
Sudah seharian ini Arya tidak melihat batang hidung Bara di kantor nya. Menandakan bahwa dia tidak masuk kerja hari ini. Kesabarannya sudah hilang sekarang. Arya berencana untuk pergi ke rumahnya. Karena ia sendiri pun sudah mengetahui tempat tinggal Bara yang baru.
Itu semua berkat informasi yang di berikan oleh Safira. Karena dia sudah berhasil mengikutinya secara diam-diam. Dan informasi yang diketahui oleh para pengawal utusan Tuan besar juga diberikan oleh
Safira.
"Kalau begini, aku juga yang harus turun tangan untuk menemuinya. Huh! " Gerutu Arya sambil berjalan ke luar area parkiran kantor.
Ia berniat untuk pergi ke rumah Bara.
Mobil yang sudah ia tumpangi berjalan keluar dari area parkir. Menuju ke tepi jalan raya besar. Melaju dengan kecepatan penuh. Entah mengapa, mungkinkah karena ia cukup kesal dengan Bara. Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk cepat sampai kesana.
Tak berapa lama kemudian, mobilnya mulai memasuki are perumahan. Menurunkan kecepatan mobilnya sembari melihat foto yang tertera di ponselnya. Foto rumah yang di kirimkan oleh Safira. Apalagi kalau bukan foto rumah Bara dan Ana. Masih sempat-sempatnya saja wanita itu memotretnya.
Dasar!
"Jadi ini, rumahnya. Sepi banget, seperti tidak berpenghuni.... eh, itu apa?" Ucap Arya seraya melihat ke arah sesuatu tanpa sengaja.
Ada sesuatu berwarna hitam yang tergeletak diatas rerumputan hijau. Tepat di depan halaman rumah Bara. Arya turun dari dalam mobilnya. Menghampiri nya langsung untuk memastikan apa yang ia lihat. Namun, betapa terkejutnya dia, karena yang ia lihat adalah
Ana.
"Astaga! Ana! Kenapa dia ada disini? Dimana si berengsek itu?!" Umpat Arya kesal.
Merasa kasihan dengan Ana, ia langsung menggendongnya ala bridal style. Membawanya masuk ke dalam rumah. Wajah yang terlihat putih pucat pasi. Dingin bagai es batu, dengan mata yang sembab. Ada rasa senang karena ia bisa berdekatan dengan Ana. Tapi juga ada sedihnya, karena melihat kondisi Ana yang mungkin
memprihatinkan.
"Ana, Bangun.." Tutur Arya menepuk wajah Ana pelan.
Ana tidak mendengarnya, karena ia masih dalam kondisi
pingsan.
Arya tidak tinggal diam, ia merebahkan Ana di atas sofa. Dan pergi ke arah dapur untuk mengambil air hangat. Berniat untuk mengompresnya sebentar. Agar hawa dinginnya berangsur menghilang. Juga tak lupa mengoleskan minyak kayu putih yang ia bawa di kantong celana nya.
Kemudian...
"Uhuk.. uhuk.." Ana terbangun.
"Syukurlah, kamu sudah bangun. Kamu kenapa? Tadi tidur di halaman rumah. Dimana Bara?" Tanya Arya seperti mengintrogasi.
Ana teringat sesuatu, kalau Bara sudah pergi. Dan Ayahnya juga membawa Arbi pergi dari sisinya. Tanpa sadar, air mata itu luruh dengan sendirinya.
"Ba... ra... Bara.. dia... dia sudah pergi. Hiks... hiks... hiks... anakku.. anakku juga pergi.. hiks.. hiks.." Jawab Ana sedu.
Arya tercengang mendengarnya. Haruskah ia merasa senang? Bukankah ini yang dia inginkan? Lalu kenapa ia justru sedih mendengarnya. Apalagi saat Ana mengatakan dengan tersedu-sedu.
Seperti ada sesuatu yang tengah menyayat hatinya. Tak dapat berkata-kata lagi. Arya hanya bisa menenangkan Ana. Membawanya ke dalam dekapannya. Meskipun awalnya Ana tampak memberontak. Namun pada akhirnya hanya bisa pasrah.
"It's okay, Ana. Aku disini, gak perlu takut denganku. Aku tak akan melakukan apa pun padamu." Ucap Arya lembut.
Ana mengangguk paham.
"Lalu sekarang, bagaimana dengan rencana selanjutnya?" Tanya Arya.
"Entahlah... aku sudah kehilangan arah." Jawab Ana tertunduk sedu.
