Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 33


__ADS_3

Hari terus berjalan dari waktu ke waktu, usia kandungan Ana memasuki ke delapan bulan. Semakin besar kandungan, semakin sulit Ana untuk bergerak jalan. Dengan setia Bara mengantar Ana untuk berangkat dan menjemput seusai dari kampus. Saat berangkat, mungkin akan lebih mudah. Namun ketika saat menjemput, Bara harus mengerjakan semua laporan perusahaan dengan waktu yang singkat, agar bisa pulang cepat dan langsung menjemput Ana usai kelas perkuliahannya.


Hari ini tugas Bara dalam membuat laporan di perusahaan kantor sangat banyak, dan tak bisa di selesaikan dalam waktu singkat. Sayangnya kekhawatiran pada Ana jadi berlebihan di situasi rumit seperti ini. Bara tak bisa menjemput Ana ke kampus. Meskipun berkali-kali Ia meminta izin pada Arya, selaku CEO di perusahaan itu tetap tidak bisa. Arya pikir tugas laporan di perusahaan lebih penting daripada sekadar untuk menjemput Istrinya.


Di situasi sulit Bara, justru Arya mengambil kesempatan itu untuk mencari tahu tentang Istrinya. Arya pergi ke bagian Admin perusahaan untuk mencari tahu identitas Bara dan Istrinya. Sampai akhirnya Ia menemukan dan mengetahui siapa nama dari Istrinya Bara. Tanpa berlama-lama di kantor, Arya langsung bergegas pergi meninggalkan kantor dan menuju ke kosan Bara untuk bertemu langsung dengan Ana. Dengan perasaan senang dan tidak sabar untuk melihat langsung siapa Ana, bahkan sampai Bara sebegitu cinta padanya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, tiba mobil Arya di depan halaman kosan. Bergegas Ia turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu kosan Bara. Dengan perasaan kacau dan gemetar karena untuk yang pertama kali baginya penasaran dengan Istri orang. Arya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kosan. Sekali, dua kali ketuk tak ada yang menyahut dari dalam.


“Apa dia lagi gak ada di rumah ya?” Gumamnya.


Sesaat kemudian tiba-tiba Ana datang bersama dengan Arka. Ana terkaget bukan main, feeling nya mengatakan bahwa lelaki itu ialah CEO yang pernah diceritakan Bara. Apa yang harus Ia lakukan sekarang, pikir Ana. Sementara Arka terlihat bingung dengan Arya, seperti orang yang sangat Ia kenal sebelumnya. Mau apa orang itu kesini, apa dia mau cari Gua, pikir Arka dalam hati.


Pandangan Arya tertuju pada Ana, melihat dari atas ke bawah. Wanita anggun dan kalem dengan memakai setelan baju gamis hitam, di padukan dengan pashmina hitam yang menutupi rambutnya. Namun Arya tersadar jika Ana bersama dengan seorang lelaki disampingnya. Arka, ada hubungan apa dia dengan Arka, pikir Arya. Arka rupanya ialah Adik kandung Arya.


“Lo kenapa kesini? Cari Gue? Tapi kenapa sampainya malah ke kosan orang?” Ucap Arka dengan banyaknya pertanyaan pada Arya yang tengah berdiri di depan pintu kosan Ana. Sementara Ana sendiri bingung harus apa sekarang.


“Hm, Kakak lagi gak cari kamu. Cuma pengin mampir aja ke tempatnya Bara, siapa tahu dia sudah dirumah. Tapi dari tadi saya ketuk pintunya gak ada yang menyahut ya?” Ucap Arya berbohong. Padahal Bara sendiri masih berada di kantornya.


“Bara? Lo kenal Bara?” Tanya Arka penasaran.


“Ya, dia kerja di kantorku.”


“Memang benar, Kak?” Tanya Arka pada Ana. Ingin tahu kebenarannya.

__ADS_1


“Aku gak tahu soal itu, yang jelas sekarang Bara sudah bekerja di perusahaan yang baru. Maaf, aku mau langsung masuk ke dalam, Ka. Terima kasih, Ka udah antar Kakak. Mari.” Ucap Ana sambil pamit pada dua orang tersebut. Dasar, adik kakak sama saja.


“Iya, Kak. Langsung istirahat ya.” Ucap Arka berbasa-basi. Ana mengangguk dan masuk ke dalam kosan. Tak lupa untuk menutup dan menguncinya dari dalam.


Sementara di luar, Arka dengan Kakaknya tengah berdebat tentang Ana.


“Kamu kenal Ana? Kok bisa jalan berduaan gitu?” Tanya Arya.


“Ya kenal lah, Gue satu kampus sama dia. Gue tahu, Lo kesini sebenarnya bukan buat ketemu Bara. Lo suka kan? Sama Ana. Jawab Lo!” Tanya Arka tegas.


“Kalo saya suka sama Ana memang kenapa? Salah?” Jawab Arya terkekeh tanpa malu. Dasar biawak, adik kakak sama saja. Memperebutkan Istri orang. Hei, pulang sana pulang.


