
Waktu berlalu begitu cepat, hari ini tepat hari ke 7. Dimana Bara akan melakukan resepsi pernikahannya dengan Sofie. Sudah ketujuh hari ini Arka belum mendapat jawaban apa-apa dari Bara. Mengenai nomor telepon yang sudah ia berikan waktu lalu.
“Cepat atau lambat, semuanya tidak boleh terjadi!” ucap Arka pada asistennya.
“Sesuai perintah dari Tuan muda. Beberapa pengawal sudah dikerahkan dan berada di kediaman Kertajaya Group.”
“Siapkan juga penembak jitu secara rahasia. Kuasa hukum dan yang lainnya, semuanya aku serahkan padamu!” tutur Arka lagi.
“Baik, Tuan muda.”
Begitu siaganya Arka menyiapkan segala sesuatunya. Hanya demi seorang wanita, yang bukan siapa-siapa baginya. Tapi dia begitu mengistimewakan Ana. Arka begitu memperhatikan Ana, terlebih lagi pada hubungannya dengan Bara.
‘Kau pikir kau bisa menang melawanku, Sofie? Bermimpilah!’ gumam Arka dalam hati.
Orang jahat, adalah orang baik yang tidak dihargai. -Joker
Arka begitu muak dengan sikap keluarga Kertajaya. Mau sampai kapan, ia masih saja mementingkan egonya? Sementara putranya telah memilih kebahagiaannya sendiri bersama Ana. Namun semua itu rasanya masih belum cukup untuknya. Hanya karena Ana dengan Bara yang berbeda kasta.
Tapi bukan berarti jadi orang yang gak punya hati juga, kan?
.........
Di apartemen Ana.
“An, kamu baik-baik aja, kan?” tanya Gladys pada Ana.
Karena sejak pagi tadi, ia melihat Ana sering melamun tidak jelas. Sesekali bahkan Ana kepergok Gladys tengah mengusap air matanya.
‘Apa Ana menangis? Ya Tuhan, tolong hancurkan wanita perusak hubungan orang itu. Kembalikan Bara pada Ana.’ Gumam Gladys berkata dalam hati.
Ia juga tak sadar bahwa ikut merasakan kesedihan, yang dirasakan Ana sekarang. Gladys berusaha membuang perasaan sedihnya. Dia beranjak bangkit dan menarik lengan Ana. Agar ikut dengannya.
“Gladys, kamu apa apaan sih?! Aku lagi gak kepingin kemana-mana, Dys.” Ucap Ana menolak ajakan Gladys.
“Ana, kamu yakin? Gak mau lihat Suamimu yang menikah hari ini. Dia Suamimu, An! Bukan lelaki lain. Aku akan bantu kamu, ayo bangun!” ajaknya lagi Gladys dengan paksa.
“T-tapi aku gak b-bisa, Dys. Hiks.. hiks..” tutur Ana dengan tangisnya yang pecah seketika.
Gladys menepuk-nepuk pundaknya. Berusaha menangkan pikirannya, meski hanya sesaat. Karena sekarang sudah bukan waktu yang tepat. Untuk meringis kesakitan akibat kesedihan yang mendalam. Tapi sekarang ialah waktunya untuk...
“Merusak semua rencana mereka! Aku akan bantu kamu, buat provokasi semua para tamu yang ada disana. Apa pun itu, akan aku hancurkan, An.” Ujar Gladys begitu tidak sabarnya.
“Udah, Dys. Gak perlu kamu lakukan semua itu. Nanti malah kita yang akan dituntut oleh pihak mereka.”
“Siapa bilang? Arka sudah persiapkan semuanya.” Sontak membuat Ana tercengang kaget mendengarnya.
“Arka?”
“Iya, Arka. Udah ayo, siap-siap sekarang. Kita harus cepat, sebelum semuanya terlambat.”
Ana mengangguk paham dan langsung bersiap-siap bersama dengan Gladys.
.........
Singkat cerita, mereka semua sudah tiba dan berada di kediaman Kertajaya. Gladys datang bersama dengan Ana. Sementara Arka datang bersama dengan pasukannya. Yang semuanya sudah dikerahkan oleh asisten kepercayaannya. Dan lagi, orang-orangnya Arka tengah menyamar sebagai tamu undangan disana.
Terlihat dari kejauhan, Bara turun dari anak tangga bersama dengan Sofie. Lengkap dengan tampilan khas wedding. Yang tidak lain dari memakai gaun putih beserta jas hitam. Ana melihatnya dengan tatapan sedu.
...Sekuat apa pun ragamu menahan duka. Walau hatimu yang lebih dulu terluka. Tidak akan mampu menutupi rasa sakit itu. Bulir bening bisa luruh kapan saja. Saat hatimu kian merapuh, dalam ketidak berdaya an....
...- Gladys...
__ADS_1
“Ana, itu Bara.” Bisik Gladys pada Ana.
Sementara Ana hanya diam saja tanpa membalas. Matanya sudah berkaca-kaca. Seolah tidak dapat terbendung lagi.
