Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 76


__ADS_3

“Ini rumah Bunda?” tanya Arbi, sesampainya mereka di dalam apartemen Ana dan Bara.


“Iya sayang, kamu suka?” ujar Ana. Arbi mengangguk cepat seraya berlari ke arah sofa.


“Pelan-pelan sayang, nanti kalau jatuh gimana?” Ana berusaha mengejar.


“Sayang, kamu jangan ikutan Arbi lari-lari. Ingat kata dokter, jangan banyak gerak, jangan lelah, dan jangan banyak pikiran.” Bara tiba-tiba memeluk Ana dari belakang.


Kemesraan mereka sontak terlihat oleh kedua mata Arbi. Bocah kecil itu terkekeh seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya. Mata Ana tergelak kaget ketika Bara semakin berbuat lebih. Apalagi di depan Arbi.


“Bara.. ada Arbi.” Ucap Ana. Seraya menutup wajah Bara dengan satu tangannya. Yang tidak berhenti mencium leher jenjang Ana.


“Eh.. aku lupa. He he he.” Balasnya terkekeh. Pandangannya langsung ke arah kembaran kecilnya.


“Arbi.. kamu lihat Ayah ya?” tanya Bara.


“E-enggak Ayah, aku gak lihat.” Jawab Arbi sembari menutup matanya dengan kedua tangan kecilnya.


“Yakin, kamu gak lihat?” tanyanya lagi dengan suara penekanan. Matanya menatap tajam Arbi.


“Arbi, sini sama Bunda.” Tutur Ana, Arbi langsung berlari memeluk Bundanya.


“Kamu berani menggertak Arbi lagi, tidur di sofa!” ujar Ana menekan ucapannya.


Sontak wajah Bara berubah melas.


“Eh.. j-jangan dong, sayang. A-aku gak akan gertak Arbi lagi, janji.”


Bilang janji, tapi matanya melotot menatap Arbi. Aih!


“Bunda!! Ayah melotot ke Arbi.” Teriak Arbi mengadu pada Ana.


‘Dasar setan kecil! Ganggu aja!’ gumam Bara dalam hati.


Anaknya sendiri dibilang setan, eh buset srepet.. pet.. pet.. pet.


“BARA!”


“Iya, iya maaf.” Bara mengalah, wajahnya beringsut melas lagi.


Dasar STI! Apa tuh? Suami Takut Istri. Eh.


Ana mengajak Arbi untuk membaca buku cerita. Namun Arbi memilih agar Ana sendiri yang membacakan dongeng untuknya. Sampai akhirnya, Arbi tertidur lelap di sisi Ana. Bara menyadari itu langsung menggendongnya dan memindahkan ke dalam kamar.


‘Udah bikin rusuh, sekarang pake tidur dikamarku pula. Aih, sainganku jadi bertambah lagi!’ gumam Bara dalam hati.


Ana memilih untuk membaca buku cerita di ruang santai. Tidak ingin mengganggu tidurnya Arbi. Meski sebenarnya ia juga ingin lebih lama lagi bersama pangeran kecilnya.


Krek


Bara keluar dari dalam kamar. Setelah memindahkan Arbi ke tempat tidurnya. Matanya menangkap wanita yang ia cintai. Bibirnya tersenyum menyeringai memperhatikan Ana. Kakinya melangkah mendekat ke arahnya.


“Sayang, kamu udah minum susu belum?” tanya Bara, yang saat ini ikut duduk di sebelah Ana.


“Hm.. belum kayaknya deh.”

__ADS_1


“Belum? Aku buatkan ya.” Ana mengangguk.


Bara beranjak bangkit untuk pergi ke arah dapur. Membuatkan susu Ibu hamil untuk Ana. Hal ini sudah biasa ia lakukan. Saat sedang mengaduk susu, tiba-tiba ponsel Bara berbunyi di saku celana nya.


“Aih, siapa sih?!” tuturnya kesal.


Saat ia melihat nama asisten John yang tertera di layar ponselnya.


[Arbi lagi tidur, nanti sore akan saya antar ke rumah utama!] - Bara


[Soal Arbi, saya tidak mempermasalahkan itu Tuan. Tapi malam ini, Tuan besar mengajak Tuan muda untuk makan malam bersama di rumah utama.] - Asisten John


[Ok, saya ajak Ana juga ke sana.] – Bara


[Eh, soal ini.. saya rasa hanya Tuan muda saja yang di undang.] – Asisten John


[Apa maksudmu? Ana tidak di izinkan kesana, begitu?!] – Bara


Suara Bara terdengar emosi. Bahkan pembicaraan di telepon itu sampai hingga ke telinga Ana. Tanpa sepengetahuan Bara, Ana menguping dari kejauhan.


[Ya, saya harap Tuan muda mengerti situasi ini. Tuan besar tentunya tidak akan mengizinkan Istri Ana untuk datang ke rumah utama.] – Bara


[Sial! Ok, saya datang malam ini. Tapi ini untuk pertama dan terakhir kalinya saya ke sana lagi!] – Bara


Tut! Panggilan diputuskan sepihak oleh Bara.


‘Pasti ada sesuatu’ gumam Bara dalam hati.


Ana mendengar semuanya, seketika suasana hatinya berubah. Ia memilih untuk kembali ke sofa.


