Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 79


__ADS_3

Selama beberapa hari, Bara melakukan perawatan intensif di rumah sakit. Dalam beberapa hari itu juga, Ana masih belum diberitahu. Kabar mengenai kecelakaan Bara. Arka mungkin hanya memberitahukan itu pada Gladys. Dan meminta Gladys untuk tetap berada di sisi Ana. Selagi mencari obat pengobatan terbaik untuk Bara.


Dan hari ini hari keenam, hari terakhir Bara berada di ruang inap rumah sakit. Tandanya, sudah boleh diizinkan untuk pulang. Tapi bagi Ana, Bara seolah hilang tanpa meninggalkan jejak. Hanya Ana yang tidak mengetahui hal ini.


‘Bara, lagi-lagi kamu berbuat begini. Menghilang pergi tanpa jejak.’ Gumam Ana memikirkan.


Gladys yang juga berada di dekat Ana tampak memperhatikan. Tak ada raut wajah sedih di matanya. Ana seperti sudah kebal dengan situasi seperti ini. ‘apa ini waktu yang tepat? Aku katakan dengan jujur pada Ana?’ gumam Gladys dalam hati.


“Ana.. k-kamu gak kangen, sama Bara?” tanya Gladys hati-hati.


“Entahlah..” jawab Ana datar.


“An, aku.. aku mau berkata jujur sama kamu. T-tapi aku harap kamu bisa kontrol emosi kamu kali ini, oke?”


“Ngomong aja, aku gak apa-apa kok, Dys.” Ujar Ana sambil menatap kosong ke arah jendela di sebelahnya. Tangannya terangkat mengusap perutnya yang belum membesar.


‘Gimana ya? Aku jadi gak tega sama Ana. Tapi apa boleh buat?’ gumam Gladys.


“Hm, Ana, aku tahu dimana Bara. Aku harap kamu ja..” ucapan Gladys terpotong.


“Dimana? Kenapa kamu gak ngomong dari tadi?!” ujar Aja tak sabar.


“Oke, oke, aku minta maaf. Kamu tenang dulu, An. Gak baik buat kondisi kamu yang tengah hamil.”


“Huh, baik.” Ana menghela napas kasar.


“Bara sebenarnya gak hilang, tapi dia kecelakaan semalam. Dan sekarang ada dirum..” lagi, perkataan Gladys terpotong.


Ana mendadak langsung pergi ke kamarnya. Tak berapa lama kemudian, ia keluar dengan penampilan yang rapi.


“Ayo ke rumah sakit sekarang!” tutur Ana mengajak Gladys dengan wajah paniknya.


Sontak Gladys mau tak mau ikut menuruti ucapan Ana.


“An, aku kan udah bilang, tahan emosi kamu. Gak bagus buat janin kamu, An.” Gladys berusaha mengejar Ana yang begitu tergesa-gesa berjalan menyusuri koridor apartemen.


“Kamu gak jujur dari awal, kenapa? Apa kamu senang, melihat aku yang begitu menyedihkan?! Apa aku begitu lemah dimatamu, dimata semuanya?!” ucap Ana dengan emosi yang meluap.

__ADS_1


“An, aku gak bermaksud begitu. Kamu mungkin gak tahu kalau.. Bara mengalami amnesia pada ingatannya.”


DEG


Langkah kaki berhenti seketika.


“K-kamu serius? B-Bara benaran amnesia?” tanya Ana memastikan.


Gladys mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Detik kemudian, Ana terduduk lemas. Pikirannya kosong mendengar penuturan Gladys barusan. Sontak Gladys membopong Ana untuk kembali ke apartemen. Namun...


“Bawa aku ke rumah sakit!” pinta Ana dengan suara bergetar.


Gladys begitu tidak tega padanya. Kalau dia tidak berkata jujur, Ana mungkin akan lebih sakit lagi.


.........


Sesampainya Ana dan Gladys di rumah sakit. Mereka langsung mencari ruangan perawatan Bara. Dan ketemulah, Ana begitu khawatirnya pada kondisi Bara. Wajah paniknya menandakan dengan jelas.


“Ana, maaf.” Tutur Gladys tak enak pada Ana.


Sesampainya di depan pintu ruangan, Ana dan Gladys langsung masuk tanpa mengetuk lebih dulu. Keduanya tidak tahu kalau di dalam sana, wanita yang bernama Sofie. Yang tengah menyuapi Bara makan semangkuk sup.


