Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 153


__ADS_3

Masalah kepindahan Arbi ke sekolah internasional lain terdengar hingga ke telinga Gladys dan Arka. Keduanya tampak bingung dengan keputusan yang diberikan Bara pada anaknya. Bahkan para guru dan teman sekelas Arbi juga sangat menyayangkan atas kepindahannya. Karena Ana dan Bara merahasiakan alasan mengapa Arbi pindah ke sekolah lain.


Begitu juga dengan Nyonya Kertajaya. Yang tidak paham mengenai masalah cucunya. Namun, setelah di ceritakan oleh Bara, beliau jadi yakin dan menerima keputusan itu.


"Arbi, kamu sudah siap kan, sayang? Untuk pindah ke sekolah yang baru." Tanya Ana cemas. Takut Arbi menolak.


"Sudah, Bunda." Jawab Arbi.


Kelihatannya, Arbi pun senang dengan keputusan kedua orang tuanya. Tak ada keraguan pada wajahnya. Rupanya Arbi sendiri juga tidak merasa nyaman. Dengan keberadaan Tasya di sisinya.


Terlebih, sejak kejadian kemarin. Gadis itu memeluknya dengan tiba-tiba. Serta mengirimkan kado berupa surat cinta di dalamnya.


Hal seperti itu, bukankah kurang bagus untuk anak sekecil Arbi dan Tasya? Dan terkadang, tidak banyak orang tua yang mengerti. Akan perilaku anak-anak di usia dini.


Cinta saling sayang antar sesama manusia, berbeda dengan cinta dengan perasaan yang nyata. Dan Tasya sedang mengalami fase mini puberty.


"Arbi marah, tidak? Bunda tiba-tiba memutuskan untuk memindahkan sekolah Arbi ke tempat lain." Tutur Ana bertanya lagi.


Spontan, Arbi menggeleng pelan.


Tangan kecilnya terangkat menyentuh wajah Ana. Itu yang membuat Ana semakin tidak tega pada malaikat kecilnya. Hatinya bak seperti teriris, bila Arbi salah memasuki pergaulan yang tidak baik. Semua yang ia lakukan bersama Bara, demi kebaikan Arbi juga.


"Bunda jangan sedih lagi. Arbi janji, akan menuruti semua perkataan Bunda." Ujar Arbi dengan suara imutnya.


"Hatimu selembut sutra, sayang. Bunda semakin sayang pada Arbi." Ucap Ana lembut seraya memeluk Arbi.


Berkas kepindahan Arbi sedang di urus oleh Pak John. Jadi, Ana dan Bara hanya terima beres untuk itu.


"Aku juga sayang Bunda." Tutur Arbi sambil mencium lembut wajah Ana.


Hari ini hari Jumat. Dan senin depan, adalah hari pertama bagi Arbi. Untuk beradaptasi lagi di sekolah barunya.


Jam menunjukkan pukul 11 siang, Ana dan Arbi tengah mempersiapkan barang-barang serta peralatan sekolah yang baru untuk Arbi. Di tambah dengan rengekan suara bayi. Yang berasal dari kamar Ara dan Arez. Karena keduanya tengah berada di dalam kamar ketiga anak itu.


Arbi begitu bersemangat, memasukkan beberapa buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas.


"Sayang, Bunda gendong dedek Ara dulu, ya." Ucap Bunda pada Arbi. Spontan, anak itu mengangguk pelan.


Karena yang menangis ialah Ara. Sementara Arez masih terlelap dalam mimpinya.


Tangan kecil Arbi begitu gesit membereskan peralatan sekolahnya. Ana melihatnya dengan tatapan tulus. Tak lama setelah itu, Arbi berjalan mendekati Ana yang berada di atas ranjang. Bersama dengan baby kecil Ara.


Cup!


Arbi mengecup lembut wajah mungil Ara. Di elus nya kepala kecilnya berulang kali. Ana tersenyum melihat tingkah Arbi yang begitu menyayangi adiknya.


"Ayah pulang nya kapan, Bunda?" Tanya Arbi tiba-tiba.


"Nanti sore, sayang." Jawab Ana. Seraya mengelus lembut pucuk kepala kecil Arbi.


"Bunda bisa menelepon Ayah, tidak?" Lanjutnya bertanya.


"Bisa, dong. Memangnya kamu mau ngomong apa?"


Arbi terlihat senyum menyeringai.


"Kok, senyum? Ada apa, sayang?" Ucap Ana bertanya.


"Aku mau meminta sesuatu, Nda."


"Sesuatu? Apa itu?"


"Roti."


Ana mengernyitkan dahi sesaat.


"Tidak biasanya, kamu ingin makan roti."


"Boleh tidak, Bunda?" Ujar Arbi memohon.


"Boleh, dong. Sebentar, Bunda telepon dulu." Balas Ana, sambil mengambil ponsel nya yang berada di atas meja kecil sisi ranjang.


Detik kemudian...


