Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 115


__ADS_3

“Huh! Aku bahkan hampir melupakan tujuan kita datang kesini untuk apa,” ucap Ana sembari menghela napas panjang.


Bara mengalungkan tangannya pada bahu Ana. Di kecupnya kening Ana berulang kali. Lalu turun mencium dan mengelus perut Ana yang membesar.


“Makanya, kita sudahi saja pertengkaran ini. Kan, sebentar lagi kita mau menyambut kelahiran baby twins. Masa, Ayah Bundanya berantem, sih?” tutur Bara lembut. Ana mengangguk pelan, lalu menoleh, dan menatap kedua mata Bara.


“Maaf-in aku, Bara. Akhir-akhir ini aku jadi sering marah-marah dan sensitif sama kamu,” balas Ana tertunduk sedu.


“Kamu nggak salah, sayang. Wajar kok, hormon pada Ibu hamil memang mudah berubah-ubah. Dan jadi lebih sensitif dari biasanya.” Sambung Bara seraya mengecup lembut tengkuk telapak tangan kanan Ana.


Cup!


Ana tersenyum kecil dengan tatapan sedu. Hatinya terenyuh, karena Bara tak pernah menyalahkan dirinya. Bahkan sejauh ini, malah Bara sendiri, yang sering mengucapkan kata maaf. Meski dirinya tidak salah.


“Aku... beruntung punya kamu, sayang.” Ujar Ana lembut. Tubuhnya memeluk erat Bara.


Ini jadinya kapan beli baju buat baby twins nya?


“Aku juga beruntung, punya Istri kamu. Ana sayang.” Balas Bara lembut.


Keduanya berjalan keluar dari basemen itu. Menuju ke pintu masuk Mall. Bara tak sedikit pun menjauhkan tubuhnya dari Ana. Mereka tampak seperti pasangan pengantin baru. Yang tidak membuat jarak diantara satu sama lainnya. Padahal, usia pernikahan mereka sudah jalan 5 tahun. Tapi rasanya seperti jatuh cinta setiap harinya.


Tak ada kata bosan, atau pun jenuh. Mungkin, itu yang disebut cinta pada orang yang tepat. Karena itulah, Ana begitu dicintai oleh Bara. Wanita yang menjatuhkan hatinya, serta memilih pada lelaki yang tepat. Hari-hari yang ia lewati akan terasa begitu indah.


Namun, bila salah dalam memilih. Wanita akan tersakiti dan rapuh. Menjalani kehidupan seperti berada di dalam neraka. Sulit untuk bertahan, tapi ragu bila di pertahankan. Bahkan ada juga yang mengalami gangguan pada psikologis serta mentalnya. Karena tidak di muliakan pasangannya. Mendapat perlakuan buruk, hingga kekerasan fisik atau pun seksualitasnya.


Na’udzubillahimindzalik!


Oleh sebab itu, wanita memang harus pandai dalam memilah maupun memilih lelaki. Yang akan menjadi pasangan hidupnya. Karena menikah, bukan hanya untuk beberapa saat. Tidak seperti orang yang berpacaran, lalu putus di tengah jalan. Tidak, pernikahan bukan hal yang bisa di permainkan begitu saja.


Karena pernikahan adalah simbol sakral. Yang menghubungkan antar lawan jenis. Sebagai bentuk penyatuan dan dilandasi oleh norma-norma serta ke agama-an. Dengan ikatan cinta janji suci.


Karena itu, Ana merasa beruntung memiliki Bara di hidupnya. Lelaki yang tak pernah membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain. Selalu menghargai keputusannya. Bisa menjadi tempat pendengar yang baik. Dan membuat Ana merasa begitu dijadikan satu-satunya wanita yang ia cinta.


Ya—Bara sangat mengistimewakan Ana dihatinya.


Sesampainya di dalam Mall, mata Ana tampak berbinar penuh keceriaan. Gurat senyumnya terus terukir di wajah cantiknya. Seakan hatinya merasa bahagia. Berada di tempat ramai yang ia dan Bara datangi sekarang.


“Wah, ramai banget! Aku udah lama nggak pernah ke Mall begini. Beli barang-barang pun, biasanya selalu di toko belanja online. Kalau di lihat dari langsung, rasanya jauh berbeda ya, sayang?” celoteh Ana kegirangan.


“Iya, kan disini memang pusatnya perbelanjaan, sayang. Tapi kalau kamu mau kesini lagi, harus pergi sama aku.” Balas Bara lembut. Ana mengangguk pelan.


“Tapi, lain kali kita ajak Arbi juga, ya?” pinta Ana.


“Iya, sayang. Arbi juga udah sering kesini, kok. Mamaku bawa dia pergi ke tempat Mall begini hampir tiap minggu. Belum lagi ke tempat-tempat wahana permainan. Cuma kamu doang, yang belum pernah diajak sama Mama. Tapi tenang aja, kan masih ada aku. Suami kamu yang tampan ini.” Tutur Bara diakhiri senyum menyeringai. Sembari mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Buaya genit!


Eh.


“Ih, kamu genit! Ngapain sih, pakai kedip-kedipan mata segala? Nanti kalau cewek lain yang lihat, gimana? Mereka bisa aja salah paham sama kamu.” Ana berdecih sebal.


Bara lalu menghela napas panjang.


“Ya ampun, iya, sayang. Kamu mikir nya kejauhan banget, An. Kan, mataku lihatnya Cuma ke kamu aja. Nggak ke arah lain.”


“Nggak bisa, manusia nggak bisa hanya berpandangan ke satu arah. Ibaratnya kamu nyetir motor, tapi nggak belok-belok. Lalu berjalan sambil menutup kedua matamu. It is impossible thing, Bara sayang!” ucap Ana menjawab perkataan Bara, dengan logikanya.


