
Perdebatan antara keduanya rupanya tak kunjung usai. Tidak jauh dari yang namanya problematik kehidupan. Ana sudah tak ingin memperdebatkan hubungannya lagi dengan Bara. Ia bahkan ingin mengakhiri semuanya. Meski sudah begitu jauh melangkah, mungkin keputusannya sudah tepat.
Untuk berpisah dengan
Bara.
WhatApp
[Ka, kesini sekarang!] -Bara
1 menit kemudian...
[OTW] -Arka
Beberapa saat kemudian, Arka datang ke apartemen Bara. Suara bel berbunyi, dengan cepat Bara membukakan pintunya. Arka datang menggunakan pakaian tertutup. Memakai hoodie di tubuhnya, tak lupa juga dengan topi di kepala beserta masker. Yang menutupi wajahnya.
“Lama banget Lo, Ka.” Gerutu Bara.
“Ini nih, ganti baju dulu, kam*pret! Lo mau? Gue ketahuan sama mata-mata Bokap Lo?!”
“Iya, iya.”
“Ada apa? Tumben banget menyuruh Gue datang kesini.” Arka langsung to the point.
Tanpa basa-basi.
“Ana minta pisah.” Tutur Bara sedu.
“WHAT’S?! Seriously? Yang benar Lo? Kam*pret, jangan ngada-ngada kenapa.” Arka tak percaya dengan yang dikatakan oleh Bara.
“SE-RI-US!” Bara mengangguk pasrah.
“Masalahnya? Kok bisa?”
“Ya bisa lah, namanya manusia, pasti hatinya bisa berubah-ubah.”
“Bukannya kalian berdua saling cinta? EHM!”
“Aih, Gua juga bingung. Ana katanya udah nyerah sama hubungan ini.”
“Gara-gara Bokap Lo pasti. Ya kan?”
“Ya terus, siapa lagi kalau bukan dia?”
Keduanya saling diam dan memikirkan rencana selanjutnya. Bara tampak berputus asa dengan keputusan Ana. Beruntung ada Arka di sisinya, yang selalu memberikan solusi.
“Gue rasa satu-satunya cara yang bisa mengatasi itu semua, Cuma Lo doang.” Ujar Arka.
“Gua? Ngapain? Lo tahu sendiri kalau Bokap Gua paling berkuasa di dunia perbisnisan. Gak ada yang berani melawan perintahnya. Apalagi negara ini, semua orang kenal dia. Gua bisa apa? Tabungan serta saham yang Gua punya dari hasil penjualan di perusahaan BARNA juga belum seberapa. Belum bisa menyaingi kekayaan Bokap Gua. Ah, yang benar aja Lo, Ka. Bikin Gua menyerah sebelum bertanding.”
“Iya juga sih... gimana kalau kita kasih tahu aja. BARNA Corp itu pendirinya siapa?” usul Arka.
“Ini lagi... yang ada perusahaan Gua bakal diambil alih sama Kertajaya Group! Kam*pret!”
“Negara ini punya hukum, kita bisa ambil jalur hukum.”
“Tapi dia gak takut hukum, Bambang. Ish! Lo kayak gak tahu aja, selicik apa Bokap Gua.” Bara tampaknya benar-benar pasrah. Bingung dengan keadaan ini.
__ADS_1
“Astaga naga! Lama-lama bisa gila kalau gini caranya. Gila ya, Bokap Lo.”
“Kan Gua bilang, buat lawan orang kayak dia tuh, susah. Kecuali, dengan orang yang lebih diatas dia.”
Keduanya saling berpandangan. Tampaknya menemukan solusinya.
“Gue tahu, siapa orang yang bisa bantu kita.” Ucap Arka.
“Siapa?”
“Teman bisnis keluarga Buana. Dia tinggal di France. Berarti, Gue kalau gitu harus ke Prancis dulu. Buat minta bantuan sama dia. Aih, lagi-lagi Gue yang capek.” Arka mengerutkan dahinya. Mengusap rambutnya kasar.
“Kalau gitu please, tolong Gua, Ka. Sahabat Gua Cuma Lo doang, only you!” ucap Bara memohon.
“Gimana ya.... hmm... bantu gak, ya?”
“Ayolah, Ka. Nasib Gua bergantung sama Lo. Pleaseeee! Gua capek kabur-kaburan melulu."
“Hm..... OKE!” Arka menyetujuinya.
“Serius? Aaaa, thank u brother!” Teriak Bara seraya memeluknya erat.
“Lepasin Gue kam*pret! Gak bisa napas ini, woy!” Arka berusaha menghindar.
“Sorry, sorry. He he he, Gua refleks senang. Thanks, Ka. Lo udah mau jadi sahabat Gua. Selama ini Gua udah salah menilai Lo.” Bara tersenyum tulus menatap Arka.
