Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 94


__ADS_3

Ana pergi menemui sang Ibu mertuanya di sebuah restaurant yang sudah dipesan olehnya. Ia juga tak lupa untuk mengajak Arbi ikut dengannya. Hal ini sama sekali tidak diketahui oleh Bara. Ana takut, bila Bara tidak mengizinkannya untuk pergi.


Sesampainya di tempat yang dituju. Ana langsung masuk ke dalam restaurant itu. Tangan kanannya menuntun tangan kecil Arbi.


"Bunda, sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Arbi bingung.


"Kita mau menemui Nenek. Kamu tidak rindu, pada Nenekmu?" Arbi menggeleng pelan.


"Kenapa? Bukankah kamu sebelumnya tinggal bersamanya?"


"Nenek sama seperti Kakek! Arbi tidak suka!" Arbi menghentakkan kedua kakinya.


"Kakek? Arbi.. apa Arbi belum tahu?"


"Tahu apa, Bunda?"


Benar, Arbi memang tidak mengetahui mengenai kematian Kakeknya. Karena satu minggu sebelum hari pertunangan Bara dengan Sofie dilangsungkan, Arbi sudah diasingkan ke dalam asrama di sekolahnya.


"Bunda, kok diam?" Ujar Arbi menanyakan lagi. Karena mendadak, Ana berubah diam.


"Hm, Kakekmu.. Kakekmu sudah meninggal." Jawab Ana sedu. Arbi seolah tidak percaya. Sontak membuat pria kecil itu menghentikan langkah kakinya.


"Kalau Kakek meninggal, berarti Ayah tidak akan menikah lagi?" Gumam Arbi berbicara sendiri.


"Maksud Arbi, apa? Apa yang kamu katakan, Nak?" Ana mengajak Arbi duduk sebentar.


"Coba katakan sekali lagi, Bunda mau dengar." Ucap Ana lagi.


"Hm... Kalau Kakek meninggal, berarti Ayah tidak akan menikah lagi. Dan Arbi tidak akan punya Ibu baru. Yeay!" Tutur Arbi bersorak riang.


Hal itu rupanya terdengar langsung ke telinga Nyonya Kertajaya. Yang baru saja datang. Dan tidak sengaja melihat serta mendengar percakapan kedua anak dan Ibu ini.


"Arbi!" Panggilnya pada cucu kesayangannya. Sontak Arbi menoleh ke arah sumber suara.


"Nenek!" Teriak Arbi saat melihat Neneknya datang.


"Ny-nyonya?" Ujar Ana gugup.


"Bagaimana kabarmu?" Ucapnya tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Ba-baik, Nyonya." Jawab Ana gugup.


"Aku sudah mendengar semuanya." Lanjutnya.


Wajah Ana berubah pucat. Ia takut bila Nyonya Kertajaya melakukan sesuatu hal yang tidak dia inginkan. Apalagi untuk menyuruhnya memutuskan hubungan dengan Bara.


"Nyonya, bila Anda mengajakku hanya untuk menyuruhku untuk berpisah dengan putramu, maaf. Aku tidak akan melakukan itu untuk kedua kalinya!" Tegas Ana padanya.


Wanita paruh baya itu menghela napas panjang.


"Aku tidak ingin membahas itu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Lalu, kenapa Arbi bisa ada bersamamu? Bukankah aku mengirimnya ke asrama sekolahnya?!"


"Ini... Bara menyuruh Pak John untuk membawa Arbi pulang bersamaku. Aku pun juga tak bisa berjauhan dengan anakku. Sudah begitu lamanya, Anda dan Tuan besar memisahkanku dari putraku." Tutur Ana.


"Soal itu... aku tak bisa berkata apapun lagi. Karena itu, aku sebenarnya mengajakmu kesini untuk meminta maaf. Atas segala kesalahanku juga dengan kesalahan Suamiku. Dulu, aku terlalu memandang rendah dirimu. Sekarang aku sadar, setelah kematian Suamiku, Brama." Ucapnya meminta maaf pada Ana.


Ana diam tanpa menjawab. Ia cukup tenang sekarang, karena Ibu mertuanya sudah sadar. Akan kesalahannya dulu.


Meskipun kesalahan yang telah mereka lakukan cukup banyak menggoreskan luka di hati Ana. Namun, Ana bukanlah seorang yang pendendam. Baginya, memaafkan sesuatu yang salah, itu hal yang mulia. Ana tidak ingin, menyimpan dendam maupun kebencian yang begitu dalam.


Karena itu akan membuat hati menjadi tidak tenang.


"Nyonya, Anda tidak perlu meminta maaf. Karena sedari awal, aku pun tidak pernah ada dendam padamu. Juga pada Tuan besar. Aku sudah lebih dulu memaafkan Nyonya. Bahkan sebelum Nyonya meminta maaf seperti sekarang ini." Balas Ana seraya mengelus lembut pucuk kepala Arbi.


