Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 122


__ADS_3

Masalah Arbi dan Bara yang memperebutkan ciuman Ana, belum juga usai. Tapi, ada satu lagi permasalahan pada seseorang lainnya. Yang dilanda kebingungan dalam memulai hubungannya dengan sang Istri. Agar keduanya lebih intim lagi.


Namun, Arka tampak ragu-ragu dan malu. Kadang-kadang, ia terlihat senyum-senyum sendiri saat membaca buku yang dia beli itu. Bagaimana mungkin, Gladys tidak curiga.


“Ka? Kamu baca apa, sih? Dari kemarin aku perhatikan baca buku terus,” ujar Gladys bertanya. Pada Arka yang akhir-akhir ini terlihat mencurigakan dimatanya.


Masalahnya, Arka memilih ke tempat yang cenderung sepi. Dan menghindar dari Gladys. Hal itu tentunya membuat Gladys berpikir tidak-tidak. Seorang Suami, membaca buku dengan mengendap-endap seperti pencuri.


‘Apa yang kamu rahasiakan dariku, Ka? Apa ada wanita lain? Kalau benar, jahat kamu, Ka!’ gumam Gladys meringis dalam hati.


Arka tampak gelagapan, saat Gladys bertanya begitu.


“K-kamu belum t-tidur, Dys?” balas Arka berbalik tanya. Ia pikir, Gladys sudah tidur. Karena hari sudah semakin larut. Dan saat-saat inilah, Arka berjalan mengendap-endap pergi keluar kamar. Untuk melanjutkan membaca buku novel serta komiknya di ruangan lain.


“Belum, aku sengaja mengikuti kamu kesini. Kamu baca apa? Kayaknya ada sesuatu yang kamu tutup-tutupi.” Cerca Gladys dengan ekspresi wajah datar.


“E-eh, n-nggak kok, Dys. Aku gak ada tutupi apa-apa dari kamu,” sahut Arya menjawab ucapan Gladys.


“Bohong! Aku tahu kamu bohong, Ka. Sebenarnya kamu ada wanita lain, kan?! Iya, kan?!” tutur Gladys menerka-nerka. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Arka menjadi tidak tega melihatnya.


“Nggak ada wanita lain, Gladys. Aku benaran gak bohong.” Ucap Arka serius.


“I don’t believed that! Kamu bohong, Ka!” tukas Gladys seraya menggelengkan kepalanya.


Arka berjalan mendekati Gladys. Sembari membawa buku yang di bacanya tadi. Dengan wajah tertunduk, bak seperti orang tak punya muka.


Topeng, dong? Tidak. Maksudnya, Arka berusaha menahan malu di depan Gladys.


“I-ini... aku b-baca ini, Dys. Aku benaran nggak bohong. Hanya kamu satu-satunya.” Kata Arga dengan suara yang bergetar gugup.


Gladys tercengang kaget melihatnya. Arka menunjukkan halaman per-halaman dari buku komik itu. Tergambar pasangan kartun yang begitu romantis. Dan mungkin, lebih intim daripada hubungan Arka dengannya.


“Kamu kenapa nggak bilang dari kemarin, sayang?” gumam Gladys dengan suara yang terkesan agak, manja. Wanita itu mendekati Arka. Gladys tampak begitu agresif saat ini.


Cup!


Dengan berani, Gladys mengecup lembut bibir Arka. Mengelus lembut setiap inci di bagian tubuh Arka. Wajah tampannya begitu membuat Gladys di mabuk cinta. Arka sendiri hanya diam dan menikmati sentuhan Gladys.


“Maaf... aku... malu.” Bisik Arka pelan.


“Mulai sekarang, nggak ada lagi kata malu. Dan hanya sama aku.” Respons Gladys lembut. Tangannya terangkat mengelus lembut wajah tampan Arka.


Keduanya memilih untuk kembali ke kamar. Dan melanjutkan aktivitas yang penuh dengan asmaraloka. Antara Gladys dengan Arka.

__ADS_1


Ya, sepertinya resep Bara sudah berhasil. Meskipun harus di pergok dulu oleh Gladys.


Penerangan di kamar Arka langsung di redupkan. Hanya ada satu lampu tidur. Di sisi sebelah ranjang mereka. Suhu udara begitu dingin, tapi hal itu tidak berdampak pada kedua pasangan pengantin baru.


“I love you, Arka!” ucap Gladys lembut. Setelah menyudahi pergumulannya dengan Arka.


“Love you too, Dys!” balas Arka sembari mengecupi wajah Gladys.