‘Oke Gladys, tunggu semua tamu undangan datang. Siapkan mentalmu!’ gumam Gladys dalam hati.
Di lain sisi, Bara terlihat biasa saja menyambut pernikahannya dengan Sofie. Bagaikan seperti robot yang sudah diatur oleh sistem secara otomatis. Tidak ada senyum di raut wajah Bara. Namun berbeda dengan Sofie, yang begitu bangganya dirinya. Menyambut tamu undangan yang sebagian sudah hadir di ruangan itu.
Pov Bara
‘Mengapa rasanya biasa-biasa saja? Bukankah orang yang akan menikah akan merasakan bahagia? Ada apa denganku?’ gumam Bara dalam hatinya.
Pandanganku tidak terlepas hanya untuk memperhatikan para tamu. Bukan pada calon Istriku, Sofie. Aku tidak begitu tertarik menatap wajahnya. Bagaimana bisa, aku merasa kebingungan sekarang. Meski kedua orang tuaku bilang bahwa kami berdua saling mencintai.
Tapi aku tidak merasakan adanya cinta dengan wanita ini. Mataku terus mencari dan memperhatikan pada setiap tamu yang hadir. Entah siapa yang aku ingin lihat. Tapi aku menemukan orang yang masuk ke dalam kamarku, saat beberapa hari yang lalu.
‘Ya, itu dia. Yang memberikan nomornya padaku.’ Gumamku menatap nanar orang itu dari sudut pandang yang jauh.
Aku terus memperhatikan gerak-geriknya. Dia seperti sedang merencanakan sesuatu. Agak aneh, tapi apa yang dia rencanakan? Apa dia mau merusak acara pernikahan ini?
Sampai akhirnya, pandanganku teralihkan oleh seorang wanita.
Yang ku temui saat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Aku begitu penasaran dengan wanita itu. Entah karena pesona nya yang begitu menarik perhatianku. Atau memang ada sesuatu? Yang berhubungan dengan dia.
Pov berakhir.
**
Acara pernikahan akan segera di mulai. Sofie begitu bangganya dan tidak pernah berhenti menampilkan senyum cerianya di depan semua orang. Sementara Bara hanya diam melamun tidak jelas. Entah apa yang dipikirkannya.
“Baik, kita mulai akad nya sekarang. Pengantin pria, harap ikuti kata-kata saya.” Ucap Pak penghulu seraya mengangkat satu tangannya. Dan meminta Bara untuk mengikuti arahannya.
“TUNGGU!” teriak Arka yang tiba-tiba menghentikan semuanya.
“Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan! Karena pengantin pria sudah menikah. Dan saat ini, Istri nya pun sedang dalam kondisi hamil.” Sambung Arka lagi.
Semua para tamu tampak kaget dan tak percaya. Wajah Tuan Brama pun tak kalah khawatir dan cemasnya. Begitu juga dengan Istrinya.
‘Sialan anak itu! Selalu mengusik rencanaku! Dia dengan Ayahnya memanglah sama, tidak ada bedanya. Sama-sama penghancur!’ gumam Tuan Brama geram dalam hatinya.
“Eh kalian dengar itu?” bisik-bisik para tamu.
“Wah, tidak menyangka ya. Tega sekali mereka!”
“Benar, apalagi dengan pengantin wanita itu. Cih, tidak tahu malu!”
“Hei hei hei, pengantin prianya pun juga sama.”
Arka berjalan mendekati Bara. Di susul pula oleh Gladys yang mengekor di belakangnya. Seraya menggandeng tangan Ana.
“Ini Istrinya, Ana. Dan sekarang tengah hamil muda.” Tutur Gladys ikut bersuara.
“Saya ingin mengajukan tuntutan kepada pihak Kertajaya Group. Karena sudah berbuat semena-mena pada wanita yang ¹bernama Ana. Pertama, Tuan Brama sudah memisahkan anak dari Ibunya. Sebelumnya Ana sudah pernah hamil anak pertamanya dengan Bara. Dan anak itu bernama Arbi. Usianya sudah 4 tahun. Mungkin saat ini sedang disembunyikan.” Lanjut Arka.
“Wah, kejam sekali keluarga ini.” Gosip para tamu mulai bertebaran.
“Sudah tua begitu harusnya tidak perlu ikut campur rumah tangga anak.”
“Dengar-dengar pernikahan yang sebelumnya tidak direstui.”
“Iya kah? Kenapa?”
__ADS_1
“Karena wanitanya tidak satu kasta dengan Kertajaya Group.”
“Meski begitu seharusnya tidak harus sekejam itu juga, kan?”
“BENAR! MEREKA MEMANG KEJAM!” sambung Gladys yang tiba-tiba ikut menyuarakan isi hatinya. Setelah mendengar gosip yang dibicarakan para tamu tadi.
Suasana semakin kacau dan rusuh. Para pengawal Tuan Brama dan Arka saling melindungi tuan mereka masing-masing. Arka mungkin yang lebih dulu bertindak.
