Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 83


__ADS_3

Bara tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arka. Matanya beralih menatap nanar Ana. Yang saat ini ada di depannya. Seolah memberikan tanda tanya pada wanita itu.


Ana mengangguk pelan, wajahnya begitu sedu dan terlihat agak memar. Akibat tamparan dari Nyonya Kertajaya tadi. Keduanya saling pandang satu sama lain. Perlahan tangan Ana terangkat menyentuh wajah Bara lembut.


Bara yang merasakan sentuhan itu sontak merasa familier. Dan langsung memeluk Ana membawanya ke dalam dekapannya. Bara merasakan kenyamanan saat berada di pelukan Ana. Gladys dan Arka yang menjadi saksi, bersatunya hubungan Ana dengan Bara.


‘Aku merasa begitu... nyaman. Sangat nyaman.’ Gumam Bara dalam hati.


Sementara Gladys yang melihatnya tidak berhenti tersenyum tulus. Menatap kedua pasangan bucin itu yang kembali membaik. Arka tiba-tiba menggenggam erat jari jemari Gladys. Ikut merasa terharu dan bahagia. Melihat Ana dan Bara bersatu kembali.


Gladys yang tiba-tiba di genggam erat tangannya sontak merasa terkejut. Ia menoleh dan menatap wajah Arka. Senyum tulusnya mengembang, dan pastinya hatinya kian berbunga-bunga.


“Bara.. kamu.. benaran gak ingat sama aku?” tanya Ana sedu. Saat mereka sudah melepaskan pelukannya. Bara menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya pelan.


“Kalau masih belum percaya, Gue bisa kasih bukti surat nikah pencatatan sipil kalian berdua. Sebagai tanda bukti yang sah dimata hukum.” Ucap Arka yang tiba-tiba ikut bersuara.


“Gak perlu, saya percaya.” Jawab Bara yakin. Tanpa mengalihkan pandangannya menatap mata Ana.


‘Terima kasih, Bara. Kamu masih mempercayaiku.’ Gumam Ana dalam hatinya. Tanpa sadar, senyumnya mengembang yang terukir di bibir.


Di lain sisi, Sofie memperhatikan dari kejauhan dengan wajah yang masam. Serta tatapan yang tajam bagaikan silet. Tidak terima karena pernikahannya gagal dengan Bara. Dan sekarang, ia harus melihat kemesraan Bara dengan Istrinya.


‘Huh! Awas saja kamu, wanita penggoda! Bara hanya boleh jadi milikku!’ gerutu Sofie dalam hati.


Sedangkan Nyonya Kertajaya tak berani berbuat apa-apa lagi. Sejak Arka memberikan ancaman padanya. Ia hanya terduduk diam di depan ruang perawatan Suaminya, Tuan Brama.


Tak berapa lama, dokter yang menangani Tuan Brama keluar dengan wajah panik. Ia begitu terburu-buru seperti membutuhkan sesuatu.


“Dokter, bagaimana keadaan Suami saya, dok?! Tolong selamatkan dia, dok! Berapa pun harganya, saya akan bayar!” ujar Nyonya Kertajaya menghampiri dokter itu dengan situasi panik.

__ADS_1


“B-baik Nyonya, harap Anda tenang sebentar. Suster, bawakan alat-alat yang dibutuhkan segera!” balas dokter itu singkat. Lalu mengalihkan perhatiannya memerintahkan suster yang ada disana. Dengan situasi yang berubah panik.


Semua orang yang ada di depan ruangan itu berubah menjadi panik. Bahkan Arka pun yang tadinya benci. Juga ikut mengkhawatirkan kondisi kesehatan Tuan Brama. Arka memberi perintah pada asistennya. Untuk mengecek situasi yang terjadi di dalam sana.


Beberapa menit kemudian, asisten Arka kembali ke luar dengan wajah kebingungan.


"Apa yang terjadi? Kenapa dengan wajahmu?" tanya Arka.


"S-sepertinya kondisinya semakin parah, Tuan muda." Jawab asistennya.


Bara mendengar hal itu langsung berlari ke dalam ruang perawatan. Diikuti Ana yang juga tak kalah khawatirnya. Arka dan Gladys hanya berdiam diri di luar. Sambil menunggu kabar selanjutnya.


Saat Ana sudah berada di dalam sana. Sofie dan Nyonya Kertajaya sadar kehadiran Ana. Mereka menatap tajam ke arah Ana. Dari tatapannya sudah terbaca bahwa mereka sangat membenci Ana.


