
Sore ini, kedua orang tua Ana tampak semangat sekali. Membantu membereskan barang-barang serta merapikan segala sesuatunya. Bara benar-benar sudah menyiapkan segala sesuatunya sejak lama. Meskipun rumah ini baru selesai di bangun, ia ternyata juga sudah membeli peralatan rumah tangga yang dibutuhkan. Lemari, tempat tidur, kasur, peralatan dapur, serta kulkas dan lain sebagainya.
Tak salah jika ia benar-benar memanfaatkan kondisinya pada waktu itu. Sewaktu ia masih memegang banyak uang serta fasilitas yang diberikan oleh keluarga Kertajaya padanya. Tapi sekarang, sudah tidak lagi seperti pada waktu itu. Namun ia juga tidak menyesal, karena telah menikah dengan Ana dan harus mengorbankan semua fasilitas yang ada. Bara bisa belajar banyak hal yang ia dapati dari Ana, dan terbiasa hidup sederhana, tidak seperti kehidupannya dulu.
Di kamar, di lantai atas.
Bara sedari tadi memandangi ke arah luar jendela seraya menatap dengan tatapan kosong penuh makna. Ana yang sadar akan perubahan sikap Suaminya jadi merasa khawatir. Sementara baby Arbi masih saja berada di dalam mimpinya, tertidur pulas di sisi Ana yang saat ini tengah berbaring di kasur. Pak Ali dan Bu Ayu, mereka sedang asyik dengan kegiatan mereka di bawah sana.
“Sayang, kamu melamun? Coba sini cerita.” Ucap Ana heran, melihat Bara semenjak kepindahan rumah ini jadi sering melamun.
“Hm, enggak kok. Kamu mau makan? Aku bakal pesan sekarang buat makan sore kita. Ibu sama Bapak juga sekalian aku pesan-in.” Jawab Bara yang justru berganti topik, tanpa menjawab ucapan Ana.
“Sayang, kesini sebentar.” Kali ini Ana memaksanya agar dekat di sisinya.
Bara berjalan menghampiri Ana dan duduk di sebelahnya.
“Ada apa? Kamu gak biasanya kayak begini loh. Cerita sama aku.” Tanya Ana seraya mengelus lembut wajah Bara. Duh, kenapa suasana nya jadi romantis begini ya.
“Hm, aku bingung.” Tutur Bara singkat sambil menampilkan ekspresi sedih.
“Bingung kenapa? Coba kesini cerita.”
“Ini tentang keluargaku, An.”
Sontak ekspresi wajah Ana berubah tegang.
“Ke.. keluargamu?” Tanya Ana gugup. Bara menjawab dengan anggukan.
“Ini masih ada hubungannya masalah waktu itu. Masalah aku kabur dari Aussie dan menyuruh orang lain untuk menyamar dan menggantikan aku di hari pernikahanku dengan Farah waktu itu.” Sambung Bara.
“Apa semua kebohongan itu akan terbongkar?” Tanya Ana gemetar.
“Entahlah, aku rasa iya.” Jawab Bara sembari memandang ke luar jendela. Bara terlihat tak berdaya saat ini.
“Aku takut. Takut hal yang tidak aku inginkan pada waktu itu akan terjadi lagi.” Kali ini Ana yang memulai duluan.
“Kamu gak perlu khawatir sayang. Aku disini. Kita sekarang sudah jadi keluarga. Keluarga kecil kita bersama Arbi. Kita juga sudah punya rumah sendiri, An. Jadi, apalagi yang kamu takuti?” Ucap Bara berusaha menenangkan Ana.
__ADS_1
“Kamu.”
“Aku? Kenapa?”
“Aku takut mereka semua akan mengambilmu kembali. Keluargamu akan merebutmu paksa dariku. Mungkin juga akan lebih rumit masalahnya daripada waktu itu.” Tutur Ana sedu.
Tak kuasa mengingat kejadian lalu. Saat dimana Bara dipaksa untuk pergi meninggalkannya oleh Ibunya. Ana bahkan menjadi lemah dan tak tahu arah saat dirinya ditinggalkan oleh Bara. Beruntung ada Arka yang selalu setia menemani. Tapi dibalik itu semua, Arka berusaha mempengaruhi Ana agar lupa pada Bara dan bersedia menerima cintanya.
Ia dilanda kebimbangan dan kekhawatiran pada dirinya saat itu. Namun nasib baik masih berpihak padanya. Bara pun tiba-tiba saja muncul dan kembali lagi ke hadapannya. Dan setelah kembalinya Bara, justru yang ia cemaskan adalah kedua orang tuanya. Tapi sekarang mereka semua sudah tahu yang sebenarnya.
Ana berpikir bahwa kehidupannya sudah tenang dan baik-baik saja. Setelah kedua orang tuanya tahu ceritanya. Dan sekarang tidaklah lagi. Karena tak lama lagi, kedua orang tua Bara akan mengetahui semua kebohongan ini. Semua yang dilakukan Bara pada gadis itu. Gadis yang bernama Farah, gadis pilihan Ibunya.
