Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 31


__ADS_3

Bara meninggalkan halaman kantor dan bergegas mencari angkutan umum untuk segera sampai di kos. Namun sayangnya, tak ada bus ataupun angkot yang lewat di hadapannya. Alhasil Ia berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jalan, sampai Ia berhasil menemukan angkutan umum yang bisa di tumpangi untuk cepat sampai ke kosan. Sudah lima menit Ia berjalan, tiba-tiba ada klakson mobil yang menghentikannya. Sebuah mobil Mercedes-Benz hitam berhenti di samping Bara, perlahan kaca mobil itu terbuka dan menampakkan sang empu di dalamnya.


“Pak Arya? Ada apa Pak?” Tanya Bara. Rupanya sang CEO yang di perusahaan tempat Bara bekerja. Ya, dia bernama Arya Adi Kusuma. CEO muda yang berhasil membangun dan menjalankan perusahaannya di usia muda.


“Kamu jalan kaki?” Tanya CEO itu.


“Iya Pak. Sambil menunggu ada angkutan umum yang lewat, jadi saya pikir berjalan kaki saja.”


“Ayo naik, bareng saya aja. Kebetulan kita satu arah.” Sebenarnya Bara tak ingin menumpang di mobilnya, tapi mau bagaimana lagi. Tak ada satu pun kendaraan umum yang lewat sore ini.


“Apa gak merepotkan Pak?”


“Gak, udah naik.”


Bara pun menaiki mobil mewah itu, mobil yang sebelumnya pernah Ia miliki. Namun kini harus hidup sederhana karena orang yang Ia cintai. Pun Ia juga sudah muak dengan sikap keluarganya yang arogan dan memaksa. Mungkin inilah awal dari karier perjuangan hidupnya merintis sedari awal lagi. Bara harap semuanya akan kembali normal seperti dulu, asalkan Ana selalu berada di sisinya.


Selama di perjalanan, Bara tak sedikit pun berucap. Seperti banyak yang Ia pikirkan di kepalanya. Arya selaku CEO di perusahaan tempat Ia bekerja pun merasakan itu. Sangat terlihat dari raut wajah Bara yang begitu melelahkan dan murung. Rasa ingin mengetahui seperti apa Istri Bara, pikir Arya.


Tak lama mereka pun sampai di depan kosan Bara, dan bergegas Bara keluar. Bara pikir sang CEO langsung pergi ke tempat tujuannya, namun rupanya salah. Ia justru ikutan turun dan berniat untuk mampir sebentar. Astaga, mau apa lagi sih ini orang? Bikin gua muak sumpah. Pikir Bara dalam hati.


“Loh, Pak Arya mau mampir juga? Gak takut ke sore an Pak sampai rumahnya?” Tanya Bara basa-basi, agar si Arya bisa cepat pergi dari hadapannya.


“Gak apa-apa kok, saya hanya ingin mampir sebentar aja. Minum-minum sebentar, gak kenapa-kenapa kan?” Firasat author udah kagak tenang ini Bun. Eh.


“Tapi hanya ada air putih aja, Pak. Gak apa-apa?”


“It’s okay, Bara. Saya biasa minum air putih juga.” Jawab Arya terkekeh. Dasar, untung aja CEO lu bang. Kalo enggak juga udah kena hajar sama Bara. Belum tahu dia siapa Bara. Hahay!


“Mari Pak! Saya izin masuk dulu sebentar, Pak Arya tunggu disini sebentar duduk-duduk. Maaf, Pak. Di dalam gak ada sofa soalnya, hanya di luar aja ada sofanya.” Bara berusaha agar tidak membiarkannya masuk ke dalam. Karena Ana biasanya tidak memakai kerudung jika berada di dalam kosan, apalagi Ia hanya memakai pakaian tipis yang pernah dibelinya waktu itu.


“Oke, saya duduk disini.” Jawabnya santai.


