Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 59


__ADS_3

“Kita mau kemana, Ka?” tanya Bara pada Arka.


“Ke rumah Gladys. Dia bilang Ana udah mulai ada perubahan.”


“Maksudnya? Ana udah gak diam lagi?”


“Iya, udah mau makan juga.”


“Bagus deh, Gua senang dengarnya.” Senyum Bara terukir begitu saja di wajahnya.


“Terus sekarang apa rencana Lo? Kaburnya Lo dari rumah, udah pasti bakalan berdampak masalah baru lagi, kan. Saran Gue, Lo harus bangun perusahaan sendiri. Ya, meskipun kecil-kecilan. Seenggaknya hidup Lo ada kemajuan. Gak terus bergantung sama keluarga, apalagi di bawah aturan mereka,” ujar Arka.


“Gua bisnis apaan? Modal juga gak ada, apa yang mau di bangun coba?"


“Lo lupa? Kana ada Gue, gimana sih?!” ucap Arka.


“Gua gak bisa bergantung terus sama Lo, Ka. Lo selama ini juga udah banyak bantu Gua. Masa iya, mau bangun usaha sendiri, juga nebeng sama Lo? Kesannya Gua malah gak berguna, apalagi jadi suami yang siaga.” Bara menghela napas panjang.


Ia tak ingin melibatkan Arka lagi mengenai permasalahan hidupnya. Sudah begitu banyak, Arka membantunya.


“Gue udah menganggap Lo seperti saudara sendiri, Bar. Santai aja, apa pun yang Lo butuh-in sebisa mungkin Gue pasti bantu, kok.”


Bara tersenyum menatap Arka.


“Anggap aja sebagai hutang, kalau Lo gak mau menerima bantuan dari Gue. Setelah bisnis Lo maju, Lo bisa bayar hutangnya. Untuk sekarang, Gua bantu menanamkan modal bisnis ke Lo. Terserah, mau bisnis apa. Yang penting harus dibuat maju dan berkembang.” Arka memberi usul pada Bara.


Bara terpaku mendengarnya. Arka benar-benar ingin membantunya. Jarang, bila ada sahabat yang seperti Arka. Bara cukup beruntung memiliki sahabat sebaik Arka.


“Lo serius?” tanya Bara memastikan.


“IYA! Gimana?” jawab Arka yakin.


“Thanks, Ka! Gua gak tahu lagi mesti gimana. Lagi-lagi Lo mau bantu Gua,” ujar Bara seraya memeluk Arka sambil menepuk-nepuk pundaknya.


“Sama-sama. Udah jadi keharusan buat Gue bantu Lo.”


Di sepanjang perjalanan menuju rumah Gladys, Bara tak henti-hentinya tersenyum. Ia tak sabar untuk memulai bisnis nya nanti. Hal yang pertama dilakukan adalah, membangun sebuah kantor. Karena tidak mungkin baginya untuk menumpang jadi satu kantor dengan perusahaan Arya lagi.


.........


Setelah melakukan perjalanan, mobil Arka tiba tepat di depan rumah Gladys. Beberapa pengawal pribadinya tetap berjaga di luar. Sementara Bara maupun Arka memasuki ke dalam rumah.


Pintu nya terbuka, keluar seorang ibu-ibu paruh baya dari dalam rumah.


“Silakan, Tuan. Sudah ditunggu sama Nona Gladys,” tutur Ibu itu. Yang tak lain adalah asisten rumah tangga di rumah Gladys.


Arka menjawab dengan anggukan. Sedangkan Bara langsung menerobos masuk begitu saja. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang pujaan hati.

__ADS_1


“Eit, santai aja dong. Gak sabar-an banget Lo, Bar.” Arka menggeleng melihat kelakuan sahabatnya.


Bara mendapati Ana yang sedang duduk menonton televisi bersama Gladys. Ia tak sungkan langsung memeluk Ana. Gladys sendiri menggelengkan kepala seraya tertawa kecil melihatnya.


“Ana, aku rindu!” ujar Bara seraya mengeratkan pelukannya.


Ana tidak menjawab, tapi membalasnya dengan sebuah kecupan manis di wajah Bara.


Cup.


“Ehm!” Arka berdehem keras.


“Kalau mau mesra-mesra an bukan disini tempatnya,” lanjut Arka.


“Iya sorry,” balas Bara terkekeh.


Arka ikut duduk bersama mereka. Gladys terlihat agak salah tingkah dengan kehadiran Arka.


“Kalau mau ngobrol empat mata, di kamar aja. Mungkin ada sesuatu yang mau di omongin diantara kalian berdua,” ujar Gladys menyarankan pada Bara dan juga Ana.


Arka menatap Gladys sesaat.


“Iya, thanks ya, Dys. Udah mau hibur Ana,” jawab Bara seraya mengajak Ana pergi dari sana.


“Terus Gue disini sama siapa? Kalau kalian pada pergi,” tanya Arka heboh.