~Called to Bara~


[Iya sayang?] -Bara


[Arbi mau ngomong sesuatu sama kamu, sayang.] -Ana


[Arbi? Mana anak nya?] -Bara


Ana langsung mengalihkan teleponnya pada Arbi.


[Iya, Ayah?] -Arbi


[Kata Bunda, kamu mau ngomong sama Ayah. Mau ngomong apa?] -Bara

__ADS_1


[Hm... aku mau roti, Ayah.] -Arbi


[Roti? Biasanya ice cream.] -Bara


[Kalau dua-duanya boleh tidak, Yah?] -Arbi


Terdengar kekehan gelak tawa Bara di telepon.


[Mau di belikan sekarang?] -Bara


[Aku maunya kita semua pergi ke toko roti itu, Yah.] -Arbi


[Ya sudah, nanti sore kita pergi ke sana. Tapi telepon nya kasih ke Bunda lagi sekarang.] -Bara


Arbi mengangguk pelan, seraya memberikan telepon yang ia genggam pada Ana.


[Iya, sayang?] -Ana


[Sebagai bentuk penutupan sambungan telepon, aku minta sun.] -Bara


[A-apa? Aku tidak dengar.] -Ana


[Berikan aku sun, sayang.] -Bara


[B-bagaimana bisa?] -Ana


[Bisa dong, begini contohnya. Muahh!] -Bara


Mendengar suara Bara yang terdengar agak merinding mengatakan kata kecupan. Spontan wajah Ana memerah merona.


Cie, kesemsem!


[Ayo, lakukan untukku, Ana. Aku tunggu sekarang.] -Bara


[Ada Arbi... a-aku takut dia mendengarnya.] -Ana


[Tidak akan, dia pasti sedang asyik bermain sesuatu kan?] -Bara


Kedua mata Ana beralih menatap Arbi. Benar juga yang di katakan Bara. Arbi tampak asyik bermain dengan baby Ara.


[K-kok kamu tahu?] -Ana


[Iya dong, dia kan putraku. Jadi... mana? Sun untukku.] -Bara


[...] -Ana


[Sayang? Kamu masih disana, kan?] -Bara


Siapa sangka, justru Arbi yang menggantikan posisi Ana untuk Bara. Di seberang sana, Bara terkejut kaget. Saat mendengar suara cipung kecilnya mengucapkan kata-kata manis dan terdengar imut. Bara terkekeh kecil di buatnya.


Tut!


Panggilan berakhir, dan Ana yang memutuskannya. Dalam hati, Ana terkekeh kecil. Saat Arbi mengucapkan kata-kata imut tadi. Kedua matanya lantas beralih lagi menatap Arbi.


Cup!


"Kamu kenapa menggemaskan sekali sih, sayang? Bunda kan, jadi semakin sayang sama kamu." Gumam Ana pada Arbi. Sambil mengecupi wajah imut nya.


Keduanya lalu bercanda tawa. Diiringi suara Ara yang juga ikut tertawa renyah ala suara bayi. Ana bahagia, bisa bersatu lagi dengan Arbi. Ditambah dengan kehadiran kedua malaikat kecilnya. Yaitu Ara dan Arez.


Membuat seisi rumah menjadi ramai karena kehadiran mereka bertiga.


____________


Singkat cerita, sore pun tiba. Bara dan Pak John kembali dari perusahaan Kertajaya. Terlihat, Bara membawa sesuatu di kedua tangannya. Langkah kakinya berjalan langsung menuju ke kamar.


Mencari keberadaan Ana.


"Sayang, aku pulang!" Ucap Bara. Sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Setelah memutar knop pintu itu.


Pandangannya mencari-cari Ana dan Arbi. Namun ia tak menemukan wanita itu. Kakinya pun melangkah memasuki kamar anak-anak. Sesampainya disana, wajahnya langsung berubah semringah. Saat melihat orang yang dia cari ada disana.


Ana tertidur bersama Arbi diatas ranjang miliknya. Sementara kedua bayi kembar itu berada di dalam box keranjang mereka masing-masing.


Cup!


Bara mengecup lembut kening Ana. Dan beralih mengecup wajah mungil Arbi. Kedua matanya lalu beralih pada Ara serta Arez. Bara memainkan jari-jemari kecil mereka satu persatu. Gurat senyumnya tampak mengukir di wajahnya.


Perasaan nya begitu senang dan damai. Saat melihat orang-orang yang menjadi prioritas hidupnya. Pulang ke rumah, di suguhkan pemandangan indah.


"Sayang... kamu ketiduran, ya?" Gumam Bara di telinga Ana. Seraya mengecupi wajah cantiknya.


Ana terlihat mengulet. Samar-samar, kedua matanya terbuka secara perlahan.


"Ba-ra?" Tanya Ana terbata.


"Lalu siapa lagi, hm?" Balas Bara berbalik tanya.

__ADS_1


Ana langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kamu... kapan pulang?" Ujar Ana menanyakan. Sambil mengucek-ngucek kedua matanya.