Pria kecil itu tengah memperhatikan keduanya sedari tadi. Mencoba mencerna setiap kata demi kata. Yang keluar dari mulut Neneknya. Arbi tidak ingin berpisah lagi pada Ana. Ia ingin terus tinggal bersama dengan sang Bunda.


Bahkan sampai ia berubah dewasa, Arbi akan terus bersama dengan Bundanya. Ia ingin melindungi Ana. Terutama dari wanita yang bernama Sofie. Arbi begitu benci pada wanita itu.


"Terimakasih, menantu. Hatimu sungguh baik. Aku seharusnya beruntung, karena memiliki menantu yang baik sepertimu." Ucap Nyonya Kertajaya menatap Ana. Lalu mengalihkan pandangannya menatap Arbi. Ana hanya tersenyum kecil, saat mendengar yang dikatakan oleh Ibu mertuanya.


'Apa ini mimpi? Ibu mertua memanggilku dengan sebutan menantu? Apa itu berarti ia sudah merestui pernikahanku dengan Bara?' Gumam Ana bertanya dalam hati.


"Arbi, apa kau tidak rindu pada Nenek? Sudah lama Nenek tidak melihatmu." Arbi menggeleng cepat.


"Arbi hanya rindu pada Bunda Ana!" Tutur Arbi seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Arbi.. nggak boleh gitu dong, Nak. Bunda nggak pernah mengajari kamu berbicara begitu pada orang tua. Ayo minta maaf pada Nenek!" Ana merasa tidak enak dengan sikap Arbi yang tidak sopan pada Neneknya.


Dengan wajah yang masam, Arbi menyentuh tangan yang sudah hampir keriput itu.

__ADS_1


"Arbi minta maaf, Nenek." Ucap Arbi tertunduk sedu.


"Nenek mengerti maksud Arbi. Belajar yang rajin, supaya bisa seperti Ayahmu. Karena kau satu-satunya pewaris untuk keluarga kita." Ujar Nyonya Kertajaya sembari mengelus lembut pucuk kepala Arbi.


Sepertinya ia melupakan sesuatu. Bahwa bukan Arbi, satu-satunya putra Bara. Tapi, Ana juga saat ini tengah hamil muda.


"Hm.. Nyonya.. apa.. apa Anda lupa? Bahwa aku juga sedang hamil." Ana berkata jujur padanya.


"Benarkah? Oh ya Tuhan, akhirnya aku akan punya cucu lagi. Makan yang banyak, Nak. Istirahat yang cukup, dan jangan terlalu banyak bergerak." Wajahnya tampak berbinar mendengar bahwa Ana sedang hamil.


"Terima kasih, Nyonya."


"Jangan panggil aku Nyonya, panggil saja aku Mama. Bara biasanya memanggilku dengan sebutan Mama." Ana tersipu malu mendengarnya.


Ana senang, kini Ibu mertuanya sudah banyak berubah. Dan mulai menerima keadaan. Atas kehilangan Suaminya, Tuan Brama. Terlebih lagi, ia juga sudah menerima Ana sebagai menantu di keluarga Kertajaya.


"Ba-baik, Ma." Balas Ana gugup.


"Apa kau kesini hanya berdua dengan cucuku?" Tanyanya.


"I-iya, aku naik kendaraan online." Jawab Ana.


"Astaga, bukankah itu sangat berbahaya?! Ikutlah pulang denganku. Kau dan cucuku harus pulang dengan selamat."


"Ta-tapi, Ma?"


"Tidak ada penolakan!" Tegas Nyonya Kertajaya.


Mau tidak mau, Ana harus menuruti perintahnya. Lagi pula, ada benarnya juga perkataannya. Akan sangat berbahaya bila pergi hanya berdua dengan Arbi.


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil putih panjang terparkir di depan restaurant tempat mereka berdiri sekarang. Pintu mobil itu terbuka secara otomatis. Nyonya Kertajaya masuk lebih dulu. Lalu diikuti Ana serta Arbi. Yang belakangan memasuki ke dalam mobil.


Selama di perjalanan, Arbi terus mengoceh mengenai kegiatannya di saat disekolah. Nyonya Kertajaya tertawa kecil mendengar cerita dari cucu kecilnya. Ana hanya menggeleng pelan seraya mengelus lembut rambut tipis Arbi.


Sesampainya mereka di depan apartemen Ana. Ketiga turun dari dalam mobil.


"Apa Mama mau mampir sebentar?" Tanya Ana.


"Boleh, kebetulan juga, belum pernah aku main ke dalam apartemenmu dan Bara tinggal." Jawabnya menyetujui.

__ADS_1


__ADS_2