya asistennya.
"Kalau tidak yakin, kenapa juga aku harus menyuruhmu membawaku kesana?!" Balas Arka.
"Eh, iya juga, sih." Asistennya terkekeh.
Sesampainya Arka dan asistennya di depan ruangan Ana. Ia melihat dari kaca jendela yang tidak tertutup gorden. Ana dan Bara begitu bahagianya dengan keromantisan yang mereka ciptakan.
'Anak kecil itu pasti Arbi. Ah, bodoh nya aku' gumam Arka dalam hati.
__ADS_1
Arka meminta asisten nya untuk kembali lagi ke ruangannya. Namun ternyata Arbi melihat nya. Pria kecil itu berlari menghampiri Arka.
"Om!" Panggil Arbi. Membuat Ana dan Bara menoleh.
"Arbi, kamu panggil siapa?" Tanya Ana bingung.
"Itu.. ada Om penyelamat datang." Balas Arbi sembari menunjuk ke arah Arka dan asistennya berada.
"Om penyelamat? Maksudnya?" Ana tidak mengerti dengan ucapan Arbi. Bara tiba-tiba berubah pucat. Ia takut bila Arbi memberitahu Ana kejadian detail nya.
"Iya.. itu.." Perkataan Arbi terpotong saat matanya menatap ke arah Bara.
"Kenapa diam? Kok nggak dilanjutin lagi? Maksudnya siapa penyelamat? Om itu? Mana orang nya? Coba disuruh kesini. Bunda mau lihat." Ujar Ana.
"Sayang, Arbi kayaknya lagi halusinasi. Mungkin aja dia kepikiran dengan buku dongeng yang sering kamu bacakan untuknya." Tutur Bara seraya mengecup lembut kening Ana.
Arka tidak jadi untuk masuk ke dalam ruang perawatan Ana. Ia memilih untuk pergi dan kembali ke rungan nya.
"Oh, Arbi mau Bunda bacakan dongeng lagi?" Tanya Ana. Arbi menggeleng pelan. Bingung dengan jalan pikiran Ayahnya.
'Ayah kenapa menyuruhku berbohong? Bunda bilang, berbohong itu tidak baik. Lalu kenapa Ayah menyuruhku berbohong?' Gumam Arbi dalam hati bertanya-tanya.
...****************...
Gladys mencuci wajah nya yang sembab. Merasa sia-sia dirinya selama ini berharap pada Arka. Ia pikir, Arka benar-benar mencintainya. Namun hari ini, ia mengetahui kenyataan nya.
"Nggak.. aku nggak boleh nangis! Hiks... hiks... hiks.." rintih Gladys dalam tangis.
Tiba-tiba pikirannya tergerak untuk mendatangi Ana langsung. Mencoba mengeluarkan segala unek-unek nya.
"Ya.. aku harus datang ke ruangan Ana!" Ucap Gladys semangat. Ia tidak menerima penolakan Arka.
Gladys berjalan keluar dari dalam toilet mall. Setelah berdamai dengan suasana hatinya. Wajahnya masih terlihat agak basah. Karena sebelumnya ia sempat membasuh wajahnya dengan air. Untuk menghilangkan jejak matanya yang sembab. Karena habis menangis tadi.
Kaki nya melangkah menuju ke area parkir. Untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan melakukan perjalanan nya lagi kembali ke rumah sakit. Tempat dimana Arka dan Ana dirawat.
__ADS_1
Benar kata pepatah:
'Cinta tak selamanya indah'.