
Hari terus berjalan, dan waktu tidak terasa berlalu begitu cepat. Bu Ayu dan Pak Ali memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Karena usaha pertaniannya tidak bisa mereka tinggalkan. Pun juga mereka sudah tenang karena telah mengetahui kehidupan Ana yang sekarang. Ia sudah tidak begitu mencemaskan Ana, karena sudah ada Bara di sisi nya yang akan menemani hari-harinya.
Bu Ayu yakin kalau Ana bisa merawat Arbi dengan baik. Karena sedari usia belasan tahun, Ana sangat menyukai anak kecil. Ana bahkan pernah menjaga anak dari bibi nya yang masih balita. Memperlakukan keponakannya seperti anaknya sendiri. Ditambah lagi saat ini, Ana juga telah bersuami, Bu Ayu tidak salah menitipkan cucunya pada Ana dan juga menantunya.
.........
Sementara di Aussie sana...
Ramli alias Ali, orang suruhan Bara yang menyamar wajahnya dan menikahi Farah, nasibnya kini sedang di ujung tanduk. Farah sudah mulai curiga dan diam-diam mulai mencari tahu. Ada perbedaan yang jauh dengan Bara asli dengan Bara palsu. Sementara Ny. Kertajaya masih belum tahu akan hal itu. Tapi rupanya Farah, ia mulai mencurigainya.
Bara yang ia kenal tidak mudah untuk memaafkan kesalahan. Apalagi sejak hari pernikahan itu, Bara berkali-kali menyetubuhi Farah. Ia bahkan tidak mengingat kejadian lalu yang dilakukan Farah padanya. Ya, Farah bermain api di belakangnya bersama dengan Kevin, musuh bebuyutan nya. Seharusnya ia merasa jijik, jika ingin meniduri Farah, tapi Bara sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda itu padanya.
~~
Saat ini mereka telah berpindah rumah dan menetap tinggal di sini. Begitu juga dengan keluarga Kertajaya. Kedua orang tua Bara menjalankan bisnisnya agar terus maju dan berkembang disini. Itulah mengapa mereka memaksa membawa Bara pergi untuk pindah ke sini. Apalagi Bara telah dijodohkan dengan wanita pilihan Ibunya, yakni Farah.
Sudah berbulan-bulan penyamaran Ramli belum juga diketahui oleh keluarga Kertajaya. Meskipun begitu, ia tetap saja mulai dicurigai oleh Farah. Karena mereka hanya tinggal berdua di apartemen yang terpisah lantainya dengan Ny. Kertajaya bersama dengan Tuan besar, ayahnya Bara.
Tidak tahu nasib Ramli akan bagaimana, jika mereka semua tahu yang sebenarnya. Begitu juga dengan Bara yang saat ini sudah di Indonesia.
“Gue mulai merasa ada yang beda sama Bara.” Gumam Farah dalam hati, saat tengah memperhatikan Suaminya dari jauh, saat ia mau memasuki dirinya ke dalam toilet.
Jelas saja Farah mulai curiga, sebab Ali tidak pernah mencuci wajahnya di depan Farah. Ia tak pernah melihat Ali memakai skincare atau apa pun ke wajahnya. Yang Farah tahu, Bara termasuk orang yang gemar merawat kulitnya. Sementara Bara yang ia lihat sekarang berbeda. Dan yang lebih menonjol adalah, suara nya.
“Sayang, kamu kok aku perhatikan wajahmu berubah-ubah ya?” Tanya Farah pada Ali yang saat ini sudah selesai dengan urusannya dari dalam toilet.
“Berubah-ubah? M-maksud kamu?” Jawab Ali gugup. Gawat, Farah mulai curiga sama gua! Gumamnya dalam hati.
“Iya, berubah-ubah. Kadang kulit wajah kamu kayak keriput banget. Kadang juga enggak. Kenapa sih? Kamu pake apaan memangnya?”
“Ah... itu.. enggak p-pake apa-apa kok. Kayaknya kamu salah li.. lihat deh.” Tutur Ali beralasan.
“Yakin kamu?”
“I.. iya yakin. Memangnya kenapa sih, kalau aku keriput? Kamu malu ya? Punya Suami yang udah mulai keriput.”
“Ya enggak sih, aku cuma heran aja.” Jawaban Farah disertai sorot mata yang tajam melihat postur wajah Ali secara intens.
Duh gawat.
