Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 88


__ADS_3

Hari berikutnya, Bara kembali ke perusahaan Kertajaya. Dengan peran yang baru. Sebagai Presdir Kertajaya Group. Dan bukan lagi menjadi karyawan biasa. Seperti sewaktu dulu, sebelum ia mengenal Ana.


Saat itu pula, Ayahnya Tuan Brama, masih memimpin perusahaan sebagai Presdir.


"Kamu nanti pulang jam berapa?" Tanya Ana seraya memakaikan dasi pada Bara.


Duh, babang Bara makin tampan aja. Eh.


"Secepatnya, aku akan kembali." Jawab Bara sambil mengecup lembut kening Ana. Dan turun mengecup manis bibirnya.


Jomblo minggir! Eh.


Ana merasa tidak rela, Bara pergi. Meskipun untuk bekerja, tapi tetap saja. Seorang Istri inginnya selalu berada di sisi Suaminya. Terlebih lagi saat ini, Ana tengah hamil muda. Inginnya selalu bermanja-manja dengan Suami.


"Jangan sedih dong, aku usahakan supaya bisa kembali sebelum sore." Bara mengusap lembut rambut Ana yang berwarna cokelat keemasan itu.


"Hm... oke. Janji gak akan ingkar?" Tutur Ana sambil menunjukkan jari kelingking manisnya. Membuat janji seperti yang di lakukan pada anak kecil.


"Iya, aku janji, sayangku." Bara terkekeh kecil, sembari melingkari jari kelingkingnya di jari Ana.


"Janji kamu gak akan kenapa-kenapa lagi?" Lagi, Ana membuat janji aneh.


Wajar, mungkin saja Ana masih trauma. Dengan kejadian tempo lalu. Hingga menyebabkan Bara menjadi amnesia. Seperti sekarang ini, meskipun pada akhirnya ia bisa kembali ke pelukan Ana. Namun, semua memorinya hilang begitu saja. Kembalinya mereka pun, itu juga berkat bantuan Arka serta Gladys.


Kalau bukan karena mereka, mungkin saja saat ini Bara sudah menikah dengan Sofie.


Ana, kamu beruntung! Tuhan benar-benar menjagamu. Juga menjaga pernikahanmu dengannya.


"Iya sayang, aku janji." Balas Bara sembari memeluk erat Ana. Membawanya ke dalam dekapannya.


"Oh iya, aku udah siapkan bekal buat kamu. Di makan, ya." Ana melepaskan pelukan itu. Lalu berjalan ke dapur. Mengambil bekal makan siang yang sudah ia persiapkan untuk Bara.


"Kamu masak apa?" Tanya Bara tampak antusias dan penasaran.


"Ayam saus mentega, dan tumis brokoli saus tiram. Di habiskan ya, makanan nya."


"Pasti aku habiskan. Masakan kamu, pasti enak."


'Dulu kamu melarangku mengizinkanku untuk memasak. Memperlakukanku bak seperti ratu di negeri dongeng. Tidak boleh melakukan apa-apa. Seperti menjadi sosok Istri yang tidak berguna. Tapi kini, aku akan berusaha. Menjadi Istri yang baik dan berguna untukmu, sayangku.' Gumam Ana dalam hati.


"Aku berangkat, ya." Pamit Bara seraya mengecup lembut bibir itu. Lalu Ana mengangkat satu tangannya. Menyalimi punggung tangan Suaminya, Bara. Tak lama kemudian, Bara menghilang di balik pintu apartemen itu.


Ya, Bara sudah keluar dari dalam apartemen. Tinggalah Ana seorang diri di dalam sana. Sambil mengelus lembut pada bagian perutnya yang masih terlihat rata.


'Kalau saja, Arbi juga ada disini. Pasti Aku gak kesepian begini, kan.' Gumam Ana dalam hati.


.........


Bara berjalan menuju tepi jalan raya besar. Ya, Bara akan menaiki angkutan umum. Seperti saat dulu, sewaktu ia bekerja di perusahaan Arya. Tapi yang sekarang ia lakukan karena, mobil yang ia punya telah rusak. Akibat kecelakaan yang terjadi pada waktu lalu.


Singkat cerita, Bara telah sampai di depan gedung bertingkat milik perusahaan keluarganya. Kertajaya Group, yang berada di tengah kota kawasan Jakarta Selatan. Pandangannya menatap kantor itu seperti sudah begitu sering mendatanginya.


Kakinya perlahan mulai berjalan memasuki ke dalam gedung itu. Beberapa security terlihat menyapanya. Semua pegawai di kantor itu pun juga sama. Menyapanya dengan begitu hormat. Dan tiba-tiba...


"Selamat pagi, Tuan muda. Saya asisten John. Yang akan membantu anda sebagai sekretaris pribadi anda." Asisten John datang secara tiba-tiba. Dan berjalan mengikuti Bara ke ruang kerjanya.


"Bekerjalah dengan sempurna." Balas Bara dingin.

__ADS_1


Asisten John mengangguk paham. Sebelumnya, dia adalah asisten kepercayaan Tuan Brama. Yang setia bekerja selama puluhan tahun mengabdi pada Kertajaya Group. Hingga kini, usianya yang sudah cukup tua. Mungkin bila diperkirakan sudah berumur 47 tahun.


Sudah saatnya untuknya pensiun dari Kertajaya Group. Tapi sepertinya asisten John ingin mengabdi sampai akhir hayatnya. Pada Kertajaya Group ini.


"Ada tugas apa saja untuk hari ini?" Tanya Bara pada asisten John.