“Ya sama Gladys lah!” Bara terkekeh.


“Hm, Ka? Kamu mau minum apa?” tutur Gladys bertanya. Melepas kecanggungan diantara keduanya.


“Apa aja, Dys. He he he,” Arka tampaknya juga merasa canggung.


“Bentar ya,” ujar Gladys sembari bangkit dan pergi membuatkan minum untuk Arka.


Sementara di kamar Ana, Bara sedang melihat-lihat ke sekeliling kamar yang ditempati oleh Ana. Seperti sedang meneliti sesuatu. Kamarnya terlihat tidak berantakan lagi seperti saat ia menemui Ana. Di rumah yang pernah mereka tempati sebelumnya.


Mungkin benar yang dikatakan oleh Gladys. Kalau kesadaran Ana mulai kembali pulih lagi.


“Sayang, kamu betah tinggal disini?” tanya Bara sambil menghampiri Ana yang duduk di tepi kasur. Ana mengangguk.


“Kok masih diam sih? Ngomong dong, sayang. Aku rindu, tahu.” Bara mencubit pelan hidung Ana.


“Kamu tuh,” Ana mulai bersuara.


“Apa, hayo? Aku kenapa?” ucap Bara bertanya. Namun bibir nya tidak diam saja.


Ya, seperti biasanya yang dia lakukan saat bersama dengan Ana. Memberikan kecupan manis di seluruh wajah Ana. Seperti kucing yang bermanja pada induknya.

__ADS_1


Eh.


“Kamu gak rindu kah? Sama aku. Kita udah lama gak sedekat ini loh, sayang," tanya Bara lembut.


“Kapan aku bilang kalau aku gak rindu kamu?" jawab Ana.


"Maksud kamu?" lanjut Bara berujar.


"Aku juga rindu kamu, sayang nya aku." Ana berbisik di telinga Bara.


Deg.


Jantung Bara seketika berdegub cepat. Tatapannya menatap dalam Ana. Pandangan mereka beradu satu sama lain. Bara mencium Ana dengan lembut.


Dan terjadilah sesuatu yang mungkin saja terjadi. Suami istri yang beberapa waktu di pisahkan karena jarak. Sekarang sudah kembali bersama dengan memadu kasih.


"Aku mencintaimu," ucap Bara pada Ana seraya mengecup lembut kening nya.


Ana mengeratkan dekapannya pada Bara. Suasana hatinya kembali membaik sekarang. Sudah tidak begitu murung seperti kemarin. Kehadiran Bara di sisinya membuat warna baru di hidupnya.


Di bawah sana, Arka dan Gladys tampak tak bersuara. Keduanya sama-sama di landa rasa canggung. Sudah bermenit-menit lamanya hanya berdiam-diaman. Tak ada yang memulai obrolan.


Arka juga tidak berinisiatif sendiri. Ia justru malah memainkan ponselnya. Entah apa yang dia lihat, kelihatannya serius.


"Hm, ada apa Ka? Kayaknya ada hal yang penting," tanya Gladys gugup.


"Keluarganya Bara udah tahu anaknya kabur dari rumah," jawab Arka serius.


Gladys tercengang mendengarnya. Ia tak menyangka kalau Arka membawa Bara kerumahnya dengan cara begitu. Sudah pasti akan menambah masalah baru. Dan pastinya juga akan melibatkan dirinya.


Arka benar-benar, deh.


"Kamu tuh, Ka. Gak ada berubahnya, selalu cari gara-gara." Gladys mengerucutkan bibirnya.


"Ya mau bagaimana lagi? Kalau gak gitu, Bara gak akan bisa sampai kesini."


"Memangnya ada apa sih, Ka? Cerita dong!" Gladys tak sabar mendengar ceritanya.


Sebenarnya ada apa dengan Bara?


"Jadi gini, untuk yang kedua kalinya, keluarganya memaksa Bara buat menikah sama Farah. Tunangannya yang waktu itu sempat menikah sama dia di Aussie. Tapi semua itu gagal dan ya gitu deh. Bara kabur, dan kembali ke Indo."


"Bisa-bisanya dia kabur. Bara.. Bara." Gladys menggeleng pelan kepalanya.


"Ya namanya juga orang kasmaran. Apalagi dia udah nikah lebih dulu sama Ana. Ya harus bertanggung jawab, kan. Ana juga waktu itu dia tinggal ke Aussie dalam keadaan hamil. Pokoknya ceritanya panjang deh. Kamu gak akan sanggup mendengarnya, Dys." Arka menghela napas panjang.


Karena sebenarnya Arka juga ikut membantu Ana, termasuk dalam persalinan bayinya. Kalau Gladys mengetahui semuanya, pasti akan membuatnya tidak nyaman. Arka tak ingin menyakiti hati Gladys. Meskipun ia tidak mencintainya. Tapi Gladys pernah menjadi tunangannya.

__ADS_1


Walaupun gagal.


Bersambung...


__ADS_2