
“Aw... aduh.. perutku..” Keluh Ana. Sontak lelaki itu langsung menggendong Ana dan merebahkannya ke ranjang.
“Berhenti menyentuhku brengsek! Aku bukan Istrimu! Kamu bukan Bara! Aw.... aduh.... sakit sekali.” Umpat Ana.
Lelaki itu justru tidak menggubris ucapan Ana. Dia justru semakin berani menyentuh perut Ana dan mengelusnya dengan lembut. Dan anehnya rasa sakit itu hilang seketika. Ana kembali membaik keadaannya.
“Apa masih sakit?” Tanya lelaki itu. Ana menggeleng.
“Kamu sudah makan?” Tanyanya lagi. Lagi-lagi Ana menggeleng.
“Aku belikan dulu kalau begitu, diam dan jangan bergerak kemana pun.” Ana hanya mengangguk paham.
Aneh sekali orang itu, kalau memang dia Bara, sudah pasti akan manja dengan tingkahnya yang konyol. Namun, dia tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia itu Bara. Sikapnya yang dewasa dan tak banyak bicara membuat pandangan Ana terhadapnya memandang bahwa dia bukanlah Bara. Namun, pengakuannya mengenai pernikahan itu membuat Ana kembali bimbang dan penuh tanda tanya. Sebenarnya dia memang Bara atau bukan, lalu kenapa dia tak berada di luar negeri? Gumam Ana dalam hati.
Selama lelaki itu pergi keluar untuk membeli makanan, Ana hanya diam di atas ranjang dengan posisi selonjoran sambil membaca buku cerita. Sepertinya buku anak kecil yang Ana baca. Sesekali Ia mengusap perutnya dan mengajak bayi di dalam perutnya berbicara. Tanpa Ia sadari, bahwa lelaki itu telah tiba dan tengah memperhatikan Ana sejak Ia kembali datang. Tak seperti Bara yang asli jika keluar membuang waktu tiga puluh menit, apakah memang dia bukan Bara? Lantas untuk apa dia mengaku sebagai Bara, dan bahkan mengarang cerita kalau dia adalah Bara.
“Aku belikan makanan kesukaanmu, nasi ayam teriyaki. Lengkap dengan rujak buah mangga muda.” Ucap lelaki itu. Tunggu, dia bisa sedetail itu mengetahui semuanya. Sebenarnya dia itu siapa sih?
“Terima kasih!” Ucap Ana sambil mengambil beberapa bungkusan makanan yang dibawa oleh lelaki itu. Dan lelaki itu hanya tersenyum sesaat.
“Aku suapi ya?” Sontak Ana terkejut mendengar ucapannya. Biasanya Bara yang selalu minta untuk disuapi. Tapi kenapa dia yang justru menawarkan diri untuk menyuapi. Fiks, dia bukan Bara.
“Gak perlu, aku bisa sendiri.” Ucap Ana menolak.
“Kamu masih belum percaya kalau aku ini Bara?” Tanya lelaki itu. Ana diam tak menggubrisnya, dengan lahap Ia memakan makanan itu.
“Apa perlu, aku cukur kumis dan berewokku ini? Agar kamu percaya?” Ucapnya lagi. Seketika Ana menghentikan makannya dan menoleh ke arahnya.
“Buat apa kamu lakukan semua itu? Kamu memang bukan Bara! Bara yang kukenal selalu bersikap manja.” Dengan lantang Ana berucap.
“Huh, jadi kamu mengingatku hanya karena aku manja ya? Aku sudah berubah sayang. Kamu Istriku, cintaku. Masih ingatkan? Kata-kataku yang gak pernah berubah.” Ucapnya tenang. Namun itu yang membuat Ana semakin emosi.
“Stop mengatakan kalau kamu adalah Bara! Mana buktinya kalau kamu memang Bara? KTP, ponsel, mana sini tunjukkan!” Ucap Ana. Hayo, gak ada kan? Hahay! Eh.
