
Pagi ini, Ana dan Bara bangun kesiangan setelah menghabiskan malam yang panjang dengan penuh kehangatan cinta dan sayang mereka. Biasanya Ana bangun lebih awal, namun kini Ia bangun pada pukul setengah enam pagi. Bara pun sama halnya dengan Ana, namun Ia masih memeluk Ana dalam mata yang terpejam. Dua kali Ana berupaya untuk membangunkan Bara, namun hasilnya nihil. Bara masih betah dengan posisi tidurnya yang sudah kesiangan bolong.
“Bara, sayangku. Bangun cinta, ini udah setengah enam loh. Kita belum mandi hadas dan ibadah subuh.” Ucap Ana lembut sambil mengusap lembut pipi Bara yang sedikit berbulu.
“Benaran kamu yang? Udah setengah enam?” Respons Bara dengan mata yang masih terpejam.
“Iya sayang. Aku gak bisa bangun, gendong aku ke kamar mandi ya?” Ucap Ana. Sontak Bara langsung bangun dan mengucek matanya.
“Sekalian aku mandikan ya?” Udah siang bolong masih aja. Author geleng-geleng kepala. Eh.
“Ini udah siang loh sayang. Jangan lama-lama mandikannya.”
“Iya cinta, yuk aku gendong.” Dengan sigap Bara menggendong Ana dengan sama-sama bertubuh polos. Terlihat perut Ana yang semakin besar.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual pembersihan diri. Bara menggosokkan tubuh Ana dengan sangat lembut, sesekali Ia mencium bagian kesukaannya. Sembari memandikan Ana yang kesulitan untuk bergerak, sembari Ia melakukan ritual mandinya sendiri. Rasanya Ana masih belum menyangka, kalau Bara benar-benar datang dan masih mengingat dirinya dan juga bayinya. Tak memerlukan waktu yang lama, mereka pun selesai dengan ritual mandinya dan tak lupa dengan ritual bacaan mandi hadasnya.
Dengan cepat Bara menggendong Ana kembali untuk membawanya keluar kamar mandi. Ana sekilas memandang wajah Bara yang penuh bulu di bagian wajahnya. Kumis dan berewok itu yang membedakannya dengan Bara yang dulu. Ana masih mengenali mata indah Bara, dan juga hidungnya yang sedikit mancung. Ya, dia benar-benar Bara.
Setelah Bara menyelesaikan ritual mandinya dengan Ana, bergegas Ia berwudu dan melakukan ibadah subuh. Diikuti dengan Ana yang berjalan tergopoh-gopoh sambil memakai mukena nya. Setelah melakukan ritual ibadah pagi bersama, Ana masih duduk dan tak bisa bergerak bangun. Seperti peka dengan keadaan Ana, dengan cepat Bara menggendongnya dan membawanya ke tepian kasur. Dengan hati-hati bara menggendongnya.
“Itu kamu masih sakit gak sayang? Mau aku gantikan sekalian gak bajunya?” Ucap Bara sembari merebahkan tubuh Ana ke tepian kasur dan sambil ikut duduk disampingnya.
“Hm, masih sedikit sayang. Aku bisa sendiri kok, kamu ambilkan bajuku saja kesini. Aku minta tolong, hehe.”
“Gak perlu minta tolong sayang, kita kan Suami Istri. Jadi sudah seharusnya saling membantu satu sama lain.” Ucap Bara sembari tersenyum menatap Ana.
“Uh sayang, aku masih merindukanmu.” Ucap Ana sembari memeluk erat Bara dan menciumnya.
“Kamu mau lagi yang semalam?” Tanya Bara. Sepertinya begitu bang. Eh.
“Ah nanti saja, setelah pulang dari kampus ya.” Sudah mulai agresif Ana bunda. Eh.
“Ha ha, kamu serius? Ah, aku jadi gak tahan kan.” Tanya Bara memastikan ucapan Ana, sambil tersenyum menyeringai menampilkan gigi putihnya.
“Iya, aku serius. Duh, penginnya hari ini gak usah ke kampus ya.” Ucap Ana yang masih memeluk erat Bara. Pun sama halnya dengan Bara yang menenggelamkan kepalanya ke leher Ana, sambil menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
“Yaudah kalau gitu, hari ini kamu absen dulu. Kita habiskan hari ini untuk hari kita yang panjang.” Ucap Bara menatap mata Ana penuh cinta. Duh, authornya jadi kepingin kan bunda. Eh.
“Hm, maunya sih begitu sayang. Tapi hari ini aku ada presentasi di kelas.” Ucap Ana cemberut.
“Duh, sayangku. Kamu kenapa makin menggemaskan begitu sih kalau lagi cemberut begitu.” Ucap Bara terkekeh.
“Ih kamu mah, aku jadi gak mau ke kampus kan.”
“Loh, kenapa gak jadi? Kan ada presentasi katamu?”
“Kamu nya menggoda terus sih, aku jadi gak ingin ke kampus kan.” Ucap Ana sembari mencubit kecil pipi Bara. Duh, gemasnya. Eh.
“Ah, kamu bikin aku jadi gak mau pergi juga.” Ucap Bara.
