
Suara alarm berbunyi, menunjukkan pukul lima pagi. Kedua Suami Istri itu terbangun. Mendengar riuhnya alarm terdengar menggema di telinga. Ana beranjak bangun, namun pergelangan tangannya di tahan oleh Bara. Seakan tak diperbolehkan untuk pergi dari sana.
“Kenapa?” tanya Ana.
“Aku gendong, ya?” jawab Bara lembut.
Pagi-pagi dibuat salting, eh.
Ana tersipu malu, tangannya yang sebelah terangkat. Mengusap lembut wajah tampan itu. Senyumnya terukir mengembang di bibir. Pandangannya menatap lembut ke arah Bara. Keduanya jadi salah tingkah sendiri.
Bara terkekeh melihat respons Ana terhadapnya.
“Istriku pagi-pagi udah romantis aja, sih.”
“Aku, romantis? Terus kamu apa?”
“Aku? The king romance.” Bara mengedipkan sebelah kiri matanya.
“Ih.. ngeselin!” Ana mencubit lengan Bara. Dan beranjak bangun dari tempat tidur.
Saat mau memasuki pintu kamar mandi, Ana dikejutkan dengan tangan yang bergelayut memeluknya dari belakang. Kepalanya menoleh ke belakang.
“Bara.” Ucap Ana memanggilnya.
“Hm..” jawab Bara dengan gumaman. Seraya menjatuhkan kepalanya di tengkuk leher Ana.
“Kamu kenapa? Mendadak jadi manja begini,” ujar Ana. Tangannya mengusap lembut tangan Bara yang menyentuh perutnya.
“Gak kenapa-kenapa. Aku suka aroma tubuh kamu. Harum.” Tutur Bara sambil menanggalkan kecupan di leher Ana.
“Kamu gak mau sholat subuh, kah?” tanya Ana datar.
“Ini mau sholat.”
“Ya udah... kalau begitu kamu...” ucap Ana seraya melepaskan dirinya dari dekapan Bara. Di dorongnya Bara ke dalam toilet.
BYURRR!
Ana mengguyur rambut Bara dengan shower.
“Ana... k-kamu t-tega banget, An.” Bara mengigil kedinginan.
“He he he, maaf sayang. Kamu nya lagian, masih bermalas-malasan begitu.” Ana terkekeh, dan kembali mengguyurnya.
“K-kamu ngerjain a-aku, An.” Bara berjongkok kedinginan.
“Udah diam aja, bayi besar harus menurut apa kata Ibu. Paham?!” Ana mengomel.
“K-kamu b-bukan Ibuku, An. A-aku Suami.. Suamimu,” Bara berucap masih dengan suara gagapnya.
“Iya, iya, kamu Suamiku.” Ana berusaha menahan tawa.
“Kamu harus tanggung jawab, An.” Kali ini suara Bara mulai kembali normal.
“Tanggung jawab? Ada juga kamu, yang harus bertanggung jawab sebagai Suami.”
“Iya lah, tanggung jawab buat menghangatkan tubuhku. Gara-gara kamu, aku jadi kedinginan kan.” Bara mendengus sebal.
“He he he, iya sayang... cinta... maaf-in aku.” Ana bersikap manis seraya mengecup sebelah wajah Bara.
“Bukan begitu caranya..” Bara masih marah.
“Kamu jangan aneh-aneh, Bara. Kita belum sholat subuh loh.” Ana waspada.
“Iya, iya.” Bara menyerah.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, keduanya telah menyelesaikan ibadah pagi itu. Bara mendekati Ana, direbahkan kepalanya di pangkuan Ana. Yang masih memakai mukena di tubuhnya. Matanya terpejam, seolah ingin kembali ke dunia mimpi.
“Kamu gak mau ke kantor, pagi ini?” tanya Ana.
“Nanti aja, agak siangan,” jawab Bara tanpa membuka kedua matanya.
Kedua tangan Ana terangkat mengusap lembut wajah Bara. Memainkan hidungnya yang mancung. Tiba-tiba bibirnya Bara tersenyum menyeringai.