“Ini KTP ku, dan juga ponsel yang sewaktu itu dijadikan untuk maharmu. Sekarang kamu saja yang pegang.” Tunggu, itu benarkan KTP dan ponsel itu? Tabok author pemirsa, tabok cepat. Eh.
__ADS_1
“I.. itu benaran punya kamu? Ja-jadi, kamu?” Lelaki itu mengangguk dan membawa Ana ke dalam dekapannya. Ana yang awalnya tidak percaya, namun sekarang percaya dan menyadari bahwa dia memanglah Bara. Si bocah kecil yang tengil punya jurus buaya mendekati Ana, sampai timbul adanya penggerebekan di dalam kosan. Ahay! Ceritanya sedang bernostalgia kita bang. Eh.
“Iya cinta, aku Bara! Aku Suamimu yang manja.” Ucap Bara sambil mengusap punggung Ana dan semakin mempererat pelukannya.
“Kenapa baru kembali? Hiks... Hiks... Hiks... Kamu jahat! Kamu jahat Bara!” Ucap Ana tersedu-sedu dan menangi dalam dekapan Bara. Akhirnya, penantian para pembaca dan juga author terkabulkan. Eh.
“Maafkan aku sayang, aku butuh waktu untuk lepas dari jerat dan ancaman keluargaku.”
“Maksudnya? Lalu yang menikah dengan Farah, apa itu juga kamu?” Tanya Ana menatap mata indah itu. Yang ditatap kegirangan. Eh.
“Itu bukan aku yang menikah, tapi orang suruhanku yang menyamar sebagai aku disana. Aku sebenarnya sudah kembali saat dua bulan yang lalu, dan mengasingkan diri ke rumah peninggalan Nenekku di luar kota. Karena disana sepi dan gak ada yang bisa menemukanku disana.”
“Maksudmu, orang suruhanmu yang menikahi Farah? Bagaimana bisa? Kan wajahnya berbeda.” Tanya Ana seakan tidak percaya.
“Semua hal bisa terjadi dalam hidup ini sayang. Dia memakai topeng berlapis kulit manusia yang sama dengan wajahku.”
“Seperti yang dilakukan para pemain film luar negeri?”
“Iya, begitulah. Maafkan aku, baru menemuimu sekarang. Aku sebetulnya ingin langsung menemuimu saat itu, tapi keluargaku mempunyai mata-mata untuk melihatmu dari jauh. Aku takut terjadi sesuatu padamu, dan juga anak kita.” Sontak Ana menatapnya sendu, dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Bara. Uh, romantisnya kalian. Eh.
“Aku tahu, Arka melakukan itu karena dia menyukaimu kan? Yang penting sekarang aku sudah kembali sayang.” Bara mengecup mesra kening Ana.
“Aku mencintamu, Bara.”
“Aku lebih mencintaimu, Ana sayang.” Ucap Bara berbisik dan memeluk erat Ana.
Setelah berbulan-bulan sudah mereka berpisah, sejuta kerinduan yang tersimpan lama kini terbayar sudah dengan bersatunya kembali cinta mereka. Kehangatan cinta dan kasih yang Ana rindukan pada sosok Bara kini menjadi nyata. Sikap Bara yang sekarang sudah mulai ada perubahan. Entah kenapa sudah tidak begitu manja seperti sebelum Ia pergi dulu. Atau mungkin Bara memaklumi dengan kehamilan Ana yang semakin membesar, karena seorang Ibu hamil butuh perlindungan dan kasih sayang lebih dari Suaminya.
Mereka kembali memadu kasih, meskipun dalam keadaan Ana yang tengah hamil besar. Namun dengan lembut Bara memperlakukannya. Cinta Ana semakin besar untuk Bara. Pun sama halnya rasa cinta Bara pada Ana. Tak ada yang bisa memisahkan hubungan mereka, meskipun Arka tak jauh lebih baik dari Bara. Namanya cinta, susah untuk berpaling bukan.
