
“Kamu kok gitu sih, sayang? Suami mendekat malah di usir. Aneh kamu mah.” Balasnya sok berpura-pura merajuk.
“Kamu nya aneh-aneh aja, kurang puas memangnya yang semalam?”
“Belum, kamu nya tiba-tiba ketiduran.” Tutur Bara dengan posisinya yang saat ini tengah duduk di sisi ranjang sebelah Ana.
Arbi menghentikan aktivitasnya, dan mengalihkan pandangan menatap sang Ayah dengan intens. Bara mencium keningnya seraya menyentuh jari-jari kecil itu. Arbi tertawa kecil melihat perlakuan Ayahnya. Ana tampak waswas dan semakin menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal. Bara terkekeh melihat gerak-gerik Ana yang terbilang waspada terhadap suami sendiri.
“Kamu kenapa sih, An? Lucu banget deh,” pikir Bara dalam hati.
“Bara stop main-mainnya! Pakai baju dan siap-siap buat ke kantor.” Perintah Ana pada suaminya.
“Iya, iya. Sabar, sayang. Aku belum buat sarapan untuk kita. Kamu gimana sih? Kayak ibu-ibu aja, marah-marah melulu.” Jawab Bara dengan santainya.
Ya kan memang sudah jadi Ibu. Gimana sih, bang malih? Eh.
“Yaudah buruan pakai bajunya, sayang! Aku mau mandi juga, ya ampun. Arbi gak ada yang jaga in kalau kamu pergi ke kantor. Terus aku mandi, yang ada dia sendirian.” Jelas Ana.
“Iya, iya. Kamu cium aku dulu.” Pintanya pada Ana. Sebenarnya hanya untuk pengalihan, supaya amarah Ana mereda.
Bara memang punya cara yang berbeda. Saat Ana marah, ia pasti memberi usul untuk melakukan hal-hal romantis. Dengan tujuan, untuk mempererat hubungan. Serta menambah keromantisan dalam rumah tangganya. Ia tak ingin berdebat pada Ana, justru inginnya agar Ana terus menunjukkan sikap manis padanya.
Bara sudah rapi dengan pakaiannya, dan ia mulai menjaga Arbi seraya mengajaknya bermain bersama boneka kecilnya. Sementara Ana bersiap untuk mandi dengan tubuh yang hanya dibalut selimut tebal. Dan berlari ke arah kamar mandi. Agak lama ia melakukan ritual mandinya. Mungkin bila dihitung sekitar dua puluh lima menitan.
Tak lama setelah melakukan ritual mandinya, Ana keluar dengan keadaan yang memakai baju tipis itu lagi. Kali ini berwarna hitam, dengan satu tali di bagian lengannya. Sebenarnya ia sendiri pun muak memakai pakaian kurang bahan itu. Tapi apa boleh buat, Bara yang membelikannya. Tak elok jika ia tak memakai sesuatu yang sudah dibeli oleh suaminya.
“Kamu mau menggodaku ceritanya?” Ucap Bara yang memulai tanya pada Ana.
“Siapa juga yang mau menggoda kamu. Ih, ke pede an!” Tutur Ana yang tak peduli pada ucapan Bara.
Dia sendiri yang belikan, dia juga yang tergoda. Haih!
Bara tersenyum menyeringai menatap Ana. Ia lantas berdiri sambil menggendong Arbi dan mendekati Ana. Arbi yang mulai cengeng dan merengek langsung ingin di gendong oleh sang Bunda. Mata kecilnya tak berhenti mengalihkan pandangannya pada Ana. Bara tampak paham dengan situasinya.
“Arbi mau minum susu nih, sayang.” Ucap Bara seraya memberikan Arbi pada Ana.
__ADS_1
“Kamu mau minum kopi? Aku buat in ya?!” Tutur Ana seraya menggendong Arbi.
“Gak usah, aku aja yang buat kopinya. Kamu susu in Arbi aja.” Balas Bara seraya mengecup pipi chubby Ana dan pergi untuk turun ke lantai bawah.
Apa lagi kalau bukan untuk membuat secangkir kopi. Eh.
Ana tersenyum riang menatapnya. Rengekan suara Arbi juga sudah tidak bergeming di telinga. Ana mengambil sebuah gendongan bayi. Dan memakainya untuk ia pakaikan pada Arbi. Ia pun kemudian turun ke bawah untuk menyusul Bara.
“Sayang... kamu nanti pulang jam berapa?” Tanya Ana. Saat ini mereka tengah duduk di sofa.
“Hm, seperti biasa kok. Kenapa memangnya? Kamu rindu ya? Gak mau aku pergi lama-lama?” Ucap Bara berbalik tanya dengan canda-an nya.
“Aku serius, Bara! Kamu apa-apa dibuat canda. Aku tuh kesepian, disini Cuma berdua sama Arbi. Kamu tahu kan? Arbi masih kecil banget. Gak bisa ditinggal jauh, aku gerak dikit dia nangis. Aku mau makan pun harus sambil gendong Arbi, gimana kalau aku mandi? Aku mandi pun harus menunggu kamu pulang.” Jelas Ana.
Bara jadi merasa bersalah dengan semua itu. Kalau seandainya, dia gak bikin Ana hamil secepat itu, mungkin sekarang Ana tengah sibuk berada di kampus. Mungkin juga ia masih memegang fasilitasnya yang diberikan oleh keluarganya. Ia paham sekarang, menjadi orang tua di usia muda, memang tak mudah.
