Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 39


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun tidak dengan hatinya Bara. Masih menyisakan memori obrolan semalam dengan kedua orang tua Ana. Harus dengan cara apa agar mereka tidak membahas tentang keluarga Kertajaya? Bara masih memikirkan hal itu. Mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakan soal rumah yang pernah ia bahas pada Ana.


“Nak Bara, disini gak ada kompor kah? Teko, dan semacam peralatan dapur lainnya. Perasaan Ibu gak lihat ya.” Tanya Bu Ayu yang sejak pukul empat pagi sudah heboh membangunkan.


Ya namanya juga pernikahan dengan bocah Bu, jadinya begini. Tidak ada perabotan. Adanya Cuma kasur, dan pakaian. Pernikahan dadakan ala-ala anak kos kosan. Hiah!


“Hm, i.. iya Bu. Memang gak ada apa-apa disini.” Jawab Bara sedikit gugup sembari menoleh ke arahnya.


“Lah kok bisa Nak? Terus kalian selama ini makan beli?” Sambung Bu Ayu tercengang.


“I.. iya Bu.”


“Ya Allah Gusti! Sudah berapa banyak uang yang kalian habiskan. Hialah, Ibu gak paham sama kalian. Mau sampai kapan kalian hidup seperti ini?” Ucap Bu Ayu geram. Entahlah Bu, author pun bingung. Hi hi hi!


“Sudahlah Bu, mereka ini kan baru saja hidup mandiri. Ya wajar kalau memang belum ada apa-apa diisi kontrakan ini.” Sambung Pak Ali.


“Memang kamu mau? Terus terusan hidup di dalam kosan ini? Kalau begitu lebih baik Ibu bawa Ana dan cucu ku pulang saja lagi ke kampung.” Bu Ayu tampak sudah tak ingin berlama-lama lagi di kota ini, apalagi melihat kondisi Ana yang begini.


“Saya tergantung Ana Bu. Ia bilang mau tinggal disini dulu untuk sementara. Sebenarnya rumah yang sudah saya bangun baru saja selesai. Kalau Ana mau pindah sekarang pun boleh.” Tutur Bara seraya menatap Ana.


“Kamu bangun rumah? Loh kenapa gak ngomong dari tadi nak. Kita bisa siap-siap sekarang.” Sambung Pak Ali. Sementara Ana tampak bingung.


“Kita pindah sekarang sayang?” Bisik Ana pada Bara.


“Iya, rumah itu kan memang sudah lama selesai dibangun. Lagipula, kalau disini sepertinya gak akan cukup untuk ditempati beberapa banyak orang.”


“Tapi aku masih lemas.” Lirih Ana berucap.


“Gak apa-apa, kamu diam aja. Cukup aku aja yang akan beres-beres ini semua.” Ucap Bara seraya mengelus wajah Ana.


“Bapak kan ada. Biar bapak juga bantu. Sudah, Ibu sama Ana diam saja lihat kami berdua beres-beres.” Sambung Pak Ali.


Bapak-bapak tidak mau kalah kuat juga ya, ternyata. Hiah hiah hiah!

__ADS_1


Bu Ayu tampak menggeleng kepala, melihat Suaminya yang merasa tak mau kalah dengan Bara. Ia menghampiri Ana yang masih lemas berbaring di atas kasur, bersama dengan bayinya.


Asyik sekali ya, kelihatannya, antara mertua dengan menantu yang tengah sibuk beres-beres. Padahal hanya membereskan beberapa pakaian. Untuk dimasukkan ke dalam koper, beserta beberapa alat-alat skincare Ana dan buku-buku lainnya.


-


Setelah beres semuanya, mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah baru. Yang sudah selesai di bangun Bara untuk Ana. Lokasinya agak jauh dari kos kosan ini. Mereka semua berangkat dengan menggunakan taxi online yang sudah dipesan oleh Bara. Pak Ali tampak semangat mengangkat beberapa koper, untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.


“Sudah beres. Semuanya ayo naik. Ana, Ibu, dan nak Bara dibelakang saja. Biar Bapak yang didepan dengan sopir.” Ucap Pak Ali semangat.


Sepertinya, Bara semakin sulit untuk menghabiskan waktu berdua dengan Ana. Hiah hiah hiah! Bersabarlah, karena orang sabar disayang Tuhan. Eh, tapi Bara gak bisa sabar-an. Waduh.


“Kira-kira jauh gak, nak Bara lokasinya kalau dari kosan tadi?” Tanya Bu Ayu dan mereka semua yang sudah berada di dalam mobil.


