
Mengunjungi tempat-tempat yang indah selama di Paris, adalah impian Ana sejak lama. Waktu lalu, Ana sempat berpikir. Baginya pergi ke Paris ialah ketidakmungkinan yang tak akan terjadi. Bisa berfoto di depan menara eiffel, merupakan suatu kebanggan untuknya.
Dan lagi, hari ini ia bisa mendatangi tempat itu. Bersama dengan orang-orang tersayang. Begitu bahagia dan mengagumkan untuknya.
"Sayang, terima kasih untuk hari ini!" Ucap Ana lembut. Seraya menggenggam jari jemari Bara.
Setelah selesai dengan kegiatan seharian tadi.
Berburu jajanan kulineran, piknik di Tuileries Garden, lalu berfoto di depan menara eiffel. Dan sekarang, keduanya tengah dinner di hotel yang dekat dengan menara itu. Pemandangan bangunan yang mirip dengan segitiga, begitu indah terlihat dari kejauhan.
Ana memakai dress cantik berwarna putih. Dipadukan pashmina panjang dengan warna senada. Serta sepatu kaca yang di pesan Bara langsung oleh designer terkenal Paris.
Rupanya, Bara sudah menyiapkan itu semua sejak jauh-jauh hari. Dan tanpa sepengetahuan Ana.
Ah, so sweet nya mereka!
Eh.
"Thanks too, dear. Aku justru yang lebih berterima kasih padamu. Karena sudah membuat hari-hariku berwarna setiap harinya." Balas Bara lembut. Sembari mengecup lembut punggung tangan Ana.
Cup!
Suasana malam ini semakin romantis. Di iringi alunan suara biola yang terdengar melankolis. Serta banyaknya lilin terpasang disekitarnya.
Bara begitu tampan malam ini. Memakai setelan jas berwarna hitam. Dengan tampilan gaya rambut yang tertata rapi. Memberikan kesan elegan bagi siapa saja yang melihatnya.
SET
Bara mengambil setangkai bunga mawar berwarna merah. Yang ada di meja tempatnya duduk bersama dengan Ana sekarang. Gurat senyumnya terlihat menyeringai. Namun tulus di pandang.
"Untuk kamu, my princess!" Ucap Bara lembut. Seraya memberikan bunga mawar itu pada Ana.
"Ah, terima kasih sayang. I love this flower!" Balas Ana.
"Kita makan dulu, ya." Lanjut Bara berkata.
Ana lantas mengangguk pelan.
Keduanya menikmati beberapa hidangan yang sudah di sediakan. Dua porsi beef steak dengan balutan BBQ sauce, sebuah cake berukuran sedang serta ada toping caramel sauce diatasnya, dan dessert ice cream. Sebagai pencuci mulut untuk makanan penutup.
"Sayang... m-makananku?" Tutur Ana bingung.
Bara tiba-tiba saja mengambil steak Ana.
"Aku potong-potong, sayang. Supaya kamu makan nya tidak ribet." Sambung Bara. Seraya memotong daging steak itu menjadikannya beberapa bagian.
Dan jadilah, daging steak yang besar tadi menjadi kotak-kotak persegi panjang kecil.
"Habiskan ya, sayang!" Ujar Bara pada Ana. Sambil mengelus lembut wajah cantiknya.
Ana memagutkan kepalanya pelan.
Mereka makan dengan lahap. Sampai habis tak menyisakan apa pun pada semua piring itu. Ana tampaknya begitu bahagia untuk dinner kali ini bersama Bara.
Hal yang di impikan seperti pasangan pada umumnya, akhirnya terwujudkan sekarang. Kebahagiaan yang Ana rasakan tak dapat di ungkap melalui kata-kata. Tapi mungkin masih bisa dilihat. Dari kedua bola mata indahnya. Serta senyum tulus yang terukir mengembang, pada bibirnya.
Bara terlihat mengambil sesuatu dari saku celana nya. Entah apa yang dia ambil. Kelihatannya seperti sebuah benda kecil. Namun berkilau bila terkena sinar cahaya.
__ADS_1
"Sayang, jari kamu?" Ucap Bara meminta Ana menengadahkan tangan padanya.
SET
Bara memakaikan sebuah cincin berlian edisi terbatas. Yang dibeli langsung dari Paris. Entah kapan dia membelinya. Seperti sudah di siapkan sejak beberapa hari sebelumnya.
Kemungkinan besar, Bara menyuruh para pengawalnya. Tidak mungkin dia sendiri yang membeli serta menyiapkan semua ini. Sementara setiap saat, detik, maupun menit. Bara selalu berada di sisi Ana.
"S-sayang... ini..?" Gumam Ana terbata.
"Ini untuk kamu, sayang. Di pakai, ya! Bagus di jari cantikmu." Tukas Bara berkata.
Kedua mata Ana tampak berkaca-kaca. Wajah bahagianya tadi langsung berubah sedu. Tubuhnya beranjak bangun dari kursi yang di duduki nya sekarang. Lalu berjalan mendekati Bara.
"Aku nggak tahu lagi harus berterima kasih bagaimana. Kamu baik sekali, Bara. Hiks... hiks... aku bahagia. Sangat bahagia!" Tangis Ana pecah di dalam dekapan tubuh Bara.
Begitu erat, Ana memeluknya. Bara membalas pelukan itu dengan hangat. Mengelus bahu Ana yang tertutup dress putih panjang.
"Aku juga bahagia, An. Kamu berhak untuk mendapatkan ini semua." Sanggah Bara membalas ucapan Ana.
