
Hari ini Ana sudah lebih baik keadaannya, dan memutuskan untuk tetap ke kampus. Bara sudah rapi dengan setelannya, sementara Ana sedang berkemas membereskan beberapa bukunya untuk dimasukkan ke dalam tasnya. Saat mereka sudah selesai rapi-rapi, ada suara ketukan dari luar pintu kosan. Bergegas Ana yang membukanya lebih dulu. Saat membuka knop pintu Ana terkejut dengan kedatangan Arka sepagi ini ke rumah kosannya.
“Arka? Ada apa ya?” Tanya Ana.
“Eh, hm.. Aku..... Aku mau lihat keadaan Kak Ana. Apa sudah baikkan sekarang?” Sepertinya Arka gemetar. Hahay! Awas ka, nanti ketahuan si Bara. Eh.
“Oh, iya aku sudah baikkan kok sekarang. Makasih ya, kemarin kamu juga yang bawa aku ke rumah sakit kan?”
“Eh... I...Iya Kak. Kakak tahu dari Bara ya?”
“Iya, kamu udah pulang duluan sih kemarin. Aku gak sempat ngucapin terimakasih sama kamu jadinya.”
“Gak apa-apa kok Kak, sekarang kan sudah bilang. He he."
“Iya ya, he he he he.”
Saat mereka tengah asyik mengobrol, tiba-tiba Bara datang. Ada rasa cemburu melihat Ana tengah berbincang dengan sahabatnya, Arka.
“Hm. Yuk, sayang ke kampus sekarang!” Ucap Bara dingin sambil menatap sinis ke Arka. Ada yang cemburu nih. Ahay!
“Eh, kamu. Yuk sekalian saja bertiga sama Arka.” Ajak Ana. Polos banget si Ana. Hewran.
“Hm...” Jawab Bara dingin. Namun, Arka sudah lebih dulu peka dengan sikapnya Bara yang tidak suka akan kehadirannya.
“Eh, gak usah deh. Aku buru-buru Kak, ada janji sama teman di perpustakaan. Aku duluan ya.” Dengan inisiatif sendiri, Arka pamit lebih dulu. Agar tidak menimbulkan kekacauan diantara mereka bertiga.
Saat Arka sudah pergi, tak lama Bara pun ikut pergi lebih dulu di depan. Sementara Ana tertinggal di belakang. Dengan cepat Ana menyusul Bara hingga menyemai posisinya berjalan. Ana merasa ada yang beda dengan sikap Bara. Tiba-tiba saja berubah dingin dan acuh. Apa ada yang salah dengan dirinya? Gumam Ana dalam hati.
“Bara, sayang. Tunggu! Kamu kenapa sih? Tiba-tiba berubah gitu.” Ucap Ana sambil memegang tangan Bara.
Namun, Bara hanya diam tak menggubrisnya. Tak ada jawaban dari Bara.
“Bara, kamu kenapa sih? Apa ada yang salah sama aku ha?! Aku salah? Jelaskan, Bar. Jangan- Akh... aduh!” Tiba-tiba Ana merasakan kram pada perutnya hingga menimbulkan rasa sakit dan nyeri.
Spontan Bara kaget dan membalikkan badannya menghampiri Ana.
“Kamu kenapa cinta? Yang mana yang sakit?” Tanya Bara dengan wajah panik dan khawatir pada Ana. Tadi sok cuek, sekarang sok peduli.
Hadeuh! Cumi... Cumi.
“Perutku sakit. Aw... aduh.. sakit!”
“Aku gendong ya?”
“Gak usah, aku malu kalau dilihat sama orang-orang.”
“Terus aku harus bagaimana?” Bara bimbang.
“Bantu aku berjalan.” Dengan sigap, Bara membopong tubuh Ana membantunya berjalan.
“Apa kamu yakin, mau tetap ngampus? Aku takut kamu kenapa-kenapa sayang.” Tanya Bara khawatir.
__ADS_1
“Iya, aku akan tetap ngampus.” Ucap Ana yakin. Tapi author yang gak yakin. Duh.
“Hm, ya sudah kalau kamu tetap kekeh. Aku bisa apa?”
“Antar aku langsung ke kelas, Bar.”
“Iya sayang, kamu sampai jam berapa selesainya? Biar aku jemput nanti.”
“Cuman dua kelas doang hari ini.”
“Oke, aku hanya ada satu kelas. Aku tunggu kamu di depan kelas saja ya?”
“Nanti kamu kelamaan nunggu gimana?"
“Gak apa-apa. Kan nunggu Istri tercinta.” Ucap Bara terkekeh. Ana hanya tersenyum menggeleng.
Sepanjang perjalanan menuju kelas Ana, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Jelas, karena Ana berjalan sambil bergandengan tangan dengan Bara. Ada yang iri karena Bara cowok yang cukup populer di kampus sudah ada gandengannya. Ada juga yang tak suka dengan hubungan mereka berdua. Yang namanya hidup, pasti ada saja orang yang tidak menyukai kita. Tapi tak perlu risau dan pusing memikirkannya. Anggap saja mereka angin lalu.
Setelah sepuluh menit berjalan, mereka pun sampai di depan kelas Ana. Keadaan masih sepi dan masih belum banyak yang datang. Kesempatan Bara untuk mengantarkan Ana sampai ke dalam kelasnya. Ingin melihat kelas Ana seperti apa bentukannya.
“Sampai sini aja, Bar. Sudah ada beberapa orang di dalam kelas.” Ucap Ana.