“Kamu kenapa perhati-in aku terus dari tadi? Yang semalam, masih kurang?” Tanya Ali menggodanya. Mencoba menghilangkan rasa penasaran Farah yang takutnya akan semakin jauh mencari tahu.
“Ah kamu, bisa aja.” Ucap Farah manja.
Dasar ******! Huh!
“Gak mau dilanjut lagi sekarang?” Ali tampak memprovokasi menggoda Farah lagi.
“Kamu gak capek memangnya?” Jawab Farah sembari bergelayut manja memeluk Ali. Hiya hiya hiya! Dia gak tahu, kalau Bara yang asli ada di Indonesia.
“Enggak dong, buat kamu apa sih yang enggak? He he.”
Dan terjadilah pergumulan panas diantara mereka berdua.
.........
Ny. Kertajaya sangat sibuk dengan kegiatannya semenjak kepindahan mereka ke Aussie. Tak pernah berpikir untuk balik lagi ke rumah yang ada di Indonesia. Karena ia pikir, putranya sudah ia rebut paksa dan menikah dengan Farah. Entah kalau mereka semua tahu yang sebenarnya. Apakah Bara akan tetap bersama dengan Ana atau tidak. Atau justru Bara akan mendapat hukuman yang lebih parah dari sekadar di sekap seperti waktu itu.
“Gimana kabar Bara dan menantu? Apa mereka baik-baik saja?” Tanya Tn. Kertajaya pada Istrinya saat mereka tengah makan siang di restoran.
__ADS_1
“Sejauh yang aku lihat, mereka baik.”
“Apa belum ada tanda-tanda kehamilan pada menantu?”
“Sepertinya belum, Pah. Mungkin putramu masih ingin pacaran dulu sama Farah. Jangan terburu-buru, kasihan mereka.” Tn. Kertajaya hanya mangut-mangut dan kembali melanjutkan makannya.
“Sejak menikah, dia tak pernah lagi ikut acara pesta makan malam bersama rekan bisnis kita. Aku pikir, dia juga sudah mulai berubah. Apa dia masih sering ke kantor?” Sambung Tn. Kertajaya.
“Aku jarang melihatnya saat ke kantor.” Tutur Istrinya.
Tn. Kertajaya terlihat mengambil ponsel dari saku celananya. Sepertinya dia menelepon seseorang.
Siapa yang dia telepon?
“Mutasi keuangan di kantor sedari beberapa bulan terakhir ini.” Ucap Tn. Kertajaya berbicara di telepon dengan orang yang ia hubungi.
“Apa?!” Tuan besar sepertinya terkejut. Melihat perubahan dari ekspresi wajahnya yang begitu kesal.
Apa yang terjadi?
“Ada apa, Pah? Minum dulu biar tenang.” Sanggah Ny. Besar.
“Anak dan menantu sialanmu itu!” Umpat Tuan besar.
“Ada apa dengan mereka? Kenapa?”
“Mereka mengambil uang sejumlah 100 juta dolar. Kurang ajar mereka! Tidak pernah bekerja di kantor, tapi terus-menerus mengambil dan membobol uang tabungan di kantor.”
Ny. Besar terkejut bukan main. Bukankah Bara selama ini tampak tidak peduli dengan keuangan kantor? Mengapa semenjak ia menikah jadi begini?
“Aku akan buat perhitungan pada mereka!” Umpat Tn. Besar dan berlalu meninggalkan Istrinya sendiri yang masih tercengang mendengar hal itu.
“Aku curiga dengan Farah. Apa Bara mulai terhasut pada dia? Dasar wanita tidak tahu diri! Awas kamu!” Ucap Ny. Besar sambil mengepalkan tangannya.
.........
Rumah Bara dan Ana.
Bara terlihat sangat rajin membereskan pekerjaan rumah. Ia tak ingin Ana terlalu lelah dalam hal ini. Ana hanya diperbolehkan untuk mengurus Arbi serta memasak. Sementara urusan mencuci baju, piring, serta hal lainnya dia sendiri yang mengerjakan.
Tak pernah sebelumnya Bara melakukan pekerjaan itu. Tahu sendiri bahwa Bara adalah putra tunggal dari keluarga Kertajaya. Orang yang mendirikan perusahaan raksasa di Indonesia sejak lama. Bara adalah pewaris bagi keluarga Kertajaya. Makanya tak heran, kalau kehidupan Bara bak seperti raja.
