
Pernikahan Gladys & Arka
Suatu kehidupan bisa berubah dalam sekejap mata. Jodoh, rezeki, dan maut, ada di tangan Tuhan. Kapan pun Tuhan ingin mengubahnya, hanya dengan mudah membalikkan telapak tangannya.
Seperti yang di alami pada Bara. Kecelakaan maut yang terjadi dan menimpanya. Membuatnya kehilangan kesadaran serta ingatan. Meskipun begitu, walau jodoh takkan kemana. Berulang kali di pisahkan, tapi berakhir kembali pada orang yang sama.
Di dalam sebuah apartemen.
“Kamu hari ini nggak ke kantor?” Tanya Ana pada Bara. Yang sedari pagi hanya duduk di sebelahnya. Sambil memainkan jemarinya menyentuh perut Ana.
“Enggak, aku mau main sama kamu aja.” Jawab Bara. Ana mengernyitkan dahi nya.
“Main? Aku ‘kan udah dewasa, sayang. Kok main? Yang benar aja kamu ‘tuh.” Sambung Ana.
“Kamu nggak paham juga, ya? Maksud aku.. main itu.” Suara Bara terdengar lebih lembut dari biasanya. Tangan Ana menyentuh dahi Bara lembut. Mengelusnya berulang kali, seperti mengeloni anak bayi.
“Kamu pasti capek, ya? Jadi banyak pikiran begini. Aku mengerti, masa kecilmu tidak seindah masa kecil anak-anak yang lain.” Balas Ana lembut.
Bara kebingungan dengan perkataan Ana barusan.
‘Ana kenapa jawabnya malah melantur begini?’ gumam Bara dalam hati.
“Sayang... kamu nggak paham, ya? Maksud aku...” ucapan Bara terpotong.
“Aku paham, kok. Kamu mau main apa memangnya? Weekend nanti, kita ke taman bermain sama Arbi.” Sarkas Ana. Hal itu membuat Bara semakin gemas dengan tingkah Ana.
‘Gemas banget ih’ tutur Bara bergumam dalam hati.
Seketika Bara mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Ana. Lalu menatapnya dalam-dalam. Tangannya terangkat menyentuh dagu Ana. Wajahnya di dekatkan ke wajah Ana.
Cup
Bara mengecup bibir manis Ana. Keduanya saling menatap satu sama lain. Bara lagi-lagi mendaratkan kecupan di sana. Tapi kali ini ciumannya berubah menjadi *******. Agak lama, hingga membuat Ana kesulitan dalam bernapas.
“Huh! S-sayang... aku.. nggak bisa napas.” Keluh Ana. Bara sontak mengakhiri ciuman panas itu.
“Maksud aku.. main ini.. Ana sayang..” ujar Bara lembut. Ana tergelak melotot menatap Bara.
Tanpa meminta persetujuan dari Ana. Bara langsung ******* lagi bibir itu. Napasnya memburu, menikmati setiap sentuhan yang ia sentuh. Kedua tangan Ana melingkar memeluk Bara. Menikmati keromantisan yang begitu lama di rindukan Bara. Selagi tak ada Arbi disana.
Kecup sana kecup sini. Sentuh sana sentuh sini. Dan berakhir dengan kecupan lembut yang di daratkan Bara di kening, juga di bibir Ana.
Cup
“Aku cinta sayangku.” Ucap Bara lembut. Sembari mengeratkan pelukan hangatnya memeluk Ana.
“Aku juga, sayang.” Balas Ana seraya membalasnya dengan mengecup kening Bara.
“Seterusnya, kita terus begini, ya?” Lanjut Bara. Ana mendongak menatapnya.
“Menurut kamu? Kita bakal pisah, gitu?” tanya Ana nyeleneh. Bara menggeleng cepat.
“Nggak, aku gak mau. Aku mau sama kamu terus. Pokoknya kamu gak boleh pergi. Kamu milikku, An!” Tutur Bara posesif. Pelukannya semakin mengerat.
“Sayang... sakit...” keluh Ana. Bara tergelak kaget.
“M-maaf, sayang. Aku.. gak bermaksud menyakiti kamu. Aku hanya gak mau jauh-jauh dari kamu.”
“Iya... aku ngerti ‘kok. Aku juga nggak mau jauh dari sayangku.” Balas Ana sambil mengelus lembut wajah tampan Bara. Lalu mengecup dada bidang nya.
“Engh.. kamu mau lagi?” Bara bergumam pelan. Ana terkekeh kecil.
“Aku nggak ngapa-ngapain, loh. Kamu kok ‘gitu sayang?”
“Kamu barusan cium aku.”
__ADS_1
“Ih, apa sih kamu!” Kekeh Ana.
“Tapi benar, kan? Kamu mau lagi?”
“Enggak, aku mau mandi. Mau sekalian ke rumah Mama dan jemput Arbi.”
“Eh, kamu mau ke Mama? Biar aku aja. Kamu ‘kan lagi hamil.” Cegah Bara.
