Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 91


__ADS_3

"Bagaimana dengan sambutan tadi? Kamu suka?" Tanya Bara pada Ana yang saat ini tengah berada di ruang kerjanya. Duduk di kursi sembari memangku Ana. Mereka masih berada di dalam kantor Kertajaya Group.


"Suka, tapi agak berlebihan buatku." Jawab Ana seraya melihat ke sekeliling ruangan.


"Berlebihan gimana maksud kamu?"


"Begitu di specialkan oleh mereka semua. Aku.. tidak terbiasa, he he he." Ucap Ana terkekeh kecil.


"Untuk kedepannya harus terbiasa, dong. Kan kamu sekarang udah jadi Nyonya muda." Tutur Bara sambil mengecup kening Ana.


"Kamu.. kebiasaan tahu nggak!" Gerutu Ana kaget saat Bara lagi-lagi menciumnya.


"Kenapa? Kan aku Suami kamu."


"Ya tapi kamu gak tahu tempat buat cium aku, Sayang. Kayak tadi, sewaktu di ruang rapat. Kamu terang-terangan memamerkan kemesraan kita." Ana mengerucutkan bibirnya.


"Gemas deh, kamu manja gini. Coba sini, tatap aku." Ujar Bara. Sontak Ana menoleh menatapnya. Yang saat ini tidak berjarak sedikitpun. Antara wajahnya dengan wajah tampan Bara.


Cup


Bara mencium bibir manis Ana.


"Sayang ih! Nanti kalau ada yang masuk ke sini gimana?" Ana khawatir.


Takut banget, An. Kan kalian enggak lagi selingkuh kan. Eh.


"Siapa yang masuk kesini? Gak ada, sayang." Lagi-lagi Bara mengecupnya.


"Pak John, dia kan Sekretaris kamu sekarang."


"Ya terus? Pak John juga udah terbiasa melihatnya."


"Say.." Ucapan Ana terpotong. Karena Bara semakin dalam mengecup bibir Ana. Bara begitu menikmati kemesraan itu dengan Ana.


Ya nggak gitu juga bos, ini di kantor. Eh buset srepet.. tet.. tet. Eh.


Ana berusaha melepaskan ciuman itu. Namun Bara rupanya malah semakin mendekap tubuh Ana. Tak membiarkan Ana merenggangkan tubuhnya sedikit pun.


Burung puyuh, burung ketut, dimakan biawak. Eh.


"Sayang... aku... gak bisa ber-napas!" Tutur Ana terbata. Dengan cepat Bara melepaskannya. Merasa bersalah karena terlalu egois.


"Maaf, aku kelepasan. Kamu belum makan siang kan?" Ujar Bara seraya mengecup lagi bibir itu. Namun, kali ini hanya sekian detik saja.


Ya masa terus terusan, ngab? Aduh buset srepet.. tet.. tet. Eh.


Ana mengangguk paham, detik kemudian Bara mengambil ponselnya. Terlihat di layar ponsel itu tertulis nama Pak John.


"Kamu menguhubungi Pak John? Untuk apa?" Tanya Ana bingung.

__ADS_1


"Suruh bawakan pelayan untuk antar makan siang ke sini. Kamu belum makan, kan?" Ana mengangguk pelan.


"Tapi, apa itu nggak berlebihan, sayang?"


"Enggak dong, mereka sudah terbiasa. Mereka juga di gaji oleh KG."


Dasar horang kaya! Eh.


"Terus, KG itu siapa yang gaji?" Tanya Ana polos.


"Ya para konsumen kita dong, sayang." Lagi, Bara mencium lembut Ana. Kali ini di daratkan di wajah cantiknya.


"Lalu, uang KG siapa yang kelola? Siapa yang menggaji karyawan kamu semuanya?"


"Tadinya Papaku, tapi sekarang aku yang akan mengelola itu semua."


"Hebatnya Suamiku!" Ucap Ana memuji Bara. Disertai kecupan manis di wajah tampan Bara. Seketika wajah Bara berubah merona.


Cie, malu. Ihiy!


"Kok wajahmu merah sih, sayang? Kamu demam?" Tanya Ana. Tangannya menempelkan ke dahi Bara. Mencoba mengecek suhu panas tubuhnya.


"Eh, eng-enggak kok. I'm good, honey!"


"Benaran?" Tanyanya lagi.


"Iya, sayang." Jawab Bara memastikan.


Makanan berat, dessert, maupun minuman susu formula untuk Ibu hamil. Kehidupan orang kaya, memanglah enak. Namun, nyatanya sungguh berat. Tidak semudah apa yang orang lain lihat.


