
Sebuah mata kecil, samar-sama terbuka. Pandangannya melihat ke sekitar yang ada di depannya. Seperti sinar laser, menyoroti satu titik cahaya.
“Bunda? Ayah?” ucap Arbi memanggil.
Kaki kecilnya menuruni ranjang tinggi itu. Tangannya mengucek-ngucek mata sipitnya. Celingukan mencari kesana-kesini. Sampai langkah kaki Arbi terhenti di depan pintu kamar mandi.
Telinganya mendengar suara dari dalam sana. Arbi lantas menguping dari luar. Ia tidak tahu, kalau itu adalah Ayah dan Bunda nya.
“Ayah ... Bunda?” panggil Arbi. Namun tak ada sahutan dari dalam. Arbi kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.
Tok ... tok ... tok
“Ayah? Bunda?” ujar Arbi lagi memanggil.
Tiba-tiba...
Kriek!
“Arbi? Kamu udah bangun, sayang?” tanya Ana sewaktu membuka pintu kamar mandi itu. Tubuhnya hanya berbalut handuk putih yang melilit hingga dada. Arbi lantas berlari mendekati Ana dan memeluknya.
“Bunda...” rengek Arbi manja.
“Sayang... kamu takut ya, Nak?” ucap Ana bertanya. Arbi mengangguk pelan dengan wajah sedu.
Arbi pintar berakting, ya. He he!
“Ayah dimana, Nda?” gumam Arbi menanyakan keberadaan Bara. Tak sampai lima detik, Bara sudah menonjolkan kepalanya dari belakang punggung Ana.
“Kamu cari Ayah? Hei, bukankah kita masih belum baikkan?” Bara lagi-lagi membuat Arbi kesal.
Ayah muda memang sukanya mengganggu anak kecil. Eh!
“Aku nggak suka, Ayah! Aku sukanya Bunda!” tutur Arbi seraya mengerucutkan bibirnya ke depan. Ana mengecup wajah imut Arbi berulang kali.
“Arbi sayang... kamu nggak boleh begitu, Nak. Ayo, minta maaf sama Ayah.” Perintah Ana. Arbi menggeleng tidak mau.
“Kenapa Arbi nggak mau? Hubungan Ayah dan Anak, itu harus baik ... sayang. Kalau hubungannya tidak baik, maka seterusnya akan begitu. Memangnya Arbi, mau? Bunda marahan sama Ayah?” tanya Ana, Arbi menggeleng lagi. Wajahnya tampak sedu.
Sementara itu, Bara terlihat menampilkan ekspresi lawak pada Arbi.
Sementara itu, Bara terlihat menampilkan ekspresi lawak pada Arbi. Berulang kali Bara memancing emosi Arbi. Mengecupi tengkuk punggung Ana yang basah sehabis mandi. Wajah Arbi semakin masam. Tangan kecilnya lalu memukul wajah Bara.
PLAK!
“Awh ... sakit ... tahu!” keluh Bara, kepalanya hampir terjungkat balik ke belakang. Saat Arbi memukul wajahnya tadi.
“Sayang ... kok, kamu memukul Ayah?” respons Ana, melihat Arbi yang mulai berani pada Bara. Wajahnya berubah sedu. Ana lantas berjalan menuntun Arbi. Membawanya duduk ke tepian ranjang.
HAP!
Arbi menaiki dan duduk di atas kasur empuk itu. Diikuti Ana yang juga duduk di sebelahnya.
“Kamu juga duduk disini!” pinta Ana pada Bara. Untuk ikut duduk di sebelah Arbi.
Anak kecil itu duduk ditengah-tengah kedua Ayah dan Ibunya. Arbi terlihat tertunduk sedu. Tak berani menatap Ana.
“Arbi sayang ... Bunda kan, nggak pernah mengajarkan Arbi kekerasan. Kok, Arbi memukul Ayah, tadi?” Ucap Ana, tak suka bila Arbi berlaku nakal. Ia ingin, Arbi tumbuh jadi anak yang pintar dan menurut pada Ayah serta Bundanya.