Bara kembali dari arah dapur. Tangannya memegang segelas susu untuk Ana. Menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya.


“Ini susunya, untuk periku.” Ujar Bara. Ana tersenyum manis, mencoba berpura-pura tidak tahu.


“Hm.. tadi kayaknya aku dengar kamu lagi telepon-an, sama siapa?” tanya Ana.


“Eh.. itu.. tadi Arka yang menelepon.” Ucap Bara berbohong.


‘Aku kira kamu gak akan bohong, Bar.’ Gumam Ana dalam hati. Merasa kecewa dengan sikap Bara.


“Oh ya? Tumben, biasanya dia ngomong juga sama aku, via chat.”


“Ini masalah perusahaan, sayang. Hm, malam ini aku mau ada meeting sama Arka di caffe. Kamu gak apa-apa kan, sendirian?”


“Gak apa-apa, mungkin masalah kamu lebih penting, aku ngerti kok.”


“Terima kasih, sayang.” Bara mengecup lembut kening Ana.


Berpura-pura seakan tidak mengetahui apa-apa, begini rasanya. -Ana


.........


Malamnya tiba, Bara pergi ke kediaman rumah utamanya. Tak lupa ia membawa Arbi, karena seharian ini sudah cukup puas bermain di apartemennya bersama dengan Ana. Bara memakai pakaian formal, kemeja putih panjang beserta celana bahan hitam.


Sesampainya mereka di kediaman Kertajaya...

__ADS_1


“Ayah, kenapa Bunda gak ikut kita?” tanya Arbi polos.


“Bunda... B-Bunda lagi hamil, kan Arbi tahu bukannya?” jawab Bara. Arbi mengangguk paham.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah utama. Di sambut hangat oleh pelayan kepercayaan Tuan Kertajaya, Pak Muh.


“Silakan, Tuan Muda, Tuan kecil, Tuan besar sudah menunggu di dalam.” Ucap Pak Muh.


Bara membalas dengan anggukan. Sikap Arbi berubah dingin, semenjak menginjakkan kakinya ke dalam rumah ini. Bara memperhatikan gerak-gerik putranya. Sangat berbeda dengan Arbi yang saat sedang bersama Ana tadi.


Sikap manjanya berubah menjadi dingin tak beraturan. Terlihat seperti bukan Arbi yang ia lihat tadi.


‘Kenapa dengan Arbi? Kenapa jadi berubah sok dewasa begitu? Aih, setan kecil ini. Urusan kita belum selesai, ya.’ Gumam Bara dalam hati seraya memperhatikan Arbi.


Arbi berjalan masuk lebih dulu. Sementara Bara berjalan mengekor di belakangnya. Tak berapa lama, mereka sampai di ruang makan. Rupanya semua orang sudah menunggu disana.


Namun, siapa wanita itu?


“Bara, duduklah!” perintah Ayahnya.


Bara diam tanpa membalas. Arbi duduk di sebelah Bara. Pandangannya menatap tajam ke arah wanita yang ada di depannya. Hal itu disadari oleh sang Nenek rupanya.


“Arbi, tidak baik menatap begitu ke Tante Sofie.” Ujar Nyonya Kertajaya.


“Kenapa? Arbi nggak suka!” Arbi mengelak.


“ARBI!” ucap sang Kakek dengan suara keras. Sontak semua yang ada di meja makan langsung hening seketika.


Arbi tertunduk sedu, tangannya mengepal kencang. Beberapa detik kemudian, Arbi pergi berlari menaiki tangga ke arah kamarnya.


“Arbi!” panggil Bara berusaha menghentikan. Namun semua itu di tepis oleh Ayahnya.


“Sudah, hentikan! Biarkan saja dia. Bara, duduk!” ujar Tuan besar.


“Gak perlu basa-basi, langsung saja! Apa maumu mengundangku datang kesini!” tutur Bara yang sudah muak.


“Bedebah! Anak kurang ajar, begitu sikapmu berbicara pada Ayahmu!” balas Tuan besar dengan nada tinggi. Bara melengos ke arah lain.


“Pah, sudahlah.” Ucap Nyonya Kertajaya berusaha menenangkan. Suaminya menghela napas kasar.


“Maafkan Om, Sofie. Sudah merusak acara makan malam ini.” Ucap Tuan Kertajaya pada wanita itu.


“Gak apa-apa, Om.” Jawabnya seraya menatap ke arah Bara. Senyumnya berubah menyeringai memperhatikan Bara.


Benih-benih pelakor nih. Aih!


“Bara, Sofie datang jauh-jauh kesini untuk bertemu dengan kamu loh. Kamu masih ingat, gak? Sofie Arsena, teman kecilmu dulu.” Ujar Nyonya Kertajaya pada Bara.


“Teman kecilku hanya Arka.” Jawab Bara lugas.


Wajah Sofie berubah cemberut.


“Eh, kamu lupa ya? Dulu kita pernah tinggal di negara A. Sofie, gadis kecil yang sering menemanimu bermain sewaktu kita tinggal disana.” Ujarnya lagi.


‘Sofie? Seingatku dulu, ada anak kecil cerewet yang suka mengikutiku kemana pun aku pergi. Apa itu dia? Aih, sial benar hidupku!’ gumam Bara dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2