
“Sayang...?” bisik Ana pelan pada Bara. Mengisyaratkan agar Bara menggendong Arbi.
HAP!
Arbi kecil berada dalam gendongan sang Ayah. Wajah kecilnya masam dan tak mau menatap ke arah Tasya. Si gadis kecil itu sepertinya malu. Bahkan selepas Arbi mengatakan hal tadi, wajah cantiknya tertunduk sedu.
“Sebaiknya kita menunggu sembari duduk, Tuan muda, Nona muda.” Ujar Pak John pada Ana dan Bara.
“Menunggu siapa, Pak John?” tanya Ana bingung.
“Kakak dari gadis ini. Dia bilang, Kakaknya akan datang sebentar lagi.” Lanjut Pak John berucap. Ana mengangguk paham.
Mereka semua pun kembali menduduki kursi panjang itu lagi. Meskipun hanya untuk Ana. Yang tak bisa berdiri lama-lama. Bara sendiri memilih untuk berdiri sembari menggendong putra kecilnya, Arbi.
“Hei, siapa namamu, Nak?” ucap Ana bertanya pada gadis tadi, yang bernama Tasya.
“Tasya.” Jawabnya tampak malu-malu.
“Tasya? Namanya cantik. Seperti orangnya.” Puji Ana. Gadis itu tak berani menatap Ana. Wajahnya terus tertunduk.
Tidak berapa lama, seseorang datang. Dari kejauhan, ia sepertinya berjalan ingin mengarahkan kakinya ke tempat Ana duduki.
“Arbi, masih marah? Nggak mau duduk?” sambung Ana pada Arbi. Pria kecil itu menggeleng pelan.
Tiba-tiba...
“Tasya!” panggil seseorang pada gadis yang duduk bersama Ana.
“Kakak Zeon!” balas Tasya, gadis itu langsung berlari memeluk orang itu. Seorang lelaki muda, yang ternyata adalah Kakaknya Tasya, Zeon.
“Kenapa lama sekali?” lanjut Tasya bertanya.
“Maaf, Kakak ada pekerjaan di kantor. Kamu dengan siapa disini?” balas Zeon. Tasya mendadak diam, tak lagi menjawab.
“Ehem! Baguslah, Anda sudah datang. Nona ini memohon pada saya, untuk di titipkan sebentar. Dia bilang, Mamanya pergi. Tunggu sampai orang yang menjemputnya datang.” Sanggah Pak John.
“Benar, terima kasih. Karena sudah menjaga Tasya. Kalau begitu, saya dan Tasya pamit. Mari!” Tuturnya pamit pada semua. Namun, tiba-tiba Tasya membisikkan sesuatu pada Kakaknya.
Detik kemudian...
“Maaf, kalau boleh tahu, mana yang namanya Arbi disini?” ujarnya bertanya.
“Yang itu, Kakak! Ih, kenapa malah bertanya begitu sih?!” cerca Tasya mendengus sebal.
“Ada apa? Saya Ayahnya.” Bara yang menjawab.
“Oh, maaf. Sepertinya, ada gadis kecil yang ingin meminta maaf pada pria kecil.” Sambung Zeon. Arbi tampak mengintip dari punggung Bara. Yang masih berada dalam gendongan Ayahnya.
__ADS_1
Ana terkekeh kecil, melihat tingkah anak-anak itu seperti dirinya dan Bara. Namun, Bara lebih berani untuk meminta maaf. Dibandingkan Arbi yang pemalu dan mudah sekali merajuk.
“Arbi, ayo turun sayang. Tasya mau mengatakan sesuatu pada Arbi.” Ucap Ana lembut di bisikannya ke telinga Arbi. Pria kecil itu mengangguk pelan, seraya diturunkan oleh Bara dari punggung nya.
HAP!
“Akhirnya, bebanku berkurang.” Gumam Bara bernapas lega.
Arbi berjalan dengan ekspresi dingin. Menghampiri Tasya berdiri sekarang. Gadis itu tampaknya ragu-ragu mengulurkan tangannya.
“Apa?!” ucap Arbi lebih dulu berkata. Suaranya terdengar kesal.
“Arbi ...” panggil Ana seraya menggeleng pelan. Arbi menatapnya sedu. Lalu beralih lagi menatap gadis kecil itu yang ada di hadapannya sekarang.
“Aku ... minta ... maaf.” Tutur Tasya dengan suara pelan. Bahkan hampir tak di dengar Arbi.
“Aku tidak mendengarnya.” Balas Arbi datar.
“Tasya, coba ngomong dengan suara yang lebih keras lagi, Dek.” Sanggah Kakaknya, Zeon. Gadis itu mengangguk pelan.
“Aku ... minta maaf.” Ujar lagi Tasya pada Arbi.
“Tidak mau! Aku tidak mau memaafkanmu! Kamu menghina Bundaku!” sergah Arbi menolak permintaan maafnya.
“Arbi, Tasya? Coba kesini sebentar.” Pinta Ana, menyuruh keduanya mendekatinya.
“Arbi ... memangnya, Tasya tadi menghina Bunda?” tanya Ana seraya memegangi telapak tangan Arbi dan Tasya. Arbi lantas mengangguk pelan.
“Bohong!” tukas Arbi.
“Aku tidak berbohong. Aku hanya mengatakan, kalau Mamaku lebih cantik.” Kilah Tasya.
“Tuh kan, Bunda dengar sendiri, kan? Dia bilang Bunda tidak cantik!” Arbi tak terima. Wajah imut nya tampak lucu, bila sedang marah. Bibirnya bahkan mengerucut ke depan. Membuat semua orang yang ada disana tertawa. Melihat ekspresi Arbi yang begitu menggemaskan.
