Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 137


__ADS_3

KRIEK!


Bara membuka knop pintu kamarnya. Dilihatnya wajah imut Arbi yang berdiri di depan pintu itu. Dengan ekspresi wajah kesal. Seraya berkacak pinggang dan menatap pada Ayahnya.


“Kamu suka banget kayaknya, mengganggu ketenangan Ayah dan Bunda.” Gerutu Bara.


Kedua Anak dan Ayah itu saling mengerucutkan bibir masing-masing. Ana yang mendengar suara teriakan Arbi dari luar pun, langsung berganti baju. Dan menghampiri mereka. Yang tengah berdiri di depan pintu kamar itu.


“Seru banget, kayaknya. Kok tidak mengajak, Bunda?” ujar Ana tiba-tiba bertanya.


Arbi menggeleng cepat.


“Bunda salah paham. Aku saat ini sedang marah pada Ayah!” tutur Arbi kesal.


“Marah? Kenapa? Ayah buat salah sama Arbi?” tanya Ana lagi.


“Iya, Ayah tidak menepati janjinya untuk belikan aku ice cream!” tukas Arbi.


“Harusnya memang sekarang, tapi kerjaan Ayah masih banyak. Bagaimana kalau kamu belinya diantar sama Pak John?” usul Bara.


Arbi lantas menggeleng cepat.


“Aku maunya Ayah saja yang belikan.” Pinta Arbi kukuh dengan pendiriannya.


Arbi kecil-kecil sudah berprinsip. Duh, imut nya!


Eh.


“Arbi sayang, kamu tidak kangen pada Kakek dan Nenek?” Ana berganti topik.


Seketika, kedua mata Arbi membulat dan berbinar.


“Kakek dan Nenek?” tanya Arbi penasaran.


“Iya, mereka sekarang sedang berada di halaman belakang.” Balas Ana menjawab pertanyaan Arbi.


Tanpa di duga lagi, Arbi langsung berlari pergi. Kakinya melangkah begitu cepat. Menuju keluar lewat pintu samping. Yang tidak jauh dari kamar Bara. Diikuti oleh seorang pelayan. Mengikuti langkah kaki Arbi. Bertujuan untuk mengawasi setiap gerak-gerik dari anak itu.


“Arbi, pelan-pelan jalannya!” ujar Ana sedikit berteriak.


“Sayang, sudah tidak apa-apa. Ada Mbak pelayan yang mengawasinya.” Balas Bara lembut.


Ana lalu mengangguk pelan.


“Yuk, masuk lagi!” ajak Bara pada Ana. Seraya merangkul punggungnya. Mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Kebiasaan Bara memang tidak jauh dari kamar dan ranjang. Maunya romantis-romantis an. Bermanja-manja pada Ana. Tidak ingin kemana-mana. Selain melakukan aktivitas mesra pada Istrinya.


Aih, dasar Bara.


‘ganti baju lagi, menemani dia lagi duduk di kasur itu’ gumam Ana dalam hati mendesah pelan.


“Kamu pasti capek, ya? Ganti baju terus dari tadi.” Tanya Bara peka.


Cie, peka.


Ana mengangguk pelan, seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Bara.


SET


Bara menaruh laptop kerjanya pada meja yang terletak di sebelah ranjang itu. Lalu kembali mendekap Ana dengan mesra. Mengendus lekuk leher jenjang Ana.


“Maaf... gara-gara aku, kamu jadi disini terus. Seharusnya kan, kamu menemani kedua orang tuamu di halaman belakang. Tapi lagi-lagi aku yang di utamakan.” Ucap Bara sedu.


Cup!

__ADS_1


Ana mengecup lembut wajah tampan Bara.


“Itu bukan salah kamu, sayang. Kamu nggak perlu minta maaf. Setelah menikah, memang yang di utamakan Suami. Karena aku kan, sudah menikah dengan kamu. Tapi Suami yang baik, ialah yang memperbolehkan Istrinya untuk bertemu pada kedua orang tuanya. Dan kamu... adalah Suami yang baik untukku.” Tutur Ana lembut.