Sementara di Aussie, keluarga Kertajaya tidak ada satu pun yang mengetahui bahwa putra mereka telah pergi dan kabur dari pernikahan itu. Pernikahan yang di selenggarakan oleh mereka untuk Bara dah Farah. Yang mereka tahu, Bara telah resmi menikah dengan Farah. Wanita pilihan Ny. Kertajaya. Namun siapa sangka, yang menikah dengan Farah adalah orang suruhan dari Bara. Lelaki berusia tidak berbeda jauh dengan usia Bara yang masih belasan tahun.
Flashback saat dua bulan lalu, Bara di sekap oleh Mamanya di sebuah kamar di kediaman rumah Kertajaya yang berada di Aussie. Sebab Bara berontak dan tidak bisa diajak bicara baik-baik dalam membicarakan pernikahannya dengan Farah, dan berusaha untuk kabur. Ny. Kertajaya memasukkan Bara ke salah satu kamar lalu menguncinya dari luar. Selama seminggu, Bara di sekap. Karena belum ada tanda-tanda Bara menyerah dengan keputusan Mamanya.
Sampai suatu ketika, Bara menelepon seseorang untuk membantunya. Orang suruhan yang Ia percaya selama ini bernama Ali. Dengan mentransfer sejumlah uang ke rekening Ali agar Ia menyusul Bara ke Aussie. Awalnya dia menolak permintaan Bara, namun karena rupanya dia sudah lama menyukai Farah. Dengan senang hati Ia menerima bantuan itu.
__ADS_1
Ali tinggal di dalam rumah keluarga Kertajaya yang berada di Indonesia, Ia bekerja sebagai ajudan atau orang kepercayaan Bara sedari Bara berusia delapan tahun. Saat itu, Ali juga seusia dengannya diajak oleh asisten kepercayaan keluarga Kertajaya untuk mengenalkannya pada Bara. Rupanya Bara menginginkannya untuk menjadi temannya, sejak itulah hubungan mereka sangat dekat. Saat hubungan Bara dengan Farah di masa lalu dulu, Farah memang sering datang ke rumah. Sejak pertama kali Farah menampakkan dirinya di depan Ali, Ia mulai mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh Farah. Lambat laun gerak-gerik Ali pun ketahuan oleh Bara.
Awalnya Bara sempat marah, tapi sejak dimensi kejadian yang dilakukan oleh Farah di belakang Bara ketahuan. Sejak itulah Bara sudah melupakan hubungannya dengan Farah. Pun Ia juga tak segan memberikan Farah pada Ali. Lebih kasihan jika Ali tidak mengetahui siapa Farah yang sebenarnya. Yang ada di pikiran Ali hanya kecantikan wajah yang dimiliki oleh Farah membuatnya terkagum-kagum.
~
Balik lagi dengan hari pernikahan yang direncanakan oleh keluarga Kertajaya pada Bara dan Farah. Farah yang kegirangan dan tertawa bahagia, karena sebentar lagi Ia akan menikah dengan lelaki yang susah payah Ia taklukan selama bertahun-tahun belakangan. Bara dulu pernah menjalin hubungan dengan Farah, saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Namun, dengan tanpa rasa bersalah Farah bermain api di belakang tanpa sepengetahuan Bara. Farah diam-diam menjalin hubungan dengan musuh Bara.
Orang yang sama-sama memperebutkan Farah pada saat itu dengan Bara. Sampai akhirnya terjadilah perkelahian diantara keduanya. Saat itu, Farah lebih memilih Bara dibandingkan dengan dia. Ya, dia bernama Kevin, bukan seorang anak yang lahir dari keluarga kaya seperti Bara. Sebenarnya Farah memilih Bara karena dia berasal dari keluarga kaya, dan bisa memanfaatkan kekayaannya untuk kesenangan semata.