"Sssttt, gak boleh gitu. Kamu masih punya harapan. Perjalanan hidupmu bahkan masih panjang. Aku akan membantumu, kamu tenang saja." Tutur Arya.
"Bara sudah pergi meninggalkanku. Bahkan anakku juga pergi. Apa yang akan aku lakukan sekarang?" Lagi-lagi Ana menitikkan air matanya.
Arya mengeratkan dekapannya. Mengelus lembut pundaknya. Sungguh miris hidup Ana. Ia bahkan tidak tahu harus pergi kemana untuk menemukan Bara. Lelaki brengsek itu.
"Sudah, kamu jangan sedih lagi. Bagaimana kalau besok, kamu bekerja di kantorku?" Usul Arya.
Ana mulai dapat pencerahan.
"Benarkah?" Tanya Ana meyakinkan.
Arya mengangguk, dan memperlihatkan senyumnya yang mengembang.
"Lalu, bagaimana dengan kuliahku?" Ucap Ana bimbang, bertanya lagi pada Arya.
Benar, kuliahnya pun juga harus di teruskan. Karena tak lama lagi, ia baru akan lulus.
"Kamu bisa kuliah sambil bekerja di kantorku. Sesuaikan saja pekerjaan kantor dengan jadwal kuliahmu." Jawab Arya.
"Terimakasih. Kamu sudah mau membantuku." Tutur Ana.
"Aku melakukan ini semua karena aku menyukaimu, Ana. Aku bahkan tidak tega melihatmu seperti ini. Aku juga akan balas perbuatan Bara untukmu." Gumam Arya dalam hati.
Pikiran Arya tiba-tiba mengingat adiknya, Arka. Ia mengambil ponselnya di saku celana nya. Mencari kontak bernama Arka. Berniat untuk menelepon nya. Sampai ketika..
[Ada perlu apa Lo telepon Gue?] Jawaban Arka lagi-lagi dingin.
Sungguh dua saudara yang tidak ada akurnya.
__ADS_1
"Kamu tahu dimana Bara?" Tanya Arya lost speaker.
[Bara? Mana Gue tahu! Udah lama tuh anak gak kelihatan.] Jawab Arka kesal.
"Arka memang tidak tahu. Karena Bara sudah dibawa pergi oleh keluarganya." Ucap Ana.
Suara Ana terdengar sampai ke telinga Arka. Itu karena Arya mengaktifkan lost speakernya. Jelas kalau Arka bisa mendengar suara Ana.
[Itu Ana? Lo dimana? Gue mau kesitu sekarang.] Tutur Arka.
"Gue di rumah Ana. Kenapa memangnya?"
[Cepat share lokasi nya sekarang juga! Awas kalau sampai Lo gak share. Kantor Lo Gue obrak-abrik!] Ancam Arka.
Ana mendengarnya. Ia bahkan baru tahu, kalau hubungan Arka dengan Arya tidak akur.
"Iya iya. Bawel banget!" Ucap Arya seraya mematikan sambungan telepon.
Tut!
Arya langsung mengirimkan lokasinya ke Arka. Dan setelah itu kembali mematikan ponselnya. Memasukannya lagi ke dalam saku celana nya. Suasana nya pun menjadi canggung sekarang. Ana melepaskan pelukannya, dan duduk berjauhan dari sisi Arya.
Arya paham dengan situasinya. Ana bahkan sangat menjaga jarak dengan siapa pun. Terkecuali dengan Bara seorang. Dan sekarang, dia sendiri bahkan dengan beraninya memeluk Ana. Wajar jika Ana mulai sadar dengan situasi yang ada.
"Maaf." Kata Arya.
Tak menjawab perkataan Arya. Ana hanya tersenyum kecut menatapnya.
"Hm, kamu sudah makan?" Tanya Arya. Mengalihkan topik untuk menghilangkan rasa canggungnya.
Ana menggeleng.
"Apa di dapur ada bahan-bahan makanan?" Tanyanya lagi.
Ana mengangguk.
Tanpa bertanya lagi, Arya pergi ke arah dapur. Meninggalkan Ana yang masih terduduk lemah dengan wajah pucatnya. Mungkinkah Arya akan memasak?
Terlihat dari kejauhan, Ana tampak memperhatikan gerak-gerik Arya. Tapi jika Arya memperhatikannya balik, Ana justru membuang muka.