Buru-buru Bara masuk ke dalam untuk mengambil segelas air putih dan tak lupa berpeluk rindu pada Ana. Benar saja, Ana hanya memakai pakaian tipis sambil terfokus pada laptopnya di atas kasur. Untung saja Bara tak membiarkan sang CEO masuk ke dalam. Tak berlama-lama memeluk rindu pada Ana, Bara langsung menuangkan segelas air putih dan kembali ke luar untuk memberikannya pada Arya. Sesampainya Ia di luar, terlihat Arya sedang memainkan ponselnya.

__ADS_1


“Hm, maaf Pak. Sudah menunggu lama, ini Pak diminum dulu airnya. Maaf hanya seadanya, he he.” Ucap Bara.


“It’s okay, saya ngerti kok. Ngomong-ngomong Istri kamu dimana? Kok gak kelihatan ya.” Sontak Bara langsung keringat dingin, takut Ia memaksa agar masuk dan menemui Istrinya. Ini harus dicegah, enak saja main memaksa masuk ke privasi orang.


“Ada di dalam Pak, lagi istirahat.” Ucap Bara singkat.


“Oh, saya pikir ada di kampung. Biasanya kalau Suaminya merantau dan hidup di kosan, Istrinya berada jauh di kampung.” Ya gak semuanya begitu juga keleus. Hadang terus, Bar. Jangan biarkan Ana di gondol pebinor. Perebut Bini Orang, Eh.


“Hm, enggak Pak. Saya gak bisa kalau harus berjauhan sama Istri, jadi kami memutuskan untuk tinggal di kosan untuk sementara.”


“Oke, bagus kalau begitu. Jadi lebih enak ya, kalau habis lelah bekerja seharian di kantor, sampai rumah di sambut sama Istri.” Bara hanya mengangguk. Rasanya ingin mengusir orang ini dari sini. Gumam Bara dalam hati.


“Pak Arya bukannya sudah punya Istri juga?” Tanya Bara basa-basi. Pun sekalian untuk menyelidiki orang ini.


“Tidak, saya belum menikah.”


“Oh, maaf Pak. Saya tidak tahu, saya pikir Pak Arya sudah menikah.”


“Ha ha, belum. Niatnya mau menikah waktu tahun lalu, tapi hubungan saya kandas di tengah jalan. Sampai sekarang belum menemukan yang tepat untuk saya.”


“Semoga secepatnya di pertemukan ya Pak.”


“Ya, semoga. Oh ya, udah hampir senja nih. Kalau begitu saya pamit ya.” Fiuh, akhirnya dia pergi. Gumam Bara dalam hati.


“Baik, Pak. Maaf sebelumnya, hanya menyediakan air putih. Karena memang adanya hanya ini.”


“Gak apa-apa, kamu minta maaf terus. Santai aja, panggil saya Arya aja kalau di luar jam kantor. Terkesan tua banget kayaknya kalau terus-terusan dipanggil ‘pak’.”


Ya memang Anda tua. Hadeuh.


“Benaran gak apa-apa, Pak?”


“Iya, gak usah panggil ‘pak’ kalau di luar jam kantor. Panggil Arya aja. Yaudah saya pamit ya, sayangnya gak bisa pamit juga sama Istri kamu.” Halah, modus. Hati-hati, Bar. Tanda-tanda pebinor semakin di depan. Eh.

__ADS_1


“Iya, Pak. Eh, Arya. Istri saya lagi istirahat.”


“Mungkin lain waktu ya. Oke, saya pamit. Besok jangan lupa datang pagi, jangan telat.” Sok akrab amat ini CEO, jangan bilang kalau dia ada niat gak baik buat tikung pegawainya sendiri. Tikungan semakin di depan, hadang terus Bar. HIAH!