“Sayang...” Tutur Bara seraya memeluk erat Ana.
“Kamu kenapa? Aku Cuma tanya, kamu pulang jam berapa? Ini kenapa malah mewek kamu nya? Tuh, Arbi lihat Ayahnya nangis. Ih Ayah nangis ih, he he he.” Ucap Ana seakan akan meledeknya.
Sebenarnya Ana paham dengan sikapnya Bara. Ia tak ingin Bara terus menerus menyalahkan dirinya. Kita tak akan pernah bisa mengembalikan nasi yang telah jadi bubur dan mengubahnya lagi menjadi beras. Seperti itulah kehidupan, kita tak akan bisa mengubah suatu keadaan untuk kembali seperti sebelumnya. Melainkan, kita hanya perlu memperbaikinya, agar lebih baik untuk kehidupan selanjutnya.
Bara masih enggan untuk melepaskan pelukannya pada Ana. Justru itu membuat Ana sesak. Karena tak hanya Bara yang ada di pelukannya, melainkan Arbi juga. Ana berinisiatif mencium Bara dan mendorongnya pelan. Agar ia berhenti untuk bersikap lemah, yang selalu menyalahkan dirinya sendiri.
“Bara... sayang. Udah, ya?! Kamu harus ke kantor sekarang! Lihat, sudah pukul 6.30 pagi. Nanti kalau terlambat, kamu bisa di pecat. Kamu kan belum ada cadangan kantor lain, bukan? Nanti kalau kamu gak kerja, aku jadi sedih. Arbi juga. Kita jadi susah untuk beli kebutuhan rumah tangga.” Kata Ana, seraya mengelus lembut wajahnya yang tampan.
Tampan sih, tapi ada imut-imutnya gitu. Eh.
“Iya.. maaf!” Ucap Bara tertunduk sedu.
“Yuk, di minum dulu kopinya! Kamu mau di buatkan bekal? Aku buat-in ya?!” Tutur Ana sembari bangkit dari tempat duduknya. Bara menepis itu, ia tak ingin membuat Ana repot karena nya.
“Jangan, aku gak apa-apa kok, sayang. Nanti aku makan di kantin aja.”
“Gak apa-apa, lagi pula kita kan harus berhemat. Kalau kamu makan setiap hari di kantin, pengeluarannya semakin bertambah kan?” Tutur Ana.
__ADS_1
Bara pun paham sekarang, ia tak lagi menahan Ana untuk membuatkannya bekal.
“Yaudah, Arbi nya aku gendong dulu.” Usul Bara, seraya mengambil alih Arbi untuk di gendongnya.
Ana berjalan ke arah dapur. Yang hanya berjarak beberapa meter dari sofa, ruang tamu. Ia hanya memanaskan makanan jadi dalam bentuk kemasan ke dalam oven. Dan membuatkan beberapa roti Sandwich yang juga untuknya. Serta beberapa kentang goreng dan buah mangga yang sudah dipotong menjadi dadu. Sisanya hanya mengisi air ke dalam botol tupperware.
Dan jadilah ini!
Tak lupa, Ana juga membuat camilan untuknya sendiri.
Ana mulai memasukkan satu persatu makanan yang sudah jadi ke dalam kotak makan. Dan membungkusnya ke dalam papper bag. Tidak butuh waktu lama untuk melakukan kegiatan itu semua. Hanya memerlukan waktu sepuluh menitan. Tak lama setelah siap semuanya, ia kembali menemui Bara.
Terlihat dari pandangan Ana, Bara tengah mengajak Arbi berbicara. Entah apa yang ia obrolkan pada bayi yang baru berumur dua bulan itu. Tapi herannya, Arbi tidak menimbulkan tanda-tanda kalau ia menangis atau pun merengek. Justru malah sebaliknya, Arbi tampak tertawa riang ala khas suara bayi. Ana tersenyum puas melihat momen itu.
“Sayang, bekal nya sudah siap.” Tutur Ana seraya memberikan papper bag berisi makanan itu pada suaminya.
“Terima kasih, sayang! Cup. Aku pergi dulu! Kamu baik-baik sama Arbi di rumah ya!” Ucap Bara mengambilnya seraya mengecup lembut kening Ana.
Tak lama setelah itu, Bara pergi meninggalkan Ana dan Arbi yang tak mengalihkan pandangannya, menatap kepergian Bara. Ana merasa, kalau kejadian hari ini amat sangat berharga baginya.
“Mungkinkah kita bisa seperti ini lagi ke depannya? Aku takut.. kamu akan pergi jauh dariku, Bara.” Tutur Ana sedu. Tak terasa ia menitikkan air matanya.
Arbi seperti tahu perasaan sang Bunda. Ia bahkan mengelus lembut wajah Ana dengan jemari kecilnya. Ana terpana dibuatnya, ia membalas dengan banyak kecupan di wajah Arbi. Tak lupa untuk menutup pintu serta menguncinya. Ana pun kembali ke kamarnya, yang berada di lantai dua.
Sembari membawa beberapa makanan yang ia pisahkan tadi untuknya. Sewaktu membuatkan bekal untuk Bara.
__ADS_1
Meningat kejadian tempo waktu. Bara yang di bawa paksa oleh Ibunya. Ana takut, kejadian dulu akan terulang lagi. Apalagi sekarang sudah ada Arbi. Ia justru semakin takut, kalau kedua orang tua Bara bukan hanya mengambilnya. Tapi mereka juga akan mengambil Arbi darinya.
Bersambung....