
“Mempelai wanita di harapkan berdiri dan berjalan menuju tempat persinggahan pengantin.” Ujar seorang pembawa acara dalam pernikahan Gladys & Arka. Bisa dikatakan sebagai team wedding organizer.
Semua mata tertuju pada Ana. Tersenyum seraya menepuk kedua tangan menyambutnya. Ana sendiri justru kebingungan. Dan hanya terkekeh kecil sambil memegangi jari jemari Arbi.
“Bunda, kita disuruh kesana.” Tutur Arbi pada Ana. Tangannya menunjuk ke sebuah kursi pelaminan. Yang ada di sebelah tempat mempelai Gladys dan Arka.
“Tidak, sayang. Itu kan tempat Tante Gladys dan Om Arka. Bunda sudah menikah dengan Ayah.” Jawab Ana sembari mengelus lembut kepala Arbi.
Dalam hati Ana pun merasa ada yang janggal. Mengapa kursi pelaminan nya ada dua? Bukankah hanya Gladys dan Arka saja? Yang menikah di gedung ini. Dan lagi, ruangan ini khusus untuk acara pernikahan mereka.
Tidak mungkin ‘kan kalau ada pengantin lainnya?
“Bunda, itu Ayah! Ayo Bunda, kita harus kesana!” ajakan Arbi pada Ana saat melihat Bara berjalan mendekati kursi pelaminan itu. Ana mengernyitkan dahinya sebentar.
“Bara kenapa kesana? Mau apa dia? Apa jangan-jangan dia mau menikah lagi? Astaga! Awas kamu, ya!” celoteh Ana. Ia menduga-duga Bara ingin menikah lagi dengan wanita lain.
Tega kamu, Bara!
“Bunda.. ayo!” Lagi, Arbi terus menarik lengan Ana untuk menghampiri ke sana. Tapi kali ini, Ana semakin tertantang untuk menampar wajah Bara. Mentalnya sudah cukup kuat sekarang. Kejadian tempo lalu menjadikannya pribadi yang selalu siap dalam kondisi apa pun.
‘kita lihat, bagaimana wanita itu datang dengan wajah tak berdosanya’ gumam Ana dalam hati.
“Ayo sayang! Bunda sudah tidak sabar!!” ucap Ana dengan penuh penekanan. Wajah Arbi berbinar mendongak menatap sang Bunda.
Ana dan Arbi berjalan menuju kursi pelaminan itu. Yang saat ini sudah ada Bara menduduki salah satu kursinya. Bak seperti orang yang tak berdosa. Bara tampak cengengesan melihat Ana dari kejauhan. Menambah rasa geram di dalam hati Ana.
‘Bisa-bisanya dia sebahagia itu?! Awas kamu Bara!’ tutur Ana bergumam pelan.
“Bunda barusan ngomong apa?” tak sengaja Arbi mendengar.
“Eh, enggak, sayang. Yuk!” Ana berdalih seraya tersenyum kecil. Arbi mengangguk pelan sambil berjalan mengentakkan kedua kakinya. Wajah Ana tak bisa berpaling menatap ke arah lain. Ia terus melihat dan memperhatikan Bara dari kejauhan yang tersenyum menyeringai. Seperti sudah menyambut kedatangan Ana yang menghampirinya.
Ana dan Arbi jalan ditengah-tengah kerumunan para tamu yang hadir di sana. Berjalan diatas karpet panjang yang langsung mengarah ke kursi pelaminan pengantin. Dalam hati, Ana tampak geram dan tak sabar ingin mencabik-cabik rambut Bara. Ana berpikir, Bara akan menikah lagi. Disaat Istrinya yang sedang hamil tua.
Beberapa detik berikutnya...
__ADS_1
“Sayang... kok lama banget, sih? Padahal aku sedari tadi menunggu kamu, loh.” Ucap Bara lembut. Ana diam tak menjawab. Namun matanya menatap tajam pada Bara. Yang membuat lelaki itu berubah bingung dengan sikap Ana yang tidak selembut biasanya.
“Mana pengantin wanitanya? Aku mau lihat! Seperti apa rupa dan bentuknya. Apa masih belum cukup, kamu menyakitiku, Bara?” Ujar Ana bertanya dengan nada tegas. Bara tercengang sesaat, sekaligus bertanya-tanya dalam hati. Apa yang Ana maksud? Bara semakin bingung dibuatnya.
“S-sayang? Kamu kenapa? Tenang sebentar.. disini banyak tamu yang hadir. Kita bicara pelan-pelan, ya?” tutur Bara yang berusaha membujuk Ana. Namun sayangnya Ana menggeleng dengan cepat.
“Aku disuruh tenang, katamu? Tega kamu, Bar! Aku.. hiks.. aku sedang hamil, kamu malah berniat menikah lagi.” Keluh Ana merintih dalam tangis. Bara semakin bersalah saat mendengar suara kecil Ana yang merintih sedih.
Semua tamu yang hadir tampak kebingungan dengan drama antara Bara dan Ana.
“Apa yang terjadi?”
“Mengapa pengantin wanitanya menangis?”
“Entahlah, sepertinya ada kesalahpahaman”
Bisik-bisik para tamu membicarakan. Dan menatap ke arah Ana serta Bara. Yang tampak berdebat kecil di kursi pelaminan itu.
