Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 71


__ADS_3

Dua tahun kemudian...


Hari penantian yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ana dan Arka akan terwisuda. Tepat pada hari ini, keduanya akan bergelar Strata. Atau bisa dikatakan sebagai Sarjana. Tak jadi mahasiswa abadi, melainkan telah menyandang status pensiun sebagai mahasiswa.


Dan lagi, mereka pun kembali pulang ke Ibu Kota. Termasuk dengan Arka juga. Meski harus bolak balik Jakarta Jogja. Demi masalah perusahaan agar terus berjalan dengan baik.


“Sayang... jangan lama-lama dong, dandannya. Kamu natural aja juga udah cantik banget, seriusan.” Keluh Bara yang sudah sekian abad bosan menunggu.


Sudah hampir dua jam ia menunggu. Untung saja, acaranya masih dua jam lagi. Dan sekarang, sudah pukul 6 pagi. Iya, Ana sudah heboh berdandan sedari pukul 4 pagi.


Dasar cwk, memang rempong sekali, ya. He he he.


“Berhenti jadi manusia pling prik sedunia ini, Bara! Gak ada istilah cantik natural. Semuanya sudah diolah sedemikian rupa dengan skincare dan makeup tentunya. Awas kamu ya! Aku robek mulutmu nanti.” Ana melempar satu bantal ke wajah Bara. Dengan sigap, ia langsung menangkapnya.


“Eh iya, ampun Mbak. Kamu tetap cantik sayang.” Balasnya seraya terkekeh pelan.


"Sensitif banget sih!" gumam Bara dalam hatinya.


“Kamu ngomong apa, hah?” tanya Ana.


“Apa? Memangnya aku ngomong? Dari tadi diam begitu malah disangka ngomong. Eh, dia dengar gak ya tadi?” gerutu Bara dengan suara pelan.


“Aku dengar suaramu loh, Bar!” teriak Ana seraya menyemprotkan parfum ke baju kebaya nya.


Dan.... tadaaa!



Ana tampil elegan untuk perayaan wisudanya hari ini. Dengan balutan kebaya berwarna soft tosca. Beserta gaya hijab simple yang ia kenakan.


“Kamu... cantik,” ujar Bara terkekeh. Matanya tidak berhenti menatap wanita pujaannya.


“Sudah dari lahir.” Jawaban Ana rupanya cukup membagongkan bagi Bara. Ekspresinya berubah datar 99% dari sebelumnya. Dasar Bara!


“Huuuu! Tahu gitu tadi aku gak jadi memuji.” Celoteh Bara seraya mengerucutkan bibirnya.


“Biarin, wle!” ledek Ana sambil menjulurkan lidahnya keluar. Sontak Bara langsung mengejarnya.


Layaknya tom and jerry. ‘_’


“Awas ya kamu, kalau kutangkap, aku gak akan membiarkan kamu pergi.” Sekuat tenaga Bara berusaha mengejarnya. Dan berputar-putar tidak jelas.


Dasar kalian, huh!


“Coba aja kalau bisa, wle!” ledek Ana lagi.


Bara semakin geram dengan tingkah Ana. Dengan sigap, ia langsung menangkapnya.


“Hayoooo, gak bisa mengelak lagi kamu, An. Dari tadi bikin gemas, pokoknya kamu gak boleh pergi. Sebelum bikin mood aku jadi baik, hari ini.” Ucap Bara seraya mendekap Ana dengan sangat erat. Hingga menyebabkan Ana sulit untuk bernapas lega.


“Bara lepasin ih! Aku gak bisa napas.. huhhh t-tolongggg!” Ana berupaya memberontak. Bara tidak tega melihatnya. Ia langsung merenggangkan dekapannya.


“Gimana sekarang? Udah bisa napas, kan? Ayo, hibur aku.” Cih, hibur apanya di hibur? Lihat waktu, brother. Eh.


“Apaan sih kamu! Ini udah mau mulai bentar lagi acaranya. Jangan bermain-main, Bara!” Ana mendecak mendengus sebal seraya merapikan bajunya yang lecek.


“Enggak, pokoknya kamu gak boleh pergi. Kamu harus bertanggung jawab dulu!” Bara mengelak dan tak membiarkan Ana pergi ke acara wisudanya.


“Bara, stop kekanak-kanakan.” Tumben Ana bisa tegas. Eh.


“Iya, iya. Aku mengalah lagi.. udah sana, pergi. Katanya mau pergi.” Tutur Bara sedu seraya mengusir Ana pergi.


“Kamu ngusir aku?!”


“Loh, kan tadi katamu mau pergi. Ya udah sana pergi, aku gak akan melarang lagi.”


“Ih, dasar nyebelin!!!”


