
Singkat cerita, Ana sudah membeli semua barang kebutuhannya, juga Bara. Stok makanan, hingga masakan, perlengkapan mandi, bahkan skincare serta makeup. Dan kini, sudah dibawa oleh dua orang suruhan Bara. Yang ia telepon sebelumnya ke nomor Pak John. Agar membantu membawakan semua belanjaan nya.
“Semua sudah dibeli, sekarang giliran kamu. Mau ke toko mana?” Tanya Ana pada Bara.
Keduanya berjalan mengikuti langkah kaki mereka. Diikuti dua orang pengawal yang mengekor di belakang mereka. Sembari membawa beberapa tas belanjaan.
“Nanti juga kamu tahu, kok. Kita ikuti aja, jalan beralas lantai putih ini.” Balas Bara penuh teka-teki.
“Ya udah, terserah kamu aja.” Tutur Ana menjawab dengan anggukan.
Keduanya berjalan seraya bergandeng tangan. Tak peduli, dengan banyak mata yang memerhatikan. Ana enggan menanggapi dan tak ingin mendengar bisikan-bisikan. Yang terdengar samar-sama di indra pendengarannya.
“Eh, lihat pasangan itu, deh! Mereka nikah muda, ya? Cowoknya masih muda banget, ganteng lagi.”
“Nggak mungkin kalau yang perempuan di sebelah cowok itu Kakaknya. Masa jalannya sambil gandeng tangan gitu, sih?”
“Iya juga, Abang Gua aja nggak kayak gitu.”
“Perutnya gede banget, kayaknya hamil kembar, deh.”
“Gibah mulu, Markonah! Bukan urusan kita juga. Ngapain ngomong in orang? Nggak kenal juga lagian.”
“Tapi cowoknya ganteng banget, sih.”
“Istrinya juga cantik, dewasa gitu.”
“Ah, masih cantikkan juga Gue kemana-mana.”
“Sebaiknya Anda berkaca dulu, ya. Sama Lo? Jauh banget, anjir!”
Ya—kurang lebih begitu. Gosip orang-orang yang berdiri tak jauh di dekat Ana sekarang. Ada Ibu-ibu, juga pula anak-anak remaja. Membicarakan tentang Ana dan Bara. Seolah keduanya adalah artis. Padahal bukan siapa-siapanya mereka juga.
Aneh, bukan?
Kadang, manusia dengan mudahnya membicarakan manusia lainnya. Entah itu menggunjingkan aib orang lain, atau pula hal baik. Padahal diri mereka sendiri pun, masih banyak salahnya. Bahkan Tuhan, sangat berbaik hati. Karena menutupi aib-aib kita semua.
Memang benar, mau sebaik apa pun kita, pasti ada saja yang tak suka. Ada pula yang membenci. Dan benci, biasanya datang dari orang-orang yang hatinya penuh iri serta dengki. Karena nggak bisa memiliki, apa yang orang lain dapatkan atau miliki.
__ADS_1
Seharusnya, hal yang mereka lakukan adalah memotivasi diri mereka sendiri. Apa yang ia lihat pada orang lain. Bagaimana, caranya, supaya, agar, dia juga mampu dan yakin bisa seperti orang yang ia lihat. Bahkan bisa lebih dari apa yang ia kagumi dari orang lain. Bukan berburuk sangka, atau pula timbul gejolak iri hati yang tak berkesudahan.
Sangat di sayangkan, bukan?
Tidak menemukan solusi, tapi justru memperkeruh suasana hati dan pikiran. Serasa dunia hanya stuck di situ saja. Dan nggak ada jalan untuk keluar. Selain membenci orang yang kita nggak sukai. Agar orang itu jatuh, dan semakin di benci orang lainnya.
Jahat, ya?
Ya, namanya juga manusia. Memang tabiatnya seperti itu. Kalau Tuhan, nggak begitu.
Bara untungnya peka, mengetahui yang orang-orang katakan mengenai Ana dengannya. Lelaki itu langsung mengambil tindakan. Mengalungkan sebelah tangannya memeluk punggung Ana. Seolah berusaha untuk menenangkan hati Ana.
“Jangan di dengar-in, sayang. Anggap aja mereka angin lalu. Atau, patung-patung yang memakai baju pajangan dari toko-toko.” Ucap Bara diakhiri tawa kecil. Ana mengangguk pelan, walau memasang ekspresi wajah sedu.
“Kamu punya aku, dan selamanya akan begitu.” Bisik Bara di telinga Ana.
