Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 127


__ADS_3

“Engh... s-sayang... perutku...” keluh Ana merasakan mulas di bagian perutnya. Tangannya menggoyangkan tubuh Bara. Berusaha membangunkan lelaki yang ada di sebelahnya saat ini.


Samar-samar, mata Bara terbuka. Meski nyawanya masih belum cukup terkumpul semua. Tubuhnya beranjak bangun, dan mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Ana. Pandangannya langsung tergelak kaget. Saat melihat Ana dengan wajah pucatnya, berusaha membangunkannya.


“S-sakit... Bara... uh... t-tolong aku..” erang Ana mengeluh sakit. Bara langsung terkesiap memanggil Pak John dan orang serumah.


TUT!


Bara memencet tombol panggilan darurat yang terpasang di dalam kamarnya. Beberapa detik kemudian, para pelayan mengetuk-ngetuk pintu kamar dari luar. Teriakan Nyonya Kertajaya bahkan ikut terdengar dari depan sana.


“Bara! Apa yang terjadi, Nak? Apa Ana baik-baik saja? Tolong buka pintunya!” teriak Nyonya Kertajaya.


“Aku mohon... bertahanlah, An. Semua akan baik-baik saja, sayang.” Tutur bara lembut seraya mengecup kening Ana. Ia lalu berlari membukakan pintu kamarnya.


KRIEK!


Pintu kamar terbuka, semua pelayan beriringan masuk ke dalam Bara. Nyonya Kertajaya begitu panik saat melihat kondisi Ana yang sudah akan melahirkan tiba-tiba. Bara lantas kembali lagi mendekati Istrinya. Menggenggam erat jari jemarinya. Berusaha memberikan ketenangan pada Ana. Meskipun dirinya juga panik setengah mati.


“Siapkan mobil untuk Ana, sekarang! Kita langsung pergi ke rumah sakit. Yang lainnya persiapkan juga segala kebutuhan Ana untuk prosesi melahirkan.” Perintah Nyonya Kertajaya pada pelayan wanita yang ada disana.


“Baik, Nyonya besar.”


“Apa nggak bisa lahir-an dirumah saja, Ma? Ana sepertinya udah nggak kuat lagi untuk bangun.” Tukas Bara dengan kepanikannya.


“Kalau dirumah, peralatannya hanya seadanya, Nak. Ana juga perlu perawatan intensif dari rumah sakit.” Jawab Nyonya besar. Akhirnya, Bara pun menyetujui dan mengangguk paham.


“Tahan ya, sayang.” Gumam Bara sedu. Matanya tampak berkaca-kaca. Menatap wajah Ana nan pucat pasi.


“S-sayang... sakit... uh... perutku...” tutur Ana sedu. Bulir bening menetes dari kedua sudut mata Ana.


Meski tak merasakan, tapi Bara bisa melihat dari air mata Ana. Sepertinya memang begitu sakit. Hingga tak bisa berkata banyak, yang keluar dari mulutnya. Ana lebih banyak diam dan mengerang kesakitan.


Dengan lembut, Bara memakaikan cardigan pada tubuh Ana. Menutupi lengan mulusnya. Dan tak lupa, pada hijab instan yang di pakaikan ke kepala Ana. Demi melindungi rambutnya, agar tak tertampak oleh mata-mata lain yang akan memandangnya.


“Sudah selesai belum, Bara? Mobil sudah di siapkan Pak John di depan.” Ujar Nyonya Kertajaya.


“Sabar, Ma. Siapkan saja kursi rodanya. Ana tidak bisa berjalan dalam keadaan begini.” Balas Bara.


“Kursi roda sedang di bawa kesini oleh pelayan.” Sambung Nyonya besar.

__ADS_1


Tak lama setelah Bara selesai memakaikan pakaian dan hijab ke tubuh Ana, seorang pelayan wanita datang seraya mendorong kursi roda, berjalan menghampiri ke arah Ana. Dengan hati-hati, Bara memapah Ana menduduki kursi itu.


Ana terlihat berkeringat dingin. Bara mempercepat dorongannya agar cepat sampai ke dalam mobil. Diikuti Nyonya Kertajaya yang juga sudah rapi memakai pakaiannya.


“Aku di belakang dengan Ana. Mama di depan saja bersama Pak John.” Pinta Bara setelah sampai di depan mobil. Nyonya Kertajaya mengangguk paham.


Selepas semuanya sudah berada di dalam mobil, Pak John langsung menjalankan gas kendaraan nya. Selama di perjalanan, Bara tak hentinya melafazkan doa-doa yang ia bisa. Tangannya menggenggam erat jari jemari Ana. Mengusap dahinya yang terlihat begitu basah karena peluh dari keringat.


“S-sayang... sa...kit..” gumam Ana sedu. Kepalanya di sandarkan pada bahu Bara. Lelaki itu bahkan tampak setia memperhatikan kondisi Ana yang tengah kontraksi sekarang.


