
Zeon mengelus lembut pucuk kepala kecil Tasya. Dan menggenggam jari jemari kecilnya yang halus.
“Kalau begitu, Tasya mau di gendong Kak Zeon juga tidak?” ujar Zeon, setelah mendengar keluh kesah Tasya yang tampaknya cemburu pada Arbi dan Bara.
Tasya lantas mendongak, setelah mendengar kata-kata Kakaknya.
“Mau!” jawab Tasya bersemangat.
HAP!
Zeon langsung menggendong Tasya ke belakang punggungnya. Meski tidak seperti Bara yang membopong Arbi di atas bahu. Zeon memilih menggendong seperti membawa tas ransel pada tubuhnya.
“Kakak, aku maunya di gendong seperti Arbi tadi!” pinta Tasya nyeleneh.
“Kamu kan, perempuan. Kalau Arbi itu laki-laki. Jadi wajar saja, dia di gendong seperti itu oleh Ayahnya.” Tukas Zeon membalas.
“Memangnya kalau perempuan tidak boleh ya, Kak?” tanya Tasya.
“Iya, tidak boleh.” Kata Zeon. Tasya lalu memagut-magutkan kepalanya. Seakan sudah paham setelah mendengar kata-kata dari Kakak lelakinya.
Zeon dan Tasya berjalan mendekati tempat duduk Ana dan Bara berada. Kelihatannya mereka sangat asyik dengan keluarga kecilnya. Bara begitu manja, makan dan di suapi dari tangan Ana sendiri. Arbi pun juga sama. Sudah makan, tapi ikut makan lagi.
Seperti tidak mau kalah dari Ayahnya, Bara.
“Maaf, Kak. Aku dan Tasya mau langsung balik sekarang. Kalau begitu, kami izin pamit.” Ucap Zeon meminta izin pada Ana. Karena memang awalnya Ana yang berinisiatif mengajak mereka makan di restoran itu.
Ana lantas mengangguk pelan, seraya tersenyum ramah.
“Iya, tidak apa-apa. Tasya kelihatannya juga sudah lelah.” Sahut Ana.
Arbi dan Bara melihat ke arah mereka secara bersamaan. Lalu beralih menatap Ana nanar.
“Dadah, Bunda Ana! Besok kita bertemu lagi ya!” ujar Tasya pada Ana. Seraya melambaikan tangan kecilnya sebagai bentuk perpisahan.
“Dah, Tasya!” balas Ana sambil tersenyum manis menatap kepergian Tasya. Tangannya pun ikut terangkat membalas lambaian tangan dari Tasya tadi.
SET
Bara menyentuh dagu Ana, dan memutarnya menjadi menatap ke wajahnya.
“Kamu hanya boleh menatap aku saja, sayang.” Tutur Bara posesif.
Melihat adegan Ayah dan Bundanya begitu, Arbi lantas mengerucutkan bibir nya ke depan. Merasa cemburu dengan perlakuan Bara pada Bundanya. Padahal sudah di katakan berulang kali. Kalau tindakan Bara ialah sebagai bentuk dari kasih sayangnya untuk Ana. Namun mau bagaimana lagi? Yang nama nya anak kecil, memang sulit bila diberikan nasihat. Mereka hanya akan mau mendengarkan jika melalui tindakan.
Bukan dengan kata-kata.
“Iya, sayang.” Bisik Ana lembut. Sembari menyuapi satu sendok ice cream ke dalam mulutnya Bara.
Sementara pria kecil satunya lagi menyuapi dirinya sendiri dengan wajah yang sudah berlepotan. Tetapi kedua matanya menatap tajam ke arah Bara. Seperti tatapan menginterogasi Ayahnya. Menyipit dan sinis. Seakan Bara tidak boleh melakukan sesuatu pada Bundanya.
“Bunda, aku mau ice cream lagi!” Pinta Arbi tiba-tiba.
Ana lantas menoleh menatap anak itu.
“Arbi mau ice cream lagi?” sahut Ana bertanya. Arbi lalu mengangguk cepat.
“Kamu sudah menghabiskan 10 cup ice cream, bukankah itu berlebihan namanya?” cerca Bara pada Arbi.
Arbi lagi-lagi mengerucutkan bibir dan alisnya. Tatapannya seperti mengajak peperangan pada Bara.