“Tapi aku ingin ketemu Mama kamu juga, sayang. Boleh, ya? Ya, ya, ya? Aku cium lagi, nih.” Pinta Ana memohon. Bara terkekeh kegirangan.
Ah, romantisnya!
“Iya, iya, tapi aku harus ikut juga. Aku antar, ya?” Ana mengangguk pelan.
“Kamu harus jaga kesehatan kamu. Besok acara pernikahan Arka dan Gladys. Masa kamu nya sakit, sih?” ujar Bara. Ana mengerucutkan bibirnya.
“Oh iya, aku hampir lupa. Hm, akhirnya mereka menikah juga ya, sayang?” ucap Ana pada Bara.
“Iya, walaupun awalnya Arka mau merebut kamu dari aku.” Gerutu Bara. Ana terkekeh kecil sambil mencium wajah tampan nya.
“Waktu kita menikah, aku nggak pakai gaun apa-apa. Kamu juga kasih maharnya cuma sebuah handphone. Itu pun handphone kamu sendiri.” Tutur Ana sedu.
“Kamu serius? Masa sih? Bukannya kita nikah nya mewah, ya?” Bara tak percaya.
Ya—kan antum lupa ingatan. Aduh! Eh.
“Kamu ‘kan amnesia, sayang.” Balas Ana.
“Hm.. gitu ya?” tanya Bara lagi, memastikan. Ana mengangguk pelan.
“Maaf...” sambung Bara.
“Maaf? Kamu nggak salah apa-apa, kok.” Ujar Ana. Bara menggeleng cepat.
“Salah, aku salah.. sayang. Maaf, aku nggak kasih kamu pernikahan yang baik dan mewah seperti Arka dan Gladys. Mungkin juga telat.”
“Telat? Maksud kamu?” tanya Ana bingung.
“Iya, gimana kalau kita menikah lagi? Kamu mau ‘kan?” ajakan Bara pada Ana. Membuat mata Ana berbinar.
Nikah lagi? Ahay! Eh.
.........
Waktu berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Gladys & Arka. Ana dan Bara tengah bersiap berangkat ke acara mereka. Namun, permintaan Bara agak terdengar aneh. Meminta Ana untuk memakai gaun putih yang di bawakan oleh Pak John semalam.
“Sayang.. kamu serius? Aku pakai gaun ini? Kita nggak menikah juga ‘kan? Masa aku pakai gaun ini, sih?” Ana tampak kebingungan. Sembari melihat dirinya ke depan cermin besar. Bara mendekatinya, memeluk pinggangnya dari belakang. Wajah tampan nya di taruh pada tengkuk leher Ana.
“Kamu... cantik!” puji Bara, memuji Ana.
“Sayang.. aku serius.” Gerutu Ana kesal.
“Ssssttt, kamu pakai aja. Nanti kamu juga tahu, kok.” Jawaban Bara justru terkesan ambigu, sambil mendaratkan satu kecupan di kening Ana. Membuat Ana semakin tidak paham dengan maksudnya.
Tok.. tok.. tok.
Suara ketukan pintu apartemen di ketuk. Diiringi dengan suara bel yang di tekan oleh orang yang datang bertamu. Bara berjalan keluar kamar. Menuju ke arah pintu utama.
Kriek!
Pintu apartemen terbuka lebar, menampakkan sosok Pak John dan Arbi. Yang datang dengan mengenakan jas hitam. Di bagian tengahnya terpasang dasi berbentuk seperti pita. Berwarna serupa seperti warna jas nya, hitam.
“Ayah!” teriakan kecil Arbi memanggil Bara. Kedua tangan kecilnya terangkat ke atas. Wajah cerianya menatap Bara. Senyum nya terukir mengembang. Bara menangkap Arbi dengan satu tangkapan. Menggendong pria kecil itu yang wajahnya tak jauh berbeda dengannya.
Iya, Arbi memang mirip dengan Bara semasa kecil.
__ADS_1
“Bunda dimana?” tanya Arbi, lagi.
“Bunda sedang bersiap. Kamu mau lihat?” balas Bara. Arbi kecil mengangguk cepat.
“Pak John bisa tunggu sebentar? Hanya sebentar, duduk saja di ruang tamu.” Pinta Bara pada Pak John.
“Eh, tentu saja, Tuan muda. Dengan senang hati.” Jawab Pak John. Bara mengangguk, lalu pergi kembali ke dalam kamar. Sambil menggendong Arbi.
Keduanya berjalan dengan wajah semringah.
“Arbi? Kamu kapan datang, sayang?” tanya Ana. Selepas Bara dan Arbi masuk ke dalam kamar mereka.
“Baru, kok. Pak John juga datang.” Bukan Arbi yang menjawab, tapi Bara.
“Loh, Pak John? Memangnya Pak John juga di undang?” Ana bingung. Setahunya, acara pernikahan Gladys & Arka begitu tertutup. Hanya orang terdekat dan beberapa teman dari kalangan bisnis Arka. Serta kedua keluarga mempelai pengantin.