“Hm, Arbi...? Sepertinya kamu sudah salah paham, Adik kecil. Tasya tidak menghina Bundamu. Diantara kalian, sama-sama membela Ibu masing-masing. Baik itu pada Arbi, maupun Tasya. Arbi sendiri, melihat wanita tercantik di dunia ini, hanya pada Bunda Arbi ‘kan?” ujar Zeon seraya berjongkok dan berkata pada Arbi. Pria kecil itu mengangguk pelan.
“Hanya Bundaku, yang paling cantik.” Gumam Arbi tak mau mengalah.
“He he, iya. Bunda Arbi yang cantik...” Lanjut Zeon berkata. Namun langsung terpotong oleh deheman suara Bara. Yang sepertinya, kesal.
“EHEM!” Bara berdehem agak keras. Tatapan Bara begitu tajam menatap ke arah Zeon.
“Tasya juga begitu. Bagi Tasya, hanya Mamanya yang paling cantik. Sekarang, Arbi mengerti ‘kan?” sambung Zeon berkata pada Arbi.
“Jadi, dia tidak menghina Bundaku?” tutur Arbi bertanya. Tasya lantas menggeleng pelan.
“Aku kan, memang tidak menghina Bundamu.” Balas Tasya.
__ADS_1
“Tapi tetap saja, Bundaku yang tercantik!” Lagi, Arbi berucap. Ekspresi wajahnya begitu lucu. Tasya langsung diam tak bergeming.
“Kalau begitu, ayo bermaafan. Tasya?” pinta Zeon pada Adiknya.
“Maaf, Arbi.” Gumam Tasya sembari mengulurkan tangannya pada Arbi.
“Ingat, hanya Bundaku yang paling cantik.” Balas Arbi, masih tak mau mengalah.
“Bundamu memang cantik.” Ucap Tasya sambil menatap ke wajah Ana. Mata Arbi tiba-tiba membulat. Pupilnya tampak ikut membesar. Arbi mendadak terkaku diam tak bergeming.
“Karena sudah selesai, kami berdua izin pamit. Terima kasih juga, untuk penjagaannya.” Ujar Zeon pada Ana dan Bara, juga Pak John.
Zeon dan Tasya pun pergi. Sementara Arbi...
“Arbi? Kamu kenapa, sayang?” tanya Ana seraya mengecupi wajah imut Arbi. Pria kecil itu langsung tersadar.
“Bunda... aku juga mau pulang.” Pinta Arbi.
“Iya, yuk! Udah senja, nggak bagus buat Ibu hamil kalau masih di luar ruangan.” Sanggah Bara. Ana mengangguk paham, sembari berdiri dari kursi panjang yang ia duduki.
Ketiganya berjalan meninggalkan area taman kota. Diikuti Pak John yang juga mengekor di belakangnya. Melakukan penjagaan serta mengawasi setiap langkah mereka.
Ada pelajaran baru, yang bisa diambil dari kejadian sore ini. Mengenai kesalahpahaman Arbi terhadap teman barunya, Tasya. Sikap orang tua, memang diperlukan saat Anak tengah mengalami kesulitan. Dan sikap yang dilakukan Zeon sebagai Kakaknya Tasya sudah tepat.
Zeon seperti sudah berpengalaman dalam menghadapi masalah seperti tadi. Bahkan perkataannya pun sangat berhati-hati. Agar Arbi dan Tasya tak merasa disalahkan keduanya.
“Pak John, kita ke rumah utama saja.” Pinta Bara pada Pak John yang tengah memegang kendali setir mobil. Karena semuanya sudah berada di dalam kendaraan roda empat ini.
“Baik, Tuan muda.” Jawab Pak John.
“Loh, kok kita ke rumah Mama, sayang?” bisik Ana.
“Iya. Suasana baru buat kamu, supaya nggak jenuh juga di apartemen terus. Kalau kita menginap, kamu mau?” usul Bara.
“Tapi aku nggak bawa barang-barang punyaku.”
“Disana juga ada, kok. Aku sudah menyiapkan dari kemarin. Ya, kalau seandainya kamu benaran mau tinggal dirumah utama. Tapi ternyata, kamu keberatan.” Sambung Bara seraya mengecup lembut wajah Ana. Mengambil kesempatan saat Arbi tertidur pulas di dalam mobil. Ketiganya duduk di kursi belakang secara bersamaan. Hanya Pak John sendiri, yang menduduki kursi depan.
“Ada Pak John, sayang.” Ucap Ana berbisik.
“Pak John nggak akan melihat ke belakang, sayang.” Bara tak memedulikan Pak John. Pikirannya hanya tertuju pada Ana.
Bara memang tidak tahu tempat dan situasi, bila ingin bermesraan dengan Ana. Tangannya mengelus lembut perut Ana yang besar. Duduk bersandar di bahu Ana. Dan menggenggam erat jari jemarinya.
Hidup bersama dengan orang yang saling mencintai satu sama lain, rasanya begitu bahagia. Bahkan tak ingin melewatkan hari-hari tanpa dirinya. Begitu pula yang dirasakan Ana dan Bara.
Cinta mereka begitu melekat, seperti lelehan cokelat yang meleleh diatas wadah panas. Lalu di celup pada dinginnya buah strawberry. Memberikan sensasi rasa manis dan asam.
__ADS_1
Daebak!
Rasanya begitu mengejutkan, bukan?