Sofie berjalan menghampiri Ana. Sementara Nyonya Kertajaya beralih memandangi kondisi Suaminya. Yang terbaring diatas ranjang. Dengan wajah yang di tutupi oleh tabung oksigen.


"Oh, begitu? Kamu pikir kamu siapa?! Beraninya mengancamku!" balas Ana.


Karena sudah begitu lelah selalu ditindas. Dan lagi, Bara sekarang sudah kembali jadi miliknya. Lalu apalagi, yang harus ia takutkan?


'Kurang ajar! Beraninya dia melawanku! Awas kamu, Ana.' Geram Sofie dalam hati.


Sorot mata Sofie begitu tajam menatap mata Ana. Dengan bangganya ia karena disukai oleh Nyonya Kertajaya. Sofie kembali ke sisi wanita tua itu. Sambil memandang remeh Ana. Yang sampai saat ini, masih belum mendapat restu darinya. Juga amat dibenci oleh mertuanya sendiri.


-


Detik-detik berikutnya, Tuan Brama tiba-tiba bereaksi kejang-kejang. Beberapa dokter serta suster yang menangani begitu kewalahan serta panik. Melihat kondisi Suaminya yang semakin parah. Nyonya Kertajaya justru semakin meringis dalam isak tangisnya.


"Nyonya dan yang lainnya, mohon maaf saya harus mengatakan untuk menunggu kabar dari pasien ini di luar saja. Karena saya beserta tim kesehatan akan melakukan tindakan lanjutan." Ujar salah seorang dokter dengan raut wajah paniknya.

__ADS_1


Dengan berat hati, Nyonya Kertajaya meninggalkan ruangan. Beserta Ana, Bara, juga Sofie.


Bara begitu berbeda sikapnya pada Ayahnya. Saat sebelum mengalami amnesia. Bara begitu membenci Ayahnya. Tapi sekarang, ia begitu khawatir pada kondisi kesehatan sang Ayah, Tuan Brama Kertajaya.


"Sayang.." ucap Ana pada Bara, seraya menggenggam erat tangannya. Berusaha menyemangati Bara dengan perhatiannya.


Bara membalasnya dengan menyenderkan kepalanya pada bahu Ana. Sofie yang melihat kemesraan mereka, merasa geram dengan sendirinya. Ia pergi menjauh dari tempat Ana dan Bara duduk.


Gladys yang berada tidak jauh di dekat Ana. Melihat gerak-gerik yang dilakukan oleh Sofie.


'Iri kok sama Suami orang? Heh, untung dia lagi menjauh dari wanita tua itu. Aku kasih pelajaran ah.' Geram Gladys dalam hatinya.


Merasa kesal, Gladys ingin menghampiri wanita itu. Namun keburu di tahan tangannya oleh Arka. Serta Arka menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan untuk jangan pergi kesana.


Gladys membalas itu dengan anggukan.


'Huh! Kali ini kamu bebas, lain kali mungkin saja tidak!' gumam Gladys.


Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari dalam ruang perawatan Tuan Brama. Dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan. Tanpa ekspresi, hingga membuat semua orang yang ada disana ikut cemas.


"Dokter, bagaimana kondisi Suamiku?!" tanya Nyonya Kertajaya dengan suara gemetar.


"M-maaf, saya dan tim sudah berusaha semaksimal mungkin." Jawab sang dokter dengan tertunduk sedu. Ia mungkin merasa takut dan gugup, saat ini.


"APA?! TIDAK! Suamiku tidak boleh meninggal!" ucap Nyonya Kertajaya dengan nada kuat. Tidak percaya dengan yang dikatakan oleh sang dokter. Ia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Dan...


"Pah! Papa gak boleh meninggal dulu, Pah! Hiks.. hiks.. hiks.. kenapa jadi begini?! Hiks.. hiks.." isak tangis Nyonya Kertajaya tidak menerima kematian Suaminya.


Wajah Tuan Brama terlihat begitu pucat pasi. Saat sang dokter melepas tabung oksigen dari mulutnya. Bara terdiam kaku tanpa berkata apa-apa. Ana ikut iba dengan apa yang terjadi sekarang. Hanya bisa menguatkan Bara, dengan memberinya semangat serta perhatian untuknya.

__ADS_1


__ADS_2