
“Kamu... yakin, nggak apa-apa? Kita menginap dirumah Mama?” ujar Ana bimbang. Ana masih keberatan serta ragu-ragu. Bila tinggal dengan Ibu Mertua. Meskipun disana terlihat lebih mewah dan megah. Karena seenak-enaknya rumah orang, lebih enak kalau berada dirumah sendiri, bukan?
Ana takut, tidak akan nyaman.
“Yakin, dong... sayang. Memangnya, kamu masih mengkhawatirkan apa, sih? Mama juga nggak akan berani berlaku seperti dulu lagi, kok. Kan, ada aku disini. Ada Pak John, juga.” Ucap Bara lembut, membalas perkataan Ana.
SET
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai dan berhenti. Tepat di depan pintu masuk rumah utama. Tandanya, sudah melewati serta memasuki gerbong tinggi itu.
“Yuk, keluar! Semuanya akan baik-baik saja, sayang.” Tutur Bara lembut seraya mengecup bibir Ana. Sebelum keduanya keluar dari dalam kendaraan roda empat itu. Ana menjawab dengan anggukan. Meskipun wajahnya masih terlihat agak, gusar.
KRIEK!
Pak John membukakan pintu untuk mereka. Bara memapah Ana berjalan untuk memasuki ke dalam rumah besar itu. Sementara Pak John, sibuk menggendong Arbi yang masih terlelap hingga kini.
Baru saja sampai di dalam ruangan itu, mereka mendapat sambutan hangat dari kepala pelayan rumah utama. Ana mendadak berkeringat dingin. Mengingat kejadian lalu, waktu pertama kali kakinya menginjakkan rumah ini.
Tapi ternyata...
“Ana, Bara? Akhirnya kalian datang, juga. Mama sudah lama menunggu, loh.” Ucap Nyonya Kertajaya tiba-tiba. Yang muncul dari atas tangga. Berjalan mendekati keduanya.
Ya—sepertinya memang benar. Ibu Mertua Ana sudah berubah sekarang.
“Arbi tidur? Ya ampun, ayo pindahkan dia di kamarnya, Pak John! Anak itu pasti lelah sekali, ya?” lanjutnya lagi.
“Iya, tadi kami habis dari taman kota, Ma.” Sanggah Bara. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk pelan.
“Ana... perutmu sudah besar sekali loh, Nak. Ayo masuk, kita makan malam dulu. Selepas itu baru kalian istirahat. Wah, ramai sekali, ya...” sambungnya, tampak begitu antusias menyambut kedatangan Ana dan putranya.
Mereka semua berjalan menuju ke ruang makan. Sesampainya disana, Ana agak takjub sesaat. Melihat begitu banyaknya makanan diatas meja itu. Hampir semuanya ada. Dari menu pembuka hingga penutup. Serta buah-buahan yang terlihat segar.
Berbeda sekali dengan suasana apartemen di tempatnya.
“Sayang... ayo duduk!” Tutur Bara sembari memapah Ana. Membantunya menduduki kursi meja makan itu.
Bara memang begitu hati-hati serta khawatir pada Ana. Melihat kehamilannya yang berbeda dengan hamil Arbi dulu. Cenderung terlihat lebih besar. Bahkan yang melihatnya pun akan merasa sesak. Apalagi Ana sendiri yang mengalami.
“Pelan-pelan, sayang.” Lanjut Bara khawatir.
“Aku nggak apa-apa, sayang.” Balas Ana seraya tersenyum kecil.
Mereka semua makan dengan tenang. Bara menyuapi Ana dengan penuh kelembutan. Bahkan ia sendiri belum makan sesuap nasi pun.
“Kamu juga makan, sayang.” Gumam Ana.
“Aku nanti saja, yang penting kamu kenyang dulu.” Jawab Bara seraya menyuapi Ana dengan suapan terakhir.
“Putraku sudah dewasa, rupanya. Mementingkan perut Istrinya lebih dulu, dibandingkan perutnya yang kosong.” Puji Nyonya besar.
__ADS_1
“Aku memang sudah dewasa, Ma.” Bara mendengus kesal.
“Ya sudah, habiskan makanannya. Mama mau langsung istirahat. Oh ya, malam ini Mama mau tidur di kamar Arbi. Sudah lama sekali tidak bersama cucu Nenek. Uluh-uluh...” celoteh Nyonya besar sembari meninggalkan ruang makan. Dari ekspresi wajahnya, ia begitu menyayangi Arbi.
Ana mengulum senyumnya. Kedua matanya menatap dalam Bara. Lelaki yang ada di hadapannya saat ini.
“Aku sudah kenyang, sekarang giliran kamu. Ayo... a...” gumam Ana menolak suapan dari sendok yang ada di tangan Bara. Ia lantas mengambil sendok itu, dan berbalik menyuapinya. Bara tersenyum menyeringai menatap Ana.
“Nasi nya di tambah ya, sayang.” Pinta Bara
“Kamu... mau menambah porsi?” Bara mengangguk pelan.
“Ih, Suamiku gembul juga ya, ternyata.” Ledek Ana.