Wajah sang Tuan besar rumah ini berubah merah dan tiba-tiba...
“AKH! J-jantungku!” keluh Tuan Brama seraya memegangi dadanya.
“Pah.. Papa kenapa?” tanya Istrinya panik.
“J-jantung.. jantungku..” keluhnya lagi dengan wajah yang kian memerah. Dan...
BRUK!
Tuan Brama terjatuh ke lantai. Semua orang yang ada di sana panik. Terkecuali dengan Arka serta Gladys. Meski Ana sudah begitu sering mendapat perlakuan kurang baik dari keluarga ini. Namun, Ana juga tak kalah panik dan khawatirnya.
Pernikahan ini gagal dilaksanakan. Semua para tamu pulang kembali ke rumah masing-masing. Yang tersisa hanya Arka, Gladys, Ana serta Sofie dan keluarga Kertajaya. Mereka membawa Tuan Brama ke rumah sakit. Bara ikut di dalam mobil keluarganya beserta Sofie yang juga turut mengikutinya.
Tinggal Arka dan semua pasukannya. Beserta Ana, juga Gladys yang masih berada di rumah utama.
“Arka, kita sebaiknya ikuti saja mereka.” Ucap Gladys sambil melihat ekspresi wajah cemas Ana.
‘Aku tahu Ana pasti khawatir banget. Dia juga ingin melihat kondisi mertuanya. Meski tidak pernah di hargai. Ana.. kamu terlalu baik, untuk orang yang salah.’ Gumam Gladys dalam hati.
Arka seperti menyadari suasana hati Ana. Ia pun menyetujui perintah Gladys.
.........
Singkat cerita, mereka bertiga telah sampai di rumah sakit. Arka bak seperti Tuan muda mafia. Membawa pasukannya ikut masuk ke dalam rumah sakit. Diikuti oleh Gladys dan Ana. Yang mengekor di belakangnya.
Sesampainya mereka semua di depan ruang UGD. Tempat Tuan Brama di rawat dalam sana. Arka menghentikan langkah kakinya. Pihak dari Kertajaya Group menyadari kehadiran Arka yang juga datang ke sana.
“MAU APA KALIAN KE SINI, HA?! Puas kalian?! Sudah merusak acara pernikahan putraku dan sekarang, kalian mencelakai Suamiku! Hiks.. hiks.. hiks..” umpat Nyonya Kertajaya memaki Arka dan yang lainnya.
“Tante, sabar sedikit. Kita lagi ada dirumah sakit sekarang. Semuanya serahkan saja pada asisten John.” Ujar Sofie dengan wajah ular nya.
Si bermuka dua. Aih!
Pandangan Nyonya Kertajaya beralih kepada Ana. Ia menatap dengan begitu tajamnya. Perlahan langkah kakinya bergerak maju dan mendekati Ana.
PRAK!
Istri Tuan Brama berhasil mendaratkan satu tamparan di wajah Ana. Arka begitu geram dan emosinya. Ia tidak menyadari, kalau Nyonya besar itu berniat untuk menampar Ana. Arka pikir ia ingin memaki dirinya. Namun kenyataannya tidak.
“Dasar wanita penggoda! Tidak tahu malu! Masih punya muka kamu berani datang kesini, ha?! Pergi sana! Kamu yang membuat putraku kecelakaan, lalu merusak acara pernikahannya, dan sekarang kamu juga yang sudah membuat Suamiku terkena serangan jantung. Hiks.. hiks.. hiks..” umpat Nyonya Kertajaya memaki Ana.
Ana yang di maki hanya terdiam diri tanpa membalas sepatah kata pun. Wajahnya murung dan tertunduk sedu. Bulir bening itu luruh tanpa bisa terbendung lagi.
“CUKUP! Anda tidak bisa menumpahkan semua kesalahan kepada Ana. Lihat dan buka mata Anda, Tante! Kejadian ini semua tidak ada hubungannya dengan Ana. Sudah sepantasnya pernikahan putramu hancur berantakan. Karena dia sudah lebih dulu menikah dengan Ana. Kalau Anda masih berani menyentuh Ana sedikit pun, aku Arka Buana, tidak akan segan untuk menghancurkan Kertajaya Group!” jelas Arka.
Wajah Nyonya Kertajaya beringsut berubah cemas. Kakinya perlahan ikut mundur dan menjauh. Hingga kemudian di tahan oleh Sofie. Yang tiba-tiba menahan pundaknya. Bara melihat kejadian itu semua sama sekali tidak membela Ibunya.
Ia justru menghampiri Arka dan Ana tepat berdiri sekarang.
“Apa maksud semua ini?! Siapa sebenarnya Istriku?!” ucap Bara dengan suara lantang. Pandangannya melihat ke segala sisi ruangan itu. Satu persatu orang yang ada disana ikut diberikan tanda tanya oleh ucapan Bara.
“Dialah Istrimu yang sebenarnya, Ana.” Ujar Arka menjawab ucapan Bara. Seraya menunjuk Ana.
__ADS_1
Bersambung...