“Sayang, aku udah bilang kan, kamu gak boleh angkat-angkat apa pun. Udah, biar aku aja. Kamu mendingan jaga Arbi.” Ucap Bara seraya mengecup kening Ana.
Ia melihat Ana mengangkat barang-barang untuk dimasukkan ke dalam lemari.
Padahal barangnya pun enteng. Dasar baik, ah beruntungnya Ana.
“Bahan-bahan di dapur masih ada gak sayang?” Tanya Ana seraya menyusui Arbi.
“Masih sayang. Kamu mau masak?”
“Iya, kamu belum makan kan?”
“Belum he he.” Jawab Bara sembari berjalan menghampiri Ana ke tepi ranjang. Setelah ia membereskan barang-barang tadi.
“Kamu mau makan apa? Mau di masak-in apa?”
__ADS_1
“Apa aja, kalau kamu yang masak pasti enak.”
“Ih gombal kamu.” Ana menggelengkan kepalanya.
Bara semakin mendekatkan dirinya pada Ana.
“Katanya tadi mau makan, ini kenapa jadi rebahan di pangkuan aku?” Ana mengelus lembut wajah Bara.
“Kita pesan lewat Go-Food aja ya? Aku gak mau kamu capek. Arbi juga udah nyaman sama kamu.” Duh, pengertiannya Bara. Eh.
“Apa gak boros sayang? Tabungan kamu masih ada memangnya?” Tanya Ana sungkan.
“Masih kok, walaupun gak banyak. Kamu tenang aja, aku juga masih kerja kok. Kan gak jadi di pecat sama dia.” Jawab Bara seraya memainkan jari jemari Arbi yang kecil.
“Iya, tapi kita tetap harus hemat untuk ke depannya.” Tutur Ana sembari menaruh Arbi di tengah kasur. Dasar bayi, bisanya Cuma tidur doang.
“Arbi udah tidur ya..” Gumam Bara.
“Memang kenapa kalau udah tidur? Kamu jadi kan? Pesan makanan di Go-Food.” Ucap Ana menanyakan.
Tapi Bara gelagatnya mulai aneh. Senyum-senyum sendiri menatap Ana.
“Jadi dong sayang. Ini udah aku pesan, kita tunggu aja.” Jawabnya seraya tersenyum menyeringai.
“Kamu kenapa senyum-senyum lihat aku begitu?” Ana curiga.
“Gak apa-apa. Hm, kayaknya kamu harus kasih aku hadiah.” Ucap Bara aneh.
Ulang tahunnya kapan, minta dikasih hadiahnya sekarang. Hadeuh!
“Hadiah? Hadiah untuk apa? Kamu lahirnya bukan hari ini kan?”
“Iya memang bukan sekarang. Tapi hadiah sebagai bentuk kerja keras aku selama ini.”
“Aku gak ada uang. Kamu tahu sendiri kan, kamu yang kasih aku uang. Uang bulanan juga aku simpan sisa nya.”
“Bukan, bukan uang hadiahnya. Uang bulanan yang aku kasih ke kamu semua, gak perlu dikasih lagi. Kamu pegang aja, buat kebutuhan kamu dan rumah tangga kita.” Ucap Bara menggeleng.
“Terus kamu mau hadiah apa?” Tanya Ana penasaran.
Bara semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ana.
“Aku mau hadiah ini.” Bisik Bara seraya mengecup lembut leher Ana.
“Ah... Bara.. sudah hentikan!”
“Aku gak bisa sayang. Kamu terlalu menggoda untukku.” Tutur Bara seraya melanjutkan aktivitasnya.
“Ka-kamu yang b-belikan aku baju-baju haram itu kan?” Tanya Ana dengan napas yang tersengal-sengal.
“Iya, aku senang kamu memakainya.”
Mereka pun terbuai pada kehangatan itu. Ana tak bisa berbuat apa-apa. Lagipula dia juga sudah jadi Suamiku, kan. Ana berkata dalam hati.
“Aku mencintaimu sayang.” Ucap Bara Ana seraya mengecup lembut bibir Ana.
“Aku juga mencintaimu.” Sambung Ana. Dan mereka saling melumatkan kedua bibir satu sama lain.
Pergumulan panas itu pun berakhir. Bara sampai lupa dengan delivery Go-Food yang ia pesan tadi. Entah sudah berapa lama kurir makanan itu menunggu.
Buru-buru ia turun ke bawah hanya dengan memakai celana boxer. Sementara Ana menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut. Dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Arbi.
__ADS_1
Bersambung.....