
Hari semakin sore, Ana sudah diperbolehkan untuk pulang. Bara berjalan ke luar ruangan sambil mendorong Ana. Sementara Arbi ada di pangkuan sang Bunda nya.
"Yeay, Bunda sudah boleh pulang!" teriakan kecil Arbi bersorak. Menyambut kepulangan Ana dari rumah sakit. Kedua tangan kecilnya terangkat ke atas.
Ana tersenyum kecil seraya mengusap lembut kepala nya.
"Iya, kamu seneng banget, kayaknya." Balas Ana.
"Seneng dong, sayang. Arbi aja seneng, apalagi aku? Nggak sabar, deh." Sambung Bara. Namun kalimat terakhir seperti mengandung makna lain. Ana merinding seketika.
"Ng-nggak sabar kenapa?" tanya Ana bingung.
"Nggak sabar mau... makan kamu." Jawab Bara dengan membisikan di kedua kata terakhirnya. Sontak membuat Ana mencubit kecil lengan Bara.
"Awh, sakit, sayang." Keluh Bara.
"Biarin, kamu fokus dorong aku aja. Kasihan 'kan Arbi. Udah capek banget kayaknya dia. Kamu pasti mengantuk ya, sayang?" Ujar Ana diakhiri tanya untuk Arbi. Pria kecil itu mengangguk pelan. Sambil menenggelamkan kepalanya di dada Ana.
Bara yang melihatnya berubah masam. Merasa geram dengan tingkah Arbi.
Sama anak kecil, nggak mau ngalah! Eh.
"Enak banget, ya. Jadi Arbi." Tutur Bara nyeleneh.
"Enak? Maksud kamu? Arbi udah mau tidur. Ssstttt... jangan berisik.." balas Ana.
"Hm... Arbi aja yang diperhatiin. Akunya kapan?" Gerutu Bara dengan suara kecil. Namun Ana rupanya masih bisa mendengarnya.
"Kamu mau dimanja gimana, memangnya?"
"K-kamu dengar?" Bara tergelak kaget.
"Dengar dong, telingaku 'kan indera pendengarannya cukup kuat." Jawaban Ana sontak membuat wajah Bara memerah.
"Sayang..." suara Ana tiba-tiba berubah sangat lembut. Bahkan lebih lembut dari biasanya. Membuat bulu kuduk Bara merinding seketika.
"Eh.. i-iya?"
__ADS_1
"Kesini sebentar... wajah kamu." Pinta Ana. Bara menurut, ditundukkan wajah tampannya mendekati tengkuk punggung Ana.
Cup
Ana mengecup lembut bibir itu tiba-tiba. Bara terdiam kaku. Menghentikan langkah kakinya beserta dorongan kursi roda Ana.
"Itu 'kan? Yang kamu mau. Sisa nya di apartemen na..." ucapan Ana terpotong. Bara langsung mendekati benda kenyal itu lagi. Lalu me**matnya agak lama. Mengambil kesempatan di koridor rumah sakit yang begitu sepi dan tak ada orang lewat kesana kemari.
Beberapa detik kemudian...
"Ana!" terdengar suara yang memanggil nama Ana. Keduanya langsung menghentikan aktivitas itu. Bak seperti pasangan yang tengah kepergok selingkuh. Wajah Ana memerah. Namun Bara tetap bersikap tenang seperti biasa.
Kalau akting tenang, Bara kayaknya mendapat gelar legend tertinggi. Waduh!
Ana dan Bara langsung menoleh ke arah sumber suara. Namun siapa sangka, yang memanggil tadi ialah...
"Gladys?" panggil Ana bertanya.
"Iya, ini aku." Jawab Gladys. Ia datang seorang diri. Lalu dimana Arka?
"K-kamu b-bukannya tadi sudah pergi?" tanya Ana lagi gugup. Mengingat kejadian sebelumnya, Gladys begitu marah dan kecewa padanya. Ana merasa bersalah pada gadis itu.
"Aku belum pergi. Aku... minta maaf. Soal Arka sebelumnya aku.. nggak bermaksud untuk mengumpat kamu, An." Jelas Gladys dengan wajah tertunduk.
"Hm... aku nggak apa-apa, kok. Lagi pun, aku juga nggak marah. Aku yang seharusnya minta maaf, Dys. Maafkan aku... karena-ku, Arka jadi labil dan menyakitimu." Sambung Ana. Gladys mendongak ke atas, menatap wajah Ana lekat.
"Matamu... jangan terlalu lama menatap Ana!" gerutu Bara kesal.
Hei, dia 'kan perempuan! Bukan nya lakik! Eh.
"Sayang..." ucap Ana agak menekan. Bara lalu mengerucutkan bibir nya.
