
Aroma pada tubuh bayi, begitu harum dan menenangkan. Baunya lembut seperti bunga sutra. Membuat siapa saja yang menciumnya, pasti ingin berlama-lama. Serta menyentuh setiap inci pada tubuh mungil itu.
“Wangi banget, sih? Anak Ayah ini.” Gumam Bara seraya mengecupi wajah imut bayi kembarnya.
Ana terkekeh kecil melihatnya.
“Iya dong, Ayah. Aku kan, anak Ayah.” Sambung Ana, dengan meniru suara anak kecil.
“Ih... sayang... gemas, tahu!”
Bara meleyot, mendengar suara Ana yang terdengar seperti anak kecil itu. Kedua bayi kembar itu di pindahkan Bara ke dalam keranjangnya. Perlahan ia berjalan menghampiri Ana. Yang memandanginya tanpa henti. Gurat senyum Bara seketika terukir menyeringai begitu saja.
Cup!
Sebuah kecupan di daratkan Bara pada bibir manis Ana. Keduanya tampak saling pandang. Begitu dalam tatapan Bara. Menatap nanar Ana dengan mata indahnya.
“Kamu selalu buat aku candu... sayang.” Ucap Bara lembut.
“Candu nya, kenapa?”
“Tatapan kamu, senyummu. Aku suka... semuanya.” Ana lantas langsung memeluk Bara.
“Jangan berhenti buat cinta sama aku, Bara. Aku nggak sanggup, kalau seandainya aku kehilangan kamu.” Gumam Ana dalam dekapan Bara.
Tangan Bara terangkat mengelus lembut rambut panjang Ana, yang berwarna cokelat keemasan itu.
“Itu nggak akan pernah terjadi, An. Aku sayang dan cinta sama kamu,”
“Aku juga, sayang dan cinta kamu, Bara.” Tutur Ana membalas kata-kata Bara.
“Selamanya, kita akan terus begini... sayang.” Ujar Bara lembut.
Tok.. tok.. tok
Tiba-tiba suara ketukan berbunyi dari pintu kamar Bara. Kedua Suami Istri itu tergelak kaget. Saat tengah menikmati keromantisan mereka. Namun seketika harus berhenti sejenak.
“Ya?” sahut Bara.
“Tuan muda, ada yang ingin bertemu dengan Anda.” Balas orang yang ada di luar sana. Suaranya terdengar seperti Pak John.
“Siapa?” tanya Bara lagi.
“Tuan muda Arka.”
Bara dan Ana saling memandang satu sama lain.
“Sayang... kamu ganti baju, ya. Ada Arka di luar.” Pinta Bara pada Ana.
“Iya, kamu keluar duluan, ya.” Balas Ana seraya mengangguk paham.
Cup!
Bara mengecup lembut kening Ana, dan perlahan turun ke bibir manis Ana. Barulah setelah itu ia beranjak bangun. Dan pergi meninggalkan kamar.
KRIEK!
Knop pintu itu di putar. Sesampainya di luar, pandangan Bara langsung mengarah pada tamu tadi. Arka datang bersama dengan Gladys. Kelihatannya, mereka sudah lebih lengket dari sebelumnya.
Bisa dilihat dari gerak-gerik Arka. Yang tidak lagi menjaga jarak dengan Gladys sekarang.
__ADS_1
“Kok tahu? Gue sama Ana lagi dirumah utama.” Tanya Bara langsung.
“Tadi kita sempat ke apartemen. Tapi nggak ada yang menyahut. Ya udah, kita datang kesini aja, deh.” Jawab Arka.
“Iya, udah berhari-hari memang. Kita tinggal disini dulu, untuk sementara.” Lanjut Bara.
“Loh, tumben? Kak Ana dimana? Dia nggak apa-apa, kan?” Arka khawatir. Sontak, wajah Gladys langsung berubah masam.
Sepertinya, Gladys cemburu!
Eh.
“Ana di kamar, masih lelah. Karena habis melahirkan.” Tutur Bara menjelaskan.
Gladys dan Arka tergelak kaget seketika.
“Apa? Mereka sudah lahir? Baby twins nya benaran sudah lahir?” Gladys mengulangi pernyataan Bara tadi.
“Iya, mau lihat?” tanya Bara.
“Ya mau, lah. Gimana sih, Ayah muda ini. Suamiku juga butuh motivasi untuk itu. Ya kan, sayang?” gumam Gladys pada Arka.
“Eh, i-iya, benar.” Arka menjawab dengan gugup.
“Masih aja grogi, payah.” Celetuk Bara. Memancing Arka, agar tak lagi menutup-nutupi kemesraannya di belakang
“Ih, apaan sih Bara?! Sok tahu, deh. Arka sekarang sudah jadi lelaki sejati, tahu! Yang nggak tahu, diam-diam aja deh.” cerca Gladys.
“Serius? Bagus, dong.” Puji Bara.
“Gimana keadaan bayinya? Kembar serupa, atau beda? Dalih Arka mengalihkan topik.