“Kamu mau pergi lagi? Kemana? Kamu mau tinggal-in aku lagi sendiri?” Ucap Ana dengan berbagai pertanyaan dengan wajah yang tertiba muram.
“Sayang, aku gak akan pergi lagi. Apalagi untuk meninggalkanmu sendirian kayak kemarin-kemarin.” Ucap Bara sambil memeluk erat Ana.
“Terus, kamu mau kemana? Hiks... Hiks... Aku- aku jadi trauma dengan kepergianmu.” Ucap Ana sambil terisak di punggung Bara.
“Kamu mau melamar pekerjaan? Terus kuliah kamu yang disini bagaimana?”
“Hm, aku udah gak ada biaya lagi sekarang. Aku udah gak tinggal lagi dengan keluargaku.” Ucap Bara tertunduk.
“Semua ini karena aku penyebabnya. Gara-gara kamu menikahiku, kamu jadi begini sekarang. Hiks.. Hiks.. Hiks..” Ucap Ana tersedu-sedu.
“Hei, sayang. Ini bukan salahmu kok. Ini memang sudah jadi takdirku yang begini. Aku justru beruntung bisa lepas dari jerat keluargaku.”
“Tapi aku takut suatu hari mereka akan menyadari penyamaran orang suruhanmu dan mencarimu lagi. Aku.. Aku takut mereka akan mengambilmu kembali dariku.” Ucap Ana sedu.
“Mereka gak akan bisa memisahkan kita lagi sayang. Secepatnya aku akan meresmikan pernikahan kita ke negara dan hukum.”
“Kamu masih punya tabungan?” Tanya Ana.
“Masih, tapi gak banyak. Separuhnya sudah ku pakai untuk bangun rumah kita dan mentransfer pada Ali. Sewaktu aku menyuruhnya untuk menyusulku ke Aussie.”
__ADS_1
“Rumah kita? Maksudmu, rumah yang sewaktu itu pernah kamu bicarakan padaku?”
“Iya, rumah itu sudah jadi. Lokasinya agak jauh dari sini, dan sedikit ke pedalaman. Maklum, aku mencari lokasinya agar keluargaku tak ada yang mengenali apalagi mengetahuinya.”
“Gak masalah sayang, apa pun yang kamu lakukan selagi itu baik, aku mendukungmu.” Ucap Ana sembari mengelus pipi Bara dengan lembut.
“Terima kasih sayang, kamu selalu jadi penguat hari-hariku. Karenamu, aku jadi merasakan indahnya surga dunia. He he he.” Ucap Bara menggoda.
“Mau di cium lagi?” Tanya Ana. Bara mengangguk sambil memejamkan matanya. Sontak Ana langsung tertawa melihat tingkahnya.
“Gak jadi di cium? Katanya mau cium aku. Ayo cium sayang, aku udah siap nih hehe.” Ucap Bara dengan mata yang masih terpejam. Ana langsung melancarkan aksinya dengan mencium lembut bibir Bara sedetik.
“Lagi dung sayang, jangan sebentar begitu kenapa.” Ye, maunya antum itu sih. Eh.
“Nanti kita lanjut lagi, sekarang aku mau siap-siap ke kampus.” Ucap Ana.
“Yah, gagal dung kita melanjutkan yang semalam.” Ucap Bara yang langsung membuka matanya. Ana tersenyum menyeringai dan menganggukkan kepalanya. Sontak Bara mengerucutkan bibirnya.
~
Setelah selesai berbincang-bincang, Ana bersiap untuk berangkat ke kampus. Sementara Bara bersiap untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Rasanya Ana tidak tega melihat Bara yang hidup bergelimang harta tiba-tiba harus membiasakan hidup sederhana. Rasanya ingin Ana membantu meringankan beban Bara agar tidak terlalu memberatkan Bara dalam mencari uang. Tapi, pekerjaan apa yang bisa dilakukan Ibu hamil sepertinya?
“Sayang, kamu pulang jam berapa nanti?” Tanya Ana pada Bara yang tengah merapikan kemeja putihnya.
“Belum tahu yang, secepatnya aku dapat atau enggak pekerjaannya. Kalau cepat, aku langsung menyusul kamu ke kampus.” Ana mendekati Bara dan memeluknya. Entar juga ketemu lagi, An. Huh! Author jadi kepingin, Bunda. Eh.
“Aku tahu kok, kamu gak mau jauh dariku. Iya kan? He he he.” Ucap Bara menatap wajah Ana.
“Hm, kamu kan gak bawa HP. Terus aku menghubungimu bagaimana caranya?”
“Kamu tunggu aja di kosan, kalau aku lama datangnya ke kampus. Aku gak mau kamu lama menungguku.” Ucap Bara seraya mengelus lembut perut Ana yang buncit.
“Tapi kamu benaran kan, gak akan pergi lagi kayak kemarin-kemarin?” Tanya Ana gundah.
“Iya sayang, kamu semenjak hamil jadi berubah manja ya. He he he.” Ucap Bara terkekeh.
__ADS_1
“Iya nih, aku juga gak tahu bisa manja begini. Biasanya kan kamu yang manja.” Sontak wajah Bara merona.