Bara seperti sudah paham dengan gerak-gerik Arya yang ingin mengenal Ana, beruntung Ia punya alasan lain agar Arya tak bisa bertemu Ana langsung. Entah untuk alasan besok-besok bagaimana nantinya, yang terpenting misi Arya untuk bertemu langsung pada Ana gagal kali ini. Baru hari pertama bekerja, tapi sudah dibuat tidak nyaman dengan pemimpinnya. Sepertinya Bara harus melamar ke perusahaan lain juga, sambil bekerja di perusahaan itu. Karena sudah tak nyaman dengan sikap dan gerak-gerik Arya yang ingin menjadi penghalang di antara hubungan pernikahan Bara dengan Ana.


Mobil mewah milik Arya sang CEO itu pun perlahan menjauh dari halaman kosan. Lekas Bara bergegas untuk masuk ke dalam, dan tak lupa untuk mengunci pintu. Rasa waswas di hatinya semakin bergejolak tidak karuan. Semenjak Arya mengetahui tempat tinggal kosnya, pikiran buruk tiba-tiba muncul di benak Bara. Takut sewaktu Ia bekerja, justru Arya mengambil kesempatan itu untuk ke kosan nya dan menemui Ana.


Saat Bara sudah berada di dalam kamar, terlihat Ana masih sibuk dengan laptop di depannya. Tak tega melihat Ana dalam keadaan hamil, namun masih tetap semangat dengan perkuliahannya. Bara punya ide untuk membantu Ana menyelesaikan tugasnya. Perlahan Ia mendekati Ana yang masih belum sadar dengan kehadiran Bara di sampingnya. Cup, satu kecupan manis di dahi Ana.


“Sayang, kok gak ada suaranya sih kamu datang?” Tanya Ana. Sementara Bara tersenyum cengengesan.


“Aku bantu kerjakan ya? Memang masih berapa halaman lagi yang belum selesai?” Ucap Bara berbalik tanya sambil mengelus perut Ana yang besar.


“Tinggal lima halaman lagi sayang. Udah, kamu istirahat aja, pasti kamu capek banget kan hari ini.” Dalam kondisinya yang tidak begitu baik, tetap saja lebih memedulikan orang lain. Gumam Bara dalam hati, sambil menatap Ana dengan tatapan sedu.


“Enggak, aku gak capek kok. Dah, sekarang kamu yang istirahat. Biar aku yang mengerjakan, oke?” Ana mengangguk sambil mengecup pipi Bara. Duh romantisnya. Eh.


“Kamu udah makan belum yang?” Bara bertanya, Ana menggeleng menandakan dirinya belum makan. Author juga belum makan, tapi gak ada yang perhatian. Hua!


“Yaudah aku pesan online ya, aku juga belum makan.”


“Kamu seharian kerja belum makan? Kan disana ada kantin sayang, kenapa gak beli makan disana?” Ana tampak khawatir dengan Bara, padahal dirinya sendiri juga belum makan. Hua, dasar bucin kalian.


“Aku mah kuat, lah kamu kenapa gak makan? Kamu mau bikin aku khawatir sampai stres ya?”


“Aku sulit gerak dan berjalan, dan tugas-tugas ini juga belum selesai.” Ucap Ana tertunduk sedu. Spontan Bara langsung memeluknya erat.


“Maafkan aku cinta, aku Suami yang gak berguna. Harusnya aku selalu ada di saat kamu butuh. Maafkan aku, aku janji kamu gak akan kayak begini lagi.” Ucap Bara tersedu-sedu sambil mendaratkan kepalanya di pundak Ana.


“Udah cinta, kok jadi kamu yang nangis sih? Aku gak kenapa-kenapa kok.” Ucap Ana menenangkan sambil mengusap rambut Bara.


“Aku gak tega sama kamu. Gara-gara nikah sama aku, kamu jadi sengsara kayak begini An. Gara-gara aku menghamili kamu, kamu jadi susah gerak dan jalan. Semua gara-gara aku, coba dulu aku gak memaksa kamu buat menuruti ***** birahiku. Argh! Hiks... Hiks... Hiks..” Keluh Bara, dan tangisnya semakin menjadi. Duh, manja nya Bara mulai kembali. Kenapa jadi dia yang cengeng ya? Harusnya kan Ana yang cengeng. Hadeuh Gusti!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2