Keduanya saling bertatap mata. Bara melekatkan wajahnya pada wajah Ana. Hingga terjadinya tabrakan antara kedua hidung itu.


“Kamu selalu mengerti aku, An.” Ucap Bara lembut.


“Aku nggak tahu lagi mau bilang kata terima kasih apa ke kamu. Karena kamu terlalu baik.” Katanya lagi berucap. Sembari menatap Ana nanar.


SET


Tangan Ana terangkat mengelus lembut wajah Bara.


“Nggak perlu berterima kasih, aku maunya kamu setia. Itu sudah cukup untukku, Bara.” Balas Ana.


“Setia? Aku pasti pemenangnya. Diantara satu juta, atau bahkan milyaran lelaki di dunia ini, sayang.”


“Gombal!” tukas Ana, dan memukul pelan dada bidang Bara.


Ana menjauhkan jaraknya dari Bara. Memilih untuk menyandarkan bahunya pada dinding ranjang.


“Terserah, kamu mau bilang aku raja gombal. Atau apa pun itu. Tapi cintaku memang hanya untuk kamu, Ana.” Ujar Bara serius.


Tangannya terangkat menggenggam jari jemari Ana. Di kecupnya berulang kali. Hingga membuat sang empu menahan tawa. Karena rasa geli pada tangannya. Dengan sentuhan lembut dari bibir Bara.


“I-iya, sayang. Sudah cukup... ah.. aha ha ha!” Ana terkekeh kegelian.


Tidak hanya bermain disana. Bara berpindah dan mengendus lekuk leher jenjang Ana. Lambat laun, kecupannya mulai turun. Dan terbenam pada kedua buah dada milik Ana.


SET


“Bara... jangan di robek!” keluh Ana sebal.


“Baju nya sangat tipis, sayang. Aku tidak sengaja! He he he.” Kekeh Bara tanpa rasa bersalah. Karena sudah merobek baju lingerie kepunyaan Ana.


“Sayang... bajuku jadi robek. Gimana dong?” gumam Ana pelan. Bara lalu mendongak dan menatap Ana.


“Nanti aku belikan lagi yang banyak. Jangan sedih dong, sayang.” Tutur Bara lembut. Seraya mengecup lembut bibir Ana.


Cup!


“Ah, kamu selalu begitu. Kan, sayang uang nya. Dibeli, lalu di robek. Begitu terus, memangnya tidak bosan?” gerutu Ana. Sembari mengerucutkan bibirnya ke depan.


Napas Bara kian memburu. Wajahnya bahkan tidak berpindah kemana-mana. Selain di kedua buah dada milik Ana.


“Sayang... kamu kok, diam aja? Kamu tidur, ya?” tanya Ana lagi.


“Enggak, aku nggak tidur kok.” Sahut Bara sambil tersenyum menyeringai. Setelah mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap wajah Ana yang memerah.


“Ih, kamu tuh! Ngeselin!” Cerca Ana mengomel.


“He he, maaf.”


Kira-kira, Bara ngapain ya?


Eh.


_____


Di halaman belakang.


“Wah, cucu Kakek sudah besar ya, sekarang!” ucap Pak Ali pada Arbi. Sembari menggendong pria kecil itu di punggung lebarnya yang tak lagi muda.


“Hati-hati, Pak! Bapak kan, sudah tua. Nanti kalau encok tiba-tiba, bagaimana?” sarkas Bu Ayu.

__ADS_1


“Ibu tuh, selalu ragu dengan kekuatanku. Lihat ini!” balas Pak Alim sambil menunjukkan aksinya.


Sementara itu, Arbi tertawa riang. Karena sang Kakek yang begitu semangat. Saat menggendong tubuh kecilnya.


Meski kecil, Arbi lumayan berat juga loh!


Eh.


“Kakek, ayo kesana, Kek!!” Teriak Arbi pada Kakeknya. Tubuhnya menduduki kedua bahu Pak Ali. Dan kedua tangan kecilnya menarik-narik rambut hitam bercampur putih itu.