__ADS_1
Eh.
“Itu baru 10 cup, belum sampai 20 cup.” Tukas Arbi menjawab.
“Tapi hanya 1 cup saja ya, sayang? Karena kamu sudah banyak makan ice cream hari ini. Takutnya, gigi kamu juga ikutan manis.” Sanggah Ana pada Arbi.
“Manis?” tanya Arbi penasaran.
“Iya, manis. Kalau gigimu manis, berpotensi menyebabkan terjadinya lubang pada gigi. Bila sudah berlubang, akan sulit merawatnya. Harus melakukan penambalan, atau pula mencabutnya.” Celoteh Ana menjelaskan.
“Tapi kan, aku sikat gigi Bunda.” Rengek Arbi dengan ekspresi sedu.
“Sikat gigi tidak menutup kemungkinan gigi kamu tak bisa berlubang, sayang. Berlebihan mengonsumsi makanan manis juga tidak baik untuk kesehatan.” Jelas Ana.
“Terus, aku harus bagaimana Bunda?” tanya Arbi bingung.
Bara terkekeh mendengar ucapan Arbi. Dan langsung memangku Arbi diatas tubuhnya.
Cup!
Bara mengecupi wajah imut nan manis Arbi. Karena gemas melihat tingkah lucu malaikat kecilnya.
“Ayah, geli!” tukas Arbi menjauhkan wajahnya dari Bara. Seraya tertawa renyah karena perbuatan Ayahnya.
“Sayang... sudah semakin siang, waktunya kita pulang.” Ucap Ana pada mereka berdua yang tengah asyik bercanda.
Bara dan Arbi langsung menatap Ana secara bersamaan. Keduanya terlihat memberi hormat pada Ana. Seperti petugas upacara yang menghormati pemimpin pasukan nya.
“Siap, Bunda!” jawab Bara dan Arbi serentak.
“Pfftt! Yuk, pulang!” ajak Ana, diiringi tawa kecil. Seraya mengelus lembut kedua wajah mereka.
Namun ada yang lebih bahagia lagi dibandingkan menghabiskan makan di restoran itu. Arbi, begitu senang karena bisa menikmati kebersamaan bersama Ayah dan Bundanya. Dari raut wajahnya, gurat senyum kecil Arbi terus mengukir. Antara sebuah ice cream dan keharmonisan keluarga.
Arbi bahagia dua-duanya.
~
Jam terus berputar, dari siang berganti malam. Sinar kilauan mentari perlahan tenggelam. Tergantikan oleh sinar rembulan yang berdiri tegak di atas langit hitam. Menyinari gelapnya malam.
Perubahan waktu yang kian berputar dari hari ke hari. Dan terus bersama dengan orang yang sama. Melihatnya kian mendekat hingga tak mengisi celah jarak sedikit pun pada keduanya. Banyak yang bilang, hubungan itu akan membosankan. Menjenuhkan, serta memuakkan.
Karena kita, hanya akan terfokus pada satu orang. Dan cinta yang satu. Tidak berganti atau pula melebur tak berarah. Tidak, Ana dan Bara bukan seperti itu. Hubungan mereka justru sebaliknya dari yang orang lain katakan.
Kian mengerat, dan menambah kecintaan satu sama lainnya. Kesetiaan Bara begitu dalam mencintai Ana. Perilaku yang sulit untuk di lakoni pada orang yang enggan untuk setia. Karena kesetiaan itu mahal harganya. Dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkelas.
Tidak melulu soal harta. Tapi kepribadian dan sikap terhadap masing-masing pasangan. Dalam menjaga cinta suci keduanya. Hingga tidak memberikan celah sedikit pun bagi siapa pun yang masuk ke dalamnya.
Rumah, yang sudah mereka bangun sedari kecil. Lalu berubah menjadi besar nan megah. Tak membiarkan siapa pun tamu memasuki rumah itu. Baik itu kupu-kupu atau pun lalat yang beterbangan. Mencoba menerobos masuk dan teringin merusak dinding pembatas nya. Pertahanan yang kokoh terhadap bangunan itu.
Seperti itulah, makna cinta Ana dan Bara.
