Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 25


__ADS_3

Perdebatan antara Bara dan Ibunya terus berlanjut. Sepertinya, Ny. Kertajaya tetap akan berbuat nekat pada anaknya Bara. Ia akan tetap membawa dan memaksa Bara untuk pindah ke luar negeri. Menjauhkan Bara pada Ana adalah jalan terbaik baginya. Namun tidak baik bagi hubungan Ana maupun Bara.


Apalagi meninggalkan Ana yang tengah mengandung janin anak Bara.


Ana tersadar dengan posisinya yang bukan dari golongan mereka. Harga dirinya sudah tidak ada lagi. Jika pada akhirnya Bara akan pergi meninggalkannya dengan luka dan juga janin yang ada dikandungnya. Kalau benar semua itu akan terjadi, menangis darah untuk memohon agar Bara tidak pergi pun percuma.


Ia tak punya hak yang kuat. Status pernikahan yang belum diresmikan secara negara dan hukum.


“Mama tidak akan pernah mengakui kalau itu anakmu. Pak, bawa Bara pergi dari sini!” Ucap Ny. Kertajaya memerintah dua orang bodyguard yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Sontak Bara terkejut akan sikap Mamanya yang benar-benar serius akan rencananya membawanya pergi ke luar negeri.


“Lepas! Gue bilang lepas brengsek!” Sekuat tenaga Bara melawan. Namun tenaga mereka lebih kuat.


“Diam tuan, saya hanya menjalankan tugas dari Nyonya besar.”


“Ana..... aku gak mau pergi! Ana... bantu aku cinta!” Bara memelas agar Ana membantunya terbebas dari jeratan para bodyguard itu. Namun, Ana hanya diam sembari menangis tersedu-sedu.


“Bara......” Panggil Ana lirih dengan sorot mata yang sendu. Tak kuat melihat Ana dengan ekspresi sedih, untuk kedua kalinya Bara menitikkan air mata untuk Ana.


“Beri aku kesempatan terakhir untuk bicara dengan Ana!!!!” Ucap Bara tegas menatap mata Ny. Kertajaya dengan sorot mata yang tajam.


“Baik, lepaskan Bara!”


Dengan cepat Bara berlari menghampiri Ana dan menghamburkan tubuhnya memeluk Ana dengan sangat erat. Apakah menang begini kisah cinta mereka, jika pada akhirnya harus terpisah oleh jarak. Ana sesenggukan menangis dalam dekapan Bara. Pun sama halnya dengan Bara yang tak ingin lepas dari pelukan itu. Namun, pelukan itu adalah pelukan terakhir bagi mereka.


“Bar.... Hiks... Hiks.... Aku gak mau kamu pergi, Bar.” Ucap Ana tersedu-sedu.


“Aku juga kak. Aku sayang sama kamu, cintaku.” Bara semakin mengeratkan pelukannya.


“Apa kamu akan tetap pergi? Bagaimana dengan bayi ini? Aku.. Aku harus bagaimana? Hiks... Hiks...” Ucap Ana menatap mata Bara dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.


“A.. Aku..” Saat Bara ingin berucap, tiba-tiba Arka menampakkan dirinya di depan mereka.


“Arka? Kamu?” Ana bertanya.


“Iya, kak. Aku sudah mendengar semuanya.” Ucap Arka tenang.


“Lo pasti senang kan? Saat Gue pergi, Lo pasti bakal rebut Ana dari Gue. Iya kan?! Jawab Gue brengsek!” Dengan penuh amarah Bara memaki Arka di depan umum. Tak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang datang dan pergi melewati mereka semua.


“Gue brengsek? Gak salah? Ha ha! Lo kali yang brengsek! Dengan lemahnya setuju sama permintaan orang tua Lo. Gak peduli sama kondisi kak Ana yang lagi hamil muda. Dia hamil anak Lo brengsek! Punya otak kan Lo? Perjuang-in bodoh!” Sontak Bara tertiba menatap Ana sendu.


Benar apa yang dikatakan oleh Arka. Kalau bukan dia sendiri yang melawan siapa lagi yang bisa menyelamatkan pernikahan mereka, sedang Ana tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba Bara punya rencana agar bisa terbebas dari jerat Mamanya. Ia tak bisa meninggalkan Ana seorang diri. Ana, wanita yang ia cintai dan sedang mengandung janin darah daging dia sendiri di dalam rahimnya.


“Bara! Sudah cukup waktunya. Cepat masuk ke mobil! Jangan sampai Mama akan memaksa kamu dengan cara seperti tadi.” Ucap Ny. Kertajaya.


“Pergilah, Bara. Aku tak bisa menahanmu.” Ucap Ana lirih sembari melepas genggaman tangannya pada Bara.


“Aku pasti akan kembali kak. Aku mencintaimu, Ana ku sayang.” Ucap Bara menatap mata Ana, dan mengecup keningnya sebelum pergi.


