Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 142


__ADS_3

Di tengah-tengah obrolan Ana dan Zeon membahas mengenai Tasya serta Arbi, tiba-tiba saja ada kehadiran seseorang lainnya. Yang masuk ke dalam restoran cepat saji ini. Dan orang itu ternyata...


“Wah, kalian semua disini rupanya? Aku mencarimu, Tasya. Rupanya kamu sudah dijemput lebih dulu oleh Zeon, ya?” ujar Gladys. Yang tiba-tiba saja datang.


“Gladys? Kamu kenal Tasya?” tanya Ana bingung.


“Eh, aku belum cerita, ya? Tasya itu... anaknya Kakakku. Dan Zeon ini adalah keponakanku. Loh, kalian kok bisa saling kenal?” jawab Gladys diakhiri tanya.


“Panjang ceritanya, Kakak tidak akan paham.” Sambung Zeon.


“Hei, kamu sebaiknya kembali sana bekerja! Tasya akan bersama denganku disini.” Cerca Gladys pada Zeon. Lelaki itu tampaknya tidak ingin pergi. Seperti masih menahan diri dan duduk menepi bersama dengan Arbi.


Entah apa yang dia lakukan pada pria kecil itu.


“Hei, Zeon! Apa kau mendengar Kakakmu? Aih, susah sekali membujuknya.” Gerutu Gladys mendengus sebal.


“Sudahlah, biarkan saja dia disini juga. Sepertinya adikmu begitu menyukai Arbi.” Lanjut Ana berucap seraya mengelus lembut bahu Gladys.


“Iya, kau benar Ana. Eh, kebetulan sekali kita bertemu disini. Aku mau cerita sesuatu padamu.” Tutur Gladys pada Ana.


“Cerita saja, aku pun juga sudah tidak sabar mendengarnya.” Balas Ana.


Pandangan Gladys seketika beralih menatap ke arah Zeon. Mengisyaratkan agar lelaki itu menjauh sedikit dari mereka berdua. Dan sepertinya Zeon peka. Dia langsung mengajak Arbi dan Tasya duduk sedikit berjauhan dari Ana serta Gladys.


“Jadi begini, An...” ucap Glady memulai topik obrolannya pada Ana.


Beberapa menit kemudian...


“Kalau Bara, tidak perlu di bujuk dulu, tapi dia sendiri sudah paham akan hal itu.” Sambung Ana berkata.


“Bara sepertinya sangat ahli dalam hal itu. Hm, apa kita terbalik ya? Harusnya aku dengan Bara, lalu kamu dengan Arka?” celetuk Gladys.


“Apanya yang terbalik? Mau dunia ini runtuh sekali pun, Ana yang tetap akan ku pilih!”


Tiba-tiba suara seseorang ikut nimbrung dalam obrolan Gladys dan Ana. Keduanya sontak menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya mereka dengan kedatangan Bara.


“Bara? K-kapan datang nya?” tanya Gladys sedikit gugup.


“Kamu kok, nggak bilang aku? Kalau makan siang disini.” Sanggah Bara mengacuhkan pertanyaan Gladys. Dan langsung berucap tanya pada Ana. Dengan sikap romantisnya.


“S-sayang... kamu belum jawab pertanyaan Gladys, loh.” Gumam Ana berbisik.


“Kenapa? Aku lebih suka menjawab pertanyaan darimu.” Jawab Bara seraya mendekatkan tubuhnya pada Ana.


Melihat adegan mesra di depan mata, membuat Gladys memutar kedua bola matanya seketika.


“Ana, aku sepertinya harus kembali. Tasya pun juga sudah sama Zeon. Kalau begitu, aku pamit ya?!” ujar Gladys pamit pergi pada Ana.


Ana lantas mengangguk pelan.


“Hati-hati di jalan, Dys!” sahut Ana seraya melambaikan tangan padanya.


Dan sekarang, tersisalah antara Ana dan Bara. Serta Zeon, Arbi, dan Tasya.

__ADS_1


“Arbi kenapa akrab sama dia? Itu bukankah lelaki yang waktu kita temui di taman kota?” tanya Bara sebal.