Arya mulai mengambil beberapa bahan makanan yang ada di dalam freezer. Dilihatnya masih lumayan banyak stok makanan yang ada. Ternyata kebutuhan Ana lebih dari cukup, pikirnya. Bara menafkahinya cukup baik. Arya mulai memanaskan wajannya.
Mengambil beberapa buah serta keju dan mayonaise. Tak lupa juga ia membuat cream soup mushroom. Untuk menghangatkan perut, serta membuat roti toast isi keju telur dan ham di dalamnya. Menu yang pas dimakan dalam keadaan dingin. Arya hanya membuat makanan untuknya dan Ana.
Tak berapa lama, semua makanan nya pun jadi.
Ini adalah cream soup mushroom.
Serta yang terakhir adalah salad buah.
Semua makanan telah di sajikan. Satu persatu Arya membawakannya ke ruang tamu. Tepat dimana Ana yang masih tengah duduk lemah meringkuk kedinginan. Perutnya pasti sudah keroncongan, karena belum makan seharian. Ditambah lagi dengan suaranya yang habis, karena sempat berteriak sewaktu mengejar mobil yang ditumangi oleh Tuan beserta pengawalnya.
Lalu membawa pergi anaknya, yang menyisakkan gemuruh di dada.
Sungguh kejam!
"Ana." Panggil Arya, seraya menyusun semua makanan yang telah di masak di atas meja.
Tepat berada di depan mereka sekarang.
Ana melihatnya sambil meneguk saliva. Benar-benar menggugah selera. Dan membangkitkan hawa nafsu makannya kembali. Tak menyangka, rupanya Arya bisa memasak juga.
"Ini semua.. kamu yang masak?" Tanya Ana tampak tak percaya.
"Iya. Kamu lihat kan tadi? Aku selama beberapa menit berada di dapur." Jawab Arya bangga.
"Hm, maaf. Aku tidak memperhatikannya tadi." Ucap Ana malu.
"Ya sudah, kalau begitu, kita makan." Tutur Arya mengalihkan topik.
Ana mulai menyicipi sepotong toast yang dibuat Arya. Rasanya seperti toast yang ia buat sewaktu membuatkan bekal pada Bara. Tiba-tiba ingatannya teringat pada lelaki itu. Mulutnya mengunyah makanan, namun pikirannya kemana-mana. Arya memperhatikannya sebentar.
"Ana. Gak perlu di pikirkan lagi. Yang penting sekarang kamu baik-baik aja. Urusan Bara, biar aku saja yang mengurusnya. Kamu tenang aja. Oke?" Ucap arya lembut.
Ana mengangguk paham dan kembali melanjutkan makannya.
...-...
Di sela-sela menyantap makanan, tiba-tiba Arka datang sambil membawa satu kantong kresek. Sepertinya berisi makanan. Entah apa yang di bawa olehnya. Arya tidak peduli dengan keberadaan sang Adik.
Huh!
__ADS_1
"Lagi asik banget ya? Makan nya. Sampai lupa ada tamu yang baru aja datang." Tutur Arka dengan sindirannya.
Kayaknya ada yang cemburu nih, ehem.
Eh.
"Arka? Kapan datang?" Tanya Ana. Ia sendiri pun baru menyadari kehadiran Arka.
"Hm, barusan sih Kak. He he." Jawab Arka terkekeh.
"Lanjutkan aja makan nya. Dia tidak usah di pedulikan." Ucap Arya datar.
"Sialan, Lo!" Umpat Arka.
"Udah, Ka. Sini duduk! Kita makan sama-sama." Ajak Ana mendamaikan suasana.
Arka pun ikut duduk di samping Ana. Sambil menaruh kantong kreseknya. Ana tiba-tiba penasaran, apa itu isinya.
"Eh, ini apa Ka?" Tanya Ana.
"Oh ini? Sedikit camilan buat Kak Ana. He he, aku tadi gak sengaja mampir ke cafe. Tempat kita nongkrong waktu itu, Kak. Masih ingat gak? Yang di dekat kampus itu, loh." Jawab Arka sambil mengingat-ngingat.
"Oh.. itu. Iya, aku ingat kok. He he, makasih ya Ka!" Tutur Ana berterima kasih.
"Iya, sama-sama Kak. Di buka aja, takut keburu dingin. Jadi gak enak he he." Sambung Arka.
Ana tersenyum manis menatapnya. Seraya membuka bungkusan makanan itu. Arya terus memperhatikan keduanya. Hatinya tampak kesal melihatnya. Ana bersikap manis sekali pada Adiknya. Sementara padanya, dari tadi bahkan terus bersikap dingin.