“Cih, dari dulu gak pernah puas ya Lo? Suka nyari gara-gara sama Gua! Udah muak Gua sama Lo! Gak akan bisa Lo dapat-in Ana, karena Ana yang bakal jadi milik Gua. Pulang sana Lo, balik ke kantor Lo yang sering Lo bangga-bangga in itu.” Umpat Arka yang sudah tersulut emosi. Perdebatan Kakak beradik ini sepertinya masih terus berlanjut sahabat. Haduh, bantuin dong sahabat. Author kewalahan, eh.


“Gak usah sok tahu sama hidup Gua! Dari dulu juga Lo gak pernah mau tahu.” Ucap Arka kesal.


Sebenarnya diam-diam Arka punya bisnis coffee shop tanpa sepengetahuan keluarganya maupun Arya sendiri. Usaha coffee shop yang dibangun Arka sudah jalan hampir dua tahun ini. Bara yang tahu bisnis ini, meskipun kenyataannya saat ini hubungan keduanya tidak lebih baik daripada sebelumnya. Semenjak Arka menaruh hati pada Ana, wanita yang lebih dulu disukai Bara. Pun telah dinikahinya juga karena sebuah kesalahpahaman.


“Dasar bocah, gak pernah berubah dari kecil. Mudah tersulut emosi.” Ucap Arya berusaha tenang. Tenang-tenang tapi pengin jadi pebinor. Haduh, tobat bang. Eh.


“Balik Lo! Sebelum Gue rusak in mobil mewah Lo ini. Gua muak liat muka Lo yang sering bertebaran di poster-poster. Apalagi ini liat langsung, makin muak Gua!” Umpat Arka mengusir Kakaknya.


Tanpa membalas ucapan dari sang Adik, Arya bergegas masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman kosan Ana. Persaudaraan antara Arka dengan Kakaknya dari kecil memang tidak berhubungan dengan baik. Arka membenci Kakaknya sedari Ia kecil, karena Arya lebih banyak mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sementara Arka selalu di banding-bandingkan dan di acuhkan bak seperti anak tiri. Orang tua Arka selalu memuji-muji prestasi Kakaknya dibanding dengan prestasinya.

__ADS_1


Setelah perginya Arya, tak lama kemudian Arka pun meninggalkan kosan Ana. Tapi sebelum itu, Ia memandang agak lama ke pintu kosan Ana. Berharap Ana baik-baik saja dan tidak kenapa-kenapa, pikirnya dalam hati. Arka kembali ke kampus untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir di area kampus. Hari semakin sore, Arka balik ke rumahnya yang berada di kawasan Jakarta selatan.


Arka masih tak habis pikir dengan Kakaknya yang bisa bisanya menaruh hati pada Ana. Rasa bencinya terhadap Kakaknya semakin besar tertanam. Tak sudi jika Ia harus bersaing dengan Kakaknya dalam memperebutkan Ana. Sudah pasti Kakaknya lebih menang dalam segala hal dibanding dirinya. Semoga Ana gak akan pernah jatuh cinta sama si brengsek itu, gumam Arka dalam hati.


~


Hari semakin sore, Bara baru saja menyelesaikan tugas laporannya di kantor. Akhirnya selesai juga, udah gak sabar buat ketemu Istri dirumah, gumam Bara. Tak menyadari kehadiran Arya di belakangnya yang mendengar gumaman Bara tadi. Ada rasa iri dihati Arya, melihat Bara yang hidup dengan kesederhanaan bisa mendapat Istri seperti Ana. Dia belum tahu kalau Bara berasal dari keluarga Kertajaya, perusahaan raksasa yang berada diatas perusahaannya sendiri.


“Hm.” Deham Arya. Bara yang sedang membereskan meja kerjanya menoleh seketika.


“Semua laporan sudah saya kerjakan, Pak. Waktu kerja saya sudah habis, Pak.” Ucap Bara.


“Ya baiklah, silakan kamu boleh pergi.” Saat Bara melangkahkan kakinya untuk pergi tertiba...


“Tunggu.” Ucap sang CEO menahan Bara. Seketika langkah kakinya terhenti.


“Ada apa, Pak? Bukankah semua laporan sudah saya kerjakan?”


“Bukan itu maksud saya. Hm, salam untuk Istrimu dirumah.” Ucap Arya. Wajah Bara seketika berubah datar dan dingin. Ia mulai merasa kalau CEO itu tak main-main untuk mendekati Ana.


“Wa’alaikumsalam. Salamnya sudah saya jawab, karena saya selaku Suaminya. Jadi saya yang menjawabnya disini. Kalau tidak ada hal lain lagi, saya permisi kalau begitu, Pak.” Pamit Bara padanya. Seketika ucapan Bara berhasil mematahkan hatinya, saat Bara memperjelas kalau dia adalah Suami Ana. Sadar diri, kalau Gue Suaminya, begitu maksud Bara.


Dengan puas setelah berkata begitu, Bara pergi dan memasuki lift yang sudah terbuka. Tinggal Arya sendiri yang berada di dalam ruangan sana dengan hati yang koyak di patahkan kata-kata oleh Bara. Berdiri sambil menatap tajam ke arah Bara yang tersenyum meremehkan ke arahnya.

__ADS_1


Sampai pintu lift itu tertutup dan turun ke lantai dasar, Arya masih terus menatap ke arah lift dengan wajah yang kian memerah akibat hati yang tengah koyak. Kalau mau jadi pebinor, pikir dua kali, dengan siapa Lo berhadapan, gumam Bara dalam hati.


__ADS_2