“Wah, nggak sabar deh! Ya udah, aku masuk duluan. Minggir!” terobos Gladys, langsung membuka kamar Bara begitu saja.
Bara lantas menggeleng pelan. Melihat tingkah Gladys yang sembrono begitu. Tersisa tinggal dirinya dengan Arka. Yang masih berdiri di luar pintu kamarnya.
“Hm... gimana yang kemarin? Berhasil, kan?” ujar Bara pada Arka.
“Berhasil, tapi sempat di curigai sama Gladys.” Arka menghela napas kasar.
“Apa? Curiga? Ketahuan sama dia, gitu?” Bara terkejut seketika. Arka lantas mengangguk pelan.
“Gue dari awal nggak bilang sama Gladys. Tapi... dia juga yang akhirnya mengambil tindakan.”
Bara terkekeh kecil, seraya menepuk pundak Arka.
“Kayaknya memang serasi, ya. Lo sama Gladys, Gue sama Ana.” Kata Bara.
“Kalau dipikir-pikir, iya juga sih.”
“Ya iyalah! Gladys kan, agresif. Cocok sama es batu kayak Lo, Ka. Kalau Gue sama Ana, Gue nya yang aktif. Eh, tapi Ana juga udah mulai aktif, sih.” Celoteh Bara diakhiri tawa kecil nya.
“Kalau seandainya Gue sama Kak Ana, kira-kira bakal gimana ya?” Arka tampak menerka-nerka.
SET
Bara mengusap wajah Arka kasar.
“Jangan mimpi! Ana udah punya Gue!” celetuk Bara kesal.
__ADS_1
“Hfftt! Tangan Lo bau daging! Habis makan steak Lo, ya?” gerutu Arka sembari mengelap mulutnya berulang kali.
“Ha ha, iya. Tadi makan sama Arbi. Mencoba mengikuti gaya makan nya yang pakai tangan. Enak juga, ternyata.”
“Ya, namanya juga anak kecil. Tapi kalau buat makan ditempat formal, harus pakai garpu dan pisau. Bisa-bisa di usir Lo, Bar!” kekeh Arka.
“Kayaknya seru, tuh.” Gurau Bara.
“Seru, kalau makannya di hutan.” Cetus Arka.
“Wah, apalagi kalau hutan. Makan nya bisa berduaan sama Ana. Nggak akan ada yang ganggu. Apalagi dengar ketukan pintu yang berisik.”
“Ada yang ganggu.”
“Binatang buas? Kan hutannya yang bagus. Bukan hutan rimba.”
“Suka-suka Lo aja, Bar. Gue mau ngelihat Kak Ana. Ayo ah, masuk!” Arka menyudahi obrolan mereka yang agak abstrak itu.
Bagaimana tidak, pembahasannya mulai aneh dan terdengar tidak masuk akal. Arka tak sabar, ingin melihat kedua bayi kembar itu. Rasanya masih belum lama. Arka sempat menemani Ana pada kelahiran Arbi waktu lalu.
“Sebentar, Gue cek dulu ke dalam.” Sergah Bara, menahan Arka agar tidak masuk ke kamarnya.
“Ana belum ganti baju?”
“Nggak tahu, makanya Gue lihat dulu.” Kilah Bara.
Beberapa detik kemudian...
“Masuk aja, Ka!” ucap Bara, memperbolehkan Arka masuk.
“Oke!” Arka tersenyum senang.
Bara berjalan masuk lebih dulu. Sementara Arka mengekor di belakangnya, setelah menutup kembali pintu kamar itu. Sesampainya di dalam, terlihat Ana dan Gladys tengah berbincang-bincang. Terdengar suara tawa renyah Gladys. Entah apa yang ia tertawakan.
Yang jelas, hal ini membuat kedua pria itu penasaran.
"Ngobrolin apa, sih? Seru banget, kayaknya." Ujar Arka tiba-tiba mendekati Gladys. Yang tengah menggendong bayi Ana.
"Ini loh, sayang. Baby nya lucu banget, ih! Aku jadi nggak sabar, mau hamil juga seperti Ana." Sahut Gladys ceria.
"Ya udah, sering-sering kayak begini makanya!" Celetuk Bara. Seraya mengecup lembut kening Ana di depan mereka.
Gladys sontak tergelak melotot tak menyangka. Melihat kemesraan pasangan lain ada di depan matanya langsung.
"Sayang... nggak enak, ih. Ada Arka sama Gladys loh, disini." Bisik Ana pelan.
"Nggak apa-apa, supaya Arka dapat motivasi lagi dari aku." Sanggah Bara.
"Sayang... kayak begitu, yuk?!" Ajak Gladys pada Arka.
"Di rumah kalian aja. Disini itu, tempatnya kita berdua. Ya kan, sayang?" Cerca Bara.
"Ih, nggak adil dong, namanya!" Gladys tidak terima.
Suasana hati Gladys berubah bak air hujan yang berjatuhan ke tanah.
Ambyar!
Eh.
__ADS_1