"Nggak, An. Aku yang salah karena terlalu egois. Perkara hati Arka yang begitu berlebihan padamu. Aku jadi membencimu. Seharusnya aku tidak menyalahkanmu. Aku.. minta maaf." Lanjut Gladys. Ana memajukan kursi roda nya. Dibantu pula oleh Bara.
Tangan Ana terangkat memegang kedua tangan Gladys. Mengusapnya dengan lembut.
"Dys, aku 'kan nggak pernah marah. Apalagi marah sama kamu. Kalau mau menyalahkan, nggak ada yang bisa disalahkan juga. Baik aku, kamu, atau pun Arka. Jatuh cinta itu memang indah, Dys. Namun cinta juga bisa membuat orang terluka. Karena ketidaktepatan dalam menaruh rasa cinta itu. Arka tidak memahami isi hatinya. Sebenarnya ia juga mencintaimu, Dys. Tapi semua itu tertutup karena sebuah obsesinya padaku. Arka tidak mencintaiku, melainkan obsesi. Aku nggak tahu apa yang dikatakan Arka padamu. Hingga membuatmu begitu marah dan kecewa padanya. Tapi aku yakin, dia melakukan itu diluar kendalinya. Arka mungkin sedang dalam emosional yang tinggi." Celoteh Ana berusaha mengimbangi. Gladys menatap Ana dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"An...." ucap Gladys sedu, tanpa membalas apa-apa lagi. Detik berikutnya, Gladys mencengkeram kuat pergelangan tangan Ana. Air matanya mulai berjatuhan.
Ana memagutkan kepala nya pelan.
"Senyum, dong. Wajah cantikmu nanti pudar, kalau kamunya nangis gitu." Tutur Ana receh. Berusaha mengembalikan suasana seperti normal lagi.
"Sayang, mau sampai kapan kita disini?" Kali ini Bara ikut bersuara. Ana tersadar, dirinya dan Bara masih berada di koridor rumah sakit. Terlebih lagi, ada Arbi dipangkuannya yang sedang tertidur pulas.
"Eh, iya nih. Dys, maaf, aku nggak bisa berlama-lama. Bara kelihatannya udah capek banget, Arbi juga. Aku duluan nggak apa?" Gladys mengangguk cepat.
"Nggak apa-apa kok, An. Karena-ku, kalian malah nggak jadi pulang. Maaf, ya." Balas Gladys. Ana tersenyum tulus menatap gadis itu.
"Kalau begitu, aku duluan ya, Dys. Bila masih ada yang perlu diomongin lagi, kamu bisa ke apartemen-ku aja." Sambung Ana. Gladys mengangguk.
"Iya, pasti kok. Hati-hati, An, Bara." Ucap Gladys sambil melambai-lambaikan sebelah tangan kanan nya.
Punggung Bara semakin jauh tak terlihat di pandangan Gladys. Yang tengah mendorong kursi roda Ana. Gadis itu pun melanjutkan perjalanan nya. Untuk ke ruang perawatan Arka.
.........
Di apartemen Ana & Bara.
"Sayang... aku menagih ucapanmu yang tadi." Ujar Bara pada Ana yang tengah bersantai sambil menonton drama Korea kesukaannya.
Sementara Arbi sudah di pindahkan Bara ke dalam kamar. Sepertinya Arbi kecil begitu lelah. Buktinya sampai sekarang masih belum bangun juga.
"Ucapanku yang mana? Aku memangnya tadi ngomong sesuatu, ya?" tanya Ana bingung.
"Kamu lupa? Atau... pura-pura lupa?" balas Bara diakhiri bisikan kecil di telinga Ana. Tubuhnya semakin di dekatkan pada wanita cantik itu. Menimbulkan debaran di hati Ana. Wajahnya memerah dan terlihat gugup.
"A-aku m-memang lupa... say.." ucapan Ana terpotong. Bara langsung melahap bibir manis Ana. Me**matnya dengan lembut.
Kecup sana kecup sini. Perlahan ciuman itu turun ke tengkuk punggung Ana. Bara meninggalkan tanda kiss mark di leher jenjangnya.
"Awh.. sayang.." keluh Ana meringis.
"Maaf.. sakit, ya?" ujar Bara bertanya. Dan langsung mengecupnya lagi. Memberikan rasa nyaman dan hangat bagi Ana. Rasa sakit akibat gigitan nya berubah lembut karena kecupan dari bibirnya.
__ADS_1
Suasana romantis dan keintiman mereka semakin tercipta. Membuat keduanya menjadi lebih bergairah satu sama lainnya.
Sebelumnya, apartemen Ana sudah diperbaiki oleh Pak John. Saat Ana dirawat di rumah sakit selama setengah hari. Saat itu pula, Bara menugaskan Pak John. Untuk membereskan apartemen secepatnya.