“Iya, dong. Pak John ‘kan asisten ku juga.” Sambung Bara. Ana memagutkan kepalanya pelan.
“Bunda cantik!” puji Arbi. Ana tersenyum kecil menatap buah hati pertamanya.
“Terima kasih, Arbi sayang. Arbi juga tampan!” balas Ana sambil mengecup lembut kening Arbi.
Singkat cerita, mereka semua telah tiba di depan sebuah gedung hotel bintang lima. Tempat dimana Arka & Gladys menggelar resepsi pernikahan mereka. Ana dan Bara keluar dari dalam mobil. Berjalan berdampingan sambil menuntun Arbi. Di ikuti Pak John yang berjalan mengekor di belakangnya.
Acaranya benar-benar mewah. Bahkan yang hadir sepertinya bukan dari kalangan biasa. Ana tercengang menatap memperhatikan ke sekelingnya. Tak pernah sebelumnya, ia menghadiri acara semewah ini.
Kedua mata Ana berbinar saat melihat sosok Gladys dari kejauhan. Yang mengenakan gaun putih panjang. Sedang duduk berdampingan bersama Arka.
“Sayang.. kayaknya kita telat, deh.” Ucap Ana.
“Telat? Enggak, kok. Acara pernikahannya aja di gelar pukul 10 pagi.” Balas Bara.
“Hah, serius? Berarti kita datang ke pagi-an dong?” Ana tergelak kaget. Karena saat ini, jam baru menunjukkan pukul 9 pagi.
“Nggak juga, sayang. Justru malah bagus, kalau kita datang lebih awal.” Sanggah Bara.
“Hm, iya sih. Tapi aku takut mual nanti.” Tutur Ana sedu. Bara menatap nya nanar.
‘sabar sayang, sebentar lagi kamu juga akan tahu’ gumam Bara dalam hati.
Semua orang tampak datang dengan pakaian klasik dan elegan. Nyonya Kertajaya juga ikut hadir di sana. Tapi, yang lebih anehnya. Ia mengenakan gaun putih. Bahkan gaunnya tak berbeda jauh dengan yang Ana pakai. Bedanya, gaun milik Ana lebih terkesan untuk pengantin wanita. Sementara yang di pakai Ibu mertuanya, tidak.
Ana dan Arbi duduk mendekati Ibu mertuanya. Sementara Bara entah langsung hilang pergi kemana bersama Pak John. Padahal saat berangkat, sempat bersama.
“Loh, Suamimu kemana? Kok nggak ada?” tanya Ibu mertua pada Ana.
“Aku juga nggak tahu, Ma. Tadi Bara bilang mau pergi sebentar dengan Pak John.” Jawab Ana. Arbi tampak tenang memperhatikan orang-orang berdatangan. Memasuki ke dalam acara pernikahan itu.
“Aih, anak itu. Mama beruntung, punya menantu yang sabar dan pengertian sepertimu. Bara memang anak yang aneh. Selalu punya cara tersendiri. Diam-diam suka buat kejutan. Bahkan saat menikahimu, dia membuat Mamanya sendiri terkejut.” Celoteh Nyonya Kertajaya. Tiba-tiba suasana hati Ana berubah. Wajahnya tertunduk sedu.
Mengingat kejadian lalu, saat dirinya di ajak ke rumah utama keluarga Kertajaya oleh Bara. Ana tak di terima dengan baik oleh Ibu mertua nya. Bahkan mereka sempat terpisah hingga beberapa bulan. Dan sekarang, ia dan Bara di persatukan lagi. Ana tak menyangka, bisa melewati semua nya. Yang ia kira berat, pada akhirnya hanya akan jadi sebuah kenangan lalu.
Yang berlalu begitu cepat.
“Ana? Kamu melamun, Nak?” suara Nyonya Kertajaya menyadarkan Ana dari lamunan nya.
“Ah, m-maaf, Ma. Aku.. tidak sengaja.” Jawab Ana gugup.
“Hm.. pasti kamu mengingat lagi masa-masa lalu, ya? Maaf, dulu Mama sempat berbuat tidak baik padamu. Kamu begitu banyak mengalami kesulitan.” Celoteh Nyonya Kertajaya pada Ana. Membuat Ana tersentuh dengan perkataan nya.
“Tidak apa-apa, Ma.” Balas Ana lembut. Tangannya menyentuh tangan keriput itu. Nyonya Kertajaya tersenyum tulus menatap Ana. Tak menyangka bahwa ia selama ini salah paham pada wanita yang ada di depannya.
Gemerlap harta memang tak bisa menjamin hidup penuh keharmonisan serta kebahagiaan. Namun, tak munafik bahwa semua orang menginginkan harta dan kekayaan untuk kehidupan.
Ana gadis yang baik dan sederhana. Sangat berbeda dengan Sofie. Maupun Farah, yang sekarang entah ada dimana. Mungkin juga Farah dan keluarganya pindah ke luar negeri.
__ADS_1
Entahlah.