Pak Ali agak mendongak ke atas. Saat Arbi mulai menariknya dengan kuat.


“E-eh, Arbi... pelan-pelan menariknya, Nak! Rambut Kakekmu bisa botak mendadak ini, loh.” Keluh Pak Ali pelan.


“Memangnya sakit ya, Kek?” tanya Arbi polos.


Pak Ali langsung menurunkan Arbi dari punggungnya.


HAP!


Anak kecil itu melompat ke dasar tanah. Tangan mungilnya berkacak pinggang memperhatikan sekitarnya. Lalu beralih menatap sang Kakek yang tiba-tiba berjongkok di hadapannya.


“Loh, Kakek kenapa jongkok?”


“Tadi kan, Arbi tanya Kakek. Sakit atau tidak, iya toh?” Sanggah Pak Ali.


Arbi mengangguk pelan.


“Coba Arbi tarik rambut Arbi pelan-pelan. Nanti kamu akan tahu jawabannya.”


Anak itu benar-benar langsung mempraktikkannya.


“Aw! Sakit, Kek!” teriak Arbi kesakitan. Saat ia sudah membuktikannya langsung.


Teriakan Arbi terdengar sampai ke telinga Nyonya Kertajaya. Yang baru saja pulang dari kelas melukisnya. Dan sangat kebetulan sekali, ia berada tak jauh dari tempat Arbi dan Kakek Neneknya berdiri saat ini.


“Sudah... sudah. Arbi tidak kuat menahan sakit. Jadi, jangan lakukan itu lagi ya, Nak!” ujar Pak Ali pada Arbi. Anak itu lantas mengangguk pelan.


“Maafkan aku, Kek. Aku tidak tahu, kalau rambut itu kesakitan. Ayah pasti merasa kesakitan juga, kan?” tutur Arbi sedu. Matanya berkaca-kaca.


“Arbi! Kamu sedang apa disana, Nak?”


Tiba-tiba, terdengar suara panggilan dari Nyonya besar memanggil Arbi. Bu Ayu dan Pak Ali langsung tergelak kaget. Merasa tidak enak, mereka tengah bersantai di sebuah saung milik keluarganya.


Arbi lalu berlari kecil menghampiri Nenek nya yang satu lagi, Nyonya Kertajaya.


“Nenek! Nenek sudah pulang?” Sahut Arbi diakhiri tanya.


Nyonya Kertajaya mengangguk pelan. Dan mendaratkan kecupan lembut pada pucuk kepala kecil Arbi.


“Sudah. Eh, kamu sedang apa tadi disana? Sepertinya ada orang lain selain kamu.” Sambung Nyonya Kertajaya.


“Iya, mereka Kakek dan Nenekku juga, Nek.” Jawab Arbi sungkan.


“Kakek dan Nenek? Bukannya Kakekmu sudah meninggal? Nenek kamu hanya Nenek saja, kan?” tukas Nyonya besar.


“Selamat sore, Bu. Maaf mengganggu! Perkenalkan, saya Bapaknya Ana. Dan ini Istri saya, Ibunya Ana.” Ucap Pak Ali yang langsung memperkenalkan diri. Setelah memberanikan dirinya dan Bu Ayu untuk menyusul Arbi.


Tidak enak, bagi mereka. Bila hanya berdiam diri saja di saung itu.


Kedua mata Nyonya Kertajaya menatap kedua orang tua Ana dengan tatapan yang kurang bersahabat. Seperti tatapan menginterogasi. Tapi beberapa detik kemudian...


“Ya, saya sudah mendengarnya dari Bara semalam.” Balas Nyonya Kertajaya ramah.


Tunggu!

__ADS_1


Bukankah Nyonya Kertajaya tadi sepertinya tidak menyukai kedua orang tua Ana? Tapi mendadak ekspresinya berubah seketika. Dan bersikap ramah pada mereka.


Rahasia hati manusia—hanya Tuhan yang mampu membolak-balikan nya.


__ADS_2