“Ayah ... tadi ... ledek in aku, Bunda.” Gumam Arbi pelan. Menjawab interogasi pertanyaan dari Ana. Wajah imut kecilnya tertunduk sedu.
Ana mengelus lembut pucuk kepala Arbi yang kecil. Lalu di kecupnya berulang kali. Memeluk dan mendekapnya dengan erat. Bara yang melihat suasana haru akan Ana dan Arbi, juga ikut memeluk keduanya.
“Ayah kan, hanya bercanda. Nggak ada maksud mengejek Arbi.” Ujar Bara lembut.
“Tapi tadi Ayah meledek aku!” tukas Arbi tak mau mengalah.
“Sayang... kamu juga nggak boleh begitu sama Arbi. Ayo sekarang, waktunya berbaikan!” pinta Ana antusias.
Arbi tampak mengacungkan satu jari kelingkingnya pada Bara. Sebagai tanda persahabatan antara ia dengan Ayahnya. Bara lantas terkekeh kecil. Dan ikut mengacungkan jari kelingkingnya pada Arbi.
“Janji, Ayah nggak boleh ledek Arbi lagi?” tutur Arbi dengan suara imut nya. Bibirnya mengerucut ke depan. Menunggu jawaban dari Bara.
“Iya, iya, Ayah janji.” Balas Bara sembari menyatukan jari kelingkingnya pada kelingking Arbi.
HAP!
Arbi kecil memeluk Bara erat. Akhirnya, kedua Ayah dan Anak itu kembali baik. Ana tersenyum senang melihatnya.
“Hm, Arbi sama Ayah main dulu di luar. Bunda mau ganti baju.” Ana hampir lupa, dirinya belum memakai pakaian. Hanya berbalut handuk putih yang melilit pada tubuhnya.
“Arbi saja yang main, Ayah mau menemani Bunda.” Sergah Bara menolak. Arbi celingukan menatap kedua orang tuanya.
“Kalau begitu, aku juga mau disini sama Bunda.” Arbi jadi ikut ikutan.
Ana menepuk jidatnya pelan. Bara dan Arbi terlihat tersenyum menyeringai. Menampilkan gigi putih mereka. Senyum kecut Ana tampilkan karena tak bisa lepas dari gangguan Ayah dan Anak itu.
Waduh, kacau!
Eh.
__ADS_1
...
Pohon cemara bergerak pelan dengan riuhnya angin yang melambai nan menyejukkan. Hijaunya rerumputan begitu indah bila di pandang. Tampak asri, juga memberikan ketenangan. Sebuah keluarga kecil terlihat bahagia. Berjalan berdampingan, seraya bergandeng tangan.
Arbi punya keinginan, bisa berjalan di taman kota bersama Ana dan Bara. Mungkin karena tontonan cartoon yang akhir-akhir ini Arbi lihat. Karena itu, sore ini adalah hari baik. Tuk mengabulkan permintaan Arbi.
Senyum Arbi tak sekalipun terlihat pudar. Kaki kecilnya berjalan pelan sembari di hentakkan pada pijakkan nya. Kedua tangannya menggandeng jari jemari Ana dan Bara. Berjalan di tengah-tengah keduanya.
“Arbi ... suka?” tanya Ana lembut. Arbi lantas mengangguk cepat.
“Bunda, aku mau makan ice cream?” pinta Arbi.
“Sebentar, Ayah telepon Pak John dulu.” Sambung Bara, seraya mengambil ponsel nya di dalam saku kemeja Bara.
“Kok, Pak John, Yah?” Arbi bingung.
“Iya, kan Ayah harus selalu bersama kalian.” Ujar Bara sambil menampilkan senyum nya yang mengembang. Arbi membalas dengan anggukan pelan.
“Sayang ... aku, capek. Kita istirahat dulu, ya.” Keluh Ana lelah.
Mereka lalu berhenti di sebuah kursi panjang. Yang ada di taman kota itu. Ketiga duduk, sembari melihat anak-anak kecil bermain bersama kedua orang tuanya. Arbi memperhatikannya, gurat senyum nya terukir di bibir dengan tulus.