“Hm, iya Bu. Lokasinya di dalam perumahan yang masih sepi. Hanya ada beberapa rumah disana.” Jawab Bara seraya menggenggam erat jemari Ana. Sementara baby Arbi ada diatas pangkuan Bu Ayu.


Dasar Bara. Huh!


“Dekat, sekitar 10 menit berjalan kaki sudah sampai Bu.” Ucap Bara. Bu Ayu hanya membalas dengan anggukan.


.........


Tak terasa perjalanan sudah hampir sampai, mobil taxi itu mulai memasuki kawasan perumahan. Kalau dilihat dari lingkungannya, memang sangat sepi. Hanya ada beberapa rumah yang ditempati, sisanya masih belum sepenuh nya selesai di bangun. Tibalah sampai di depan rumah yang dimaksud oleh Bara. Sebuah rumah bergaya american classic bercat putih.



“Kita sudah sampai.” Ucap Bara pertama.


“Serius ini rumah kamu, nak?” Tanya Pak Ali memastikan. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya langsung.


“Bukan rumah saya, Pak. Tapi rumah Ana.” Tutur Bara.


“Lah, rumah Ana? Bukannya kamu yang bangun toh? Ana sejak kapan bisa membangun rumah sebesar ini?!” Sambung Bu Ayu.

__ADS_1


“Rumah itu memang untuk Ana, Bu. Kan sekarang kita berdua sudah menikah. Jadi rumah itu juga rumah Ana. Iya kan sayang?” Ucap Bara seraya menatap mata Ana lembut.


“I.. iya.” Jawab Ana sembari menampilkan senyumnya yang mengembang.


“Yowis kalau gitu tunggu apa lagi, ayo kita turun.” Ucap Pak Ali semangat.


Mereka semua turun dari mobil, tak lama setelah itu taxi yang mengantar mereka tadi pun pergi menjauh dari tempat sekarang mereka berdiri. Menatap keseluruhan rumah besar yang kokoh bak seperti di negeri dongeng. Rumah yang selama ini Ana impikan, seperti rumah yang ada di di film Up. Disekitar rumah itu terdapat taman kecil serta beberapa tanaman. Memberikan nuansa alam yang asri dan sejuk.


“Kamu suka?” Bisik Bara pada Ana. Sementara Pak Ali dan Bu Ayu lebih dulu semangat melihat-lihat sekeliling halaman rumah itu.


“Suka. Aku makin sayang sama kamu.” Tutur Ana seraya mengecup lembut wajah Bara. Yang di cium salah tingkah sendiri. Ha ha ha.


“Ibu sama Bapak kamu lucu ya. Mereka antusias banget sama rumah ini.” Ucap Bara sembari tertawa kecil.


“He he, iya. Karena di kampung halamanku, belum pernah ada yang punya rumah seperti ini, sayang.” Sambung Ana.


“Yuk masuk!” Ajak Bara.


Bu Ayu dan Pak Ali sadar kalau pintu rumahnya sudah dibuka kunci oleh Bara. Mereka berdua pun ikut masuk setelah puas melihat keadaan halamannya. Baby Arbi pun masih tertidur pulas di gendongan Bu Ayu. Pak Ali tak merasa kelelahan sewaktu mengangkat semua koper dan juga barang-barang untuk dibawa masuk ke dalam. Ana dan Bara menaiki lantai dua, kamar utama mereka.


“Sayang.” Panggil Ana seraya mereka berdua menaiki tangga kayu untuk bisa sampai ke atas.


“Iya sayang? Kenapa?” Jawab Bara.


“Aku lemas.”


Tak menjawab keluhan Ana, Bara langsung menggendongnya ala bridal style. Ana tersipu menatap Bara, wajahnya kian merah merona. Tak ada yang tahu lokasi rumah ini. Arka, Arya maupun keluarga Kertajaya. Bara sengaja membangun rumah ditempat yang jauh dari mata-mata keluarga Kertajaya.


Namun tiada yang bisa memastikan, kebohongan serta penyamaran orang yang memakai topeng kulit berwajah Bara akan bertahan sampai kapan. Mungkin tak akan lama lagi, kebohongan itu semua akan terkuak. Tak lama lagi juga keluarga Kertajaya akan mencari keberadaan Bara. Begitu pula dengan Pak Ali dan Bu Ayu, orang tua Ana. Yang akan mengetahui sikap dari keluarga Bara, pada anaknya seperti apa.


Akankah kisah cinta mereka akan berakhir?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2