Ya, namanya juga hidup, kan. Kalau gak berat, berarti nggak hidup.


Xixixixixixixi. Eh.


"Tuan muda, mau di taruh dimana semua makanan ini?" Tanya salah seorang pelayan wanita itu.


"Taruh saja di sana." Jawab Bara seraya menunjuk ke arah meja yang berdampingan dengan sofa santai berukuran panjang. Yang langsung mengarah keluar jendela.


Sesudah menaruh semua makanannya. Kedua pelayan itu pergi. Tinggalah Bara dengan Ana lagi.


"Yuk, makan!" Ajak Bara sambil menggendong Ana ala bridal style. Dan berjalan ke arah kursi santai itu. Lalu mendudukinya bak seperti putri.


"Thank u!" Ucap Ana dengan senyum manisnya yang mengembang.


Keduanya duduk berdampingan sekarang. Tidak seperti tadi, saat Ana duduk dipangkuan Bara. Ana mengambil sesendok makanan dan ia suapkan ke dalam mulut Bara.


"Kamu.. nggak makan?" Tanya Bara sembari mengunyah.


Ana menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kamu dulu, Suamiku juga harus kenyang." Ujar Ana lembut. Tangan Bara tiba-tiba terangkat mengelus lembut wajah Ana. Lalu turun menyentuh sendok yang ada di genggaman Ana.


"Ibu hamil juga harus makan." Kali ini Bara yang menyuapi Ana. Keduanya saling tertawa bersama. Namun beberapa saat kemudian. Wajah Ana berubah murung.


"Sayang, kamu kenapa?" Bara khawatir. Ana menggeleng pelan.


"Ada apa?" Kali ini suara Bara lebih dilembutkan. Supaya Ana jujur dengan isi hatinya.


"Aku.. ingin Arbi tinggal sama kita lagi." Akhirnya, Ana berani jujur.


"Arbi? Siapa itu Arbi?" Tanya Bara bingung.


Itu anakmu, bwang. Waduh, sama anak sendiri aja lupa. Aduh buset srepet.. tet.. tet.


Eh.


"Oh iya, kamu kan masih lupa. Arbi itu, anak pertama kita. Dia tinggal dirumah utama keluargamu. Tapi saat acara pertunanganmu dengan Sofie waktu lalu, aku tidak melihatnya. Bahkan hingga detik ini, aku belum melihatnya. Aku.. hiks.. aku rindu... hiks.. hiks.." Tutur Ana sedu, tak tahan lagi menahan gemuruh di dada. Bulir bening itu luruh begitu saja.


"Aku akan katakan ini pada Pak John. Mungkin saja dia tahu dimana anak itu. Kamu, tenang ya." Bara berusaha menenangkan. Memeluknya seraya mengelus lembut pundaknya.


.........


Singkat cerita, Bara dan Ana sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen.


"Pak John, apa kau tahu dimana Arbi?" Tanya Bara saat sudah berada di dalam mobil. Bersama dengan Ana juga. Yang ada di sisi sebelahnya.


"Tuan muda kecil? Oh, anak itu. Dia sudah satu minggu belakangan ini ada di asrama sekolahnya. Memang ada apa Tuan muda?" Jawab Pak John berbalik menanyakan.


"Aku ingin kau mengurus perpindahan Arbi ke apartemenku yang sekarang. Batalkan kontrak kamar asrama di sekolahnya." Ujar Bara memberikan perintah pada Pak John.


"Baik, Tuan muda." Pak John menyetujui.


"Gimana? Udah tenang kan, sekarang?" Bisik Bara pada Ana. Tangannya tidak terlepas menggenggam jemari Ana dengan begitu eratnya. Ana menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa? Kan Pak John udah setuju."


"Kan aku belum melihat Arbi langsung." Tutur Ana sedu.


"Pak John, balik arah ke sekolah Arbi! Bawa anak itu sekarang juga untuk ikut kami pulang!" Pinta Bara memerintah Pak John.


"Baik, Tuan muda."


Pak John langsung memutar balik setir mobilnya. Ke arah tujuan dimana letak sekolah sekaligus asrama Arbi tinggal. Ana tampaknya sudah tidak sabar. Untuk bertemu dengan sang pangeran kecilnya, Arbi.


30 menit kemudian...


"Tuan muda, kita sudah sampai." Ucap Pak John.


"Kau saja yang turun, aku dan Istriku akan menunggu disini saja." Balas Bara sambil mengelus lembut kening Ana. Yang tertidur pulas di pundaknya.

__ADS_1


"Baik, Tuan muda." Pak John keluar dari dalam mobil.


__ADS_2