Arka yang melihat itu melengoskan pandangannya ke arah lain. Gejolak hati yang panas akan kecemburuannya pada Bara. Rasanya ingin ia menggantikan posisi Bara sebagai Suaminya Ana. Namun, sepertinya cinta mereka lebih kuat. Meskipun dipisahkan oleh jarak dan keadaan yang tak direstui oleh keluarga Kertajaya.


Bara pergi meninggalkan Ana yang masih diam di tempat menatapnya. Bara masuk ke dalam mobil Alphard milik Ibunya, disusul pula oleh dua bodyguard itu duduk di samping Bara di kursi belakang. Sementara Mamanya berada di kursi depan bersama dengan sopir.


Perlahan mobil itu melintas pergi dari pandangan Ana. Bulir bening yang ia tahan tak dapat terbendung.


Air mata itu luruh menetes deras dari sudut matanya. Arka tak kuasa menahan untuk membawa Ana ke dalam dekapannya. Hanya ingin membuat Ana tenang, meskipun hanya sesaat. Meskipun hanya ada nama Bara yang ada dihatinya.


“Menangislah kak, aku selalu ada untuk kakak.” Ucap Arka sembari mengusap punggung Ana. Tangis Ana semakin deras.


“Apakah Bara akan kembali, Ar?” Ucap Ana sendu melepaskan pelukannya sambil menatap mata Arka. Yang ditatap justru salah tingkah.


“Pasti kak! Bara pasti akan kembali.” Dengan terpaksa mengatakan itu, agar menenangkan hati Ana.


“Kapan? Lalu bagaimana aku merawat bayi ini seorang diri?” Tuturnya lirih. Arka menatap mata sayu Ana dengan tatapan mengiba.


“Soal itu, a... aku bisa membantu kakak. Aku bisa menggantikan posisi Bara untuk sementara waktu, sampai ia kembali lagi.” Tutur Arka gugup.


“Kamu serius, Ar? Aku takut kalau Bara mengetahui itu, dan salah paham dengan sikapmu ini yang baik padaku.”


“Aku yang akan menjelaskan padanya nanti, kak.” Sontak mata Ana berbinar menatap Arka.

__ADS_1


Ada rasa senang dan bahagia terlintas di pikiran Arka melihat tatapan kebahagiaan itu. Ingin rasanya ia juga menggantikan Bara sebagai Suaminya. Namun, apakah itu mungkin?




Waktu berjalan begitu cepat, sudah lima bulan waktu berlalu. Namun, Bara belum juga kembali untuk menemui Ana. Apakah Ia sudah melupakan Ana? Apa dia lupa, jika Ana telah mengandung anaknya di dalam rahimnya. Beruntung karena ada kehadiran Arka yang senantiasa membantunya.



Bolak-balik Arka selalu datang ke kosan untuk membantu memberikan banyaknya kebutuhan yang diperlukan oleh Ibu hamil. Namun, saat malam menjelang, rasa sedih itu kembali terbayang di benak Ana. Membayangkan jika ada Bara di sisinya saat ini. Tak ada yang tahu jika Ana hamil. Bahkan Ia sudah memasuki kehamilan tujuh bulan.



Saat kuliah pun Ana selalu memakai gamis, agar tak ada yang mengetahui perut besarnya.


Dengan sigap, Arka selalu menemaninya selama ia di kampus. Tak peduli meskipun banyak omongan miring mengenai dirinya yang di cap sebagai wanita murahan. Sebab yang mereka tahu, Ana adalah kekasih Bara. Namun sekarang, Arka yang selalu menemaninya.



Mereka berpikir bahwa Ana dan Arka telah menjalin hubungan asmara diantara keduanya.



“Arka!” Ucap Ana saat merek berdua tengah makan bersama di salah satu Cafe yang tidak begitu jauh jaraknya dari kampus mereka.



“Mau ngomong sesuatu kak?” Tanya Arka yang sudah lebih dulu peka.



“Iya, ini soal Bara.” Sontak wajah Arka berubah gugup. Entah apa yang akan dia katakan jika Bara sudah menikah dengan Farah di Aussie.



Iya, Bara sudah menikah dengan Farah atas paksaan dari kedua orang tuanya. Kabar ini baru saja di dengar oleh Arka yang didapat langsung dari mata-mata Arka yang selalu mengawasi gerak-gerik Bara selama ia berada di Aussie. Arka juga berasal dari keluarga yang tak kalah terpandang dan kaya. Sama halnya dengan keluarga Bara. Namun, keluarga Arka tak sedikit pun memandang rendah orang yang berada di bawah kasta mereka.



Apa yang harus Ia katakan mengenai Bara, Ia sangat yakin jika Bara tak akan pernah kembali lagi ke sini. Apalagi dengan status Bara yang sudah menikah dengan Farah disana. Tak tega jika Ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Ana. Wanita yang Ia cintai, meskipun saat ini tengah mengandung anak Bara.



Sahabatnya yang sudah lebih dulu memilikinya, dan telah meninggalkannya dengan sejuta luka yang Ia tinggalkan pada Ana.


Untuk yang pertama kali, Arka tak kuasa menahan kesedihan yang di alami oleh orang lain. Arka menitikkan air mata yang dengan sekuat tenaga Ia bendung, tapi tak dapat tertahan. Ia menangisi nasib yang di alami oleh Ana. Wanita yang Ia cintai, wanita yang selama ini Ia bantu.



Apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya? Tak sanggup jika Ia harus melihat Ana menangis untuk yang ke sekian kali.


Sudah cukup banyak air mata yang Ana buang dengan sia-sia untuk menangisi Bara. Lelaki brengsek dimata Arka, yang tak bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat pada Ana. Dengan mudahnya Bara mencampakkan Ana begitu saja. Meskipun bukan kemauannya, seharusnya dia bisa mengatasi itu semua.



Seharusnya dia bisa bertindak untuk bebas dari jerat orang tuanya, namun justru dia tidak melakukan apa pun untuk membela dirinya sendiri maupun untuk membela Ana.



“Arka? Kamu lagi memikirkan sesuatu ya?” Tanya Ana. Sontak Arka tersadar dalam lamunannya yang tengah berdebat dengan otaknya memikirkan sahabatnya yang brengsek itu.



“Eh, enggak kok kak. Aku gak lagi memikirkan apa-apa.” Jawab Arka berusaha untuk tetap tenang.



Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku tak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya. Jika tidak dikatakan pun juga lebih tidak tega. Gumam Arka dalam hati sambil menatap mata sayu Ana. Semenjak kepergian Bara, wajah Ana berubah tak lagi riang seperti dulu. Tak ada lagi senyuman yang terlihat dari wajahnya.


__ADS_1


“Terus? Hm. Kalau kamu mau mengatakan sesuatu, katakan saja Ar. Aku baik-baik saja kok.” Ucap Ana sembari tersenyum mengembang.



Senyum itu, sudah lama Arka tak melihatnya. Namun sekarang, Ana tersenyum sangat tulus. Apakah Ana sudah mengetahuinya juga, hati wanita memanglah rapuh, namun mereka begitu kuat ikatan batinnya. Wanita memang di anugerahi mempunyai indra ke enam oleh Tuhan. Mungkin itu sebabnya, feeling nya selalu benar.



“Hm, bagaimana ya kak...” Ucap Arka sambil tertunduk sendu.



“Katakan saja, Ar. Aku siap mendengarkan semuanya. Ayo, katakanlah.” Ucap Ana semangat. Ana yang semangat, tapi author nya yang sedih. Duh, Ana. :(



“Hm... baiklah kak. Kalau memang ini yang terbaik, meski menyakitkan. Aku harap kakak harus kuat mendengarnya, bahuku selalu ada untukmu kak.” Lirih Arka berucap. Ana hanya mengangguk sembari tersenyum tulus. Namun, Arka merasa semakin bersalah saat melihat senyum tulus Ana.



“Tentang Bara, aku rasa sudah saatnya kak Ana memulai hidup yang baru. Lupakan Bara, karena aku yakin dia tak akan pernah datang lagi untuk kembali.” Sontak wajah Ana berubah sendu menatap Arka. Hati Arka semakin sakit melihatnya. Tak tega jika Ia harus melihat Ana menangis untuk ke sekian kalinya.



“Bara tak akan kembali? Memang kenapa dengannya, Ar? Katakan padaku dengan jujur!”



“Bara... dia.... dia sudah menikah dengan Farah, kak.” Ucap Arka.



Mendengar penuturan Arka, Ana tertunduk sendu. Arka yakin jika saat ini, Ana tengah meneteskan air matanya. Namun, Ia berusaha menutupinya.



“Aku mengatakan ini tak bermaksud untuk membuat kak Ana sedih, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tak ingin kakak terus menerus menunggu kedatangan Bara yang mustahil untuk datang kembali.”



“Tidak apa-apa, Ar. Justru aku sangat berterima kasih padamu, kalau saja kamu tidak mengatakan ini, mungkin aku juga tidak akan pernah tahu yang sebenarnya.” Ucap Ana lirih. Duh, babang tampan aja kalau begitu yang menggantikan Bara. Eh.



“Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada kakak. Tapi, aku tidak memaksakan kalau kak Ana merasa risi dan tak menyukainya.” Apakah Arka akan mengatakan kalau dirinya mencintai Ana?



“Katakan saja, Ar. Aku tak akan marah kok.”



“Se... sebenarnya, aku suka sama kak Ana.” Benarkan, Arka akhirnya jujur.



“Hanya itu?” What’s? Ana tidak marah kah?



“Apa kakak tidak marah?” Arka berbalik tanya.



“Untuk apa aku harus marah? Bahkan dulu, Bara lebih agresif dibandingkan kamu yang mengatakan ini dengan sangat sopan.”



“Syukurlah, kalau kak Ana tidak marah. Aku... aku juga mencintai kak Ana. Tapi aku tidak memaksakan agar perasaan ini bisa terbalaskan. Aku hanya ingin mengatakan itu saja sudah cukup buatku.” Sikap Arka yang begitu dewasa membuat hati Ana terenyuh.


__ADS_1


Apakah Bara akan kembali? Ataukah Arka yang akan menggantikan posisi Bara dihati Ana?


__ADS_2