“It’s okay, Gue tahu perasaan Lo dulu kayak gimana. Yang lalu biar berlalu. Dulu Gue juga salah, udah tahu Ana punya Lo, tapi masih pengin Gue embat juga. Ha ha ha!” Arka tertawa renyah seraya menepuk keras pundak Bara.
Keduanya tertawa bersama, hingga suaranya terdengar sampai ke telinga Ana. Dengan penasaran, Ana buru-buru keluar dari kamarnya untuk menghampiri Bara. Ia takut Bara mendadak jadi stress secara tiba-tiba. Karena perdebatannya tadi.
“Ana?! Kamu... ganti baju dulu. Ada Arka disini.” Bara tercengang melihat Ana. Buru-buru ia suruh Ana mengumpat dan bersembunyi di belakangnya.
“Hah? Ar-Arka? Dimana?” tanya Ana bingung.
Arka sadar dengan apa yang dia lihat, buru-buru ia berbalik badan dan memeluk tembok. Layaknya orang yang sedang bermain petak umpet. HA HA! Eh.
“Bagus, Ka. Lo tetap begitu sampai Ana masuk lagi ke dalam kamarnya.” Ujar Bara seraya menggendong Ana ala bridal style.
“Kak Ana, maaf. Aku gak sengaja lihat, he he he. Udah sana masuk lagi Kak. Aku tunggu disini, oke.” Ucap Arka dengan mata yang masih terpejam.
Ada-ada aja mereka. He he he.
“Kamu kenapa gak bilang sih? Kalau Arka kesini.” Ana berbisik di telinga Bara sewaktu memasuki pintu kamar mereka.
“Kan tadi aku udah ngomong.”
“Itu kan tadi, maksudku, sebelumnya. Waktu dia mau kesini.”
“Kan tadi kita sempat marahan.”
Ana tertunduk sedu. Bara menyadari itu, refleks ia langsung mengecup bibir manis Ana.
“Jangan minta pisah lagi ya, aku udah punya solusinya. Aku juga gak akan bunuh Papaku.” Bara tersenyum tulus mengembang menatap Ana. Keduanya saling bertatapan. Ana refleks memeluk erat Bara.
“Iya.. aku sayang kamu, Bar. Aku juga gak mau pisah sama kamu sebenarnya.” Tutur Ana sedu.
“Aku juga sayang sama kamu. Ganti baju dulu, yuk! Arka udah menunggu lama tuh di luar. Gak enak aku sama dia."
__ADS_1
“Tumben kamu, bersikap baik ke Arka.”
“Memang seharusnya begitu, karena dia juga udah bantu kita selama ini. Sekarang, dia mau bantu kita juga. Demi hubungan kita, supaya gak di ganggu gugat lagi sama Papaku.”
Ana begitu senang mendengarnya.
“Arka baik banget, ya. Ya udah, kamu duluan aja ke sana. Aku ganti baju dulu.”
“Aku mau lihat kamu ganti baju.”
“Ih, Bara. Enggak, udah sana. Hus hus hus!” tutur Ana mengusirnya keluar dari dalam kamar.
“Kok kamu gitu sih, sayang. Aku Suamimu loh, bukan Arka.” Bara mendengus sebal dan mengerucutkan bibirnya.
“Udah sana buruan, Arka udah nunggu kamu tuh.” Ana mendorong Bara keluar pintu.
BRAK!
Pintu kamar tertutup rapat. Bara sudah berada di depan pintu. Arka melihat ekspresi wajah sahabatnya yang kusut.
“Bha ha ha ha ha! Kacian deh, loh.” Ledek Arka.
“Sabar.... sabar... “ gumam Bara sambil berjalan mendekat ke arah Arka.
Yang saat ini tengah duduk di sofa. Sambil memakan beberapa camilan yang ada di atas meja.
.........
Sayang, aku tahu hatimu lelah.
Aku bisa merasakan kepasrahan dirimu pada hubungan kita.
Melainkan, tak jauh dari kata pisah yang terucap dari bibirmu.
Tolong, jangan katakan itu lagi.
Karena itu benar-benar menyayat hati.
Aku tak ingin berpisah darimu.
Walau tajamnya belati berusaha menusukki diri.
Namun, aku akan tetap setia melindungi.
Melindungi dirimu, dari belenggu pengusik cinta kita.
- Bara Kertajaya Muhammad
**************
Maaf... karena lamat UP nya. Kuota mendadak habis. Jadi gak bisa UP utk Bab sebelumnya dengan tempo waktu yg seharusnya malam hari.
Apa-apa sekarang benar-benar mahal, ya. Sampe kuota habis pun.. gak sanggup beli. Xixixi. Ini pun ngutang kuota darurat dari IM3.
Semoga puasanya lancar yaa! Tetap semangat dan lancar terus rezekinya.
☀️
__ADS_1