
Ana mengutuki dirinya, menangis pun tiada guna. Tidak biasanya Bara bersikap begitu. Atau mungkin, Bara sudah berubah.
Ana kembali menelepon ke nomor telepon Bara. Hasilnya tetap nihil, nomor nya masih belum aktif. Ana melempar handphone nya. Menangis dibalik selimut tebal itu.
Suara tangisnya terdengar seperti rintihan. Ana memeluk erat boneka besar yang ada di sisinya. Tiba-tiba ia teringat akan Arbi.
“Arbi..... hiks... hiks... aku rindu Arbi...” ujar Ana sedu.
Perlahan matanya mulai terpejam. Ana terlelap setelah cukup lelah menangis.
KREK...
Suara pintu kamar apartemen terbuka. Bara datang dengan wajah kusut. Pandangannya kosong lurus ke depan. Matanya tertuju pada sosok dibalik selimut tebal itu. Ia mendekatinya dengan hati-hati.
Tangannya terangkat menyelibak selimut itu. Dilihatnya wajah Ana yang teduh dan sedu. Sudut matanya masih basah, efek karena ia menangis terlalu lama tadi. Bara begitu menyesali, karena berulang kali menyakiti.
Katanya cinta, tapi kok nyakitin?
Bara merebahkan tubuhnya di samping Ana. Tangannya terangkat memeluknya dengan sangat erat.
“Sayang... maaf. Aku udah sering bikin kamu nangis. Kata maafku mungkin tak lagi berguna. Dan tak mudah juga untuk dimaafkan begitu saja. Tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk berkata begitu. Maaf... hanya itu yang bisa kukatakan.” Gumam Bara dalam hati seraya mendaratkan satu kecupan di kening Ana.
Hingga mereka berdua terlelap dalam mimpi yang sama. Bara bermimpi tengah duduk di tepi danau. Tiba-tiba ada Ana di pinggiran danau itu. Dan berjalan lambat ke tengah-tengahnya. Bara berusaha menghentikannya. Namun Ana tidak mendengar teriakan suaranya.
“Ana! Jangan kesana An, JANGAN! TIDAKKK! ANA JANGAN!!” Bara mengigau.
Sementara Ana bermimpi, Bara pergi dengan seorang wanita. Dan ia melihat gurat senyum Bara yang terukir di wajahnya. Ketika bergandeng tangan bersama wanita itu. Ana mencoba meraih tangan Bara, namun ditepis oleh tangan wanita yang ada disampingnya.
Bara semakin jauh bayangannya. Dan pergi dari genggamannya. Ana menangis sesenggukan sambil menuntun tangan kecil Arbi. Di sebelahnya ada Arka yang mengusap lembut pundaknya. Arka lalu memeluk Ana dengan begitu eratnya.
“Arka.. Bara, Ka. Bara pergi.. hiks... hiks... Bara pergi, Ka... Bara pergi..... hiks... hiks... hiks... hiks... B-Bara p-pergi...” Tangis Ana dalam mimpi itu.
Arbi melihatnya menangis, tangan kecilnya terangkat. Dan menyeka air mata Ibunya. Ana terenyuh melihat sikap Arbi. Tangisnya semakin pecah tak terbendung.
Arka juga tak sadar bahwa dirinya juga ikut menangis. Arka memeluk erat Ana dan Arbi secara bersamaan. Bayangan punggung Bara bersama wanita sudah tidak terlihat lagi. Hanya ada mereka bertiga disana.
“TIDAAAAKKK!” Teriak Bara dalam mimpinya. Sampai akhirnya ia terbangun. Pandangannya langsung mencari sosok di dalam mimpi itu
ANA.
“Ana.” Ucapnya pelan. Bara mendengar suara rintihan Ana.
__ADS_1
Ana menangis? Gumamnya dalam hati.
Bara langsung memeluknya erat. Menyeka air matanya, dan mengecupnya berulang kali. Hingga Ana terbangun kemudian. Matanya perlahan terbuka, melihat bayangan wajah Bara di depannya.
Ia mengucek-ngucek kedua matanya. Dikedipkan matanya berulang kali. Meyakini diri bahwa itu benar-benar Bara. Dan...
“Bara..” panggil Ana sedu. Bara mengangguk pelan.
Ana langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Bara. Tangisnya pecah lagi, seperti yang terjadi di mimpinya. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Bara.