“Kamu.. jahil ya.” Ucap Bara. Ana terkekeh sendiri.
“Biarin, wle!” Ledek Ana.
Kedua mata Bara tiba-tiba terbuka lebar. Kepalanya mendongak ke atas. Melihat wajah Ana dari dekat. Tangannya terangkat menarik kepala Ana ke wajahnya. Kedua bibir itu saling bersentuhan. Ana melotot kaget dan tercengang.
DRRRRTTT.... DRRRRTTT.... DRRRRTTT
Suara getaran berasal dari ponselnya Bara. Ana beranjak bangun, dan berjalan ke ranjang. Di ambil ponsel Bara di atas meja kecil sebelah ranjang. Nama Arka tertulis di notifikasi telepon.
“Sayang, Arka telepon nih.” Ujar Ana. Sontak Bara langsung mendekatinya.
“Kamu aja yang angkat,” Bara enggan menjawab.
“Kenapa?” tanya Ana ragu.
“Gak apa-apa, angkat aja.”
Ana mengangguk paham.
[Halo?] -Ana menjawab.
[Loh, Kak Ana yang angkat. Bara nya kemana Kak?] -Arka.
[Bara? Hm... ada kok. Ada apa ya?] -Ana.
[Tolong kasih ke Bara nya dong, Kak. He he, maaf ya Kak.] -Arka.
Sambungan telepon beralih ke Bara.
[Kenapa?] -Bara
[Ke kantor sekarang! Ada hal penting yang mau Gue omongin.] -Arka.
[Di telepon aja, kenapa sih?!] -Bara.
[Haih, oke Gue jelas-in. Bokap Lo udah tahu keberadaan Lo di Kota ini.] -Arka.
[APA?! Lo serius? Tapi mereka semua gak tahu kan? Apartemen yang Gua tempati sama Ana.] -Bara.
[Kayaknya enggak deh, udah Gue amankan lokasi nya. Gua rasa udah gak aman lagi Lo tinggal di Kota ini sama Ana.] -Arka.
[Terus menurut Lo, Gua harus kabur lagi gitu? Kemana? Capek Gua.] -Bara.
[Iya juga sih, gimana kalau kita balik lagi aja ke Jakarta?] -Arka.
[Sama aja dengan menyerahkan diri kam*pret!] -Bara.
[Ya kan mereka bakalan melacak lokasi yang ada disini. Bukan yang di Jakarta, Ana juga kayaknya kangen sama Arbi. Sekalian aja Gue culik anak Lo.] -Arka.
[Makin gila aja Lo, Ka sumpah. Ya udah, gimana baiknya aja. Atur aja semuanya, Gua serahkan semuanya sama Lo.] -Bara.
[Idih bilang aja gak mau ngapa-ngapain. Dasar, tukang merintah.] -Arka.
TUT! Sambungan telepon terputus.
Bara membuang napasnya kasar. Tiba-tiba ia langsung memeluk Ana. Merasa nyaman, bila dirinya ada di dekat Ana.
__ADS_1
“Kenapa? Tadi Arka bilang apa?” tanya Ana bingung.
“Papaku, udah tahu keberadaan kita.”
“Terus kenapa? Kamu takut?”
“Takut, kalau kita bakal terpisah lagi.” Tutur Bara sedu.
“Aku capek, An. Aku gak mau jauh-jauh lagi dari kamu.” Sambungnya lagi.
Ana terenyuh mendengarnya. Tangannya terangkat menepuk pelan pundak Bara. Sebenarnya, ia juga takut. Takut hal itu terjadi lagi. Rasanya begitu melelahkan, menjalani kehidupan bak seperti mata-mata.
Haruskah ia bertahan? Pada hubungannya dengan Bara. Ia bahkan di pisahkan dari anaknya. Rindu akan sentuhan tangan kecil itu. Wajah polos penuh tawa. Dan kulit lembut yang masih sensitif bila di sentuh.