“Huh, padahal aku pengin lihat kelas kamu dari dalam. Ya sudah deh, nanti aja sepulangnya saat aku jemput.”
“Iya. Ya sudah aku masuk dulu ya!” Ucap Ana pamit dan hendak membalikkan tubuhnya. Namun di tahan oleh tangan Bara.
“Kenapa?” Tanya Ana.
“Belum pamitan sama Suami.” Bara terkekeh sambil menampilkan senyum giginya yang putih. Ana pun langsung paham, ia mencium punggung tangan Bara.
“Kurang apanya?” Tanya Ana penasaran.
“Sun nya belum, yang. Hehe.” Ucap Bara terkekeh. Ana celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.
“Kesinian, nanti kelihatan dari dalam kelas kalo di depan pintu.” Bara mengangguk paham. Dengan cepat Ana memberi satu kecupan di bibir Bara. Yang di cium malah ketagihan.
Dasar buaya!
“Sudah ya, aku masuk” Pamit Ana. Bara tersenyum lebar menatapnya.
Mereka berpisah sampai disana. Bara pun kembali ke fakultasnya dengan langkah cepat seperti orang yang sedang ikutan maraton. Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk sampai ke kelasnya. Terlihat Arka pun sudah berada lebih dulu di dalam, sambil membaca buku.
“Huh... huh.. huh!” Napas Bara terengah-engah. Arka yang awalnya sibuk dengan bukunya sadar akan kehadiran Bara seperti orang yang habis dikejar setan.
“Kenapa lo? Habis kejar-kejaran sama setan lo ya? Haha!” Arka terkekeh.
“Berisik lo!”
“Dih, gak asik lo ah.” Arka menggelengkan kepalanya.
“Lo tuh yang gak asik! Ngapain pagi-pagi ke rumah orang? Pake godain Istri gue segala lagi.”
__ADS_1
“Lo cemburu? Haha! Ngapain juga gue godain Istri lo?! Gue cuma mau tahu aja keadaannya gimana.”
“Halah, bulshit lo! Gue tahu lo ada rasa sama Ana. Gak usah ngelak lo!” Rupanya Bara sudah tahu pemirsah. Eh.
“Lo?” Arka merasa terpojok dan tak dapat mengelak lagi sekarang. Duh babang tampan, sabar ya. Eh.
“Apa?! Benar kan? Sudah kebaca dari gelagat lo yang salah tingkah kalau lagi papasan sama Ana.” Duh Bara, peka banget sih.
“Huh! Oke gue ngaku! Gue emang cinta sama Istri lo! Kenapa? Gak boleh?” Apakah Arka bakal merebut Ana dari Bara?
“Gila lo! Dia Istri gue!” Ucap Bara teriak sampai suaranya terdengar memenuhi ruangan.
Saat ia sedang berkata begitu, tiba-tiba dosen yang akan mengajar sudah berada didepan pintu.
“Istri siapa? Siapa yang menikah?” Seketika semua siswi terdiam.
Termasuk Bara dan Arka.
“Istri siapa? Jawab saya! Kalian gak dengar apa yang saya katakan barusan?” Dosen itu berucap lagi. Kali ini nadanya terdengar seram.
Udah Bar, ngaku aja. Eh.
“Sa... Saya pak!” Dengan berani Bara mengatakan yang sebenarnya.
“Kamu? Jadi kamu sudah menikah? Kapan?” Lagi, dosen itu bertanya dengan banyak pertanyaan. Duh, Pak! Kasihan si Bara.
“Iya, Pak. Sejak dua bulan yang lalu.” Ucap Bara menunduk.
Seketika semua siswi menatap ke arahnya. Ada suara bisik-bisik sisiwi perempuan yang merasa patah hati. Ada juga suara siswi laki-laki yang menanyakan bagaimana rasanya malam pertama.
“Kok bisa?” Kepo amat nih dosen. Udah dong, Pak. Nanya mulu, kapan belajarnya? Hadeuh!
“Ceritanya panjang Pak.”
“Ya sudah, tidak perlu diceritakan. Tapi kamu sudah enak-enak?” Waduh, nih dosen ngelunjak juga ya. Eh.
Baru kali ini ada dosen yang begindang.
“Eh.. Anu... Itu, Pak.” Bara gelagapan tak dapat menjawab.
“Jawab iya atau belum?” Tanyanya lagi.
“I.. Iya, Pak.” Bara menjawab dengan rona wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus.
Seketika semua siswi laki-laki teriak-teriak gak karuan. Bahkan banyak yang tertawa juga. Author yakin, Bara udah malu banget pasti.
“Gimana rasanya? Enak kan?” Udah sering merasakan kenapa masih bertanya pada Bara sih, Pak? Hadeuh!
“Enak lah, Pak! Rasanya, ah mantap!” Ucap seorang siswi laki-laki dari kursi belakang.
Sementara Bara terdiam menunduk. Terkecuali Arka yang tak seperti teman-teman kelasnya. Ia justru diam sedari tadi sambil menahan sakit mendengar pengakuan Bara di depan semua orang.
__ADS_1
“Sudah sudah! Baik, kita mulai saja mata kuliah hari ini.” Fiuh! Akhirnya tuh dosen berhenti nanya.
Suasana kelas kembali normal seperti biasanya. Tapi wajah Bara sudah tak tahu mesti ditaruh dimana. Belum lagi Arka yang sedari tadi menahan gejolak kecemburuannya pada Bara.