Ana dan Bara tampaknya tengah mengobrol sesuatu. Suaranya terdengar seperti bisikan. Sehingga Arbi tak sedikit pun mendengarnya. Namun, anak itu salah fokus pada seorang anak perempuan. Yang jaraknya tak jauh dari tempat duduknya sekarang.
Tak berapa lama kemudian, Pak John datang. Sembari membawa dua buah ice cream di kedua tangannya. Bara mengambil ice cream itu.
“Terima kasih, Pak John.” Ucap Bara.
“Sama-sama, Tuan muda.” Balas Pak John.
“Arbi?!” panggil Bara. Arbi mendongakkan kepala nya ke atas.
“Ice cream nya, sayang.” Lanjut Ana berucap. Tangan kecil Arbi mengambilnya. Kakinya beranjak turun dari kursi itu. Arbi terlihat berjalan menjauhi Ayah dan Bundanya. Pak John tampak mengiringi di belakang. Mengikuti kemana Arbi pergi.
“Arbi? Mau kemana, Nak?” tanya Ana khawatir.
“Don’t worry, sayang. Ada Pak John, yang mengawasinya.” Tutur Bara, seraya mengelus lembut pundak Ana. Dan mengecup keningnya lembut.
“Iya, Arbi juga sepertinya gak akan jauh-jauh dari kita.” Lanjut Ana.
“Kamu terlalu mengkhawatirkan Arbi. Baby twins kita juga butuh perhatian kamu, sayang.” Gumam Bara, sembari menyuapi Ana ice cream cup yang dibawa Pak John tadi. Sementara yang satunya lagi, diberikan pada Arbi.
“Hm, karena aku begitu menyayangi Arbi, sayang. Aku sempat berpisah lama dengannya. Sekarang, aku hampir setiap hari melihat wajah imut nya. Dan dia mirip seperti kamu.” Ucap Ana membalas.
“Iya juga, ya. Arbi mirip sekali denganku. Tapi, tetap aku kan, yang lebih tampan?” Bara tak mau kalah.
Di tengah obrolan Ana dengan Bara, Arbi asyik dengan dunia nya sendiri. Anak kecil itu rupanya mendapat teman baru. Seorang anak perempuan, yang usianya serupa dengan Arbi.
Arbi kecil tampak memberikan ice cream yang ada di tangannya pada gadis kecil itu. Pak John tersenyum kecil. Memperhatikan perilaku baik Arbi. Berbuat baik pada orang tak dikenal.
“Hei, kamu mau ice cream?” tutur Arbi berucap pada gadis kecil itu.
Kulitnya putih bersih, dengan rambut bergelombang yang berwarna hitam. Mengenakan dress dan sepatu flat shoes kecil pada kakinya. Arbi sepertinya terhipnotis oleh gadis kecil itu.
Jiwa-jiwa playboy Bara, akankah turun pada Arbi?
Entah.
“Nggak mau, aku mau yang baru.” Tolak gadis itu. Arbi lalu mengernyitkan dahinya sesaat.
“Kenapa? Ini belum di makan, kok.” Sambung Arbi seraya mendengus sebal.
“Kata Mama, aku nggak boleh makan sesuatu yang bekas orang lain. Nanti takut terkena penyakit.” Balasnya sembari bergidik ngeri.
Anak sekecil itu, sudah begitu pintar.
“Mamamu dokter, ya?” tanya Arbi penasaran. Gadis itu lalu mengangguk pelan.
“Kok, kamu tahu?” sambungnya.
“Bundaku juga ada yang temannya dokter. Namanya Tante Gladys. Orang kedokteran, biasanya memang selalu menjaga kebersihan.” Celoteh Arbi menjelaskan.
“Tante Gladys? Seperti nama Tanteku juga. Dia juga seorang dokter.”
“Benarkah?” gumam Arbi bertanya lagi. Gadis itu menjawab dengan anggukan.