“Hiks... hiks... Jangan pergi, Bara. Tolong.. jangan pergi! Hiks.. hiks.. hiks.. aku .. aku takut... hiks.. aku takut kamu pergi... hiks... hiks... hiks.....” ucap Ana terbata-bata.
“Iya... sayang. Aku gak akan pergi.. I’m here.” Tutur Bara sedu. Hingga tak sadar dirinya juga menitikkan air mata.
Suasana sedu di dalam kamar apartemen itu semakin menggebu. Bara semakin mengeratkan dekapannya pada Ana. Isak tangis terdengar diantara keduanya. Kemudian Bara merenggangkan dekapannya, di tatapnya Ana dalam-dalam.
Perlahan tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh nafsu. Bibirnya menyentuh bibir Ana. Di kecupnya berulang kali. Hingga terjadi beberapa kali l*m*t*n. Bara mengecup ke seluruh wajah Ana.
Lalu turun ke leher jenjang Ana. Di kecupnya berulang kali. Hingga meninggalkan jejak merah disana. Suasana panas semakin menggebu. Sampai keduanya mengakhiri itu dengan kecupan di kedua bibir masing-masing.
Keduanya memeluk erat satu sama lain.
Ana tidak membalas ucapan cinta dari Bara. Ia justru membalasnya dengan mendaratkan satu kecupan di wajahnya yang tampan. Bara agak salah tingkah dengan perlakuan romantis Ana. Ia tidak romantis dalam kata-kata. Tapi ia romantis dalam tindakannya. Bara membalas kecupannya pada Ana.
Suasana romantis pada sore itu, membuat udara dingin kala itu berubah jadi hangat seketika.
-
Udara malam kala itu semakin dingin terasa. Hingga bulu kuduk di tangan pun berdiri dengan tegaknya. Bara merasakan haus pada tenggorokannya.
Ia terbangun, dan melihat wanita yang ada disampingnya. Ana masih lelap dalam tidurnya, ia tersenyum kecil menatapnya. Lalu mendaratkan satu kecupan manis di bibir Ana, dan juga di keningnya.
Bara berjalan keluar kamar menuju dapur. Yang hanya memakai celana bokser di tubuhnya. Bara membuka lemari pendingin. Diambilnya satu botol air mineral, dan di tuangnya sedikit ke dalam gelas kosong.
GLEK... GLEK... GLEK...
ASMR suara Bara minum terdengar sampai ke telinga pembaca. He he he.
“Hah!” ia menghela napasnya.
Bara masih terdiam duduk di kursi kecil yang ada di dapur. Bayangan di otaknya teringat akan kejadian tadi sore. Yang ia lakukan bersama Ana dengan begitu bergairahnya. Ia tak akan menyangkal, kalau pada akhirnya akan begitu.
__ADS_1
Ia berpikir kalau masalahnya dengan Ana akan berlarut hingga berhari-hari. Tapi ternyata tidak, ia cukup senang dengan kejadian hari ini. Hubungannya dengan Ana kembali membaik. Bara tersenyum kecil mengingat bayangan tadi sore.
“He he he, Ana....” Kekehnya tanpa sadar.
Bara menggeleng pelan mengingatnya lagi. Gurat senyumnya terukir mengembang di wajahnya.
Ia tidak pernah menyangka, kalau pada akhirnya bisa menikah di usia muda. Dan lagi, menikah dengan wanita yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Tapi kini, ia bisa sebegitu cintanya pada Ana. Wanita yang sudah meruntuhkan bongkahan es di hatinya.
Memang benar, jodoh, rezeki, masa depan, serta kematian tidak ada yang tahu. Meski ia sendiri tidak tahu, pernikahannya dengan Ana akan berakhir seperti apa. Tapi yang ia inginkan saat ini ialah, hidup bersama Ana sampai
akhir hayatnya.
......*****......
*Maaf...
Cintaku tak sempurna untukmu,
Isak tangis masih terdengar keluar dari bibir manismu,
Mata indah itu, masih sering basah karena luruhnya bulir bening yang tak dapat lagi terbendung.
Aku tidak pantas disebut sebagai lelaki sejati,
Begitu banyak derita yang kamu alami karenaku.
Sayang, peluklah aku.
Genggam erat jemariku.
Biarkan aku merasakan belaian kasihmu.
Perbuatan manismu, membuatku bisu tak bertumpu.
Aku mencintaimu...
Ana*....
- Bara.
__ADS_1