"Baru, kok. Lelah, ya? Ke toko roti nya nggak jadi sekarang?" Ucap Bara mengingatkan.


Ana langsung teringat dengan permintaan Arbi sebelumnya. Pandangannya beralih menatap malaikat kecil itu yang tengah tertidur pulas di sisinya.


"Iya, Arbi sepertinya kelelahan. Bagaimana kalau besok siang?" Usul Ana.


"Boleh. Kapan pun juga boleh." Jawab Bara sambil mengecupi leher jenjang Ana.


"S-sayang..." gumam Ana seraya menggeleng.


"Pindah ke kamar, yuk?" Ajaknya.


Wajah Ana berubah merona. Tampak malu-malu mendengar ajakan Suaminya. Spontan, Bara langsung menggendongnya ala bridal style. Ana terkejut bukan main. Tubuhnya langsung di bopong oleh Bara.


Para pelayan di rumah utama melihat Tuan muda mereka menggendong Ana seperti yang ada di drama-drama Korea. Terdengar bisik-bisik di sertai kekehan tawa kecil. Memperhatikan Ana menutupi wajahnya dengan tangannya.


Ada yang berpikir romantis, ada juga yang tampak malu-malu.


Aw, so sweet nya!


"Sayang... turunkan aku! Aku malu, tahu." Gumam Ana berbisik di telinga Bara.


"Sssttt! Kamu tenang aja, nggak akan ada yang berkomentar apa pun tentang kita." Balas Bara. Acuh pada orang-orang di rumah.


"I-iya... tapi aku yang malu."


Tidak berapa lama kemudian, keduanya sudah berada di dalam kamar mereka. Bara menurunkan Ana di atas ranjang milik mereka.


"Kebiasaan kamu nggak pernah berubah. Selalu gendong aku tiba-tiba." Gerutu Ana. Seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Bibir kamu kalau seperti bebek begitu terus, bisa-bisa habis ku makan loh, sayang." Ujar Bara sambil tersenyum menyeringai.


Kedua mata Ana melotot. Sembari menutupi bibirnya dengan kedua tangannya. Wajah Bara semakin mendekat. Hingga tak membuat jarak sedikit pun di antara keduanya.


"Buka dong, aku mau cium." Tutur Bara menggoda.


Ana menggeleng cepat.


"Kamu bilang, mau makan bibirku. Nanti aku gak punya bibir bagaimana?"


Cup!


Sebuah kecupan di daratkan Bara pada kening Ana.


"Itu kalau bibir kamu terus mengerucut seperti tadi, sayang. Polos banget sih, sayangku ini." Ucap Bara lembut.


Selang beberapa detik kemudian, Ana pun membuka tangannya. Dan memperlihatkan bibir pink nya. Namun Bara seperti tidak sabaran. Karena langsung mengecupi benda kenyal itu.


Suasana romantis kala sore di rumah utama, begitu hangat terasa. Bagi kedua pasangan yang selalu di mabuk asmara.


"Aku tidak tahu kenapa. Kamu selalu membuatku candu, An." Gumam Bara lembut.


Ana mendongak menatapnya.


"Candu nya?" Tanya Ana. Tangannya bermain-main di dada bidang Bara.


"Candu aja." Jawab Bara. Ana lantas mendengus sebal.


"Kasih aku jawaban yang lebih spesifik dari itu, dong." Lanjut Ana berkata.


"Aku bingung mengutarakannya, sayang." Balas Bara.


"Bingung nya kenapa?"


"Karena kamu terlalu sempurna untuk di jelaskan hanya dengan kata-kata. Intinya, aku suka semua yang ada di dalam diri kamu. Mengerti?" Celoteh Bara menggombal.


Namanya juga raja gombal.


Eh.


"Ih, kamu gombal!" Ucap Ana sebal.


Bara semakin mengeratkan dekapan nya.


"Aku nggak gombal, sayang. Itu fakta, kenyataan. Buktinya, Arka juga pernah suka kan, sama kamu." Tutur Bara. Suaranya terdengar sebal di kalimat terakhirnya.


Masih aja cemburu.


"Cie, jealous!" Ledek Ana. Sambil menyentuh hidung bangir Bara.


Bara yang tadinya mengambek berubah ekspresi. Senyumnya seketika melebar. Disertai gelak tawa kecil.


"Kamu suka sekali, ya. Memainkan hati orang. Untung aku, sayang." Sambung Bara. Seraya mengecup lembut bibir Ana.

__ADS_1


Ya, begitulah yang terjadi. Dalam keseharian Ana dan Bara. Tak ada yang berubah dari mereka. Justru malah semakin manis dan romantis. Seperti manisnya ice cream. Dessert kesukaan Arbi.


Yang tak akan pernah pudar. Rasa dari manis nya. Dan selalu memanjakan lidah, maupun mata. Seperti kisah cinta mereka.


__ADS_2