“Ah ha ha, Arka...” manja Gladys.


“Aku mau lagi.” Sambung Arka dengan wajah seriusnya.


“Yang benar aja kamu, Ka? Aku mau tidur, sayang. Besok ada jadwal pagi di rumah sakit.” Sahut Gladys.


“Libur dulu sehari. Kalau perlu, aku datang ke rumah sakitnya.” Arka tidak ragu-ragu mengatakannya.


“Ngapain? Kan, kamu nggak kerja disana.” Lanjut Gladys menjawab.


“Minta surat izin buat Istri aku, lah. Gimana sih, sayang?” mendengar itu, Gladys tersenyum merona. Wajahnya langsung memerah seperti buah cherry.


Cup!


Arka kembali mengecup lembut bibir Gladys.


“Aku tadi pakai lipsgloss varian strawberry, sayang.” Jawab Gladys.


“Aku suka..” sanggah Arka sembari menatap bola mata Gladys dalam-dalam. Kedua wajah mereka bersentuhan. Hingga adanya tabrakan pada hidung keduanya.


Arka yang tadinya kaku, berubah menjadi candu pada Gladys. Tidak terasa, Arka bahkan terlelap di pangkuan Gladys. Dalam selimut yang sama.


‘Maafkan aku, Ka. Sempat mencurigai kamu yang tidak-tidak’ gumam Gladys dalam hati. Di akhiri mengecup lembut kening Arka.


.........


Pagi hari di apartemen Bara dan Ana. Keluarga cemara itu masih terlelap dalam satu ranjang yang sama. Arbi, Ana, juga Bara.


Ana berada di tengah-tengah kedua anak dan Ayah itu. Tak ada yang mau mengalah. Bagi Bara maupun Arbi. Bara tak ingin berjauhan dengan Ana. Sebaliknya pula pada pria kecil berwajah sama seperti Bara, Arbi.


“Sayang... bangun!” Bisik Ana pelan, membangunkan Bara dari tidur nyenyaknya. Setelah bermain kejar-kejaran semalam.


Cup!


Ana mengecupi wajah tampan Bara. Dan berakhir mendaratkannya pada wajah mungil Arbi. Gurat senyum terukir di wajah cantik Ana. Yang masih polos tanpa makeup.

__ADS_1


“Engh..” erang Bara. Kedua matanya samar-samar terbuka. Melihat sosok wanita cantik di hadapannya.


“Hei.. cantik! Cium aku, dong!” Bara mengigau.


Cup!


Ana mengecup lembut wajah Bara.


“Yang ini.. juga.” Lanjut Bara dengan igauan nya.


“Tebak dulu, aku siapa?” tanya Ana.


“Kamu... sayangku, kan?” sahut Bara, kedua matanya setengah terbuka.


“Iya, siapa?” sambung Ana lagi.


“Ana Bella.” Jawab Bara. Tangannya terangkat mengelus lembut wajah Ana.


“Kamu.. Ana, kan? Si cantikku itu.” Balasnya lagi.


Deg!


Jantung Ana tak bisa di kondisikan sekarang. Debarannya begitu kuat. Hingga ia tak bisa bernapas dengan tenang. Wajah polosnya memerah. Meninggalkan blush pada bagian pipi.


“Sayang... kamu nggak ke kantor lagi, kan?” tanya Ana sembari mengelus lembut wajah Bara.


Kedua mata Bara samar-samar mulai terbuka lebar. Pandangannya semakin jelas menatap wajah cantik yang ada di atasnya.


“Engga, aku mau dirumah aja sama kamu.” Balas Bara dengan suara paraunya.


“Benaran? Pak John nggak kesini lagi, kan?” tanyanya lagi.


“Kesini.” Jawab Bara. Ana lantas mengernyitkan dahinya.


“Terus? Pak John kesini untuk apa?” sambung Ana bertanya.


“Buat bantu-bantu pindahan kita ke rumah utama. Kamu mau kan, sayang? Tinggal dirumah keluargaku.” Pinta Bara penuh harap.


Antara siap dan tidak siap. Wajah Ana langsung berubah sedu. Pikirannya kembali teringat pada kejadian lalu. Mengingat waktu pertama kali Bara mengajaknya pergi untuk menemui Ibunya.


Bukan kata penerimaan, yang Ana terima waktu itu. Melainkan penghinaan, serta cacian. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, memori dalam ingatan takkan pernah bisa pudar.


Terlebih lagi, ingatan tentang kejadian-kejadian tidak mengenakan.

__ADS_1


__ADS_2