Sontak tangan Ana semakin mengeratkan genggamannya pada Bara. Dan tibalah keduanya di sebuah toko terakhir, yang mereka datangi. Dari luar, sudah tampak menyilaukan. Ana terkejut, karena Bara mengajaknya untuk mendatangi tempat itu.
“Sayang? Kita ngapain, kesini?” tanya Ana bingung.
“Udah, kamu lihat dulu. Nanti pilih aja semuanya. Atau, aku aja yang pilihi buat kamu?” Ujar Bara berbalik tanya.
“Nggak apa-apa, sayang. Kamu ambil apa yang kamu suka. Mau lihat-lihat dulu?” tutur Bara seraya mengajak Ana masuk ke dalam toko itu.
“Ada yang bisa dibantu, Kak? Mau pilih yang mana?” tiba-tiba datang seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dari Ana. Mungkin itu pelayan dari toko itu.
“Apa ada berlian edisi terbatas untuk sekarang? Kalau bisa, modelnya yang terbaru.” Tanya Bara pada pelayan itu.
“Ada Kak, tersisa satu. Dan itu untuk satu paket. Ada cincin, kalung, gelang tangan dan kaki, serta anting. Mau?”
Dari ekspresi wajah Ana, ia begitu menginginkan berlian itu. Namun lagi-lagi ia merasa tidak tega pada Bara. Bila membeli itu semua.
“Mau, Mbak. Ambil semuanya! Berapa total keseluruhan?” Bara menjawab tanpa berpikir lagi.
“Sayang...” gumam Ana sembari menatap Bara dengan tatapan sedu.
“Totalnya 100 juta, Kak. Mau dibayar pakai kartu atau tunai?”
__ADS_1
Bara langsung mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya. Kartu hitam tanpa batas, yang tidak mudah bila di dapatkan. Ana tercengang melihatnya.
‘Bara.. punya black card? Kok aku nggak tahu, ya?’ gumam Ana dalam hati bertanya.
Pelayan wanita tadi pun juga tercengang. Saat Bara memberikan kartu hitam itu padanya untuk pembayaran berlian edisi terbatas yang akan dibeli. Ana mengedipkan kedua matanya berulang kali.
Pelayan wanita itu langsung memroses pembayarannya. Tak membutuhkan banyak massa. Satu paket berlian yang dibungkus dalam kotak berlapis pernak-pernik itu telah jadi milik Ana. Bara langsung memberikannya ke pada wanita yang saat ini berada di sisinya.
“Sayang, kamu pakai dirumah, ya?” ujar Bara sembari menyerahkan kotak berlian itu pada Ana.
“Aku... speechless, sayang.” Jawab Ana dengan mata berkaca-kaca.
SET
Bara mengelus lembut bahu Ana.
“Kamu terima, ya. Aku harap kamu suka. Tapi sepertinya kamu memang suka.” Lanjut Bara berucap.
“Ana?” Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memanggil Ana.
Bara langsung menoleh ke arah suara itu. Namun, sepertinya Bara tampak tidak menyukai orang yang memanggil Ana barusan. Dan menatapnya dengan tatapan tajam. Sementara Ana, langsung kebingungan.
"K-kamu?" Tutur Ana gugup.
"Iya, aku Arya. Masih ingat, kan? Sudah lama sekali, ya. Kita baru bertemu lagi." Sambung orang itu yang ternyata adalah Arya Buana. Kakak lelaki Arka Buana.
Bagaimana bisa, dia datang ke tempat yang sama? Mungkinkah secara kebetulan? Entahlah, yang jelas, Ana bahkan begitu terkejut. Saat melihatnya lagi.
"Sayang.. kamu masih ingat dia, nggak?" Bisik Ana di telinga Bara.
"Dia Bos aku waktu di kantor dulu. Kakaknya Arka." Jawab Bara pelan.
"Syukurlah, kamu ingat. Aku nggak nyaman." Balas Ana.
"Ehem, sepertinya kami berdua harus kembali ke rumah. Maaf, kami permisi!" Sarkas Bara pada Arya. Pria dewasa itu terdiam sejenak. Lalu pergerakannya terasa saat dia mengejar Ana.
"Bisa minta waktunya sebentar? Kita kan, sudah lama sekali tidak berhubungan. Apa boleh, aku meminta nomor ponselmu, Ana?" Tanya Arya tanpa malu.
__ADS_1
'Sialan ini orang, udah tahu Suaminya ada di depan mata. Bisa-bisanya minta nomor Istri orang di depan Suaminya!' Gumam Bara dalam hati memaki.
Apakah Ana akan memberikannya?