“Sakit banget ya, sayang? Maafkan aku... yang nggak bisa berbuat apa-apa.” Tutur Bara sedu. Seraya mengelus lembut perut Ana. Dan mengecupi kening Ana berulang kali.


Mata Bara berkaca-kaca. Jantungnya berdegup dengan cepat. Kekhawatirannya pada Ana begitu besar terlihat. Terdengar suara nyanyian kecil yang keluar dari mulut Bara.


Bara menyanyikan lagu berjudul ‘all through the night’ yaitu sebagai penghantar tidur. Lagu satu ini juga menyelipkan doa positif untuk bayi. Yakni selalu dijaga oleh malaikat pelindung.


Sleep, my child, and peace attend thee,


Guardian angels God will send thee,


Soft the drowsy hours are creeping,


Hill and dale in slumber sleeping


I my loved ones’ watch am keeping,


Angels watching, e’er around thee,


Midnight slumber close surround thee,


Soft the drowsy hours are creeping,


Hill and dale in slumber sleeping


I my loved ones’ watch am keeping,


“Sabar ya, sayangku. Tuhan selalu melindungi kita semua.” Bisik Bara pelan, sembari mengecup lembut kening dan telapak tangan Ana. Yang begitu dingin karena peluh keringat di tubuhnya.


Ana hanya diam, dengan wajah sayup nya. Matanya menyipit, seperti ingin tertidur. Bara terus menyanyikan lagu tadi. Supaya Ana dan bayinya bisa kembali tenang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian...


SET


Mobil yang mereka naiki berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Nyonya Kertajaya dan Pak John keluar lebih dulu. Beberapa detik kemudian, keduanya kembali lagi. Namun, bersama dengan dua orang suster. Yang membawa kursi roda untuk Ana.


Bara langsung memapah Ana keluar dari dalam mobil. Membantunya menduduki di kursi roda nya. Ia bahkan mengambil alih tugas suster itu. Bara sendiri yang mendorong Ana dengan kursi roda tadi memasuki ke dalam gedung rumah sakit. Menuju ruang Unit Gawat Darurat(UGD).


Diikuti Pak John yang mengekor di belakang mereka dan juga Nyonya Kertajaya. Ana terlihat lebih pasrah dari biasanya. Tak mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya. Itu yang membuat Bara semakin dilanda khawatir berlebihan padanya.


“Maaf, hanya satu orang saja yang boleh menemani pasien di dalam. Selebihnya, silakan menunggu di luar!” ujar suster pada Pak John dan Nyonya Kertajaya. Sementara Bara diperbolehkan ikut menemani Ana dalam prosesi melahirkannya.


Ana mendongak menatap Bara dalam-dalam. Wajahnya begitu sedu terlihat. Tangannya meremas pergelangan tangan Bara dengan kuat.


Bara menganggukkan kepalanya pelan. Lalu mendekap Ana ke dalam pelukannya. Seorang dokter wanita tak lama datang bersama empat orang suster bersamanya. Mereka bahkan langsung memulai persalinannya.


“Nona Ana, bisa saya lihat sebentar?” Pinta dokter wanita itu pada Ana.


Tubuh Ana mulai diperiksa satu persatu. Dimulai dari mengecek tensi darah Ana. Lalu menanyakan riwayat penyakit apa saja yang dialami Ana. Dan terakhir, seorang suster wanita itu terlihat ingin memasukkan jarinya ke dalam ****** Ana. Lantas kedua mata Bara tergelak kaget tak percaya. Ia langsung menghentikan pergerakan dari suster itu.


“TUNGGU!!!” sergah Bara. Hal itu membuat dokter dana para suster kebingungan.


Apa ada yang salah?


“Maaf, apa ada yang salah, Tuan?” tanya dokter.


“Apa yang dia lakukan, dok? Memasukkan jarinya ke dalam bagian organ tubuh Istriku.” Ujar Bara yang hampir tersulur emosi.


Dokter dan suster itu saling berpandangan satu sama lain.


“Itu namanya pengecekan pembukaan serviks pada bayi, Tuan. Para suster dan tenaga medis disini pun juga melakukannya dilapisi dengan sarung tangan. Yang sebelumnya sudah di cuci terlebih dulu tangannya menggunakan sabun. Jadi, ke sterilan nya sudah pasti terjaga dari kuman serta bakteri.” Jelas dokter sembari tersenyum ramah.


Beberapa suster lainnya justru terdengar seperti bisik-bisik.


“Bara...” panggil Ana pelan, seraya menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan Bara agar berhenti bertanya-tanya. Apalagi sampai mengganggu para ahli tenaga medis itu. Akhirnya, Bara pun hanya mengangguk pasrah.


Bagaimana pun, itu semua demi keselamatan Ana. Bara, harusnya kamu berdiam saja.


EH.

__ADS_1


__ADS_2