Sampai kapan, dirinya akan menghindari semua itu? Ia juga ingin hidup tenang dan bebas. Bebas dari belenggu kejaran keluarganya Bara. Ana menginginkan pernikahan yang di idam-idamkan wanita lain. Bukan pernikahan yang ia jalani seperti ini.
“Bara... aku.. mau ngomong sesuatu.” Ujar Ana.
“Ngomong aja sayang, ada apa?”
“Aku kayaknya mau nyerah aja.”
“Nyerah? Untuk apa?”
“Pernikahan kita.” Jawaban Ana sontak membuat Bara tercengang kaget.
“Kenapa? Kamu udah gak cinta sama aku?”
“Bukan begitu... aku.. aku lelah Bara. Aku lelah menjalani pernikahan rahasia ini. Aku juga rindu dengan Arbi. Aku ingin hidup tenang, Bara.” Tutur Ana sedu.
“Aku juga inginnya begitu, tapi mau bagaimana lagi? Papaku gak akan menyerah buat memisahkan hubungan kita, An.”
“Kalau gitu, mungkin baiknya kita berpisah aja, Bara. Mungkin kita memang tidak berjodoh, Papamu bahkan sampai saat ini masih enggan merestui hubungan kita. Aku sudah ikhlaskan Arbi, untuk tinggal bersama mereka. Tapi, izinkan aku untuk bertemu Arbi kapan pun aku mau. Karena aku Ibunya, yang sudah melahirkannya ke dunia ini.”
Bara diam tak bersua. Pikirannya berkelana mencerna perkataan Ana. Sebegitu menderitanya Ana, hidup bersamanya. Semua penyebabnya karena Ayahnya.
“Enggak, aku gak mau kita pisah, An. Kamu ngomong apa sih?! Gak ada kata pisah lagi. Aku punya cara lain, supaya hidup kita kembali tenang.”
“Apa?”
“Aku akan bunuh Papaku.”
Ana tercengang mendengarnya.
“Jangan ngaco kamu, Bar.”
“Aku serius, An. Aku juga sudah muak dengan perintahnya. Dulu dia mana ada peduli sama anaknya. Sekarang, malah sok mengatur pada kehidupanku. Aku akan telepon Arka untuk datang kesini.”
“Bara... astagfirullah. Kamu yang benar aja. Aku gak akan setuju dengan rencana kamu.”
“Ini demi kebaikan kita juga, Ana. Aku gak mau kabur-kaburan lagi. Aku juga bisa ambil Arbi dari rumah itu. Kamu pasti kangen banget, kan? Sama Arbi.” Ucapan Bara mulai agak ngawur. Pikirannya benar-benar kacau balau, mungkin.
Di pikirannya, sama sekali tak ada pilihan lain. Selain membunuh
Ayahnya sendiri.
“Bara..... sebaiknya kita memang berpisah saja. Aku gak ingin ada pertumpahan darah antara kamu dengan Ayahmu. Aku juga gak ingin, kamu jadi anak durhaka bagi orang tuamu. Jangan lakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal pada akhirnya, Bar.” Ujar Ana seraya menatap dalam kedua mata Bara.
Bara menggeleng tak percaya dengan ucapan Ana. Begitu menyerahnya pada hubungan ini. Tak ada kata-kata lain lagi selain kata pisah yang ia ucapkan.
“Aku kecewa sama kamu, An. Bisa-bisanya kamu nyerah gitu aja. Kamu gak memikirkan nasibku akan seperti apa nantinya setelah berpisah dari kamu. Aku kecewa sama kamu!”
Bara pergi keluar kamar. Ia memilih untuk berdiam diri di ruang santai.
Sementara Ana, diam terpaku tanpa berkata apa pun lagi. Pandangannya mulai meremang buram. Air mata luruh dengan deras. Menangis tak bersuara, bagai tertusuk duri berkali-kali. Begitu lebih menyayat hati.
__ADS_1
“Maafkan aku, Bara... aku bingung harus berbuat apa.” Ucap Ana tertunduk sedu.
Bersambung....