Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 55


__ADS_3

Setelah mengenyangkan perutnya, Bara menyenderkan bahu nya ke tepian kursi yang ia duduki. Perutnya sudah cukup terisi. Sekarang waktunya pergi untuk menemui Ana. Rasa rindunya sudah begitu menggebu. Sudah berhari-hari ia berpisah dengan sang pujaan hati.


Dan hari ini, penantiannya akan segera terobati.


"Ayo, Ka. Gua udah gak sabar buat ketemu Ana." Ajak Bara untuk segera pergi meninggalkan cafe.


"Sabar, kita belum mampir ke supermarket." Balas Arka yang beranjak bangun dari kursinya.


"Oh iya, yaudah ayo!" Ucap Bara yang terlebih dulu pergi ke dalam mobil Arka.


Arka menggelengkan kepalanya, ada guratan senyuman di wajahnya. Iya senang, persahabatannya dengan Bara kembali seperti dulu. Hubungan diantara kedua semakin membaik. Seharusnya dari awal dia tidak menaruh hati pada Ana. Mungkin persahabatan mereka tidak akan menjadi renggang seperti sebelumnya.


Bara sudah berada di dalam mobil sambil memutar musik dari mini player music milik Arka. Menunggu Arka yang masih memesan makanan untuk Ana. Tak berapa lama, Arka keluar dari dalam cafe. Sambil menenteng dua box papper bag berisi makanan yang telah dibungkus rapi.


"Berisik banget Lo, Bar. Volume nya full tuh, kecilin!" Tutur Arka seraya membuka pintu mobil.


"Iya, iya. Lagian lama banget. Cuma pesan makanan doang juga." Gerutu Bara kesal.


Arka tak membalas. Ia langsung menjalankan mobilnya menuju supermarket. Sepanjang perjalanan Bara hanya diam saja sambil memejamkan kedua matanya. Mungkinkah dia mengantuk? Karena sudah begitu hitam area bawah matanya yang seperti panda. Arka menoleh sesaat, memperhatikan sahabatnya yang begitu kelelahan.


Arka semakin mempercepat kecepatan mobilnya untuk sampai ke supermarket terdekat. Tak berapa lama, mobilnya telah tiba di lokasi tujuan. Bara masih tidak juga bangun. Arka sengaja membiarkan mesin mobilnya menyala. Dan meninggalkan Bara yang masih terlelap dalam tidurnya.


Ia berinisiatif membelikan bahan-bahan makanan serta perlengkapan lainnya sendirian ke dalam supermarket. Arka mengambil keranjang trolly. Dan mulai memasukkan beberapa bahan makanan serta kebutuhan bagi wanita. Biasanya ia berbelanja untuk kebutuhan Mamanya. Tapi sekarang untuk istri sahabatnya.


Benar-benar idaman. Eh.


Sudah sepuluh menitan Arka memilih barang-barang belanja nya. Tak lama ia keluar dari dalam supermarket sambil membawa dua kantong papper bag berukuran besar. Diikuti juga oleh dua orang pelayan supermarket itu menenteng kantong belanjaan lainnya.


Setelah menaruh semua barang belanjaan itu ke dalam bagasi. Arka masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa gak bangunin Gua? Belanja gak ngajak-ngajak!" Tanya Bara kesal.


Arka terkekeh.


"Eh, udah bangun Lo? Gue tadinya mau bangunin. Tapi kayaknya Lo capek banget, Bar. Gak tega Gue bangunin nya." Jawab Arka seraya memakai seat belt mobilnya.


Bara mengangguk paham. Berusaha untuk tidak egois dan mengontrol emosinya. Arka melajukan mobilnya kembali. Tujuan selanjutnya adalah, rumah Ana.


...-...


Singkat cerita, Arka dan Bara telah sampai di depan rumah Ana. Bara tampak memperhatikan sekelilingnya. Ia rindu dengan suasana disini. Biasanya ia menghabiskan banyak waktunya bersama Ana dan Arbi dirumah ini.


Namun sekarang, dirinya dan Ana terpisah berhari-hari.


"Woy! Kebanyakan melamun bisa kerasukan, Bar." Tutur Arka menyadarkan lamunan Bara.


"Rese banget Lo jadi orang." Jawab Bara.


"Udah, jangan kebanyakan melamun. Bantuin Gue nih, bawain belanjaan."


"Iya, bawel."


Arka dan Bara mengambil semua belanjaan yang di taruh dalam bagasi mobil. Satu persatu semua belanjaan itu sudah di pindahkan ke dalam rumah Ana. Namun tidak ada suara kehidupan yang terdengar dari dalam sana. Bagaikan seperti rumah kosong tak berpenghuni.


"Lo gak bohong kan? Ana masih tinggal disini." Tanya Bara yang mulai khawatir.

__ADS_1


"Yakin. Coba kita cek ke atas. Mungkin aja dia ada di kamarnya." Jawab Arka memberi usul.


Bara mengangguk, dan melangkahkan kakinya dengan cepat untuk naik ke tangga. Memasuki ke dalam kamar Ana. Namun betapa kagetnya dia ternyata....


Krek.. Krek.. Krek...


"Pintunya terkunci, Ka." Ucap Bara panik.


"Yang benar Lo?"


"Lo lihat wajah Gua?!" Bara menatap Arka serius.


Arka juga menjadi panik dan khawatir.


"Yaudah dobrak aja. Kalau gak bisa dibuka."


Bara mengangguk paham. Mengikuti usulan dari Arka untuk mendobrak paksa pintu itu.


Satu.. Dua.. Ti..


Brak!


"Ana!" Panggil Bara tercengang dengan apa yang ia lihat.