Tiba-tiba saja, Bara mengajak Ana untuk berdansa. Mengiringi alunan suara biola tadi.
"A-aku tidak bisa berdansa, sayang." Tutur Ana gugup.
"Aku yang akan menjadi guru dansa untukmu, sayang." Bisik Bara di telinga Ana.
Degupan jantung Ana semakin berdetak kencang. Sikap Bara saat dinner ini semakin romantis baginya. Terlebih lagi, Bara begitu telaten serta penuh perhatian memberitahu setiap gerakan yang ia ajarkan pada Ana.
"Aku jadi terpikirkan soal Arbi..." ucap Ana sedu. Yang tiba-tiba saja memikirkan malaikat kecilnya. Di tengah-tengah perdansa an nya dengan Bara.
"Arbi juga sedang sama sibuk nya seperti kita, sayang."
"Sibuk makan. Pfftt!" Jawab Bara seraya terkekeh kecil.
"Aku serius, Bara." Ana mendengus sebal.
"Aku juga serius, An. Arbi baik-baik saja. Para pelayan sedang menemani nya menikmati semua makanan yang ada di hotel ini juga. Di tambah lagi, ada ice cream berukuran besar yang di sediakan khusus untuknya." Celoteh Bara menjelaskan keberadaan Arbi.
Pantas saja, Arbi betah disana. Bara benar-benar profesionaluntuk membuat dinner nya menjadi sempurna seperti sekarang ini.
"Ice cream berukuran besar?" Tanya Ana lagi.
Bara mengangguk pelan. Seraya tersenyum mengembang menatap dalam mata Ana.
"Apa itu tidak berlebihan? Aku khawatir, gigi Arbi bisa berlubang. Kasihan kan, kalau anak sekecil Arbi harus kesakitan karena sakit gigi." Tutur Ana sedu.
"Everything's will be fine, dear. Arbi tidak akan sakit gigi. Aku juga sudah menyiapkan dokter gigi khusus untuknya. Lagi pula, hanya malam ini saja, kan. Dia memakan ice cream sebanyak itu." Ujar Bara lembut. Seraya mengelus lembut wajah cantik Ana.
"Aku ingin bertemu Arbi," ucap Ana tiba-tiba.
"Dinner kita bagaimana?"
"Kan makanan nya sudah habis, sayang."
"Tapi aku belum puas," kata Bara. Ekspresinya terlihat lesuh. Bibirnya lalu mengerucut ke depan.
Cup!
__ADS_1
Ana mendaratkan sebuah kecupan di bibir itu. Dan berakhir memeluk erat Bara.
Mungkinkan itu sebagai suatu sogokan?
Eh.
"Kalau kamu nya romantis begini, aku bisa apa." Sambung Bara berucap pasrah.
Akhirnya, keduanya meninggalkan tempat itu. Dan pergi menuju lantai dasar. Untuk mendatangi Arbi yang tengah bersama para pelayan serta pengawal bawaan Bara. Tampaknya mereka semua sedang berpesta makan besar disana.
Beberapa saat kemudian...
'Arbi terlihat senang sekali. Ah, aku mungkin terlalu cemas padanya.' Gumam Ana dalam hati. Saat melihat putra nya sedang lahap menyuapi ice cream ke dalam mulut kecil nya.
Bara menggenggam erat pergelangan tangan Ana. Dan mengajaknya berjalan mendekati Arbi.
"Arbi!" Panggil Bara.
Arbi lantas menoleh ke arah sumber suara. Kedua matanya berbinar ceria. Dan berlari mendekati Ayahnya, Bara.
Tanpa disadari, wajah Arbi penuh dengan lelehan ice cream yang berlepotan di sekitar mulutnya. Memeluk Bara dalam keadaan begitu. Akankah Bara marah pada malaikat kecil itu?
"Ayah!!!" Sahut Arbi bersemangat. Sembari merentangkan kedua tangan kecil nya untuk memeluk Ayahnya.
HAP!
"Senang ya? Makan ice cream raksasa?" Tanya Bara.
"Senang! Rasanya lebih enak daripada ice cream yang di Indonesia, Yah."
"Hm... Arbi tidak rindu Bunda, kah?" Sanggah Ana.
Mendengar suara Ana, Arbi merenggangkan pelukan nya. Kedua mata nya lalu beralih menatap Ana. Gurat senyum terukir mengeringai menatap sang Bunda.
"Arbi juga rindu Bunda!"
"Ah, Bunda juga, sayang." Balas Ana seraya mengecup lembut pucuk kepala kecil Arbi.
"Bajuku!" Teriak Bara tiba-tiba.
Ana terkejut mendengarnya.
"S-sayang? Ada apa?" Tanya Ana.
"Ah, tidak apa-apa. Ini hanya kecelakaan kecil." Jawab Bara.
"Itu... ice cream ku ada di baju jas Ayah." Sambung Arbi.
"Sepertinya ada yang harus diberikan materi tambahan saat dirumah nanti." Sindir Bara pada Arbi.
Arbi sontak langsung mengumpat ke belakang tubuh Ana. Takut bila diberikan tugas tersulit oleh Ayahnya, Bara.
"Bunda... Ayah mengancamku!" Tutur Arbi mengadu.
"Sayang..." ucap Ana seraya menggeleng pelan menatap Bara.
Alhasil, Bara hanya menampilkan ekspresi lesuh dan pasrah. Ia lalu membuka baju jas hitam nya. Yang tampak kotor karena lelehan ice cream Arbi tadi.
__ADS_1
Arbi benar-benar, deh!
Eh.