Farah pun juga tak kalah kaya dengan Bara, namun tak ada yang tahu kalau perusahaan Papanya jatuh bangkrut. Itulah yang membuat Farah kembali mengejar cintanya Bara, demi mendapatkan harta dan kekayaan dari keluarga Kertajaya. Sementara Bara sudah mengetahui semuanya, setelah Arka memberitahu yang sebenarnya. Arka memberitahu Bara saat Farah tengah memesan kamar di sebuah hotel bintang lima bersama dengan seorang lelaki. Sampai akhirnya mereka berdua mengikuti dan memergok langsung ke dalam sana. Bara tak menyangka kalau Farah dengan tega bermain api dibelakang-Nya.
“Bara! I.. ini gak seperti yang kamu lihat sayang. Aku bisa jelaskan semuanya, Bar. Aku..” Ucap Farah saat kepergok oleh Bara dan Arka saat melakukan adegan panas dengan Kevin di dalam kamar hotel.
Dengan tubuh yang sama-sama tak memakai sehelai apa pun, dengan cepat Farah menutupinya dengan selimut tebal itu. Sementara Kevin langsung memakai celana bokser nya.
“Gak usah Lo tutup segala tuh badan. Malu? Ha ha.” Ucap Arka sinis dan menatap jijik ke arah Farah dan Kevin yang hanya diam dan tertunduk malu.
“Ka, cabut!” Ucap Bara mengajak Arka untuk meninggalkan mereka berdua.
“Tunggu! Bara! Aku gak mau putus, Bar! Aku bisa jelaskan semuanya, Bara.” Ucap Farah. Sontak Bara menghentikan langkah kakinya untuk pergi.
“Dengar, jangan pernah Lo tampakkan muka Lo di hadapan Gue lagi! Dan buat Lo?” Ucap Bara menunjuk Kevin.
“Ambil aja, Gue ikhlas melepas dia sekarang. Langgeng ya Lo berdua.” Ucap Bara lagi. Tak lama setelah Bara berbicara, dengan cepat Ia pergi meninggalkan tempat itu lebih dulu di depan Arka. Sementara Arka masih berdiam diri disana.
“Ha ha ha. Hebat, hebat! Abis melakukan yang enak-enak sama cowok lain, eh tetap gak mau putus lagi. Takut gak bisa dapat-in harta nya Bara ya? Ha ha ha. Licik juga ya Lo! Tapi sayangnya Bara gak sebodoh itu girl. Good luck buat Lo berdua. Lanjutkan pergumulan panasnya yang tadi, Gue cabut!” Ucap Arka lalu pergi dan menyusul Bara yang sudah lebih jauh di depan.
“Lo sih gara-garanya ajak Gue kesini segala. Ketahuan kan Gue sama Bara! Gak mau tahu pokoknya Lo harus bantu Gue buat bujuk Bara supaya mau balik lagi sama Gue, Vin!” Ucap Farah. Dasar ******, kagak tahu diri tuh empuan. Hadeuh!
“Enak aja main salah-in Gue. Lo juga menikmati kan? Ha ha. Soal Lo sama Bara, sorry to say. Gue gak bisa bantu, masalah Gue sama dia udah selesai.” Ucap Kevin terkekeh.
“Dasar brengsek! Mau enaknya aja ya Lo? Giliran disuruh tanggung jawab gak mau. Minggir, Gue mau pakai baju!” Umpat Farah kesal.
“Gak lanjut-in yang tadi? Gue kepingin lagi soalnya he he.” Ucap Kevin menggoda. Dasar buaya, ternyata ada yang lebih buaya dibanding Bara. Ini manusia satu ini nih. Si ular dedemit pasukan siluman. Eh.
__ADS_1
“Ogah! Udah gak ***** Gue sama Lo! Minggir Lo!” Ucap Farah yang sudah selesai memakai pakaiannya dan bergegas untuk pergi meninggalkan Kevin sendirian di dalam hotel itu.