‘Astaga, Ana mikir nya kenapa pakai logika melulu, sih’ gumam Bara dalam hati pasrah.


Mohon bersabar, karena ini ujian. Eh!


“Iya, iya, sayang. Aku mengalah. Tapi, aku benaran lihatnya ke kamu aja. Maksudku, hatiku yang udah stuck di kamu. Kamu paham nggak, maksudku?” balas Bara dengan ekspresi bimbangnya. Menunggu jawaban dari Ana.


Ana tampak berpikir sesaat. Sambil mengelus perutnya yang besar. Kakinya berjalan lagi, mengikuti alas lantai dingin di dalam Mall itu. Bara menggenggam erat sebelah tangannya. Namun, wajahnya masih penuh ketegangan.


“Hati kamu, ya?” tanya Ana tiba-tiba bersua. Setelah beberapa menit lamanya mendiamkan Bara. Lelaki itu pun langsung mengangguk cepat.


“Aku benaran setia sama kamu aja, sayang. Kamu percaya aku, kan?” ujar Bara dengan wajah sedu.


“Ah, sudah sampai, ya. Wah, bajunya lucu-lucu banget.” Ucap Ana antusias.


Bara tercengang mendengarnya, begitu pula saat menatap wajah wanita yang ada di sisinya sekarang.


‘Loh, ucapan aku nggak dijawab dulu, gitu?’ Bara bergumam dalam hati.


“S-sayang...?” panggil Bara ragu-ragu. Ana menjawab dengan deheman. Sembari menyentuh semua baju-baju mini yang ada di depannya.


“Kamu dengar ucapanku yang tadi, kan?” tanya Bara lagi.


“Yang mana? Hati kamu?” balas Ana, tanpa menoleh menatap Bara. Pandangannya terfokus pada baju mini yang ia pegang saat ini.


“Iya, yang itu. Kamu... percaya aku, kan?”


“Mbak, baju model yang ini ambil dua lusin, ya. Sama semua alat-alat lainnya. Yang biasa dibutuhkan saat bayi baru lahir,” tutur Ana bercakap pada seorang wanita yang bekerja sebagai sales di toko perbelanjaan bayi itu.


“Baik, Mbak. Mohon ditunggu sebentar, ya.” Balasnya. Ana sontak mengangguk pelan.


Bara seperti di acuhkan oleh Ana. Tapi kedua tangan mereka sama-sama saling berpegangan satu sama lain. Bahkan genggaman Bara semakin di eratkan.


“Sayang... kok kamu diam aja, sih?” sambung Bara berkata. Ana lantas menoleh menatapnya.

__ADS_1


Cup!


Sebuah kecupan di daratkan Ana ke wajah tampan Bara. Seketika membuat suasana hati lelaki itu langsung berubah drastis. Perasaan campur aduk berganti menjadi kesenangan. Sekaligus hati yang berdebar tak karuan.


“Kamu... tumben, nggak malu? Disini ‘kan tempat umum,” tutur Bara bertanya.


“Kan, nggak ada orang. Mbak-mbak sales nya juga lagi ke dalam,” jawab Ana santai. Bara langsung mendekapnya. Seperti saat di basemen tadi.


“Udah dong, sayang. Jangan diamin aku kayak tadi lagi. Kamu percaya kan, dengan kesetiaanku ini?” tanya Bara lagi.


Bara nggak ada bedanya dengan wartawan. Nannya melulu! Eh.


“Nanti aja, kita bahas itu dirumah. Tolong, jangan buat moodku hancur lagi, Bara.” Jawaban Ana terdengar agak sarkastis.


Bara langsung terdiam, lalu mengangguk pelan. Kepalanya di jatuhkan pada tengkuk leher Ana. Mengambil kesempatan, saat Mbak sales tadi belum kembali mengantarkan pesanan.


“Habis ini, kamu mau beli apa lagi?” lanjut Bara berucap. Dan mulai berganti topik.


“Hm... ice cream. Stok makanan dirumah juga udah tinggal sedikit. Perlengkapan mandi, skincare-ku juga.” Balas Ana lembut.


Cup!


Bara mengecup lembut wajah cantik itu.


‘Belum pernah sebelumnya, hatiku begitu dipertaruhkan oleh wanita seperti Ana. Aku takut kamu pergi dariku, An. Tolong, sama aku aja. Jangan berpindah hati ke yang lain’ gumaman Bara pada isi hatinya.


“Kamu? Mau beli apa? Mumpung kita masih ada di dalam Mall ini.” Tutur Ana bertanya.


“Aku? Hm... aku beli apa, ya? Bingung.” Bara terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Aih, dasar Bara! Eh.


“Yakin, nggak mau beli apa-apa?” tanya Ana lagi.


Bara tampak berpikir sesaat. Barang apa yang harus ia beli. Karena sejauh ini, semuanya sudah ia beli. Barang elektronik, pakaian, maupun sepatu dan skincare.


Tiba-tiba pikiran Bara tertuju untuk membeli sesuatu. Yang mungkin, bisa membuat hubungannya dengan Ana semakin mengerat.


“Ada, deh. Aku mau beli.” Jawab Bara penuh keceriaan di wajahnya. Ana menaikkan kedua alisnya. Begitu penasaran, apa yang Bara pikirkan sekarang.


“Kamu lagi mikirin apa, sih? Kok tiba-tiba senang, gitu.” Pertanyaan Ana seakan menginterogasi Suaminya.


“Nanti kamu juga tahu kok, sayang. Kita beli semua yang kamu butuhkan dulu. Setelah itu baru aku.” Ana mengangguk pelan, sambil tersenyum ramah menatap Bara.


Kira-kira apa, ya? Barang yang ingin dibeli Bara nanti?

__ADS_1


__ADS_2