"Pukul 10 hari ini akan ada rapat dengan seluruh karyawan. Mengenai pergantian pimpinan perusahaan. Lalu pukul 13 siang ada makan siang bersama dengan klien." Jawab asisten John.


"Makan siang bersama klien kau saja yang gantikan." Ucap Bara menolak untuk pertemuan dengan klien.


"Tapi Tuan muda, ini adalah proyek besar. Yang akan kita tangani."


"Ku bilang kau saja yang pergi! Setelah rapat, aku akan kembali ke apartemen. Oh ya, siapkan satu mobil untukku." Bara tetap kukuh dengan perkataannya.


"B-baik, Tuan muda." Asisten John mengalah.


"Kalau tidak ada lagi, pergilah!" Ucap Bara mengusirnya dari ruang kerjanya.


"Baik, Tuan muda. Kalau begitu, saya permisi!" Asisten John pergi dan menghilang di balik pintu.


Bara mendengus sebal, ia menghela napas panjang. Tangannya mengambil telepon genggam yang ada di saku jas hitamnya. Membuka layar ponsel itu. Mencari satu nama di pencarian untuk dia hubungi.


Via whatsapp:


[Sayang ♡] from Bara to Ana.


Beberapa menit kemudian...


[Kamu gak kerja? Kok main gadget, sih?] -Ana


Apakah Ana harus membalas dan berkata "Iya sayang iya?" Eh.


Tiba-tiba ponsel Bara berdering. Ana memanggil dengan video call. Bara tergelak kaget melihat ke layar ponselnya.


[Sayang, kok lama banget diangkatnya? Kamu lagi ngapain? Ada siapa disana?] -Ana


Celoteh Ana setelah Bara mengangkat video callnya.


[Eh... ini.. gak ada siapa-siapa kok. Aku di kantor sendirian.] -Bara


Wajahnya memerah karena Ana begitu perhatian padanya.


'Aih, aku sudah salah paham padanya.' Gumam Bara dalam hati.


[Yakin gak ada siapa-siapa disana?] -Ana seolah tidak percaya.


Bara akhirnya menunjukkan seluruh sisi ruangan di dalam ruang kerjanya. Bahkan hingga ke bagian kamar dan toilet yang ada di sana. Ia tunjukkan pula pada Ana.


[Gimana, kosong kan? Hanya ada aku sendiri disini.] -Bara


[Iya, aku percaya.] -Ana


[Cium dong.] -Bara mulai bertingkah aneh.


[Cium?] -Ana bingung.


[Iya, cium layar ponsel kamu. Anggap aja kita lagi ciuman via virtual.] -Bara

__ADS_1


Buwung puyuh dimakan biawak. Eh buset srepet.. tet.. tet.. tet.


[Kamu aneh-aneh aja, enggak ada. Kalau mau, nanti aja dirumah.] -Ana menolak.


[Kenapa? Aku maunya sekarang. Mau ya, please?!] -Bara memohon.


[Sayang, listen to me! Dengarkan aku baik-baik. Pasang telinga kamu, kanan serta kiri!] -Ana


Suara Ana terdengar lebih tegas dari biasanya. Sosok Ana yang lembut dan penyayang. Tiba-tiba berubah tegas, seperti bukan Ana.


[Iya, aku dengar. Kenapa?] -Bara


[Kamu video call aku, pakai internet atau bukan?] -Ana


[Iya, pakai internet.] -Bara


[Nah itu, kamu tahu kan? Internet itu cangkupannya luas. Iya kan? Terus kamu, pakai jaringan wifi dari kantor, iya kan?] -Ana


[Iya, iya, memangnya kenapa sih?] -Bara


[Sayang, kamu seharusnya tahu. Kalau melakukan macam-macam dengan video call begitu. Bisa diketahui oleh orang lain. Apalagi kamu akses pake wifi kantor. Orang-orang kantor pasti tahu. Kamu mau, aku viral gara-gara kecerobohan kamu?!] -Ana


Bara mulai berpikir sejenak. Mencerna ucapan dari perkataan Ana tadi. Pikirannya mulai menebak-nebak sesuatu yang tidak pasti.


'Iya juga, ya. Istriku kenapa pintar banget, sih?!' Gumam Bara dalam hati.


[Kenapa? Kok diam aja?] -Ana


[Hm.. maaf.. aku gak berpikir panjang tadi.] -Bara tampak menyesal. Wajahnya tertunduk sedu.


[Bagus deh, kamu udah sadar sekarang.] -Ana masih dengan suara tegasnya.


[Maaf, maafkan aku.] -Bara


Di sana, Ana seperti tidak tega melihat Bara yang matanya sudah berkaca-kaca.


[Sayang... tatap mataku.] -Ana


Suaranya mulai terdengar lembut lagi.


Bara menaikkan wajahnya lagi. Yang kini keduanya saling bertatapan. Walau dibatasi oleh layar ponsel. Namun rasanya seperti sedang bertatapan secara live.


[Kamu mau aku cium kamu, kan?] -Ana


Bara mengangguk pelan.


[Nanti ya, sabar dulu. Sekarang waktunya kamu untuk kerja. Back to normal time.] -Ana


[Iya, maafkan aku.] -Bara


[It's okay, sayang. Kalau begitu, selamat bekerja. I love u, sayangku.] -Ana berbisik. Dan menutup panggilan videonya.


Tut!


Panggilan diputuskan secara sepihak oleh Ana. Bara mengusap wajahnya kasar. Menyesali perbuatannya tadi. Memaksa Ana untuk melakukan hal bodoh untuknya.


"Huh, Ana... terima kasih, sudah hadir di hidupku. I love u too, sayangku." Gumam Bara seraya mengelus foto Ana yang tergambar di layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2