“Iya aku salah, aku yang salah. Aku lagi, aku terus.” Bara melenggang pergi masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Ana sendirian di ruang TV.

__ADS_1


Cie, ngambek. Eh.


“Bara kenapa sih? Kenapa jadi kekanakan gitu sekarang?! Aneh. Eh, tapi gak enak juga. Ninggalin dia dalam keadaan mood yang begitu. Ah.. Baraku...” celoteh Ana langsung mengejar Bara masuk ke kamar.


KREK....


Pintu kamar dibuka, Ana melihat Bara yang terbaring diatas ranjang. Matanya sudah terpejam sambil memeluk bantal guling disampingnya. Perasaan kesal bercampur tidak tega menjadi satu. Ana mencoba mendekatinya. Dan duduk di sebelahnya.


“Bara... kamu marah?” ucap Ana sembari mengelus lembut wajahnya.


Bara tidak menjawab. Namun kelopak matanya berkedut. Ana tidak menyadari itu. Melainkan ia berbicara lagi seakan tak menyadari Bara. Yang berpura-pura tertidur lelap.


Aih! Mau apa sih dia?


“Bara... maaf. Kamu sih lagian, ngeselin! Udah tahu aku mau ke acara wisuda sekarang. Bikin emosi terus dari tadi. Aku pergi dulu ya.. kamu gak mungkin bakalan ikut dalam keadaan tidak sadar, kan?! Tidur yang nyenyak ya.. sayang.”


CUP!


Ana mendaratkan satu kecupan di wajah Bara, dan juga di


bibirnya.


Bibirnya Bara langsung tersenyum menyeringai. Matanya langsung terbuka lebar. Ia melihat Ana yang akan keluar dari pintu kamar. Dengan cepat, Bara menangkisnya. Dan langsung memeluknya dari belakang.


“Kamu mau kemana? Jangan pergi sayang. Cintaku bagaikan rembulan, janganlah engkau pergi.” Bara bertingkah aneh lagi.


Drama apalagi ini? Eh.


“Kamu.. tiba-tiba jadi aneh gitu sih?! Kamu lupa? Aku ada wisuda hari ini. Mau ikut atau enggak?”


“Aku, kenapa? Sama aja perasaan, kayak kemarin-kemarin.”


“Enggak, kamu beda akhir-akhir ini. Jadi mau ikut gak?”


“Jadi dong.. aku ikut. Kita bareng Arka aja ya? Aku lagi malas nyetir mobil hari ini.”


“Terserah!” Ana malas berdebat lagi dengannya.


“Tau ah, kamu ngeselin!” Ana menepis lengan Bara saat ia mau menciumnya.


“Kamu jadi sensitif gitu sih? Marah-marah melulu.” Bara memperhatikan perubahan sikap Ana akhir-akhir ini.


“Kamu tuh yang aneh, kekanakan.” Ana tak mau kalah.


“Aku gak suka ah, kamu berubah. Kembalikan Ana yang dulu! Kembalikan Ana-ku yang dulu!” ujar Bara seraya menggoyang-goyangkan pundak Ana.


Dikira Ana lagi kerasukan kenapa?Haih!


“Bara stop! Ayo, katanya mau ikut. Terus, Arka nya mana? Udah di hubungi belum?”


“Kamu malah berganti topik. IYA UDAH, ARKA UDAH AKU HUBUNGI TADI. BENTAR LAGI JUGA DIA TIBA.” Bara mendengus sebal. Hatinya geram tak karuan. Ia kesal, karena sikap Ana yang jadi lebih sering marah-marah dan cenderung serius. (TIDAK ROMANTIS!)


“Loh kok, biasa aja dong.” Ana menatap sinis Bara.


Ini drama kapan kelarnya kalau begini? Eh.


“Ya udah lah, suka-suka kamu aja!”


Bara menjauh dari Ana sambil mengambil ponsel yang ada di saku celana nya. Memilih untuk menghindar dari perdebatan tadi. Mood nya berubah lagi.


Ana menggeleng pelan dan menghembuskan napasnya kasar. Keduanya saling berjauhan satu sama lain. Sambil menunggu kedatangan Arka yang akan pergi bersama ke acara wisudawan hari ini. Beberapa saat kemudian, suara bel berbunyi. Buru-buru Ana membukakan pintunya.


“Hai, Kak!” sapa Arka dengan setelan jas hitam yang melekat di tubuhnya.


“Iya, yuk berangkat!” ujar Ana langsung mengajak pergi.


“Loh, Bara mana? Gak ikut dia?” tanya Arka bingung.


“Gak tahu tuh, dia akhir-akhir ini jadi sering aneh kelakuannya.”

__ADS_1


“Aneh gimana maksudnya, Kak?”