Rengekan suara bayi memenuhi ruang kamar kedua pasangan itu. Ana tampak kesulitan, bila mengurus Ara dan Arez sendirian. Terlebih, Bara sejak siang tadi harus balik lagi ke perusahaan. Dengan terpaksa, Ana menyuruh dua orang pelayan untuk membantunya.
Tampaknya, Ana sangat menanti kepulangan Bara dari perusahaan. Rasa lelahnya mengurus Ara dan Arez membuatnya teringat pada Ayah dari kedua bayinya. Ana membutuhkan Bara. Tapi sayangnya Arbi sudah lebih dulu menggantikannya sesaat.
"Bunda, aku mau liburan. Kita kan, belum pernah berlibur kemana pun." Rengek Arbi tiba-tiba. Saat keduanya tengah berada di atas ranjang. Saling berpeluk manja sembari menonton acara kartun kesukaan Arbi.
Sementara Ara dan Arez, sudah sejak tadi tertidur di dalam keranjang mereka. Anak-anak bayi memang sering tertidur. Tidak memandang waktu. Baik pagi maupun siang atau pula malam. Yang mereka lakukan tidak jauh dari kata bangun dan tidur.
__ADS_1
Bangun karena lapar dan haus. Dan tidur karena sudab kenyang serta mengantuk. Ya, itulah bayi. Tapi mereka sangat menggemaskan, bukan?
"Kamu mau liburan kemana?" Tanya Ana.
"Hm... kemana ya, Bunda?"
"Loh, tadi katanya mau liburan. Kamu ternyata bingung, ya?" Sambung Ana berucap. Sembari mengecupi wajah imut Arbi.
"He he he, aku kan tidak tahu Bunda."
"Bagaimana kalau kita ke disneyland paris?" Usul Ana.
Tempat yang disukai anak-anak. Tidak hanya mereka, tapi orang dewasa pun juga menyukainya.
"Mau, mau, mau! Aku mau, Bunda." Ujar Arbi bersemangat.
"Mau apa? Kok, Ayah tidak diajak?"
Tiba-tiba terdengar suara Bara yang ikut nimbrung dalam obrolan kedua anak dan Ibu itu.
"Sayang? Kok baru pulang, sih?" Tanya Ana merengek manja. Menyambut kedatangan Bara.
"Maaf, sayang. Ini gara-gara Pak John yang enggan menggantikan tugas-tugasku di perusahaan. Aku jadi semakin rindu sama kamu." Tutur Bara mendengus sebal. Seraya memeluk mesra Ana.
Cup!
Bara mendaratkan kecupan di kening Ana. Dan mengecup juga pada wajah imut Arbi. Yang kedua matanya terfokus menonton kartun di layar televisi itu.
"Tadi heboh banget, sekarang mendadak diam." Tutur Bara pada Arbi.
"Arbi mau liburan, katanya." Sambung Ana.
"Boleh, mau kemana?" Tanya Bara penasaran.
"Ke disneyland paris, Ayah!" Jawab Arbi tiba-tiba.
"Wow, berarti kita akan ke Prancis? Akan memakan waktu berhari-hari kalau begitu." Lanjut Bara berucap.
Arbi tampak memagut-magutkan kepalanya.
"Kamu nggak apa-apa dengan pekerjaanmu, sayang?" Tanya Ana sedikit cemas.
Bara lantas menggeleng pelan.
"Kan, ada Pak John. Lagi pula, hanya satu minggu. Aku juga bisa kerja dari sana. Lewat daring, sayang." Tutur Bara.
Ana tersenyum tulus seraya mengangguk pelan.
Tiba-tiba Ana mencium bau asam kecut dari tubuh Bara yang berkeringat. Sepertinya lelaki tampan itu membutuhkan air segar untuk membersihkan tubuhnya dari polusi udara. Serta hawa apek dari bajunya.
"Mau mandi?" Tawar Ana. Karena merasa jengah dengan aroma tubuh Bara.
"Mau, kalau kamu yang mandikan. Gimana?" Balas Bara berbisik di telinga Ana.
Mendengar bisikan itu, membuat bulu kuduk Ana merinding seketika. Tak dapat berkata-kata. Melainkan hanya membalas dengan satu cubitan di hidung bangirnya.
Waduh!
Amsyong!
__ADS_1
Eh.