“Bara ka..” ujar Ana terpotong. Ekspresinya berubah datar, namun ada getaran di hatinya menandakan bahwa ia begitu merasakan sakit yang mendalam.


“Ana jangan buru-bur... u.” Ucap Gladys terbata yang ketinggalan di belakang Ana. Ia sama halnya seperti Ana sekarang.


Tampak syok seolah tidak percaya. Dengan apa yang mereka lihat.


“Bara, mereka siapa?” tanya Sofie pada Bara.


Bara tidak mengingat apa pun pada Gladys maupun Ana. Namun, saat melihat wajah sedu Ana. Bara seperti pernah melihatnya.


“Bara! Siapa wanita itu?! Seenaknya menghilang tanpa kabar. Tahu-tahu ada di rumah sakit bersama wanita ja*ang ini?!” Umpat Gladys memaki Bara.


Sofie begitu tak terima dirinya dicap sebagai ja*ang.


“Heh! Apa maksudmu mengataiku ja*ang?! Kamu yang siapa! Aku tunangannya Bara, dan kita akan menikah minggu depan.” Tutur Sofie berbangga diri.

__ADS_1


“Kamu.. kamu mau menikah, Bar? Kamu benar gak ingat aku?” ucap Ana sedu. Matanya sudah berkaca-kaca. Gladys yang melihat itu pun begitu tak kuasa menahan gejolak amarahnya.


“Ke*arat kamu Bara! Brengsek! Istrimu sedang berbadan dua, dan kamu malah merencanakan pernikahan dengan si ja*ang ini, hah?! Ayo Ana, kita pergi. Sudah tidak ada lagi yang perlu di tangisi. Hapus air matamu untuk lelaki brengsek ini!” ujar Gladys dengan emosi sambil mengajak Ana keluar dari sana.


Bara yang sedari tadi dimaki oleh Gladys merasa kebingungan.


‘Apa maksudnya? Istri? Bukannya Sofie, yang akan jadi Istriku?’ Gumamnya bertanya dalam hati.


Tapi, wajah Ana berhasil masuk ke dalam pikirannya. Bayangan Ana dengan wajah sedunya.


“Sofie, apa kamu kenal dengan wanita tadi?” tanya Bara.


“Wanita gila yang memaki tadi? Apa pentingnya dia?! Hanya orang rendahan yang tidak ada hubungannya dengan kita.” Jawab Sofie.


“Bukan, bukan dia. Tapi wanita yang satunya lagi.” Bara seperti sudah terhipnotis oleh Ana.


Meski tidak mengingat apa pun mengenai Ana. Tapi melihat wajah sedunya, membuat rasa ingin tahunya begitu besar.


“Mana kutahu, udah lah, gak usah di ingat-ingat. Lagi pula minggu depan kita akan menikah. Ngapain sih, mikirin hal yang gak penting?!” Sofie mengelak dan tak mengalihkan topik.


Sofie tidak ingin pernikahannya gagal dengan Bara. Walau ia sebenarnya tahu. Kalau wanita yang ditanyakan olehnya barusan, ialah Istrinya.


Bara menghela napasnya kasar. Tak membalas perkataannya Sofie.


‘Mungkin hanya kebetulan, wajah yang begitu familier itu.’ Gumam Bara dalam hatinya. Mengingat wajah Ana tadi. Begitu terngiang-ngiang di kepalanya.


Di sisi lain, Gladys dengan wajah merahnya yang sudah tersulur emosi. Membawa Ana ke sebuah pusat perbelanjaan. Entah apa yang dilakukan dokter itu. Agak aneh, tapi bagus juga. Dengan begitu, Ana tidak mengingat kejadian buruk hari ini.


"Dys, sebenarnya kita mau ngapain sih, kesini?" tanya Ana bingung.


"Kita ngadem dulu, An. Aku lagi emosi banget hari ini. Kita beli ice cream, yuk!" jawabnya mengajak Ana.


"Yuk, aku juga udah lama gak makan ice cream." Ana tampak begitu ceria. Tak ada gurat sedih di wajahnya.


Gladys merasa tidak enak, tapi tindakannya tadi cukup tepat.


'Harusnya tadi aku bisa memaki lebih kuat lagi. Anggap saja, ini mewakili isi hati Ana yang sebenarnya.' Gumam Gladys dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2