“Ya aneh aja, kayak cewek gitu. Dikit-dikit mengambek, aneh kan?”


“Iya juga sih, ya udah aku aja yang bujuk dia supaya ikut. Dimana orangnya Kak?”


“Di kamar, tadi masuk lagi ke dalam.”


“Gak apa-apa nih, Kak? Aku masuk ke kamar?” tanya Arka hati-hati.


Tidak enak juga kalau masuk ke kamar orang tanpa seizin yang punya rumah. Walau sebenarnya demi kebaikan juga. Demi membujuk satu manusia itu.


“Iya, masuk aja. Jangan lama-lama ya. Udah siang soalnya.”


“Siap, Kak. Tenang aja, urusan Bara, aku yang urus. He he he.” Celoteh Arka seraya melangkahkan kakinya memasuki kamar Ana dan Bara.


Baru saja hendak membuka knop pintunya, tiba-tiba Bara muncul. Tepat di belakang pintu kamar.


“Lo? Ngapain si? Udah siang ini, astaga! Ngambek mulu, kayak cewek.” Ledek Arka sembari menahan tawa.


“Diam Lo! Berisik!” balas Bara dingin. Wajahnya datar 350°.


“Bara!” ucap Ana memanggilnya dengan nada menekankan.


“Iya, iya. Aku salah, aku salah!” jawabnya lemah bak orang pasrah.


“Cih, Suami takut Istri.” Sindir Arka.


“Sebaiknya Anda berkaca terlebih dulu.” Bara berbalik menyindirnya.


Keduanya memasang wajah masam bak buah mangga yang masih muda. Kecut! Eh.


Arka juga belum lama ini sudah bertunangan lagi dengan Gladys. Meski awalnya Gladys menginginkan langsung pada pernikahan. Namun, berkat bujuk serta rayuan dari Arka. Yang belum benar-benar siap untuk menikah. Mau tidak mau, Gladys menerimanya.


Mungkin saat ini, belum begitu tepat waktunya. Untuk melangsungkan pernikahan mereka. Walaupun Tuan Kertajaya sudah menyerah. Tidak lagi mengusik ketenangan Bara dan Ana. Namun tidak ada yang tahu, tidak ada yang benar-benar bisa dipercayai.


Apalagi percaya pada orang seperti


Kertajaya.


“Udah yuk, berangkat!” ajak Ana sambil menggandeng Bara. Yang di gandeng mendadak kaget dan tercengang menatap Ana.


Keduanya berjalan keluar dari dalam apartemen. Di pimpin Arka yang lebih dulu berjalan di depannya. Sesampainya di area basemen, Bara berulah lagi.


“Sayang... aku gak mau duduk di depan. Aku di belakang aja sama kamu, ya?”


“Jangan gitu ah, Arka bukan sopir kita... sa-yang!” Ana melotot tajam ke arah Bara. Seketika Bara melengos ke arah lain sambil mengerucutkan bibirnya.


“Gak apa-apa kok, Kak. Kalian di belakang aja, aku juga udah biasa kok. Nyetir sendirian. He he!”


“Tuh kan, Arka nya juga biasa aja. Udah ayo, naik!” Bergegas Bara langsung masuk duluan ke tempat duduk belakang. Diikuti Ana yang menggeleng melihat tingkahnya yang akhir-akhir ini jadi aneh.


Padahal dua-duanya juga aneh. Eh!


“Yang tenang ya, sahabat. Tolong, jangan bertengkar lagi. This is Arka car area, understand?”


“Ngomong melulu Lo Ka! Udah kenapa jalan tinggal jalan.” Bara membalas dengan emosi.


“Kamu tuh ya! Gak dirumah, di sini, bikin orang kesal melulu! Diam kenapa sih! Aku lagi kesal tahu!” umpat Ana mengomel.


Untuk pertama kali, Arka melihat Ana marah-marah. Terlebih lagi, ia memarahi Bara, Suaminya. Arka tampak takjub melihat pemandangan itu. Takjub apa kaget, Ka? Hm.


“Kalian kenapa sih? Kok jadi pada aneh gitu deh. Bara, tiba-tiba berubah jadi sadboy. Kak Ana, jadi kayak ibu-ibu. Marah-marah melulu.”


“ENGGAK!” keduanya menjawab serempak. Merasa tidak terima dengan yang di katakan oleh Arka barusan.


“Aih, kalau gitu... anteng-anteng ya, cantik, ganteng. Cup cup cup...” Arka menyerah, tak ingin memperdebatkan lagi.


“DIAM! JALAN!” lagi-lagi keduanya serempak membalas.

__ADS_1


“Duh, Gusti! Mimpi ape Gue semalam?! HEH!” gumam Arka dengan suara kecil.


Bersambung....


__ADS_2