“Iya, namanya Zeon. Dia Kakaknya Tasya.” Jawab Ana.


“Tasya?”


“Iya, sayang. Tasya itu, teman sekolahnya Arbi juga ternyata.”


“Aku nggak tahu, dan nggak mau tahu juga.” Ucap Bara tak peduli.


Seolah di dunia ini yang lebih penting ialah hanya Ana seorang.


“Sayang... jangan begitu, ah. Tidak enak bila di dengar Tasya, maupun Zeon.”


“Aku hanya akan mendengarkan kata-katamu saja, sayang.” Gumam Bara seraya mendekatkan wajahnya pada bahu Ana.


“Iya, iya. Tapi s-sebaiknya kita kembali saja ke rumah dulu.” Ujar Ana gugup.


Merasa tidak nyaman dengan perlakuan Bara yang bucin di tempat umum.


“Kamu tidak nyaman, ya? Padahal aku sudah datang jauh-jauh dari kantor untuk menemui kesini.” Tutur Bara sedu.


Ana menjadi serba salah sekarang.


“B-bukan begitu m-maksudnya, sayang. Ah, aku hampir lupa menanyakan tujuanmu datang kesini untuk apa, kan.”


“Aku datang kesini untuk mengajakmu makan siang bersama.”


“Kalau begitu ayo makan sekarang!” ajak Ana bersemangat.


“Sudah tidak bernafsu, aku mau balik ke kantor saja.” Sergah Bara menolak ajakan Ana.


“Loh, kamu mau ke kantor lagi? Tapi kamu belum makan siang, sayang.” Ucap Ana khawatir.


“Aku kan, kuat. Menahan rasa kesal juga aku kuat, kok.”


Sepertinya ada yang salah paham disini. Wajah Bara terlihat cemberut dan masam sekarang. Terlebih lagi, tatapannya begitu tajam menatap ke arah Zeon. Yang sedang asyik mengajak main Arbi dan Tasya.


SET


Ana langsung menahan pergelangan tangan Bara. Saat ia akan beranjak pergi dari restoran itu.


“Makan dulu! Aku akan pesan satu makanan untuk kamu. Sebentar, jangan kemana-mana!” cegah Ana menahan Bara agar tidak pergi. Dan langsung pergi ke bagian administrasi untuk memesan satu porsi nasi dan ayam lagi untuknya.


Sementara itu... Bara berjalan mendekati Arbi. Yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Tanpa mengetahui kedatangan Ayahnya ke tempat ini.


“Arbi!” panggil Bara.


Arbi lantas menoleh dan berlari memeluknya.


“Ayah!!!” sahut Arbi bersemangat menyambut Bara.


HAP!

__ADS_1


Bara langsung menggendong dan membopongnya ke atas punggung nya. Siapa saja yang melihat tingkah mereka sekarang akan tertawa. Karena kelakuan lucu anak dan Ayah ini.


Eh.


“Ayah, ayo kita ke Bunda!” ajak Arbi seraya mengalungkan kedua tangan kecilnya memeluk kepala Bara.


Arbi tidak lagi mencengkeram rambut Bara. Karena ia sendiri sudah merasakan sakitnya. Saat Pak Ali menjelaskan pada pria kecil itu sewaktu lalu.


Tasya dan Zeon saling memperhatikan kedua anak serta Ayah itu. Dalam hati, Tasya juga ingin seperti Arbi. Berada di dalam gendongan Ayahnya. Sementara Zeon, merasa tidak enak bila dirinya dan Tasya terus menerus berada di tengah-tengah keluarga cemara ini.


“Tasya, yuk balik!” ajak Zeon pada Tasya.


Gadis tampak tak bergeming. Pandangannya terfokus menatap ke arah Bara dan Arbi.


SET


Zeon terpaksa menarik lengan kecil Tasya.


“Eh, Kakak? Kita mau kemana?” tanya Tasya bingung.


“Pulang, kamu kan sudah selesai makannya. Kakak juga mau balik lagi ke kantor.” Sahut Zeon.


“Kok pulang sih, Kak? Bunda Ana juga belum pulang, kan?” sergah Tasya menolak. Karena melihat Ana dan Arbi yang masih berada disini.