“Kalau begitu, kamu tidak mau ice cream ini?” lanjut Arbi. Lagi-lagi, gadis kecil menggeleng.
“Ya sudah, aku makan sendiri saja.” Arbi memasukkan semua ice cream cup itu ke dalam mulutnya. Hingga membuat bibirnya berlepotan penuh dengan sisa-sisa dari ice cream nya.
“Ih, kamu jorok!” Celetuk gadis itu tiba-tiba pada Arbi. Ia juga terlihat mengambil sesuatu dari saku bajunya.
Sebuah tissue basah?
“Hei, mau apa kamu? Jangan menyentuhku!” tolak Arbi.
Rupanya, sang gadis kecil berniat untuk membersihkan sisa ice cream yang ada di mulut Arbi. Menggunakan tissue basah dari saku bajunya. Arbi mendadak tercengang kaget. Saat melihat perlakuan dari gadis itu padanya, sama seperti Ana.
“T-terima, kasih.” Ucap Arbi terbata.
__ADS_1
“Lain kali, harus menyiapkan tissue saat makan. Kalau tidak, maka bajumu yang akan kotor nantinya.” Tukas gadis itu. Arbi hanya mengangguk pelan.
“Oh iya, aku belum tahu namamu.” Sambung Arbi.
“Aku ...” perkataannya terpotong, dengan suara panggilan Ibu dari anak itu.
“Sayang? Loh, kamu main sama siapa? Kok, nggak dikenali ke Mama?” ujar seorang wanita dewasa, pada gadis kecil itu. Mungkin usianya terbilang sekitar 30 tahun.
“Mama? Aku mau makan ice cream, Ma!” pinta anak perempuan tadi pada Ibunya. Arbi ternganga memperhatikan keduanya. Sementara Pak John, memilih mengawasi Arbi dari jarak lima beberapa sentimeter darinya.
“Kamu mau ice cream? Boleh, tapi kita harus pergi dulu dari sini. Mama tiba-tiba ada jadwal di rumah sakit, Nak. Kamu nanti ditemani Kakak dulu, ya. Untuk beli ice cream nya.”
“Yah, Mama ... selalu ... begitu. Apa-apa ke rumah sakit. Aku masih mau disini, Ma.” Sergah anak perempuan itu menolak pergi dari taman kota.
“Terus, kamu disini sama siapa, sayang? Mama sibuk banget. Papa kan, belum bisa balik dari luar kota. Atau nggak, Mama telepon Kakak aja, gimana?” usul wanita dewasa itu pada anaknya. Sang gadis kecil langsung mengangguk cepat.
“Oke, Mama telepon Kakak dulu. Eh, kamu ... teman barunya Tasya, ya?” Ujarnya lagi tiba-tiba pada Arbi. Si pria kecil itu tampak berdiri tegap, seraya merapikan bajunya.
“I-iya, Tante. Aku ... Arbi.” Jawab Arbi.
“Kamu disini sama siapa, Nak? Orang tuamu, dimana?”
“Disana! Itu Om aku, namanya Pak John.” Tunjuk Arbi pada Pak John yang ada di belakangnya. Wanita itu mengangguk paham.
“Kalau begitu, Tante boleh titip Tasya sama kamu, tidak? Soalnya Tante harus segera pergi. Nanti, ada Kakaknya Tasya yang datang kesini. Kamu temani Tasya sebentar, nggak apa-apa kan, Nak?” celotehnya pada Arbi.
“Siap, Tante. Aku akan meminta Pak John untuk menjaga kami berdua.” Arbi menjawab dengan ekspresinya yang serius.
“Ya sudah, Tante pergi, ya. Dah, sayang!” salamnya sembari pergi meninggalkan Arbi dan Tasya di tengah-tengah rerumputan itu.
Seperginya wanita tadi, Pak John menghampiri dan mendekati Arbi juga Tasya.
“Tuan muda kecil, siapa anak ini?” tanya Pak John.
“Dia teman baruku, Pak John. Namanya, Tasya. Mamanya pergi ke rumah sakit. Pak John, boleh kan? Tasya juga di awasi Pak John.” Pinta Arbi memohon.