“Baiklah, karena acaranya sudah dimulai. Para hadirin sekalian harap tenang. Pengantin pria akan memakaikan cincin pada pengantin wanita. Musik!” tutur crew wedding organizer mengarah pada Bara.
Sebenarnya ada apa?
Ana menatap Bara nanar. Setelah melihat ke sekeliling para tamu. Termasuk juga menoleh ke arah Gladys dan Arka. Yang tersenyum memperhatikan ke arah Ana.
“Apa maksud dari semua ini? Mengapa semua orang melihat ke arahku? Lalu kemana pengantin wanitamu itu?” Tanya Ana menginterogasi Bara. Membuat lelaki itu menahan tawa.
“Pffftt! Sayang, jadi kamu nggak tahu? Pengantin wanitaku itu, kamu. Istriku yang paling cantik diantara kebanyakan wanita lainnya.” Ucap Bara menjawab. Ana membulatkan kedua matanya. Lalu terdiam mematung seakan terkejut dengan perkataan Bara barusan.
“M-maksud kamu? K-kita menikah lagi?” Ana bertanya. Bara mengangguk cepat seraya tersenyum menyeringai. Mata Ana tampak berkaca-kaca. Seakan menahan tangis yang sudah tak dapat terbendung lagi. Bara langsung merentangkan kedua tangannya. Membawa Ana ke dalam pelukannya.
Suara melankolis tadi berubah menjadi musik pop. Lagu ‘a thousand years’ terputar. Bara merenggangkan pelukannya pada Ana. Dan langsung memakaikan cincin berlian edisi terbatas di jari manis Ana.
“Ana, will you marry me?” tutur Bara. Ana mengangguk pelan. Wajah sedunya menatap Bara dalam-dalam.
Lagi-lagi Bara langsung memeluknya. Suara tepuk tangan samar-samar terdengar diselingi lagu yang terputar.
__ADS_1
“Aku cinta kamu.. Bara.” Ujar Ana berbisik ditelinga Bara. Sambil mengeratkan pelukannya.
“Aku lebih mencintaimu, Sayangku.” Bisik Bara membalas. Dibarengi dengan beberapa kecupan yang ia daratkan di kening maupun di wajah Ana.
Sementara itu, entah kemana perginya Arbi sekarang. Yang jelas, disana hanya ada Bara dan Ana. Pernikahan yang diselenggarakan hari ini, rupanya bukan hanya Gladys dan Arka saja. Bara pun tak mau kalah. Itu karena, Ana pernah berkata padanya. Menginginkan pernikahan yang seperti orang lain lakukan.
Tapi takdir lalu berkata lain. Bara dan Ana menikah secara sembunyi tangan. Yang hanya disaksikan oleh beberapa orang. Hanya ada Ibu kos, warga kosan, Pak RT dan Istrinya, serta Pak Ustaz juga sang Istri yang melihat kejadian sah nya pernikahan Bara dan Ana berlangsung.
Namun, hari ini Bara telah mengabulkan permintaan Ana.
.........
Hari menjelang malam, Bara dan Ana kembali ke apartemen. Pak John mengantarnya dengan mobil yang sudah dihias dengan bunga. Layaknya seperti mobil membawa pengantin baru. Arbi dititipkan di rumah utama bersama sang Nenek, Nyonya Kertajaya.
Ana dan Bara berjalan masuk ke dalam apartemen. Tak lama setelah itu, Pak John pun pergi. Yang tersisa hannyalah kedua pasangan ini.
“Aku nggak tahu kalau kamu menyiapkan semua ini sendirian. Kenapa nggak bilang? Aku ‘kan bisa ikut membantu juga.” Tutur Ana pada Bara. Setelah selesainya acara pernikahan tadi.
“Kalau aku bilang, bukan surprise dong, namanya.” Jawab Bara sambil mengecup manis bibir Ana.
Cup
“Arbi pasti rindu aku..” gumam Ana pelan.
“Kan besok bisa bertemu, sayang. Sekarang biarkan saja dia bermain dengan Neneknya,” balas Bara. Ana mengangguk pelan. Keduanya memasuki diri ke dalam kamar.
Betapa terkejutnya Ana, melihat suasana kamarnya berubah. Ada banyak lilin serta bunga mawar yang tersusun berbentuk cinta. Dan ada nama Ana & Bara di bawahnya. Lagi, mawar merah itu juga bertebaran diatas seprei putih yang biasa mereka tempati.
‘Sejak kapan seprei nya diganti?’ gumam Ana pelan.
“Sejak tadi. Saat kita berada di dalam acara pernikahan. Semua ini Pak John yang menyiapkannya.” Jawab Bara. Ana tersenyum manis menatapnya. Sambil mengecup lembut bibir Bara. Dan langsung dibalas oleh Bara.
“Terima kasih, sayang. Aku cinta sayangku!♡” bisik Ana ditengah-tengah aktivitas intim mereka.
“Sama-sama, sayang. Aku lebih mencintaimu, Ana sayang.” Balas Bara dengan suara samar-samar.
__ADS_1
Aroma mawar begitu semerbak tercium. Di ruangan yang gelap gulita. Hanya lilin sebagai pengganti penerangannya. Menambah suasana romantis bagi kedua pasangan itu.