“Mereka kan, masih ada Ayahnya Arbi. Kamu mau ngapain lagi memangnya disini? Mau mengganggu mereka? Begini saja, Kakak belikan kamu ice cream dan beberapa camilan yang baru. Gimana?” usul Zeon pada adik perempuannya.


Tasya terus memperhatikan Ana dan Arbi. Dari kejauhan, Ana terlihat membawa sebuah pesanan makanan lagi. Dan berjalan mendekati tempat duduk. Yang sudah ada Bara serta Arbi disana.


“Bunda Ana mau makan lagi ya, Kak?” tanya Tasya penasaran.


“Iya, Bunda Ana mau menemani Ayahnya Arbi makan. Kamu kan, sudah selesai makan nya. Ayo, pulang! Tidak enak kalau kita masih disini.” Ajak Zeon lagi.


“Tasya juga mau seperti mereka. Makan bersama Papa dan Mama.” Tutur Tasya murung.


Mendengar itu, hati Zeon seketika terenyuh. Zeon sadar, bahwa keluarganya tidak seharmonis Ana dan Bara. Bahkan sejak ia kecil pun, Zeon sudah bersikap lebih mandiri daripada Tasya sekarang.


Kedua orang tua Tasya dan Zeon selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Seperti yang dilakukan Tuan Brama dan Nyonya Kertajaya saat lalu. Tidak memedulikan keadaan Bara yang butuh perhatian dari kedua orang tuanya. Bahkan saat Bara menikah dengan Ana pun, mereka tidak peduli akan hal itu.


Ya—sebenarnya Bara pun juga tidak jauh berbeda dengan Zeon dan Tasya alami. Karena itu, Bara ingin membangun sebuah keluarga yang nyaman dan harmonis bersama Ana. Juga dengan anak-anak mereka nantinya. Agar kehidupan yang mereka jalani, akan selalu bahagia setiap harinya.


Tak ada perdebatan, kerusuhan, atau pula kekerasan. Melainkan hanya perjuangan, cinta dan kasih sayang, serta kesetiaan. Untuk melengkapi sebuah kata yang bernama, keluarga.


Karena keluarga, adalah tempat dimana kita pulang. Dan keluarga seperti halnya sebuah rumah. Tempat untuk menampung segala kesulitan maupun penderitaan yang kita alami sewaktu kita berada di luar.


Tapi terkadang, tidak semua keluarga itu bisa menjadi tempat untuk pulang. Ada yang namanya toxic family. Toxic family atau juga dikenal dysfunctional family, adalah kondisi di mana setiap anggota keluarga saling menyakiti secara fisik, mental, dan psikologis. Anggota dalam keluarga toxic tidak mendapatkan cukup dukungan atau justru menjadi orang yang menghambat perkembangan dirinya sendiri dan saudaranya.


Individu yang ada dalam keluarga toxic jarang menyadari kesalahan yang ia lakukan, tetapi mudah menemukan kesalahan orang lain. Keluarga toxic dapat memberi pengaruh atau dampak negatif bagi seluruh anggota keluarga.


Karena itu, sedini mungkin untuk kita harus memahami. Makna dari kata keluarga itu sendiri. Is your family poisonous or not? Or can they be used as a place to go home or not?


Agar kamu tidak merasakan kehidupan bak seperti berada di dalam neraka, walaupun itu ternyata adalah di dalam rumah kamu sendiri. Setidaknya, bisa menjaga jarak dan situasi dari mereka yang bersikap acuh atau pula beracun. Karena hal iti rupanya bisa membawa dampak, serta pengaruh yang buruk untuk kesehatan mentalitasmu. Juga terhadap masa depanmu, bagi orang-orang yang masih berada di bawah umur.


Pentingnya keluarga, memang segala-galanya. Karena itu, Bara belajar dari pengalaman hidupnya. Mempunyai keinginan yang besar, membangun sebuah keluarga bahagia bersama Ana. Dan ternyata dia berhasil.

__ADS_1


Hingga membuat siapa saja iri melihatnya.


__ADS_2