“Gembul-gembul tapi kamu sayang, kan?” kekeh Bara menggoda. Ana diam seraya menahan tawa.
“Habiskan dulu makan nya, sayang..” lanjut Ana.
“Aku masih mau makan lagi.” Sanggah Bara sembari menggeleng pelan. Ana tercengang menatapnya.
“Makan lagi?” tanya Ana. Bara menjawab dengan anggukan.
“Iya, mau makan... kamu.” Balas Bara seraya mengedipkan sebelah matanya.
Genit!
EH.
Malam semakin larut, hawa dingin mulai menelusuk ke dalam pori-pori kulit. Malam ini, pertama kalinya bagi Ana. Tidur di rumah utama.
Berselimut tebal untuk satu berdua. Bara sedari tadi tak juga memejamkan kedua matanya. Ia bilang, takut jika dirinya tidur. Khawatir kalau Ana tiba-tiba kontraksi.
“Sayang... aku nggak apa-apa, kok. Matamu udah kelelahan banget, tuh. Tidur... sayang..” gumam Ana menyuruh tidur Bara. Tangannya mengelus lembut wajah tampan itu.
“Aku nggak bisa tidur... ke pikiran terus sama perut kamu. Pasti sesak banget, ya?” balas Bara sedu.
“Hm... iya, agak sesak sedikit. Tapi masih bisa ditahan, kok.” Ana menjawab sembari mengulum senyum.
Cup!
Bara mengecupi wajah Ana. Lalu turun mencium perut besarnya. Telinganya di lekatkan pada perut itu. Di elusnya berulang kali dengan jari jemarinya. Bara merasakan adanya tendangan dari dalam sana.
“Sayang... aku mendengarnya! Aku mendengar tendangan mereka..” ucap Bara antusias. Ana tersenyum kecil seraya mengelus lembut rambut hitam Bara.
Bara terlihat menempelkan telapak tangannya di perut Ana. Agak lama, menahannya di atas sana. Seperti tengah mengajak kedua bayi itu berbicara dari hati ke hati.
“Ayah... ayo tidur. Bunda tak ingin, melihat Ayah kelelahan.” Tutur Ana berbicara, dengan suara lain. Bara mendengarnya, kedua matanya membulat. Kepalanya lantas mendongak menatap Ana.
“Ayah mau tidur, kalau Bunda juga tidur.” Balas Bara mengikuti Ana. Meniru suara khas anak kecil.
__ADS_1
Keduanya lalu tertawa bersama. Bara mendekatkan wajahnya pada wajah Ana. Hingga terjadinya sentuhan diantara kedua hidung itu.
“Bobo... sayang..” gumam Ana.
“Iya... sayang...” balas Bara seraya mengecup lembut bibir Ana.
Kedua tangan mereka menyatu dalam dekapan hangat. Ana terpaksa tidur dengan posisi terlentang. Karena perut besarnya, menyebabkan ia sulit untuk bergerak bebas.
Bara memiringkan tubuhnya menghadap Ana. Memeluknya dengan penuh cinta. Hingga kedua mata mereka mulai terpejam dengan kuat.
**
Cinta yang tumbuh, seiring berjalannya waktu. Rupanya membuat Arka menjadi candu. Pada wanita yang tak pernah ia cintai sebelumnya.
“Ka, kayaknya kita butuh panggilan yang beda.” Ucap Gladys tiba-tiba. Tangannya bergelayut manja memeluk Arka.
“Maksudnya? Panggilan nama?” balas Arka bingung. Gladys memagut pelan.
“Iya, Arka sayang..” sambung Gladys lembut.
DEG!
Jantung Arka berdegup dengan cepat. Wajahnya berubah memerah merona. Gladys merasakan detakan itu dari tangannya. Yang bersentuhan langsung di dada bidang Arka.
“Sayang... kamu deg degan, ya? Cie... deg degan. Ihiy!” goda Gladys. Arka memejamkan matanya dengan kuat.
“Ih, sayang... kamu malu.. gemas, deh.” Sambung Gladys menggoda.
Cup!
Gladys mendaratkan satu kecupan di bibir Arka. Lelaki itu tampaknya memang sudah jatuh hati pada Gladys. Sikap malu-malunya tak menutup keinginan Gladys untuk selalu menggodanya.
“Kamu agresif banget ya, sekarang.” Balas Arka setelah lama menahan diri. Dengan cepat, Arka membalikkan posisinya berada diatas tubuh Gladys. Wanita itu tergelak kaget seraya tersenyum kecil menahan tawa.
“Arka... kamu mau... apa?” dalih Gladys.
“Menurut kamu?” Jawab Arka seraya menyeringai menatap Gladys nanar.
Wanita, memang sulit dimengerti. Terutama pada saat mengekspresikan dirinya.
"Yeobo..." goda Gladys manja. Arka mengernyikan dahinya. Tak mengerti bahasa yang ucapkan Gladys barusan.
"Yeobo?" Ucap Arka mengulangi. Gladys mengangguk pelan.
"Iya...CIN... TA... KU!" sahut Gladys menyeringai.
Gladys, kamu nackal!
EH.
__ADS_1