Farah adalah wanita yang pada waktu itu akan dinikahkan dengan Bara. Karena hal itu, Ibunya Ny. Kertajaya bersikeras membawa Bara pergi. Ia tak ingin Bara salah dalam memilih wanita. Yang akan menjadi Istrinya, dan menghasilkan anak sebagai penerus bagi perusahaan keluarga Kertajaya. Baginya, Ana bukanlah wanita yang selevel dengan keluarga Kertajaya.
Flashback off
“Sayang? Hei, kamu bengong?” Ucap Bara seraya menepuk pundak Ana. Berusaha menyadarkan.
“Ah.. enggak. Aku gak lagi melamun kok.” Jawab Ana berbohong.
“Bohong, kamu pasti ke pikiran sesuatu kan?”
“Kalau masih mau bohong sama aku? Apa aku perlu melakukan.... ini” Tutur Bara seraya menggelitikkan perut Ana.
“Bara hentikan ah ha ha ha. Tolong berhenti! Ah ha ha. Iya aku jujur sekarang.” Ucap Ana menyerah.
Bara memang kelewatan.
Udah tahu Istrinya baru aja lahir-an, malah digelitik-in. Huh!
“Bener kamu mau jujur?” Tanya Bara sembari menampilkan senyum menyeringai.
“I.. iya. Tapi kamu jangan coba-coba buat apa-apa kan aku.”
“Kenapa? Kamu kan Istriku. Jadi aku bebas mau apa in kamu dong.” Tutur Bara lagi-lagi menampilkan senyum itu. Hei Suneo, dia baru melahirkan. Berpikir logis dong makanya. Hiya hiya hiya!
“Cukup Bara! Kamu udah kelewat batas kali ini.” Umpat Ana memaki. Padahal cuman ngomong gitu doang ya.
“Iya maaf. Aku juga tahu, kalau aku harus menunggu sampai 40 hari.” Ucap Bara sedu. Ana jadi kasihan melihatnya. Duh, kenapa harus kasihan sih An.
__ADS_1
“Sini.” Ana menyuruhnya agar mendekat ke sisi Ana. Dengan ragu-ragu Bara pun mendekatkan tubuhnya.
Tanpa basa basi, Ana memberikan kecupan manis di bibirnya. Ia juga minta maaf karena jadi sensitif dan memarahinya. Bara tertegun melihat sikap Ana yang cepat berubah dalam sekejap.
“Tadi bukannya dia marah, kenapa sekarang malah jadi manis begini.” Gumam Bara dalam hati. Ia sendiri pun jadi salah tingkah karena sikap romantis Ana padanya.
Namun diluar dugaan, Bara justru membalasnya. Ana pikir Bara masih tetap marah padanya. Di sela-sela adegan romantisnya mereka. Suara tangisan Arbi menghentikan aktivitasnya. Mungkin saja bayi kecil itu haus dan lapar.
“Arbi nangis sayang. Kayaknya dia haus.” Ucap Bara menatap lembut ke arah putranya dan beralih menatap Ana.
“Iya sayang. Tapi kita belum beli susu untuknya.” Lirih Ana melihatnya tak tega.
“Kenapa harus beli?” Tutur Bara.
“Maksudnya? Kan memang harus beli, sayang.”
“Kan kamu juga ada susu.” Bara menunjuk ke arah dua p*y*d*r* nya Ana.
Ana tampak menyadari kode yang Bara tunjukkan. Bergegas ia pun menggendong Arbi dan menyusuinya. Ia sendiri lupa, kalau ASI jauh lebih baik. Daripada susu formula biasa. Yang bisa dibeli dimana saja.
“Susu kamu lebih enak loh, dibanding susu formula.” Gumam Bara seraya melihat itu.
“Kamu mau?” Tanya Ana menawarkan.
Jangan lakukan itu Ana, dia akan meminta lebih padamu. Aduh, astaga!
“Bukannya aku tidak boleh?” Jawab Bara sembari mengerucutkan bibirnya.
“Iya, memang tidak boleh.” Ucap Ana lugas.
“Tuh kan.” Bara menghela napas panjang.
Ana tertawa kecil melihat ekspresi wajah Suaminya yang terlihat menggemaskan. Sementara Arbi dengan asyiknya tengah meminum ASI seraya memicikkan kedua matanya menatap ke arah Bara. Gagal berkata jujur pada Bara, Ana hanya mengelus lembut wajahnya, sembari menyusui Arbi yang tengah kehausan.
"Hei bayi kecil, sampai kapan kamu begitu? Aku juga mau!" Tutur Bara dalam hati sebal.
Author terkekeh menulisnya hiah hiah hiah!
Bersambung.....
__ADS_1