“Baiklah, tapi sampai kapan orang tuanya pergi?” balas Pak John.
“kakakku nanti akan datang kesini kok, Om. Tunggu sampai Kakakku datang, boleh kan?” Tasya tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan Arbi dan Pak John.
“Hei, Nona kecil. Anda berani juga, ya. Baik, aku akan tunggu sampai Kakakmu datang. Kalau tidak datang juga, dengan terpaksa aku harus membawaku ke kantor perlindungan anak.” Tukas Pak John. Arbi membulatkan kedua matanya.
“Apa? Kantor perlindungan anak?” Arbi mengulangi perkataan Pak John.
“Iya, karena aku tidak mengetahui tempat tinggal anak ini. Aku pun tidak berminat membawanya pulang ke rumah utama. Nyonya besar pasti tidak akan setuju.” Lanjut Pak John.
“Tidak kok, Om. Kakakku sebentar lagi juga datang, kok.” Sambung Tasya.
Beberapa detik kemudian, Arbi dan Bara terlihat berjalan menghampiri ketiganya. Arbi kecil melambai-lambaikan tangannya ke arah sang Bunda.
“Itu, Bundaku! Cantik, kan?” gumam Arbi berkata pada Tasya.
“Mamaku juga cantik!” Tasya tampaknya tak mau kalah.
“Bundaku yang lebih cantik!” Arbi tak terima.
“Mamaku!” cerca Tasya.
“Bundaku!” sergah Arbi berteriak. Suaranya terdengar sampai ke telinga Ana dan Bara.
“Arbi? Kamu kenapa, Nak? Kok berteriak-teriak, barusan?” tanya Ana lagi.
“Bundaku cantik kan, Ayah?” Arbi justru malah berbalik tanya pada Bara.
“Iya, dong. Bunda kamu yang paling cantik.” Ucap Bara lembut seraya mengecup kening Ana di hadapan anak-anak itu dan Pak John.
“Sayang .... kamu kebiasaan, deh.” Bisik Ana pelan.
“Loh, kan Arbi bertanya, sayang.” Gumam bara berbisik.
“Iya, tapi kan, nggak harus mencium aku di depan mereka juga, kan?” Tutur Ana membalas pelan.
“Iya, deh. Sebagai gantinya, nanti dilanjutkan dirumah. Gimana?” pinta Bara seraya tersenyum menyeringai. Ana lantas memutar kedua bola matanya ke atas. Dan pandangannya seketika beralih pada gadis kecil yang bersama dengan Arbi.
“Eh, ini siapa, sayang? Teman baru Arbi, ya?” tanya Ana ramah. Sementara itu, Tasya tampaknya malu. Wajahnya tertunduk ke bawah.
Mungkinkah, ia tak enak dengan perdebatannya dengan Arbi tadi?
“Bukan, dia bukan temanku! Aku tidak punya teman!” tukas Arbi menolak pertemanan dengan Tasya. Pria kecil itu berlari memeluk Ana.
“Arbi ... nggak boleh begitu, Nak.” Ujar Ana lembut, seraya mengelus lembut pucuk kepala Arbi.
“Dia bilang, Mamanya lebih cantik daripada Bunda.” Ucap Arbi di pelukan Ana.
Ana mengerti sekarang, rupanya Arbi sudah salah paham. Ya, memang setiap anak pastinya akan membela Ibunya. Mau secantik apa pun wanita yang ia lihat. Pastinya anak akan lebih berpihak pada Ibunya. Yang dilakukan Arbi, tidaklah salah. Namun, dibalik kesalahpahaman Arbi, sikap Tasya seharusnya juga diperlukan.
Mungkin seharusnya Tasya menjawab: ‘iya, Bundamu cantik. Seperti Bundaku yang tak kalah cantik juga.’
Tapi yang namanya anak kecil, memang belum begitu paham. Dalam menjawab pernyataan seperti yang Arbi ucapkan.
__ADS_1