Begitu juga dengan Arka, yang tak kalah paniknya.


Ana sudah tergeletak lemah tak berdaya di lantai. Wajahnya kian memucat. Tidak seperti saat Arka menjenguknya sebelumnya.


"Bukankah kemarin, Kak Ana baik-baik aja ya? Kenapa jadi begini?!" Gumam Arka dalam hati.


"Ka, Lo keluar dulu." Tutur Bara yang tiba-tiba mengusir Arka.


"Lo ngusir Gue?"


"Bukan begitu. Ana pakai baju begini. Gua gak mau Lo lihat dia yang kayak gini."


Arka mengangguk paham.


"Oke. Gue tunggu di bawah." Ucap Arka seraya pergi meninggalkan Bara berdua dengan Ana.


Arka paham, dirinya pun akan melakukan hal yang sama. Kalau ia ada di posisi Bara.


Melihat barang belanjaan yang tergeletak di sembarang tempat. Arka berinisiatif untuk memindahkan semuanya ke dapur. Sebagian ia masukkan ke dalam freezer. Sebagian lagi ia diamkan begitu saja, tanpa berani memindahkannya.


Ya karena itu adalah kebutuhan untuk


wanita.


Arka masih sibuk dengan kegiatannya. Sementara di atas sana, Bara masih di landa ke panikannya serta kekhawatirannya terhadap Ana. Ia mengoleskan sedikit minyak pepper mint di hidung Ana. Berharap agar Ana segera bangun dan membuka kedua matanya.


Berulang-ulang, Bara mengecup lembut kening Ana. Tangannya tak terlepas menggenggam jari jemari Ana. Rasa rindunya pada Ana pun terobati. Ia tak ingin berjauhan dengan orang yang disayang.


Bara menatap wajah Ana yang begitu pucat pasi. Bawah matanya yang terlihat sembab. Seperti habis menangis. Perasaannya jadi kacau, melihat Ana dengan kondisi yang begitu


memprihatinkan.

__ADS_1


Bara mengutukki dirinya dalam hati. Merasa tidak berguna sebagai suami. Harusnya ia selalu siap siaga pada Ana. Namun dirinya begitu lemah dengan keadaan ini. Begitu takut dan jadi tak berdaya.


"Sayang... bangun.. aku disini." Ucap Bara lembut.


Ana masih belum membuka matanya. Suhu badannya agak hangat ketika di sentuh. Ia semakin khawatir dengan kondisi istrinya. Dengan terpaksa, Bara meninggalkan Ana dan pergi ke bawah untuk mencari Arka.


"Arka! Lo dimana?!" Panggil Bara seraya menuruni anak tangga.


"I'm here, brother!" Jawab Arka dari arah dapur.


Bara berlari ke arah sumber suara. Ia melihat sahabatnya tengah sibuk memasak. Entah apa yang dia masak. Bara menggeleng melihat kelakuan sahabatnya. Yang sebenarnya kalau Arka


tidka bisa memasak.


"Ngapain sih, Ka? Jangan aneh-aneh Lo di dapur. Lo kan gak bisa masak. Mending bantu Gua buat panggil dokter pribadi Lo kesini." Ucap Bara


"Dokter? Kak Ana sakit?" Tanya Arka khawatir.


"Iya, badannya panas. Udah cepetan, telepon dia suruh kesini."


"Iya tunggu."


Arka mengambil ponsel di saku celana nya. Mencari kontak yang akan ia hubungi sekarang. Dokter Gladys, sebenarnya bukan dokter pribadinya. Karena dokter pribadinya berjenis kelamin laki-laki. Arka tahu emosi Bara seperti apa. Kalau yang memeriksa Ana adalah seorang dokter lelaki, Bara akan mengacaukan suasana.


Jadi mau tak mau, ia memanggil dokter Gladys untuk datang kesini. Dokter Gladys adalah anak dari teman Ibunya Arka. Yang sebenarnya sudah lama di jodohkan dengannya. Gadis cantik yang usianya lebih tua tiga tahun dari Arka. Namun Arka sama sekali tidak ingin menerima perjodohan itu.


Karena baginya, mendapatkan cinta sejati, itu lebih baik. Daripada menerima sebuah perjodohan. Di awali dari keterpaksaan antar dua keluarga. Yang tidak memiliki rasa cinta.


Mungkin hanya Arka, yang belum menaruh rasa pada dokter itu. Tapi siapa sangka, kalau dokter Gladys benar menyukai Arka.


Mungkinkah hanya lelaki? Yang sulit untuk jatuh cinta.


Entahlah.


"Kenapa gak di telepon aja sih, Ka? Kelamaan kalau lewat chat. Belum tentu dia baca tuh pesan." Gerutu Bara kesal.


"Gue malas teleponan, Bar. Tenang aja, udah dibalas kok. Ini sebentar lagi dia datang kesini."


"Yang benar Lo, Ka?"


"Iya, benar. Ya udah, sana! Mending Lo balik ke kamar. Kasihan Kak Ana sendirian." Usul Arka.


"Iya. Eh, tapi.. dokternya cewe atau cowo?" Tanya Bara seraya menghentikan langkahnya untuk menaiki anak tangga.


"Cewe. Santai aja, Bro. Dia teman Gue."


"Ya udah, bagus deh. Gua ke atas dulu. Kalau udah sampai, suruh langsung ke atas aja."


"Iya sayang." Ledek Arka, mengubah suaranya menjadi suara wanita.


"Idih, Gua jijik dengarnya. Bukannya manis. Tapi malah kayak waria Lo, Ka. Ha ha ha!" Balas Bara terkekeh.


"Ha ha ha." Arka ikut terbawa suasana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2