Huh! Dasar cemburu buta.
Eh.
"Wah, ini waffle." Ana tampak senang.
"Syukurlah, kalau Kak Ana suka. Di makan aja, Kak. Mumpung masih hangat, he he." Ucap Arka.
"Buat Kakak mana?" Tanya Arya.
"Buat Lo? Beli sana sendiri!" Jawab Arka terkekeh.
"Sudah, sudah. Ini banyak kok isinya. Kita makan sama-sama aja." Usul Ana.
Arya tersenyum puas. Namun Arka tampak kesal melihat ekspresi Kakaknya.
Mereka bertiga pun makan dengan suka cita. Tapi tetap saja, di sela-sela kehangatan yang tercipta. Arka dan Arya masih tidak bisa akur. Lagi-lagi Ana yang mendamaikan suasana. Indahnya kebersamaan mereka.
Ana sudah tidak sesedih tadi, bahkan ia juga sudah mulai tersenyum. Itu semua berkat kedatangan Arka. Juga bantuan yang di lakukan oleh Arya padanya.
.........
Sementara di rumah utama keluarga Kertajaya. Bara masih mengurung dirinya di dalam kamar. Ayahnya bahkan sudah bosan memerintahkan semua pelayan. Agar putranya tidak terus menerus berdiam diri di dalam. Tapi dengan adanya bayi kecil itu, suasana di rumah utama jadi hangat.
Nyonya besar bahkan sangat senang bermain dengan Arbi. Namun Arbi masih belum terbiasa dengan orang-orang baru disekitarnya. Tangisnya masih terus bergeming. Sudah diberikan susu formula, namun masih tak berhenti tangisnya. Barulah saat Bara menyadari kalau anaknya tengah berada di rumahnya.
Ia langsung bergegas keluar. Karena mendengar suara tangisan Arbi. Bara bahkan berlarian ke arah sumber suara. Ia kira bahwa Ana juga ada disana. Tidak sabar untuk bertemu dengan Ana juga anaknya. Namun yang ia lihat justru
hanya ada Arbi.
Senyuman di wajahnya memudar. Bara kecewa, karena Ana tak ada disana. Yang ia lihat hanya lah Arbi. Namun, dimana Ana? Mengapa Arbi ada disana, tapi Ana tidak ada.
"Kemana Ana? Mengapa hanya ada Arbi disini?" Tanya Bara dengan nada tinggi.
"Sabar lah sayang. Gak perlu marah-marah gitu. Kamu mau gendong Arbi?" Jawab Ibunya dengan suara khas nya. Seraya menyerahkan Arbi padanya.
Bara menggendongnya dengan senang hati. Menatap wajah polos itu. Jari jemari kecilnya menggenggam erat tangannya. Suara tangisnya pun mulai berhenti. Arbi tampak tenang berada di sisi sang Ayah.
"Dimana Ana? Dimana istriku? Kenapa dia tidak ada?" Lagi-lagi Bara bertanya.
Ibunya tampak kesulitan menjawab. Ia bahkan mencari-cari alasan agar
Bara bisa menaruh kebencian pada Ana.
"Hm, dia... " Jawab Nyonya besar terbata.
"Dia kemana?!" Tanya Bara tegas.
"Dia yang menyerahkan bayi ini pada Mama. Lalu dia pergi begitu saja dan berkata, kalau dia sudah tak ingin bersamamu lagi. Dan ingin berpisah denganmu. Makanya, dia menyerahkan bayinya ke sini." Jawab Ibu nya berbohong.
"Gak mungkin Ana berkata begitu. Mama pasti bohong!" Ucap Bara tak percaya.
"Bohong gimana maksud kamu?! Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh tanyakan langsung pada Papamu!" Tutur Ibu nya seraya pergi.
Bara berpikir sejenak, dan mencerna semua kata-kata Ibunya. Apakah benar, Ana berkata begitu. Kalau memang benar, mengapa? Dan apa alasannya sampai ia tega meninggalkan Arbi. Bahkan Arbi seharusnya butuh kasih sayang Ibunya.
Tapi Ana justru pergi meninggalkannya. Ini semua masih terdengar ambigu. Bara harus mencari tahu yang sebenarnya. Untuk sementara ini, ia harus bertahan berada di dalam rumah. Sampai tiba masa nya, Ayahnya menyerahkan posisi direktur utama padanya.
__ADS_1
Barulah Bara bisa pergi mencari Ana. Dan menanyakan semuanya.
Bersambung...